
🎵 Bohemian Rhapsody - Queen. 🎵
🎵 Dengarin versi covernya Randy Coleman atau John Adams deh. Heuheu. ☑️
🔥🔥🔥
Pembalasan. Sebenarnya apa sih yang bisa didapat dari sebuah balas dendam? Rasa lega? Rasa puas? Rasa senang karena mendapati orang yang menyakiti kita mendapatkan siksaan dan sakit yang lebih dari yang diberi?
Dia akui. Dahulu, dia merasa puas akan semua itu. Puas melihat Buana gelisah. Senang melihat Buana belingsatan. Lega mengetahui bahwa Buana masih memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, ternyata ada nyeri terselip mengetahui bagaimana dia bisa tega menyakiti orang yang disayangi. Dia juga merasakan perih yang sama saat melihat orang yang disayangi kesakitan akibat tangannya sendiri. Dan penyesalan ada di akhir, tidak bisa mengubah semua sekalipun sampai menangis darah.
Untuk itu, Andara tak sanggup merencanakan pembalasan apa pun kepada Rossa. Bagaimanapun kejinya Rossa, dia pernah sayang dengan cewek itu. Rossa dan Natha adalah sahabat dan saudaranya di Jakarta. Melebihi saudara yang dipunya. Rossa pernah hadir di saat-saat sedih juga susah. Rossa hadir saat dia membangun dunia baru, jauh dari keluarga. Rossa pernah memberikan bahunya sebagai pondasi bersandar Andara. Dia tahu, pada dasarnya, Rossa itu penyayang. Dendamlah yang membuat Rossa sejahat itu.
Andara tidak mau dihantui penyesalan lagi jika dia membalas Rossa. Anggaplah semua kebaikan Rossa yang pernah ada dibayarnya dengan sebuah maaf. Dia maafkan Rossa dan membiarkan keajaiban dunia berjalan. Dia hanya ingin Rossa sadar dan berhenti, sebab penyesalan selalu di belakang. Seperti dia yang dikungkung rasa menyesakkan itu setiap kali melihat muka Kaluna.
Berat sekali ternyata penyesalan. Dipandanginya kedua tangan yang terangkat sedada. Tangannya ini sudah kotor dengan menyakiti diri sendiri, Buana dan Kin. Ada berapa banyak lagi orang yang ikut bersedih akibat pembalasannya? Orang-orang yang terkena imbas karena perbuatannya?
Is this the real life?
Is this just fantasy?
Caught in a landslide
No escape from reality
Andara menarik oksigen banyak-banyak sembari memeluk lutut. Kenapa sih dia terpikir hendak membalas Buana? Jika saja dia tidak membalas, mungkin semua tidak akan seperti ini. Andara menengadah sambil bersandar kepada kerangka besi yang menongol. Semen kasar menjadi alas duduk. Langit di hadapan tampak bersih berwarna biru terang. Angin yang bertiup sepoi-sepoi menyisir rambutnya. Ponsel di samping tas masih menyetel rekaman lagu-lagu hasil cover Buana. Di bawah sana, lapangan badminton terlihat kecil. Beberapa kepala yang melewati tengah lapangan sebesar kepalan tangan saja. Ini bukan rooftop sebenarnya, ini adalah lantai empat yang terbengkalai pembangunannya. Tidak ada yang naik ke sini karena akses tangga di lantai tiga ditutup, tetapi Andara dan beberapa anak hukum tahu jalur aman menuju ke sini.
Open your eyes
Look up to the skies and see
I'm just a poor boy
I need no sympathy
Andara merasa sudah sampai di ujung perjalanan dengan diri yang sudah tidak utuh, Buana sudah tidak ada, Kin juga tidak bersamanya. Dia tidak memiliki sahabat karena kata sahabat sudah tidak berlaku semenjak Rossa datang terakhir kali. Dia juga memilih tidak banyak berkomunikasi dengan Natha sebab cewek itu juga mencibirnya saat Buana opname.
Tidak ada yang bagus di kehidupannya. Nilai-nilai kuliahnya hancur. Kualitas siaran juga menurun drastis dan menjadi sering dimarahi. Dia tidak punya harapan lagi. Ketika bangun dari tidur, Andara hanya bisa merutuki diri kenapa masih bernyawa sampai hari ini.
Because I'm easy come, easy go,
Little high, little low,
Any way the wind blows
doesn't really matter to me, to me
Dia ingin mengakhiri semua. Seandainya bisa, dia tidak ingin dilahirkan. Pandangan Andara kosong, menyayangkan dirinya yang terlanjur hidup.
Mati.
Andara ingin mati saja. Keinginan menyelesaikan hidup dengan meledak di udara, tenggelam di lautan, atau tertanam di kerak bumi juga terasa menyulitkan, sebab saat ini, dia berada di daratan.
Mama, just killed a man
Put a gun against his head
Pulled my trigger, now he's dead
Udara sedang baik. Tidak panas, tidak hujan. Langit mulai sedikit mendung, membawa angin segar yang cukup mendukung untuk eksekusi keinginan mati. Apakah dengan mati segala penyesalan akan hilang?
Mama, life has just begun
But now I've gone and thrown it all away
Suara Buana masih mengalun, menyayat-nyayat kerinduan. Andara meletakkan pena dan buku di atas tas. Tadi malam, dia sudah menuliskan wasiat di buku tipis yang diambil kembali dari lemari Buana. Tertulis di sana kalau dia bertanggung jawab atas semua dan kejadian yang akan terjadi adalah murni keinginannya sendiri.
__ADS_1
Mama, ooh
Didn't mean to make you cry
If I'm not back again this time tomorrow
Carry on, carry on
As if nothing really matters
Dear, Mama, Opung, Buana. See you soon. Tambahnya di akhir surat lalu berdiri, merapat ke pinggir bangunan. Dia pejamkan mata sembari menikmati embusan angin untuk terakhir kali. Dalam hati, Andara meminta maaf sekali lagi atas semua kesalahan yang pernah terjadi. Setelah dia melompat maka semua akan selesai sudah.
Too late, my time has come
Sends shivers down my spine
Body's aching all the time
Goodbye everybody, I've got to go
Gotta leave you all behind and face the truth
Setetes air matanya luruh. Ketika bertemu Buana nanti, dia akan memeluk lelaki itu sekuat mungkin. Ingin bisa bercerita banyak. Ingin bisa mengobrol dan mendengar semua cerita Buana yang dahulu sering diabaikan. Ingin memberitahu perasaannya ke cowok itu bahwa dia pernah cinta dan masih cinta. Pasti Buana tersenyum gengsi mendengar itu. Ah, dia rindu sekali melihat senyum jual mahal khas Buana Semesta.
Mama, ooh
I don't want to die
I sometimes wish I'd never been born at all
Andara membuka mata. Dia akan mendarat di lapangan badminton itu dengan bentuk tak terkira lalu bertemu dengan sang mama, Opung dan Buana selekasnya. Dia kukuhkan niat. Mati adalah sebuah jalan keluar baginya maka Andara segera merentangkan tangan, hendak terbang.
Akan tetapi, bukannya sampai ke lapangan badminton, tubuhnya malah jatuh ke belakang, di semen kasar yang berkerikil. Andara mendengar pekikan yang dia kenali. "Ses! Lo mau ngapain? Bisa jatuh lo!"
Andara meringis. Badan belakangnya terasa sakit dan dia bangkit duduk. "Lo ngapain sih tarik gue?! Gue memang mau lompat!"
"Biarin! Gue memang gila, gue memang mau mati," isak Andara melolong. "Kenapa? Bukan urusan lo, 'kan? Sana pergi!"
Diusir seperti itu, Vina terperangah. Cewek itu memandang wajah Andara yang bersimbah air mata lalu terdiam. "Sori," desisnya coba memahami situasi dan membiarkan Andara menangis hingga puas. Cewek itu baru mengeluarkan suara kembali saat melihat Andara sudah menyusut tangis. "Ra, tenang, Ra. Lo kenapa mau lompat?" tanya Vina kemudian.
Andara mencengkeram lutut sambil sembunyikan muka di sela itu. "Semua udah hancur, Vin. Semuanya. Buana, gue, Kin. Gue penyebabnya. Gue yang bikin Buana jadi kayak gitu. Gue tolol banget mau aja diperalat Ocha. Gue nggak tahu harus kayak mana lagi hadapin semua. Gue capek, pengin mati aja. Biar gue mati aja."
Vina kembali menarik tangan Andara dan memintanya duduk ketika Andara ingin bangkit. "Cerita sampai habis coba."
Andara menyentak tangan Vina. "Apa lagi yang mau diceritain? Siaran gue yang nggak bagus? Nilai gue yang kebakaran sedangkan temen-temen bahkan udah ada yang nyusun skripsi?! Dan gue masih harus ngulang mata kuliah yang anjingnya nilai gue C-D-E melulu. Gue nggak ada bagus-bagusnya, nggak bisa diandalin ..."
Tangan Vina kembali menggenggam lengan Andara, tidak membiarkan Andara melangkah.
"Lepas, Vin! Orang kayak gue ini cuma menuh-menuhin dunia, bikin sumpek. Ngerepotin orang aja. Bikin orang sakit hati. Gue ini sampah masyarakat. Lebih baik gue mati aja. Lo jangan halangi gue." Langkahnya kembali dihalangi Vina. "Pinggir lo, Vin."
Vina mengangkat kedua tangan guna halangi Andara. Cewek itu menggeleng. "Sekarang gue tanya. Memangnya kalau lompat ke situ, lo pasti mati?" timpal Vina. "Gimana kalau yang ada lo tetap hidup dengan kondisi tubuh hancur-lebur? Terus jadinya seribu kali lipat lebih sakit daripada hari ini? Lo bakal di posisi hidup enggan, mati pun sulit."
Tubuh Andara menegang mendengar penuturan Vina. Matanyanya berkedip-kedip, berusaha mencerna kalimat itu. Vina kembali mendekat.
"Ra... Dengar gue. Gue nggak tahu sih gimana masalah lo sama si Buana atau siapa tadi yang lo bilang. Tapi untuk meninggal Buana, itu bukan salah lo, Ra," ujar Vina sembari merengkuh bahu Andara, menjauhkannya dari pinggir bangunan.
"Umur, jodoh, kematian dan kelahiran itu udah wewenang Tuhan. Udah ditulis dari sononya sebelum kita ada. Gitu juga dengan Buana, dia meninggal kemarin karena takdirnya memang meninggal. Let's say, dia nggak kecelakaan. Kalau takdirnya dia meninggal, lagi duduk atau lagi tidur, dia bakal tetap meninggal. Kalau takdirnya nggak meninggal, lo lompat dari sini juga tetap hidup. Malah yang gue dengar dari ceramah kemarin, manusia itu diberi sakit buat penggugur dosa-dosa. Gitu juga Buana. Semoga dengan sakit dan kecelakaannya kemarin, Tuhan ngehapus semua dosa laki lo itu. Dan sekali lagi, meninggalnya Buana bukan salah lo."
Andara tersedu-sedu, jatuh berlutut. "Gue capek, Vin. Capek dengan penyesalan, capek ngejar semuanya."
"Gue ngerti, tapi nggak ada yang perlu lo kejar. Biarin aja mereka udah skripsian dan kita masih asyik ngulang mata kuliah. Jalan orang kan beda-beda? Nggak perlu disama-samain. Lo nggak perlu jealous lihat teman-teman yang lagi skripsi. Mereka malah yang harusnya jealous sama lo, karena lo udah punya pengalaman kerja meskipun masih mahasiswa. Kalau ngerasa capek, istirahat, Ra. Take your time."
Andara mengusap asal mukanya yang banjir lalu duduk, bergeming. Melihat langit dengan pandangan menerawang. "Gue ngerasa berdosa sama Buana, dia pasti benci banget sama gue."
Vina menghela napas dalam, berusaha untuk tidak ikut menangis. Dia ikut duduk bersila di samping Andara yang mulai tenang. "Waktu lo hilang dulu, Buana itu kelihatan panik banget cariin lo. Pas dia tahu, gue yang absenin lo aja, dia tanyanya kayak interogasi. Gue yakin laki lo itu sayang banget sama lo. Dia nggak mungkinlah benci sama lo. Sekarang yang harus lo lakuin, jangan sedih terus, dia bisa ikut sedih nanti."
__ADS_1
"Mana ada orang mati bisa lihat?"
"Bisa. Gue nggak begitu bisa jelasin dari sisi dalil-dalil, sih. Tapi, katanya, ada arwah yang diberikan izin untuk melihat kondisi orang terdekatnya. Lo bayangin, kalau tadi Buana dikasih izin buat ngelihat kabar lo dan dia lihat lo mau lompat. Gimana?"
Andara kembali tergugu. Vina kemudian menoleh. "Sebenarnya ini rahasia gue, sih, tapi gue buka deh buat lo."
Cewek itu tersenyum pelan dan kembali menatap langit yang tampak dekat. "Kalian berdua itu couple goals buat gue. Kalau lo sama laki lo udah bahas musik itu lucu banget. Apalagi kalau udah toyor-toyoran, kayak apa, ya? Kayak pacaran rasa sahabat, enak gitu lihatnya. Nggak pakai jaim, apa adanya lah. Lo pasti nggak sadar kalau gue perhatiin, kan?"
Andara menggeleng. Dia memang tidak begitu memperhatikan sekitar sebab rata-rata hanya tatapan dengki yang mengarah ke dia dan Buana.
"Lo sendiri role model gue tahu, Ra. Tiap gue ngerasa capek karena kerja sambil kuliah terus pengin nyerah, pas gue ngelihat lo, kayak apa, ya... Kayak nemu teman yang ngerti aja. Kayak ngerasa nggak sendiri jadi orang yang ditakdirin kuliah harus sambilan nyari duit. Gue keteteran banget jalanin semuanya, belum lagi kadang bentrok dan harus korbanin salah satu. Apalagi kalau ada tugas yang mesti dikerjain kelompok. Santai, Ra. IP gue juga ambyar semester ini."
Selama ini, antara dia dan Vina tidak pernah membahas hal-hal terlalu dalam. Andara cukup kaget mendengar semua pengakuan Vina, barusan. "Lo ngapain ikutin gue?"
"Nah, itu. Tadinya gue lihat dari bawah, lo ada di sini. Gue pikir lo mau ngerokok. Pas banget gue lagi sumpek, pengin minta sebatang. Eh, malah lihat lo mau lompat. Ya, gils! Udah cukup kemarin-kemarin jadi saksi Buana, jangan sampai gue jadi saksi kedua kali. Lama-lama gue bisa dicurigai Polda Metro Jaya, terus dicekal dan nggak bisa keluar SKCK."
"Otak lo, ye!" sungut Andara terdengar sengau. "Gue nggak bawa rokok. Gue pengin berhenti ngerokok. Rokok itu nggak sehat."
Vina mendengkus kemudian terkekeh mengejek. "Oke, ngerokok memang nggak sehat," ujar cewek itu mendorong kepala Andara pelan, "tapi mau lompat dari lantai atas lebih nggak sehat, oon!"
Andara mulai menarik bibir, menertawai kebodohan. Vina menarik tangannya, setelah cewek itu bantu memberesi isi tas.
"Kalau gitu kita cari cokelat sama es krim aja kali, ya. Leker juga enak. Cuslah kita seser jajanan di sepanjang jalan. Gue yang traktir."
"Memangnya tampang gue udah miskin amat?" timpal Andara melengos tetapi terus mengikuti langkah Vina melewati jalur rahasia.
Mereka sudah menuruni tangga darurat dan menyusuri tempat yang diisi barang tidak terpakai. Ada tumpukan meja dan bangku bekas untuk menutup jalan rahasia itu. "Nggak afdol lo ya kalau nggak nyarkas? Gue baru dapat bonus sebulan gaji. Lumayan buat ngerayain IP yang nasakom itu."
"Berapa IP lo?" Andara jadi mau tahu. Dia pandangi punggung Vina. Dia memang baru kehilangan sahabat, tetapi entah mengapa, dia masih bisa mempercayai Vina.
"1.85," jawab Vina ringan sambil menoleh kiri dan kanan. Memastikan kalau tidak ada yang melihat mereka hadir dari jalan yang ditutup kemudian setelah berada di koridor lantai tiga, jalannya kembali santai.
"Sumpah demi?" balas Andara melengkungkan senyum, mengamati kelakuan Vina sedari tadi.
Langkah Vina berhenti dan menoleh. "Kalau gue ngaku 4, baru lo suruh pakai sumpah-sumpahan. IP 1 koma kok lo suruh sumpah?! Nggak ada faedahnya gue bohong. Memang lo berapa?"
"1.95."
"Woi, elah. Padahal gue yang absenin, tapi lebih tinggian IP lo!" sungut Vina sembari mencibir.
"Absen kan persentasenya cuma 10, Vin. Masih ada tugas, UTS sama UAS. Bisa aja kan nilai UAS gue lebih tinggi daripada lo?" jelas Andara.
"Iya, sih. Lo dikasih nilai apa sama Prof. Taufik?"
"E," jawab Andara meringis. Karena itu juga IPK keseluruhannya terjun bebas.
"Astatang. Gue dapat D. Kenapa, ya?"
Percakapan mereka terhenti karena orang yang dibicarakan ada di depan, berjarak beberapa meter saja. Andara memilih menunduk hormat, sedangkan Vina menyapa dosen itu ketika berpapasan. "Siang, Prof."
"Eh, Vina, Andara," tegur Prof. Taufik penuh wibawa sambil mengganggukkan kepala. "Gimana? Kapan mengulang mata kuliah saya lagi?"
Vina berusaha mencoba tersenyum meski yang keluar hanya ringisan kaku. Gadis itu tergagap-gagap, tidak menyangka dikenali namanya.
"Kalau nanti mengulang kelas saya lagi, pastikan jangan pernah ketahuan menitip absen, ya," ujar pria tua itu sambil berlalu santai.
Vina dan Andara hanya bisa saling bertatap dengan mata yang hendak keluar, mulut terbuka dan sesuatu yang menyumpal di tenggorokan.
🔥🔥🔥
Haaai! Lama banget sih updatenya? 😆
Nggak tahu makin ke ujung, jempol gue berat, Kamerad. 😣
Maafkan hamba yang merindukan ini ya. 😘
__ADS_1