
"Wanita butuh penjelasan, meski dia sering kali berpura-pura baik-baik saja."
đ„đ„đ„
Hal pertama yang ada di pikiran Buana saat mendengar Nina menjerit adalah Andara. Dia terkejut saat mendapati Andara tidak di sampingnya. Dia sampai melupakan bahwa dirinya tidak memakai apa-apa saat berusaha bangun dari ranjang, dan membuat Nina makin memekik.
Namun, ada rasa lega mendapati Andara menekur di ruang tamu. Buana berpikir Andara meninggalkannya atau diambil orang atau ditangkap warga. Hal-hal mengerikan muncul begitu saja di otak Buana sehingga dia menyeret cewek itu ke kamar. "Ra! Kenapa kamu buka pintunya?!"
Andara yang menunduk dengan muka bersalah membuat Buana kesal dengan dirinya sendiri. Apalagi dia tahu kalau Nina itu mudah mengadu. Buana khawatir jika berita ini akan sampai ke keluarganya. Dia ingin mengenalkan Andara ke keluarganya dengan cara baik-baik, bukan dengan berita yang akan mencederai reputasi Andara. Selama ini baru sang papa yang pernah berkenalan dengan Andara, itu pun tidak sengaja bertemu saat Buana menjemput Andara di salah satu seminar.
Kalau kejadian ini sampai ke telinga orang tuanya, tentu papa akan menggorok dia selekas pria itu bisa. Karena dari semua peringatan, hal yang selalu ditekankan sang papa adalah jangan pernah mempermainkan wanita. Papa tidak pernah melarangnya untuk merokok, atau meminum alkohol, tetapi pria itu selalu mengingatkan dia tentang memperlakukan wanita.
Untuk itulah Buana mengejar Nina dengan motor. Dia tidak peduli Nina akan marah, menangis, meraung atau memakinya. Dia hanya meminta cewek itu agar jangan pernah menceritakan itu ke keluarganya. Biarlah dia yang akan cerita ke sang papa, saat Andara berhasil hamil nanti, dan dia bersedia menanggung semua.
Seperti dugaan Buana, Nina mencercanya sepanjang jalan. Cewek itu membuat mereka jadi tontonan hingga Buana perlu turun dan mencekal Nina agar diam.
"Lo dari ngapain sama dia?" tanya Nina berkacak pinggang. "Pantes ya waktu itu Andara sampai siram kita? Ternyata di belakang gue, lo itu sama dia udah terlalu jauh."
"Diam," bisik Buana mengingatkan.
Nina mengecimus. "Di depan gue aja lo sok baik. Ternyata lo nggak lebih dari seorang player! Itu lagi, perempuan apaan yang main belakang sama cowok orang?!"
"Gue bilang diam!" Buana mengetatkan rahang, tidak terima mendengar ucapan Nina. "Lo nggak tahu apa-apa. Jadi lo lebih baik diam, Nin!"
"Lo suruh gue diam? Cewek mana yang bakal diam kalau lihat pacarnya habis tidur sama cewek lain?! Lebih baik kita putus."
"Oke," jawab Buana cepat. Dia merapatkan tubuhnya ke arah Nina dan mulai mengintimidasi. "Dan masalah tadi, gue belum bisa jelasin sama lo. Lebih baik lo pulang dan gue minta lo diam. Sedikit aja gue dengar lo buka mulut, lo tahu gue bakal apa, 'kan?"
Dia langsung memesan taksi online untuk Nina dan meninggalkan cewek itu setelah pesanan datang. Dia memacu motor dengan kecepatan tinggi melewati jalan padat karena mengkhawatirkan Andara. Dia berdecak memikirkan Andara yang selalu santai dan kurang hati-hati. Meski dalam hati Buana juga tetap bersyukur yang datang tadi hanya Nina, bukan orang lain apalagi keluarganya.
Buana sampai di rumah dengan pintu rumah tertutup. Dia mengetuk, tetapi Andara tidak juga membukakan pintu. Dia sudah memanggil-manggil cewek itu atau berusaha menghubungi ponselnya tapi tidak jua ada jawaban. Setelah bermenit-menit duduk di teras, Buana baru menyadari kalau kunci ada di balik keset dan Andara sudah pergi tanpa pamit. Yang tertinggal hanyalah kaus bekas dipakai Andara, kamar yang sudah rapi, meja makan juga sudah bersih.
Wangi perempuan kesayangannya masih terhidu di udara. Buana menatap semua itu dengan getir yang semakin pekat. Dia ingin Andara tetap di sini, menunggunya sekejap saja sebab dia pasti akan datang. Bukankah dia sudah berjanji akan selalu datang untuk cewek itu? Mengapa sulit sekali meminta Andara untuk tinggal di dunianya yang tidak gemerlap?
Setelah kejadian itu, Andara sama sekali tidak menanyakan keadaan dia. Entah hanya bertanya apa yang terjadi antara dia dan Nina pun tidak ada. Buana berulang kali menelepon tidak diangkat. Dia ingin mengirimi Andara pesan kalau antara dia dan Nina sudah selesai. Namun, Buana sendiri juga bingung dari mana harus memulai cerita jika Andara saja tidak peduli.
Buana berencana menemui Andara tetapi jadwal-jadwal Marionette belakangan terlalu padat hingga membuatnya tidak masuk kuliah. Sampai pada hari ini, Buana dapat bertemu Andara lagi.
Cewek itu tampak cuek seperti biasa bahkan tidak menganggapnya ada. Hari ini mereka praktek sidang, Andara bertugas sebagai Saksi Pertama. Diam-diam, dari meja hakim, Buana memperhatikan bagaimana Andara maju ke mimbar ketika namanya dipanggil. Cewek itu memberikan kesaksian dengan luwes di sana, ditanya-tanya oleh jaksa juga hakim dan dapat dijawabnya. Itu memang kelebihan Andara. Cewek itu mudah berkata-kata. Wajar jika dia terpilih sebagai penyiar di radio terkenal.
Buana sesekali melirik Andara yang sudah kembali ke tempat duduk. Cewek itu terlihat aneh. Matanya bergerak-gerak seperti mengawasi semua yang ada di sekitar. Kenapa dengan Andara?
Perkiraan Buana tidak meleset. Tak lama cewek itu bangkit dan izin kepada dosen.
"Kenapa?" tanya Buana saat Andara melintas.
"Kayaknya gue salah makan, perut gue mulas. Titip tas, ya. Gue perlu beli teh hangat sama obat."Â Andara bahkan bicara sambil lalu, tidak melihatnya.
"Perlu ditemani?"
"Gue bisa sendiri."
Kata-kata itu lagi. Buana berusaha tenang meski ingin sekali marah. Dia menghela napas pelan. Dia masih bertugas sebagai Hakim Anggota I. Fokusnya mulai terbagi. Andara ada makan apa sampai sakit perut? Buana berdecak tidak sengaja, membuat Hakim Ketua menoleh. Dia ingin bisa menemani Andara saat ini. Namun, praktik sidang ini masihlah panjang dan menjemukan.
Bermenit-menit Buana menunggu Andara kembali ke kelas. Cewek itu tidak kunjung datang. Buana resah. Sampai persidangan berakhir, Andara tidak kembali. Buana sampai memanggil Andara dari balik dinding toilet dan meminta tolong kepada para cewek yang hendak masuk toilet untuk memeriksa apakah ada pintu yang terkunci dan terlihat aneh, tetapi kata mereka tidak ada satu pun bilik toilet yang pintunya terkunci dari dalam.
Buana coba menelepon Andara, tidak diangkat. Dia masuk ke kantin dan memutari tempat itu, hasilnya juga nihil. Andara ke mana? Berani sekali cewek itu meninggalkan tas saat kuliah berlangsung. Buana terduduk lesu, memandang tas cangklongnya Andara. Tangannya tergerak membuka, dan dia hanya menemukan sebuah buku tulis tipis dan sebuah pena.
Sebuah tas, sebuah buku dan sebuah pena itu tidak pernah dijemput Andara walaupun Buana sudah berulang kali memberi tahu jika barang itu ada bersamanya. Buana menunggu. Buana berusaha terus menghubungi, tetapi Andara semakin tidak bisa teraih. Minggu berikutnya, Andara malah seakan lenyap dari kampus. Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi, semua pesannya tidak pernah terbaca, panggilan ke WhatsApp tidak pernah diangkat dan WhatsApp cewek itu tidak pernah terlihat online lagi.
***
__ADS_1
Andara membuka pintu apartemen dan menaruh kantong belanja di meja makan. Kin masih memperhatikan dia dengan heran. Dasar cowok nggak peka! Andara ingin sekali meneriakkan itu ke Kin sedari tadi.
"Gue kuliah dulu, ya," ujar Kin dan cowok itu menghilang di balik pintu.
Andara memandangi kantong belanjaan. Dia ingin membedah asal semua isi yang ada sampai berantakan, melempar apel ke dinding atau mengobrak-abrik gula pasir. Satu perkataan Kin saja berefek sangat buruk ke temperatur kepalanya hari ini. Apa karena dia sedang mendapat tamu bulanan? Andara melenguh. Iya mungkin karena dia bulanan jadi lebih sensitif. Hormon lagi tidak stabil.
"Udah pulang, Kak?" Mbak Tika yang mendorong mesin penyedot debu baru keluar dari kamar Kin.
"Iya. Cuma belanja di bawah." Andara berusaha menjaga sikap sebagai saudara Kin yang baik. Dia mulai membongkar isi belanjaan dan menyusun beberapa makanan beku di kulkas.
"Kakak orang Jakarta juga?" Mbak Tika mendekat dan berusaha membantu Andara. "Saya juga dari Indonesia, Kak."
Andara menoleh. Dari logat Mbak Tika memang terlihat seperti orang Jawa. "Mbak dari Jawa mana?"
Mbak Tika mulai mengeluarkan buah-buahan. "Saya aslinya memang dari Semarang, tapi saya pergi ke sini dari Belawan, Mbak. Suami saya orang Medan. Dulu, saya kerja di rumah makan, tapi kecapekan jadi memilih kerja begini."
Perhatian Andara teralih ke Mbak Tika. "Belawan? Saya juga orang Medan," ujarnya. "Dulu tapi sebelum pindah ke Jakarta. Suami Mbak juga kerja di sini?"
Andara mulai duduk dan mengupas buah. Dia sebenarnya juga suka apel, tetapi malas menjawab Kin tadi.
"Suami saya kerja di kapal, Mbak. Saya sekitar dua tahun di Medan aja nunggu dia, tapi nggak betah. Nggak cocok sama mertua. Makanya waktu dapat tawaran kerja ke sini, saya ambil."
Andara mengangguk. Dia sering membaca kisah ketidakcocokan antara menantu dan mertua dan dia mencoba paham. Andara mengajak Mbak Tika untuk duduk dan menikmati apel.
"Kakak namanya siapa tadi?"
"Andara."
"Oh," jawab Mbak Tika. "Kakak sendirian aja ke sini?"
Andara menggoyang kepala naik turun untuk menjawab itu. Mbak Tika seperti segan untuk duduk sampai dia menarik wanita itu untuk santai saja. "Santai aja kalau sama saya, Mbak. Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau saya merokok, ya."
"Iya, Kak." Mbak Tika akhirnya duduk. "Tumben ada yang sendiri. Biasanya saudara-saudara Bang Kin kadang bawa teman atau pacarnya kalau menginap di sini. Kakak udah punya pacar?"
"Diska? Oh, dia sering ke sini?" tanya Andara mengembus asap berusaha rileks. Bertingkah seolah-olah dia mengenal cewek itu.
"Kadang-kadang sih, Mbak."
Andara mengangguk-angguk seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kakak mau dimasakin apa? Saya keasyikan dapat teman ngobrol jadi belum bersihin kamar tamu."
"Nggak usah, Mbak. Kamar tamu masih bersih, kok. Saya juga nggak usah dimasakin, masih belum lapar. Kalau Mbak mau pulang, nggak apa-apa."
Mbak Tika pamit ketika tugasnya selesai dan Andara langsung membanting badan di sofa. Dia sudah nggak mengerti lagi sekarang. Entah hormonnya yang biadab atau mood-nya yang tidak stabil. Pokoknya Andara sedang dalam keadaan mendidih. Menstruasi hari pertama semakin memperburuk semuanya dan dia meringkuk saja di sofa.
Cerita Diska sering menginap membuat Andara tidak sudi kembali ke kamar tamu. Kalau Diska sering menginap berarti cewek itu memakai kamar tamu, 'kan? Sudah berapa orang cewek yang menginap di apartemen ini dengan berstatus saudara-saudaraan? Andara benar-benar kepanasan. Dia bahkan berikrar lebih baik tidur di sofa daripada meniduri bekasnya Diska.
Andara memutuskan tidak keluar hari ini, menghabiskan waktu dengan rebahan nonton tivi sembari bermain ponsel. Dia malas memasak dan hanya makan buah-buahan. Sebenarnya Andara bosan, tetapi Andara malas untuk menggerakan kaki. Ketika pintu apartemen tiba-tiba terbuka, dia yang sedang rebahan di sofa langsung kembali memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
"Ra, kok nggak hidupin lampu?"
Dia mendengar saklar lampu dihidupkan. Langkah Kin mendekat.
"Tidur?"
Andara merasa Kin berdiri di dekat dia. Harum cowok itu semakin dekat.
"Tidur kok layar hapenya masih nyala, ya?" Sepertinya cowok itu meraih ponsel dia dan meletakkan di atas meja.
Andara merapalkan makian kepada diri sendiri, mau berbohong saja nggak mulus. Jelas saja layar ponselnya masih menyala, dia langsung pura-pura tidur tepat ketika pintu dibuka. Mana ingat lagi mau kunci ponsel? Kin ini mungkin ada keturunan klan ninja, langkahnya seringan kapas.
__ADS_1
Tidak mendapat jawaban, Kin meraba dahinya. Seperti menerka apakah suhu tubuh dia panas atau tidak. Tak lama tangan itu turun ke hidung dan memencet hingga Andara tidak bisa bernapas. Sontak Andara menepis tangan Kin dengan segera.
"Tuh kan nggak tidur."
Andara menggeliat di sofa sambil membalik badan.
"Pindah ke kamar kalau mau tidur, Ra."
"Nggak boleh kalau gue tidur di sini?"
"Ya, bukan gitu," balas Kin. "Lo kenapa, sih? Bad mood melulu."
Andara kembali memejam. Baru satu hari jadian masa sudah bertengkar? Baru juga merasa senang karena bisa pacaran dengan Kin, masa sudah diam-diaman? "Nggak apa-apa," jawabnya cepat.
Kin duduk di dekatnya dan membelai kepalanya. "Perutnya masih sakit?"
Andara masih diam. Apa dia kesal hanya karena sedang di dalam fase peningkatan produksi progesteron? Jadi bawaannya emosi saja.
"Get well soon ya, Pacar Kin. Jangan kesal-kesal," tambah cowok itu.
Andara mendengkus dari balik badan. "Bukannya kita saudara?! Semua aja saudara buat lo."
Kin seperti menelaah kalimatnya. Tangan cowok itu juga berhenti di pucuk kepalanya.
"Udah berapa orang cewek yang lo masukin ke sini dengan alasan saudara?" serangnya.
"Nggak ada, cuma lo."
"Masa? Yakin? Bukannya Diska juga datang ke sini pakai alasan saudara?"Â Dia tahu kejadian itu sudah lewat tetapi dia kesal dan Kin tetaplah salah. Tidak peduli muka Kin yang kaget, Andara makin menyulut api.
"Lo tahu Diska?"
Andara ingin sekali bisa melolong lalu merobek-robek mangsa dengan giginya. Dari semua pertanyaan dan jawaban yang bisa cowok itu berikan kenapa harus bertanya tentang Diska?
"Enggak!" balasnya. "Enggak tahu dan nggak mau tahu."
Kin hanya mengangguk pelan sambil kembali mengusap kepalanya. Ya Tuhan, kenapa Andara bisa pacaran sama cowok super nggak peka seperti ini, sih?
"Susah sih kalau lo nggak pengin tahu," desis Kin. Cowok itu seperti bingung mau menjelaskan kepada Andara. "Inget Deni nggak?"
"Nggak."
"Yang waktu kita kenalan pertama kali, kan gue sama Deni. Yang ada tahi lalat di sini." Kin menunjuk alis sebelah kiri saat Andara mulai membalik badan. "Diska ke sini selalu bareng Deni. Diska itu pacarnya Deni, Ra."
Perasaan Andara masih berperang. Dia menatap layar kaca dengan bungkam.
"Dulu, gue memang pernah suka sama Diska. Tapi itu dulu zaman SMA, dia kan udah pacar Deni." Kin menggapai bahunya dan menarik badan dia ke arah cowok itu. "Gimanapun kita masih adat Timur, Ra. Gue bilang lo saudara sama Mbak Tika, biar orang nggak pikir yang macam-macam tentang lo. Karena kita cuma berdua di sini."
Seperti menyadari kalau Andara kesal karena status saudara, Kin memeluknya. Rengkuhan cowok itu terasa sangat nyaman. Kepalanya masih saja diusap-usap.
"Masih marah?" Kin menarik pelan dagu Andara agar mereka bertatapan. Mata Kin terlihat jujur. Sebenarnya Andara hanya butuh penjelasan dan klarifikasi Kin tadi sudah cukup baginya. Ada benarnya juga sebab mereka hanya tinggal berdua di apartemen.
Andara menggeleng sebagai jawaban, dan Kin mengecup kedua kelopak matanya. "Coba kasih lihat mana senyumnya?"
Mau tak mau Andara refleks tersenyum.
"Nah, gitu kan manis," ujar Kin kembali memeluknya. Wangi Kin membuat Andara betah merumahkan kepala ke dada itu dan mengabaikan ponsel di atas meja yang bergetar-getar karena panggilan masuk.
đ„đ„đ„
Masih berada di Tim mana?
__ADS_1
*Tim Kin?
*Tim Buana?