Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Simple Truth


__ADS_3

Kebenaran bekerja dengan cara yang paling sederhana.


🔥🔥🔥


"Kakak!" Suara Kaluna berseru lantang membuat beberapa pengunjung di koridor rumah sakit menoleh. Gadis itu lalu berlari menghampiri. "Kakak baru datang juga?"


Andara mengangguk. Hari ini, Kaluna memakai baju bebas. Jika memakai baju bebas, anak itu terlihat lebih dewasa. "Nggak sekolah?"


Gadis berkuncir kuda itu menggeleng dan menyamakan langkah dengannya. "Cuma classmeeting, Kak. Nanti malam kan malam Minggu, Kakak nginap di sini, yuk?"


Andara berhenti dan menoleh ke Kaluna. "Enggak, ah, Lun," jawabnya sambil kembali jalan.


"Kenapa? Pacar Kakak marah, ya?"


Gadis kecil ini benar-benar punya rasa ingin tahu yang tinggi dan penyelidik yang ulung. Andara tersenyum. Dia hanya mengingat petuah Natha dan Rossa. "Aku jomlo, keleus. Nanti kalau aku nginap yang ada Buana nggak bisa tidur karena aku berisik."


Air muka Kaluna berubah. Tangan cewek itu menggelantung di lengannya, membuat jalan Andara melambat. "Ayolah, Kak. Temani Luna. Aku malam ini mau nginap di sini. Kalau aku sendirian, nanti aku sedih," ujarnya membujuk.


"Ajakin teman-teman Luna coba."


Kaluna menggeleng pelan. Pandangannya tertunduk. "Teman-teman bilang ... Abang pembunuh."


"Siapa yang bilang gitu?!" Kaki mereka berdua terhenti di koridor VIP. Andara dapat melihat mata Kaluna berkaca-kaca. Jangan-jangan, anak itu dirisak di sekolahnya. "Kalau ada yang ngejek-ngejek dan ganggu kamu, bilang sama Kakak, ya! Perlu dihantam teman yang kayak gitu."


Mata berkaca itu membulat karena ucapan Andara barusan. Kaluna menjadi tertawa meringis. "Woah, Kakak ternyata galaknya sama kayak Abang. Waktu kalian pacaran, siapa yang banyak ngalah, Kak?"


Pertanyaan itu membuat Andara terkekeh mendengkus. Siapa ya yang sering mengalah dari mereka berdua? Dia jadi mengingat-ingat. Kadang-kadang, Buana mengalah, tetapi lebih banyakan dia. Eh, lebih banyakan dia atau Buana, sih? Pikiran Andara jadi mereka-reka dan rekaan itu terhenti ketika mereka berdua masuk ke kamar rawat Buana. Matanya menemukan sebuah keluarga sedang menjenguk Buana. Di situ, ada sepasang pria dan wanita paruh baya, seorang gadis seumur Kaluna dan juga Nina. Wanita yang diperkirakan ibu Nina itu menyambut Kaluna. "Eh, Luna. Udah lama tante nggak ketemu. Apa kabar?"


Kaluna yang juga terkejut menjadi grogi kala menyadari dia bersama Andara. "Baik, Te," jawabnya menetralisir keadaan. "Tante, Om sama Kak Nina baru sampai?"


"Udah dari tadi, Lun, tapi kata Mama dan Papa masih kangen sama Buana," ujar Nina melirik ke arah Andara yang diam saja. Cewek seumuran Kaluna itu juga menoleh ke dia, Andara ingat, cewek itu yang mengirimi pesan ke Instagram-nya Buana saat papa Nina ulang tahun. Oh iya, namanya Silvia.


Merasa kehadirannya akan menjadikan suasana tidak enak, Andara memilih menyingkir dari kamar, beralih menuju kantin rumah sakit. Benar seperti yang pernah Nina bilang, Buana cukup dekat dengan kedua orang tua cewek itu. Dia dapat melihat kesedihan di muka mereka. Jadi biarlah mereka melepas rindu dan mendoakan kesembuhan Buana.


Kakinya memasuki kantin yang sebelah dindingnya dipenuhi kaca. Dia memesan teh manis hangat dan penganan ringan. Menyesap teh itu perlahan sembari menatap kosong penganan di atas meja. Ada benarnya sih perkataan Natha dan Rossa, kenapa dia rajin sekali ke rumah sakit? Andara menekur, memperhatikan buih kecil di pinggir cangkir. Kata mereka, dia masih sayang sama Buana? Masa, sih? Rasa-rasanya tidak. Namun, kalau hatinya tergugah dan iba, itu apa namanya?


Ponsel yang bergetar mengalihkan perhatian Andara. Dia membaca pesan dari Kaluna. Gadis itu bertanya Andara ada di mana. Setelah mengetahui kalau dia ada di kantin, Kaluna menyusulnya.


"Kakak? Kok ke sini?" tanya Kaluna sambil ikut duduk.


"Nggak apa-apa. Luna kenapa ke sini? Kan ada tamu, keluarga Nina."


"Mereka udah pulang, kok." Kaluna tampak meneliti dirinya. "Kakak kenal Kak Nina?"


Andara mengangguk pelan sambil menyesap teh manis hangat. "Aku dulu sama Buana itu sahabatan, Lun. Jadi, aku tahu kalau Nina dulu pacarnya Buana. Habis putus dari aku juga Buana balikan sama Nina, kok."


Ucapan Andara ditanggapi Kaluna dengan mengerucutkan bibir. Cewek itu terlihat berpikir dan menelaah kata-katanya. "Mereka balikan lagi?" ulang Kaluna.


"Iya."


"Enggak, ah." Kaluna menggeleng. "Kan udah aku bilang, seminggu sebelum Abang kecelakaan, Abang tuh bilangnya Kakak yang pacarnya."


Andara mencubit gemas hidung Kaluna. "Idih, ini bocah nggak percaya banget."


"Beneran, Kak. Suer! Lagian ... Abang mana suka sama Kak Nina. Mereka sih cuma status doang."


"Sok tahu kamu, Lun."


"Kakak nih yang nggak tahu." Kaluna tanpa diminta mulai menjelaskan cerita yang tidak pernah diceritakan Buana. "Jadi ... awalnya tuh, Abang sama Kak Nina itu kayak dipasang-pasangin gitu sama teman-teman arisan Mama. Abang udah nolak, tapi aku nggak tahu gimana mereka akhirnya jadian."


Cewek itu mengedikkan bahu. "Tapi, walaupun Abang jadian sama Kak Nina. Abang selow-selow aja kayak nggak pacaran. Malah Kak Nina yang selalu tanyain ke aku kabarnya Abang atau info-info tentang Abang."


Cerita Kaluna terdengar aneh, Andara sampai menaikkan kedua alisnya. "Masa? Abang kamu tuh sayang sama Nina, tahu. Kata Nina, Buana sering main ke rumahnya."


Kaluna terkekeh. "Sebagai teman mungkin, tapi kalau sebagai pacar, kayaknya enggak. Keluarga Kak Nina tuh udah kayak saudaraan aja sama keluarga kami. Kalau akrab itu karena si Om sama Abang, sama-sama suka nonton bola. Papa kan nggak suka nonton bola," jelas gadis itu. "Selama ini, cewek yang pernah Abang ceritain ke aku cuma Kakak. Nggak pernah cerita tentang Kak Nina. Abang tuh kayaknya jatuh cinta sama Kakak doang."


"Bukannya Buana sama Nina itu pacarannya lama?" Andara merasa perlu mengorek ini dari Kaluna. Dari penuturan cewek itu, sepertinya dia banyak tahu tentangnya dan Buana.

__ADS_1


"Status-statusan doang buat nyenengin keluarga. Abang berpikir kalau Abang nurutin kemauan Mama, Mama nggak bakal macam-macam. Sebenarnya aku sama Abang udah tahu sih kelakuan Mama di luar." Kaluna menarik bibirnya datar. "Tapi, tetap aja tuh Mama macam-macam dan akhirnya ninggalin kami."


Andara terdiam, merasa tidak enak dengan kalimat terakhir Kaluna. "Sori, Lun. Jadi kebahas yang lain."


Kaluna terlihat menarik napas panjang dan beranjak. "Bentar, aku beli teh botol dulu," katanya dan tak lama kembali dengan sebotol teh yang berembun. 


Penjelasan Kaluna membuat Andara ragu. Kenapa dia baru mendengar cerita ini dari kacamata pihak lain, sih? "Nggak mungkin Buana nggak cinta sama Nina," gumamnya melirik Kaluna. "Buana dulu sering cerita ke aku kalau hubungan dia sama Nina itu complicated."


Sembari mengisap teh botol, Kaluna menyengir. "Kak, kalau sayang, mungkin sayang sebagai saudara kali, ya? Tapi kalau cinta kayaknya enggak. Abang itu nggak pernah peduli sama Kak Nina. Kak Nina tuh kerjaannya ngancam sama ngadu."


"Masa, sih?"


Kaluna berdecak. "Makanya aku nyesal pernah kasih tahu info-info tentang Abang sama dia. Ternyata dipakainya buat ancam Abang."


"Serius?" Andara membulatkan mata dan Kaluna mengangguk yakin. "Memang dia ngancam apa?" tanya Andara. Seketika dia teringat serangannya ke Nina di taman depan perpustakaan.


"Banyak, Kak. Abang kan nggak boleh nge-band. Kak Nina jadiin itu buat ancam-ancam Abang, apalagi Papa sama Mama percaya sama dia," ungkap Kaluna. "Kalau dipikir-pikir, pantas Abang sayang banget sama Kakak. Kakak banyak dukung Abang dari awal nge-band, 'kan?"


Andara rancu atas penjelasan Kaluna, tetapi dalam hatinya mengiakan. Beberapa kali dia menemukan kebenaran dari penjelasan lugas cewek itu. "Tahu dari mana?"


Sebuah senyum pongah terlukis di bibir Kaluna. "Ya, tahu dong, kan Abang cerita. Abang cerita kok waktu band dia terpilih jadi band Indiebest. Aku sampai ditraktirnya. Aku juga kenal sama teman-teman band Abang."


Andara mengangguk-angguk. Dia ingat kata Indra bahwa cowok itu memiliki nomor ponsel Kaluna. "Terus, kalau gitu, complicated-nya hubungan Buana sama Nina apaan?"


"Kakak... Kakak..." Kaluna melipat tangan di dada, bertingkah seperti orang yang lebih dewasa darinya. "Masa sih Kakak nggak ngerasa kalau itu tuh modusnya Abang aja biar bisa dekat dengan Kakak? Aku aja yang SMA paham modus-modus cowok."


"Idih, sok tahu," cibir Andara kemudian tergelak.


"Abang yang kasih tahu. Katanya, cowok yang curhat sama cewek itu ada dua kemungkinan, antara benar-benar curhat atau cuma modus. Cara ngebedainnya gampang, lihat aja gimana sikapnya setelah kita kasih jalan keluar. Biasanya kalau dia benar-benar curhat, ya sikapnya biasa aja, tapi kalau niatnya modus pasti tetap aja mau dekat-dekat."


"Buana ngomong gitu?" Andara mendelik takjub dan Kaluna kembali terangguk-angguk sok dewasa. Diam-diam, Andara kembali mencocokkan perilaku Buana dahulu dengan informasi yang diberikan Kaluna. Memang benar, sih. Saat dia menanggapi curahan hati Buana tentang Nina, cowok itu tetap dekat dan jalan dengannya. Kenapa dia nggak sadar kalau itu hanyalah usaha pendekatan Buana? Andara menggaruk pelan kepala yang mendadak gatal.


"Benar, 'kan?" Kaluna menaikturunkan alis. Cewek itu sepertinya dapat melihat kesadaran terlambat Andara. "Udah kubilang, Kak. Abang itu bucinnya sama Kakak doang."


Pipi Andara tiba-tiba terasa hangat. Kenapa Kaluna ini cerdik sekali dalam mengungkap fakta? "Lun, Lun. Bentar. Nomor sepatu berapa? Bisa banget bikin gue ge-er."


Kaluna terkekeh. "Nomor 38, Onitsuka Tiger ya, Kak."


Tawa Kaluna lepas. "Bercanda kok, Kak. Abang paling nggak ngebolehin aku minta-minta ke orang. Semua barang yang pernah dikasih Kak Nina aja disuruh Abang balikin. Kata Abang, kalau orang sering ngasih sesuatu itu pasti ada maksudnya. Kalau dipikir-pikir benar juga, aku kan hampir dijadiin mata-mata sama Kak Nina."


"Yang mau ngasih juga siape? Gue juga cuma bercanda. Idih, ge-er," balas Andara menjulurkan lidah.


"Astaga! Kakak bukan galak aja, ngeselinnya juga sama kayak Abang." Kaluna mengepalkan tangan dan meninju udara. "Udah, ah. Ke kamar Abang, yuk, Kak."


Bersama Kaluna, ruang rawat Buana tidak lagi sunyi. Gadis itu ada saja ceritanya, tidak habis-habis. Kaluna juga memaksa untuk antar dia mengambil baju . Cewek itu bilang kalau Andara dibiarkan pulang sendiri nanti nggak akan balik lagi ke rumah sakit. Siapa sih yang ajari Kaluna banyak akal seperti ini? Pasti ini ilmunya Buana. 


"Kamu tunggu di sini aja," ujar Andara saat mereka sudah tiba di rumah. Dia tidak perlu banyak waktu untuk membereskan baju, kok.


Kaluna mengangguk. "Awas, ya, kalau Kakak berusaha kabur."


"Ye, memangnya gue ngutang apa sampai pakai kabur-kaburan segala? Tunggu bentar, ya." Andara turun dan masuk ke rumah. Dia mengambil dua lembar kaus, satu buah jaket, dalaman juga beberapa keperluan lain. Upaya menyusun semua perlengkapan itu ke tas teralih karena kedatangan Natha yang tiba-tiba.


"Mobil siapa di luar?" tanya Natha muncul dari pintu kamar dan memperhatikannya. 


"Kaluna," jawab Andara pendek. Dia barusan mendengar suara mesin mobil sebelum Natha datang dan suara mesin halus itu bukan seperti suara mobil Rossa.


"Siapa Kaluna? Lo mau ke mana?"


Pertanyaan memberondong dari Natha terasa sulit untuk dijawab. Andara bergegas menutup ransel dan mencangklongkan ke pundak. Kalau dijelaskan siapa Kaluna juga Natha mana mau mengerti. "Adek gue," ujarnya sambil melewati Natha.


Langkahnya mendadak berat saat melihat siapa yang ada di ruang tengah. Ya Tuhan, Kin ini sebenarnya titisan apa, sih? Setiap ketemu dia, Andara selalu deg-degan. "Gue cabs dulu, yak. Kalian baru datang?" tegur Andara memanipulasi senyum ke arah cowok itu.


Kin yang sedang menoleh ke arahnya kemudian mengangguk. "Lo sibuk banget kayaknya."


Ucapan yang tidak disangka-sangka itu membuat Andara menggigit lidah agar terlihat tetap biasa. Belum Andara menjawab, panggilan merdu dari Kaluna terdengar.


"Yuhu, Kakak... Katanya cuma sebentar?"  Muka gadis kecil itu sudah nongol di ruang tamu. "Luna masuk, ya? Bosen tahu nunggu di mobil aja."

__ADS_1


Tanpa dijawab, Kaluna masuk sambil meneliti rumah ini. Setiap langkah yang diberikan Kaluna membuat seisi dunia terasa membekukan Andara, apalagi saat pandangan Kaluna dan Natha bersirobok dan sebuah senyum penuh hormat keluar dari bibir Kaluna. Andara ingin sekali menarik Kaluna agar mereka secepatnya meninggalkan rumah. "Yuk, Lun," ajaknya agar Kaluna segera pergi.


"Lo Kaluna? Gue Natha, homemate-nya Andara, dan dia, Kin." Natha menyapu penampakan Kaluna dari atas ke bawah. 


Kaluna yang hendak berbalik keluar menjadi kembali ke arah dalam, dari jauh dia mengangguk ke arah Kin. Cewek itu tersenyum sembari menyodorkan tangan ke Natha. "Aku Kaluna. Adiknya Bang Buana."


***


"Kenapa sih, Kak? Kok tadi kayaknya jadi nggak enak gitu?" tanya Kaluna ketika mobil sudah meninggalkan rumah. Cewek itu tadi langsung diseret Andara keluar rumah.


Andara melirik tajam. Kalau saja dia tidak bertindak spontan, tidak tahu apa yang bakal terjadi di sana. Bisa saja Natha menyerang Kaluna dengan kalimat-kalimat menyentil.  "Udah dibilang tunggu di mobil aja, pakai acara turun segala."


Mata Kaluna menerawang. "Muka mereka langsung kaku gitu waktu dengar nama Abang," gumamnya.


"Ya, iyalah." Andara memutar bola mata. Di circle terdekat dia, memangnya siapa yang suka dengan Buana? Tidak Natha, tidak juga dengan Rossa. Mereka antipati sama cowok itu.


"Kenapa, Kak?"


"Panjanglah ceritanya, Lun." Andara menggeleng ketika melihat kilat ingin tahu dari mata Kaluna. "Tapi aku nggak mau bahas itu."


Kaluna mencibir dan berusaha ngambek, tetapi diabaikan oleh Andara. Dia jadi teringat tatapan Kin saat mendengar perkenalan Kaluna. Sama seperti Natha, Kin juga akhirnya meneliti Kaluna. Sepertinya pandangan kedua orang itu masih mengekori mereka saat dia menarik Kaluna keluar rumah. "Udah, nggak usah ngambek-ngambek, Lun. Nggak bakal pengaruh sama aku."


Bibir Kaluna yang mengerucut berangsur-angsur hilang. Mata tajam itu kembali berbinar. "Eh, iya. Yang cowok tadi siapa namanya? Ganteng paripurna tanpa cela."


Kepala Andara menoleh cepat, bola matanya melotot. "Jangan bilang kalau Luna suka sama dia."


"Siapa yang nggak suka lihat cowok ganteng, Kak?" balas Kaluna santai tanpa tahu hati Andara sudah kebat-kebit. "Udah punya pacar belum dia, Kak?"


"Lun..." panggil Andara dengan tatapan menajam.


"Ya..." Kaluna menoleh sedikit sambil menjaga jarak mobilnya dengan mobil di depan.


"Dia mantan aku." Andara juga tidak tahu mengapa dia mau mengakui itu, meski hubungan mereka sangat singkat.


Mobil Kaluna mendadak berhenti di lampu merah. "Yang benar?" tanya Kaluna dan dijawab dengan anggukan Andara. "Kok bisa?"


Tangan Andara refleks maju dan menjewer Kaluna. "Woy, elah. Sepele amat lo."


Tawa Kaluna lepas lagi. Cewek itu menjadi banyak tertawa hari ini. Ponsel Andara berbunyi, dia mengangkat tangan ke Kaluna, memberi tanda bahwa akan menjawab telepon. Nama peneleponnya membuat Andara memandangi layar agak lama sebelum mengangkat panggilan. "Halo, Tan."


Nia terdengar gagap. Mungkin peneleponnya tahu kalau Andara enggan mengangkat telepon. Selama ini, setiap sms Nia selalu dibalasnya dengan kalimat pendek. "Dara, Nantulang Jo meninggal barusan dan akan dimakamkan besok," ujar Nia tersendat.


Andara bergeming. Dia tidak tahu harus senang atau sedih. Sebab pada kenyataannya, dia malah menarik napas lega. Tangan Tuhan bekerja sendiri tanpa perlu Andara repot-repot mengotori tangannya. Akhirnya orang tidak beradab itu wafat juga tanpa dia perlu menjejalkan gelas seloki atau botol kosong untuk membungkam mulut jahanamnya.


"Dara bisa pulang? Tante kirim tiket buat malam ini, ya?"


"Nggak usah," tolak Andara. Memang untuk apa dia pulang? Dia datang atau tidak datang, Jovanka tetap akan dikuburkan, bukan? Buat apa dia datang? Nanti bisa-bisa dia kelepasan menertawai Jovanka dari atas liang lahat. Wah, kalau itu sampai terjadi, bakal repot urusannya.


Mereka masing-masing terdiam. "Jadi, Dara nggak bisa pulang?"


"Nggak, Tan," putus Andara pasti. Dia tidak perlu melihat bagaimana Jovanka ditanam di dalam tanah.


Nia terdengar mendesah. "Ya udah, kalau begitu. Tante cuma mengabari saja. Dara sehat-sehat ya di sana. Makannya yang teratur."


"Iya," jawab Andara singkat sebelum menutup telepon. Tatapannya teralih ke Kaluna yang sedang mengangguk-angguk paham. "Kenapa mukanya gitu?"


Kaluna mengulas senyum tiga jari. Kakinya menginjak pedal gas ketika lampu sudah berubah hijau. "Kayaknya aku mulai ngerti, nih. Antara Abang, Kakak dan cowok tadi," imbuh cewek itu merangkum semua. "Pantesan Abang ngaku-ngaku Kakak masih pacarnya. Pasti susah buat mengakui kalau pacar baru mantan lebih ganteng." Kaluna lalu tertawa puas sampai ujung-ujung matanya berair. "Jelaslah Kakak pilih dia, kan lebih ganteng."


"Kin, namanya Kin," ralat Andara sembari mengantongi ponsel di jaket. "Aku milih Kin bukan perkara lebih ganteng, ya."


"Jadi ... karena apa?" Kaluna mendesis sambil membelokkan setir, masuk ke parkiran rumah sakit. Dia menempatkan mobil di antara barisan mobil-mobil yang diam di tempat.


"Karena ..." Kalimat Andara terhenti, tak lama dia menoleh ke Kaluna yang seperti menunggu jawabannya. Dia lalu mendengkus karena hampir saja masuk perangkap. "Woah, bisa banget lo ya mau ngorek-ngorek informasi dari gue. Adiknya siapa sih ini? Ngeselin banget?!"


"Adiknya mantan pacar Kakak," ujar Kaluna berkelit lari, turun dari mobil sebelum dijewer lagi oleh Andara.


🔥🔥🔥

__ADS_1


Tungguin Kin terosss klean, yha. Tau nggak sih kalau berharap itu nggak asyik?


BTW, aku baru sadar kalau pembaca aku ada yang nge-vote. Dari awal ada vote-votean di Mangatoon, aku nggak ambil pusing. Lagian siapa juga yang mau nge-vote. Eh, ternyata waktu kuperiksa, klean ada yang ngevote. Aku terharu, makasih ya. 😘


__ADS_2