
Mendengar ucapan Rafi, Clara hanya mampu mengepalkan tangannya geram. Dia membuang napasnya kasar lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur, sambil memainkan ponselnya. Ntah mengapa berapa hari ini Clara sangat hobi bermalas malasan.
Setelah selesai membersihkan dirinya Rafi keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia menatap Clara sedang asik bermain ponsel. Berlahan Rafi membuang napasnya kasar karna Clara belum menyiapkan pakaian ganti untuknya.
"Ra, pakaianku mana?" ucap Rafi menatap Clara.
"Di lemari." ucap Clara polos sambil terus memainkan ponselnya.
"Kalau itu aku tau, tanpa harus kau beritau. Tapi, kenapa kau tidak menyiapkan pakaianku" ucap Rafi membuang napasnya kasar.
"Tuan'kan punya tangan jadi ambil saja sendiri" ucap Clara ketus.
"Apa kau tidak mau mengumpulkan pahala, Ra? Apa kau tidak tau melayani suami dengan baik adalah prilaku mulia seorang istri. Jika kau mau melayani suamimu dengan baik kau akan mendapatkan ladang pahala yang cukup besar" ucap Rafi menasehati Clara.
"Coba kau pelajari ini. Di sini tertulis apa saja yang harus kau lakukan sebagai seorang istri yang sholeha. Kau harus belajar menjadi istri yang baik karna sekarang statusmu adalah seorang istri. Ingat kau bukan anak gadis lagi, Ra" ucap Rafi meletakkan buku pedoman istri sholeha kepada Clara.
"Tuan juga seorang suami'kan? Jadi tuan juga harus membaca ini. Tuan juga harus belajar menjadi imam yang baik. Karna perilaku seorang istri itu adalah cerminan dari suaminya." ucap Clara mengambil buku yang menuliskan tugas seorang suami yang ada di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Rafi.
Rafi menatap buku yang ada di tangan Clara lalu menerimanya. Rafi menatap lekat sampul buku itu lalu menatap Clara yang berjalan ke lemari pakaiannya. Clara memilihkan pakaian untuk Rafi lalu menyuruh Rafi untuk mengenakannya.
Dengan cepat Rafi menerima pakaian itu lalu kembali ke kamar mandi untuk mengenakannya. Bukannya langsung mengenakannya sesampainya di kamar mandi Rafi malah menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Dia berpikir, apakah dia belum menjadi suami yang baik untuk Clara?
Sedangkan Clara menatap buku yang di berikan Rafi. Berlahan dia mengambi buku itu lalu membukanya lembar demi lembar. Clara membaca buku itu sambil merenung seorang diri. Berlahan rasa cangung berhasil merasuki pasangan pengantin baru itu.
Rafi yang telah keluar dari kamar mandi memilih untuk duduk bersandar di sofa sambil memainkan leptopnya. Bukannya menonton drakor tapi kali ini dia mencari tau bagaimana cara untuk menjadi suami yang baik untuk istrinya.
Sedangkan Clara memilih untuk memainkan ponselnya membaca novel online tentang keharmonisan rumah tangga. Clara mencoba belajar bagaimana menjadi istri yang baik dari novel yang dia baca. Karna mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing masing akhirnya kamar itu menjadi sangat hening seperti tidak berpenghuni.
Rafi yang merasa tidak nyaman dengan suasana hening itu berlahan melirik Clara yang duduk bersandar di atas ranjang mereka. Rafi mulai mencari cara bagaimana dia bisa berbicara dengan Clara tanpa harus menurunkan harga dirinya.
"Ra!" ucap Rafi singkat tanpa menatap Clara.
"Hem?" dehem Clara menatap Rafi yang masih sibuk dengan leptopnya.
__ADS_1
"Aku haus buatkan minum"
"Baik" ucap Clara singkat lalu turun dari kasurnya.
Clara berlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka. Setelah melihat Clara telah berjalan menjauh Rafi langsung membuang napasnya kasar. Ntah mengapa dia merasa sangat hambar jika Clara mendiamkannya.
Rafi menatap buku yang dia berikan kepada Clara yang tergeletak di atas kasur. Berlahan Rafi merasa bersalah karna menyuruh Clara membaca buku itu. Rafi menduga Clara pasti merasa gagal melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Rafi menatap buku yang di berikan Clara kepadanya lalu membacanya dengan pelan.
"Aku akan menuntunnya dengan caraku sendiri. Aku tau aku bukan pria yang pakar ilmu agama tapi, aku yakin aku bisa membawa istriku ke jalan yang benar" ucap Rafi membulatkan tekatnya.
Tiba tiba Rafi mendengar suara langkah Clara yang berlahan mendekatinya. Dengan cepat dia kembali memainkan leptopnya dan menyembunyikan buku yang Clara berikan.
"Ini tehnya, Tuan" ucap Clara meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Hem!" dehem Rafi tanpa menatap Naura.
Melihat sikap cuek Rafi, perasaan Clara menjadi tidak enak. Entah mengapa setelah mereka saling menuntut hak mereka masing masing malah menciptakan jarak di antara mereka. Clara memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kasurnya dengan wajah memelasnya.
Dia kembali berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Melihat Clara yang baru meletakkan bokongnya tiba tiba Rafi memangilnya kembali.
"Baik, Tuan" ucap Clara menunganguk patuh lalu turun dari kasurnya.
Clara mengambilkan charger yang di perintahkan Rafi lalu memberikannya kepadanya.
"Ini, Tuan"
"Hem!" dehem Rafi menerima charger yang ada di tangan Clara.
"Tuan" ucap Clara membuka suara.
"Hem"
"Mama menyuruhku untuk berbelanja kebutuhan dapur. Apa boleh?" ucap Clara gugup.
__ADS_1
"Kenapa kau harus bertanya kepadaku?" ucap Rafi mengerutkan keningnya binggung.
"Bukankah seorang istri harus mendapatkan izin dari suaminya terlebih dulu sebelum keluar rumah?"
Mendengar ucapan Clara, Rafi nampak berpikir sejenak. Tiba tiba hatinya menjadi berbunga bunga ketika melihat Clara mulai belajar menjadi istri yang baik untuknya.
"Aku akan mengantarmu" ucap Rafi bangkit dari duduknya.
"Kenpa tuan harus mengantarku?" tanya Clara binggung.
"Bukankah seorang suami harus membantu istrinya dalam melakukan pekerjaannya?"
Mendengar ucapan Rafi, Clara langsung salah tingkah.
"Baiklah! Aku siap siap dulu" ucap Clara menunduk lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.
Setelah selesai Clara dan Rafi berjalan menuruni anak tangga secara beriringan. Melihat Clara dan Rafi yang jalan bersama Ria dan Ronal langsung melemparkan senyuman bahagianya. Mereka merasa sangat senang karna akhirnya Rafi dan Clara mulai terbiasa dengan hubungan mereka.
"Ma, Pa! Rafi mengantar Clara untuk belanja ya" ucap Rafi menghampiri kedua orang tuanya lalu menyalim tangan mereka secara bergantian.
"Ia, Sayang. Kalian hati hati ya. Raf, kamu harus jaga menantu mama" ucap Ria tersenyum.
"Ok, Ma. Lagian mana ada yang mau menculik nenek lampir seperti dia" ucap Rafi menatap Clara sambil terkekeh kecil.
"Jika aku nenek lampir maka tuan suaminya nenek lampir" ucap Clara ketus.
Mendengar ucapan Clara, Rafi nampak terdiam berpikir. Apa yang di katakan Clara benar apa adanya. Jika Clara nenek lampir maka dia adalah suaminya nenek lampir.
"Sudah! Kalian ini tiada hari tanpa bertengkar. Lebih baik kalian belanja sana. Nanti pelayan tidak bisa memasak untuk kita jika kalian tidak belanja" ucap Ria mengeleng kecil melihat tingkah putra dan menantunya itu.
"Tidak apa apa, Ma. Benci lama lama jadi cinta kok" ucap Ronal mengoda Rafi.
"Papa apaan, sih? Ayo" ucap Rafi kesal sambil menarik tangan Clara.
__ADS_1
Bukannya merasa bersalah Ronal malah terkekeh kecil ketika melihat wajah kesal Rafi. Walaupun Rafi terus berusaha menyembunyikan rasa cintanya kepada Clara tapi, Ronal bisa melihat arti tatapan Rafi kepada Clara.
Bersambug.....