Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
I Want But I Can't


__ADS_3

"Menyerahkan diri pada gravitasimu hanya akan membuatku jatuh tersungkur pada lubang hitam."


🔥🔥🔥


"Woy, lo kapan balik? Uang sepuluh juta lo di gue, nih. Jangan lama-lama baliknya, ntar ini uang gue pakai juga buat makan-makan jadian lo."


Keningnya berkerut. Dia merasa tidak memiliki piutang atas Rossa. Kalau di antara mereka pernah meminjami lima puluh sampai seratus ribu, itu adalah hal yang wajar dan tidak pernah dianggap utang. "Uang apa?"


"Uang lo dari Buana. Kemarin Buana samperin gue di kantin FE dan dia tanya lo di mana." Jawaban Rossa membuat Andara terperangah, dengan sigap dia melirik Kin yang ada di samping. "Bentar, lo lagi sama Kin nggak sekarang?" tanya Rossa.


Andara mengembus napas kesal. Ya, jelas saja dia sedang bersama Kin saat ini. Jika tidak, sudah dicercanya Rossa tanpa basa-basi. Bukankah sudah dia ingatkan mereka untuk tidak berurusan lagi sama Buana. Untuk mengangkat telepon saja sudah Andara larang, apalagi jika ditemui. Harusnya Rossa menghindar. "Terus? Iya, gue lagi di jalan. Kenapa memangnya?"


Andara berusaha tenang. Dia masih tidak mengerti korelasi dari Rossa bertemu dengan Buana sama uang di tangan cewek itu. Rossa kemudian menceritakan kalau Buana memaksa dia memberitahu di mana Andara sampai-sampai mereka jadi tontonan di kantin fakultas. "Senewen gue, gue bilang aja lo pergi buat aborsi. Biar nyahok dia dipelorotin sekalian. Gue bilang aja biayanya sepuluh juta dan doi kasih duitnya nyicil dong ke gue kayak kredit panci. Kemarin lima juta, hari ini lima juta."


"Gila sih lo?! Ya Tuhan, Ocha! Otak lo di mana?!" Andara tidak tahan lagi untuk tidak teriak. Dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Buana perihal apa pun. Melibatkan Buana dalam segala drama dan konspirasi pemelorotan hanya akan memberi ruang bagi Buana untuk ada di sekitarnya. Sumpah, Andara tidak mau berurusan dengan Buana lagi.


"Otak gue ya di sini-sini aja lagi." Rossa terkekeh. Cewek itu pasti tidak tahu kalau Andara sudah tidak ingin kenal dengan Buana. Andara ingin menjelaskan itu kepada Rossa tetapi Kin saat ini ada di sampingnya. Cowok itu pasti akan mendengar percakapan dia, buktinya Kin menoleh dan mengangkat dagu seolah bertanya ada hal apa. Andara menggeleng. Dia tidak akan memberitahu ini kepada Kin. Persoalan ini harus dia selesaikan sendiri.


Kenapa Rossa sering kali membuat keputusan sendiri tanpa kompromi? Cewek itu kan bisa kirim pesan dahulu untuk berdiskusi? Jika Rossa pikir dia akan untung karena ide bodoh itu, bagi Andara tidak sama sekali. Bagaimana jika ada yang mendengar dan menjadikan itu gosip?


Andara mencengkeram ponsel. Oh, iya, pantas saja Buana belakangan ini seperti tidak bernapas menghubunginya. Cowok itu pasti takut sekali ada bayi bernyawa di dalam perutnya. Mungkin si Nina sudah memberitahu mengenai pertemuan mereka dan apa yang dia ceritakan kepada cewek itu. Pantas saja Buana marah besar dan memintanya mengangkat telepon.


"Udahlah, Chu. Uangnya udah di gue. Masa mau dipulangin lagi? Lagian lumayan, lho. Siapa yang mau kasih cuma-cuma hari gini?" tambah Rossa. "Sepuluh juta, Chu! Lumayan banget! Jangan muna, kita semua butuh duit."


"Ck! Entarlah kita bahas lagi, gue lagi di jalan." Andara menutup pembahasan. Lama-lama berbicara dengan Rossa akan membuat emosinya semakin naik dan bisa jadi nama Buana akan terlontar juga. "Dan lain kali tanya gue dulu sebelum bikin beginian. Ya udahlah, bye."


Memang semua orang butuh uang dan semua orang akan senang-senang saja diberi uang, tapi bukan dengan mengarang cerita fiktif memakai namanya. Jelas-jelas dia yang dirugikan saat ini. Mengapa di waktu mendesak kinerja otak Rossa malah mendadak tumpul hingga meminta uang kepada Buana?


Selama hampir setahun Andara berpacaran dengan cowok itu, dia tidak pernah meminta apa pun. Dia punya harga diri dan tidak sudi untuk meminta-minta. Dia memang semiskin gembel perlu bekerja serabutan untuk memenuhi segala kebutuhan juga untuk tetap bisa hura-hura tetapi dia bukan pengemis yang menengadahkan tangan dan meminta belas kasihan dari orang. Berbeda hal jika Buana membelikan atau memberikan sesuatu. Yang jelas, ini memalukan.


Dari mana Buana dapat uang sebanyak itu? Memang Andara tidak pernah tahu persis berapa isi rekening Buana, tetapi dia pernah masuk ke ruang ATM bareng. Seingatnya isi rekening Buana tidak menyentuh delapan digit. Atau jangan-jangan dia yang terlalu simpati kepada Buana sedangkan sebenarnya tabungan cowok itu banyak dan tersebar? Kalau dipikir lagi, mungkin juga, sebab Buana kerap mengajaknya makan atau menonton atau apa pun yang sebenarnya dinilai menghabiskan uang bagi sebagian orang.


Ah, yang jelas, pasti cowok itu tidak mau ada makhluk di perutnya, sehingga mengupayakan uang itu secepat mungkin. Membuang sepuluh juta ternyata mudah saja untuk Buana daripada namanya terseret-seret atau disuruh bertanggung jawab. Benar-benar pemain sejati! Kalau Buana hanya mau kepuasan, mengapa cowok itu nggak menyewa perempuan-perempuan lain saja, sih? Oh, mungkin awalnya dia mau yang gratis. Iya, namanya juga gratisan, selagi bisa, mengapa tidak bukan? Bodoh sekali dia mau saja memberikan hati dan badannya untuk cowok itu.


Kepala Andara benar-benar berasap, dan semua makin diperburuk karena Kin memasangkannya sekamar dengan Diska. Astaga, dari lima juta jiwa penduduk Singapura, kenapa dia mesti dipertemukan sama cewek yang bernama Diska?


Tidak hanya Rossa, ternyata Kin pun seperti itu. Mengapa semua orang suka sekali membuat keputusan sendiri padahal keputusan ini menyangkut hajat hidup orang lain? Itu mengesalkan. Dia berhak memilih, dong. Jika Kin berpikir dia tidak mampu membayar satu kamar hotel di Pulau Sentosa, tentu cowok itu salah. Segembel-gembelnya dia sekarang, dia masih memiliki satu kartu sakti yang tidak pernah disentuhnya. Kartu yang sering ditanyakan Nia sebab tidak pernah dipakainya.


"Ra..." Kin mendekat. Mereka sudah ada di hamparan pasir luas yang mulai disesaki orang. "Masih marah?" bisik Kin.


Andara mengangkat alis. Dia memang kesal karena Kin tidak berdiskusi terlebih dahulu, tetapi marah-marah di depan umum tentu memalukan. Apalagi ada Deni dan Diska yang jalan di belakang mereka. Menunjukkan pertengkaran hanya membuatnya kalah di mata Diska. "Nggak."


Kin mengangguk. Pandangannya terarah ke panggung besar. Panggung yang gelap tiba-tiba benderang dengan latar musik yang dramatis. Di sana sudah ada dua orang cowok berwajah Timur Tengah. Satu yang berkepala plontos menekuni peralatannya, meramu musik yang berdesing. Penonton mulai mengangguk ikuti entakan dan tidak sedikit yang bergoyang.


Deni datang dan memberikan botol alumunium yang berembun. Tidak usah ditebak, Andara tahu apa isinya. Dia juga meneguk sedikit agar lebih santai. Matanya ikut mengamati permainan Aly & Fila. DJ asal Mesir itu memang pantas diakui sebagai musisi go international. Musiknya mirip-mirip dengan Paul Van Dyk, DJ beken asal Jerman.


Andara menyapu pandangan ke sekitar. Lampu-lampu remang menjuntai di pinggiran pantai, menyatukan batang kelapa satu dan lainnya. Cahaya itu kalah oleh sinar laser hijau dan biru, sinar yang berkedip-kedip sesuai ketukan dan ditingkahi dengan seruan riang para penonton.

__ADS_1


Mungkin Andara terlalu penat atau hari ini memang melelahkan sehingga dia masih tidak enjoy. Pikirannya masih memikirkan kejadian tadi yang membuat dia dan Kin masih sekaku ini. Kejadian tadi memang tidak sepenuhnya salah Kin. Mungkin Kin ada maksud lain, tetapi Andara lebih dahulu naik darah karena pengaduan Rossa sehingga Kin juga kena imbasnya. Melampiaskan kekesalan kepada orang lain adalah bentuk ketidakprofesionalan seseorang. Rasa bersalah menyelubungi. Andara meneguk kembali isi botol untuk menetralkan perasaan.


Penonton yang penuh dan berdesakan mulai tidak kondusif. Terbawa suasana oleh ketukan yang meninggi, mereka senggol menyenggol. Sekali dua kali Andara bahkan merasa seperti didorong dari belakang.


"Ra..." Kin menarik lengannya. Mereka hampir terpisah. Seseorang mendorong Andara lagi, sehingga dia yang lagi menoleh ke arah Kin menjadi terpental ke dada cowok itu.


"Nggak apa-apa?" tanya Kin merangkul bahunya. Andara menggeleng dan menurut saat Kin mengajak ke tepi. Berada di tengah lantai dansa yang sesak tidak mengenakan, juga berbahaya.


Kin meraih botol di tangan Andara. "Bagi-bagi bisa kali. Jangan minum sendiri."


Andara mendengkus. Siapa juga yang mau menghabiskan sendiri? Dia tahu kok Deni memberi botol itu untuk mereka berdua. "Habisin aja sana."


Kin hanya tersenyum pelan. Dia menyadari kalau Andara masih kesal. Namun, cewek itu tidak semarah tadi. Sayang sekali jika harus bertengkar pada acara yang mereka rencanakan dari jauh hari. Seharusnya mereka menikmati bukan diam-diaman seperti ini. Kin mundur dan menempatkan badannya di belakang Andara. Tangannya melingkari pinggang cewek itu dan meletakkan kepala di bahu Andara.


"Kedengeran," bisik Kin.


"Kedengeran apa?" tanya Andara waswas. Tidak pernah sekali pun dia menyangka Kin akan memeluknya dari belakang seperti saat ini. Ini posisi yang sangat dia suka. Dipeluk dari belakang itu semacam tanda melindungi hal yang disayang.


"Detak jantung kamu." Cowok itu mengecup pipi Andara sekilas. Ciuman itu membuat Andara mati gaya, kehabisan kata-kata. Kin bilang 'kamu'. Wow. Apakah dia perlu melompat-lompat seperti penonton yang lain di sana?


Kin tertawa senang melihat Andara yang kaku. Jika tebakannya tidak benar, Andara tidak perlu canggung, 'kan? "Sama, kok. Jantung gue juga bunyinya keras banget. Mau dengar?"


Dengan muka menahan malu, Andara mengangguk. Cewek itu menggemaskan sepuluh kali lipat dari biasanya. Kin memutarkan badan Andara, meraih kepala cewek itu dan mendekatkan ke dadanya. "Kedengeran?"


Andara memejam setelah menempelkan telinga ke dada kiri Kin. Debar jantung Kin keras dan menyenangkan. Seperti bayi yang menyukai detak jantung Ibu dan menjadikannya lullaby, dia juga menyukai bunyi itu. Andara mengangguk sebagai jawaban, lantas mengalungkan tangan guna memeluk Kin. Di pelukan ini, dia merasa nyaman.


"Ya."


"That's the point," ujar Kin mengusap lembut kepalanya. Andara kembali mengetatkan pelukan. Dia teringat pembicaraan yang hampir sama saat di Pantai Batu Karas. Apakah waktu itu cowok ini sudah menyukainya? Entahlah. Yang jelas dia bahagia, sangat bahagia. "New Year's Eve ke sini lagi, yuk? Mau?"


"Mau, mau," jawab Andara antusias sembari mengangguk-angguk lagi di dada Kin. Hidungnya menghirup wangi sang kekasih sebanyak-banyak dia bisa. Ke mana pun, apa pun itu, dia setuju saja. Asalkan bersama Kin, dia merasa lengkap. Jika ini mimpi, Andara bersedia tidak bangun lagi dan menjadi Putri Tidur selamanya. Asalkan Kin yang menjadi Pangeran.


"Mau apa, nih?" Kin mulai menyeringai jail.


Andara mencubit pinggang itu. Pinggang yang tidak ada lemaknya sama sekali. Kin tertawa lagi. "Ya, pertanyaan gue kan bener. Mau apa coba?" tanya Kin merunduk.


Dahi dan hidung mereka bersentuhan. Hanya beberapa senti lagi jarak antar muka mereka. Tinggal menunggu siapa yang lebih dahulu.


Andara mengusap pelan pipi Kin sambil menggesekkan hidung. Kali ini, dia yang akan maju. "Mau kamu," desisnya merapatkan bibir dan mulai mengecup bibir Kin. Cowok itu tidak menolak, Andara dapat merasakan Kin tersenyum di antara ciuman.


Sekali, dua kali, tiga kali, ciuman itu tetap memabukkan. Kakinya terasa ringan seperti tidak memijak bumi. Sekarang Andara tahu mengapa Rossa sering menyosor siapa saja jika mabuk. Kombinasi alkohol, musik yang berdentum di lampu remang dan bibir yang lembut adalah kolaborasi lezat yang tidak mampu ditolak. Mereka bahkan sudah mundur menjauh dari tepi keramaian. Bersandar pada batang pohon kelapa yang tidak dipedulikan orang. Tak ada yang mau mengurusi sepasang kekasih yang sedang berimpitan di pesta sebesar ini.


Andara terus mencecap bibir penuh kehangatan itu hingga oksigen terasa menipis di sekeliling mereka. Rasa bersalah, rasa senang melebur menjadi satu euforia yang mengungkung. Kecupan Kin yang turun ke leher membuatnya menggeliat. Secara refleks dia menaikkan dagu sembari menjambak pelan rambut Kin. Dia tidak mau kalah. Sebelah tangannya menyelinap ke dalam kaus Kin, mengusap lembut punggung itu.


Kin melenguh dan menatapnya yang sedang terengah-engah. Cowok itu pasti dapat melihat kabut di matanya, dan Andara juga tahu kalau Kin juga menghendaki hal yang sama. Dia tahu ada yang tidak tenang di bawah sana.


Pantas saja setan suka di tempat yang gelap. Sebab karena gelap juga, Andara dapat mengusap hal yang membuat Kin makin berdesis. Kekasihnya semakin tampan bahkan di kala menyerupai ikan kehabisan air. Tangannya beraksi seduktif naik dan turun di tempat itu sambil tetap membalas pagutan.

__ADS_1


Jari-jari panjang Kin melata ke dadanya. Mungkin cowok itu ingin mengimbangi permainan atau hendak memanaskan keadaan. Entahlah. Yang jelas semua terasa melenakan bagi Andara. Dia merasa melayang bebas.


Kin mengerang, Andara mendesah. Badan mereka sudah tidak berjarak sama sekali. Kecupan-kecupan semakin liar dan basah. Tubuh Andara sampai panas dingin karena kuduk yang berdiri sedari tadi. Dia memekik kecil kala Kin menggigit gemas tulang selangkanya dan balas mengisap bibir bawah cowok itu.


"Ke kamar, yuk?" ajak Kin melepaskan tautan. Cowok itu berbisik lirih sembari meniup telinganya, mengirimkan gelenyar aneh.


Sesuatu terasa berperang di diri Andara. Ajakan Kin seperti tawaran menarik yang tak mampu ditolak. Dia menyukai ciuman Kin, usapan Kin dan bagaimana cowok itu mengistimewakannya. 


Mungkin karena dia hanya diam, Kin menuntunnya ke arah hotel. Melewati lorong yang dikawal cahaya lampu taman. Keriuhan pesta mereda pertanda mereka sudah jauh dari sana, dan Andara dapat mendengar desir ombak yang mengalun. Andara gamang. Haruskah dia mengulangi kesalahan lagi meskipun itu manis dan dia inginkan? Akan tetapi, dia juga ingat akan janjinya kepada diri sendiri. Tidak akan ada yang mencintai dia sebesar dia mencintai dirinya sendiri. Semua juga akan tahu apa kelanjutan yang terjadi jika dia mengiakan ajakan itu.


"Kin." Andara menahan badan dan berhenti melangkah. Ini tidak boleh terjadi sebab penyesalan akan selalu ada di belakang. Kin menatap matanya, melihat keragu-raguannya. Andara menggeleng sambil melepas tangan dari Kin. "Sori. I can't."


Dengan mengabaikan bola mata Kin yang membeliak, dia memutar haluan dan berlari menjauh secepatnya. Dia malu karena kelepasan seperti tadi. Dia enggan mengakui bahwa hampir saja terseret nafsu birahi. Dia ingin sekali bisa pacaran sehat seperti pasangan yang lain. Bukankah kemarin-kemarin mereka bisa menahan diri? 


Andara memasuki toilet terdekat guna mencuci muka. 1% kesadaran ternyata mampu menyelamatkan janjinya, 99% lagi lari ke antah-berantah. Bayangan bagaimana Kin menciumnya masih tidak mau hilang. Andara perlu berkali-kali membasuh muka. 


"Kampret!" desisnya melihat wajah sendiri melalui kaca. Susah sekali menurunkan gairah sialan itu. Jantungnya saja masih berdenyut keras.


Seseorang di sebelahnya menoleh. "Indonesia?"


Andara menelengkan kepala, melihat penegurnya. Cewek cantik yang sedang mencuci tangan sehabis keluar dari dalam bilik, menatapnya dari kaca. Dia mengangguk.


Cewek itu juga mengangguk. "Gue kira lo dari Thai atau Filipin."


Andara meringis. Apakah wajahnya seperti artis Wik Wik? Ataukah cewek itu bisa melihat mupeng-nya dia? "Lo orang Indonesia juga?"


"Iya. Gue kuliah di sini." Cewek itu tersenyum ramah. "Lo nonton Aly & Fila?"


Andara mengangguk. "Pasti lo juga."


"Gue sih nggak heran ya kalau ketemu orang-orang Indonesia saban ada acara atau konser di sini. Kadang malah jadi semacam reuni tanpa rencana," ujarnya terkekeh. "By the way, nama gue Zella. Nama lo?"


"Andara." Andara membalas jabat tangan Zella. Mereka lantas bersamaan keluar dari toilet.


"Teman-teman lo di mana?" Zella melangkah kembali ke arah kumpulannya.


Andara hanya mengangkat bahu, meraih rokok dan menyalakannya. Dia tidak tahu di mana Deni dan Diska, juga tidak mempunyai keberanian untuk bertanya di mana Kin saat ini. Diikutinya langkah kaki ke mana menuju. Seperti buku terbuka yang mudah dibaca, Zella tidak bertanya lagi. Cewek itu mengajak dia bergabung ke kelompoknya. Andara juga sempat dikenalkan dengan beberapa orang termasuk pacar cewek itu, yang namanya Andara langsung lupa beberapa detik kemudian. Semasa bodoh itu dia sama sekitar.


"Ternyata di sini. Gue cariin dari tadi." Sebuah rangkulan datang. Rokok miliknya dirampas dan diinjak sampai mati. Andara terkejut, bara rokok yang terbang hampir saja menyundut tangannya sendiri.


🔥🔥🔥


Potato, ya, Kin? 😄


Andara nackal. Dia yang memulai, dia yang mengakhiri.


Udah kek lagu dangdut.

__ADS_1


__ADS_2