
Setelah selesai mandi Clara menatap paperbag pemberian Zhia. Dia mencoba melihat lingerie di dalamnya lalu memikirkan ucapan Zhia. Clara mengingat jika setelah kejadian malam itu, dia dan Rafi tidak pernah melakukan hubungan layaknya seorang suami istri lagi.
"Apa yang di katakan Kak Zhia dan Kak Rissa memang benar. Aku harus melakukan tugasku sebagai istri" gumam Clara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Dia mengenakan lingerie pemberian Zhia dan menatap dirinya di pantulan cermin. Gugup, tentu saja Clara merasa sangat gugup saat ini. Dia mengigit jari sambil terus menatap dirinya dari pantulan cermin.
"Aku nanti harus gimana ya?" ucap Clara memikirkan bagaimana caranya dia menyambut Rafi nantinya.
Sedangkan di luar Rafi ternyata sudah pulang. Dia berlari kecil menuju kamarnya karna sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya tercinta. Tapi, saat sampai di kamar dia melihat kamarnya kosong. Rafi mencoba melemparkan tas kerjanya ke sofa dan menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
"Sayang! Apa kau di dalam?" ucap Rafi mengetuk pintu.
"Em! Ia, Sayang. Tunggu sebentar" ucap Clara semakin gugup.
"Baiklah, kau jangan lama ya"
"Ia, Sayang"
Mendengar ucapan Clara, Rafi memilih untuk duduk di sofa. Dia memainkan ponselnya sambil pertukar pesan dengan keempat sahabatnya yang selalu mengodanya. Tiba-tiba Rafi mendengar suara pintu yang terbuka. Berlahan dia melirik ke arah sumber suara dan langsung terkejut dengan apa yang dia lihat.
Clara keluar dari kamar mandi dengan memgunakan lingerie tipis pemberian Zhia. Rambut panjangnya di gerai sehingga membuat Rafi menjadi mabuk kebayang. Rafi berusaha menelan ludahnya kasar sambil mengucek matanya berkali-kali.
"Kau sudah pulang, Sayang? Pasti kau lelah" ucap Clara berjalan mendekati Rafi.
"Apa aku sedang minpi, Sayang?" ucap Rafi tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Aw" pekik Rafi ketika Clara mencubit tangannya.
"Sakit?" ucap Clara tersenyum menunduk.
"Sakit, Sayang. Berarti aku tidak mimpi" ucap Rafi memegang dagu Clara dan menatap wajah tomat Clara.
Cups...
Rafi mencium lembut bibir Clara lalu menatapnya dengan lekat. Rafi yang sudah di kuasai gairah langsung membawa Clara ke dalam gendongannya. Rafi meletakkan tubuh Clara di atas ranjang mereka lalu mengukuk tubuh Clara mengunakan tubuh kekarnya.
"Apa kau sudah siap, Sayang?" ucap Rafi menatap Clara dengan tatapan penuh gairah.
__ADS_1
"Melayanimu adalah kewajibanku sebagai istri. Jadi semua yang ada padaku adalah milikmu. Kau boleh menyentuhnya sesukamu" ucap Clara tersenyum.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu" ucap Rafi mulai menjelajahi tubuh Clara.
"Aku juga mencintaimu, Sayang" bisik Clara sehingga membuat Rafi semakin semangat.
Rafi melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia melakukannya dengan lembut sehingga ruangan itu di penuhi dengan suara indah Clara. Rafi memuntahkan benihnya di rahim Clara dan berharap agar benihnya akan tumbuh di rahim Clara. Tidak lupa Rafi juga berdoa agar benihnya tumbuh menjadi anak yang sholeh dan menjadi kebangaan mereka.
Rafi melakukannya berulang kali hingga akhirnya Clara yang kelelahan tertidur dengan pulasnya. Rafi yang melihat Clara yang sudah tertidur langsung tersenyum dan mencium lembut kedua wajah Clara.
"Maaf ya, Sayang. Aku terlalu bersemangat sehingga aku terlalu menguras tenagamu" gumam Rafi tersenyum menatap wajah Clara.
Setelah puas menatap wajah Clara, Rafi menyelimuti tubuh polos Clara dan membawanya kedalam pelukannya. Rafi mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya mereka berdua larut dalam mimpi indahnya.
Di pagi hari.
Clara yang terbangun dari tidurnya melihat Rafi sedang menatapnya. Karna merasa malu dengan kejadian semalam Clara menarik selimut dan menutupi wajahnya. Melihat tingkah Clara yang malu-malu Rafi terkekeh kecil dan menarik selimut yang menutupi wajah Clara.
"Kau kenapa, Sayang? Mau lagi?" ucap Rafi mengoda Clara.
"Sayang! Apaan sih?" ucap Clara mencubit kecil perut Rafi.
"Biarin" ucap Clara ketus.
"Judes amat sih, Sayang. Jangan galak-galak dong nanti aku takut" ucap Rafi mencubit kecil hidung Clara.
"Sayang! Aku sudah bisa ke kampus hari ini?" ucap Clara memperlihatkan wajah memelasnya.
"Em! Gimana ya?" ucap Rafi nampak berpikir.
"Sayang, boleh ya" ucap Clara memperlihatkan wajah penuh permohonannya.
"Boleh! Tapi...."
"Tapi apa, Sayang?"
"Kau harus membeli baju yang seperti semalam yang banyak"
__ADS_1
"Baju kurang bahan itu. Tapi, aku tidak tau membelinya di maja" ucap Clara dengan polosnya.
"Memang ada baju kurang bahan, Sayang?" ucap Rafi terkekeh kecil.
"Yang semalam itu'kan kurang bahan. Percuma pakai baju tapi masih terlihat dengan jelas"
"Itu bukan baju kurang bahan, sayang"
"Jadi?"
"Baju dinas untuk menyenangkan suami" ucap Rafi terkekeh kecil.
"Tapi kau mendapatkannya dari mana?" ucap Rafi kemabali karna dia merasa binggung dari mana Clara mendapatkan lingerie itu.
"Dari Kak Zhia sama Kak Rissa" ucap Clara jujur.
"Jadi mereka yang menyuruhmu untuk mengunakan itu" ucap Rafi terkekeh kecil.
"Em!" dehem Clara menganguk kecil.
"Mereka memang bisa di andalkan" gumam Rafi tersenyum kecil.
"Apa, Sayang?" ucap Clara mengerutkan keningnya.
"Tidak, ada. Kau memang istriku yang paling pintar. Terima kasih karna kau sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"
"Em! Tapi, apa aku bisa ke kampus sekarang. Pliss, aku bosan di rumah terus" ucap Clara dengan manja.
"Baiklah! Kau boleh ke kampus hari ini?"
"Benarkan?"
"Ia! Tapi...." ucap Rafi tersenyum lalu menatap lekat wajah Clara.
"Tapi apa, Sayang?" ucap Clara merasakan bulu kuduknya yang merinding.
"Kita lanjut lagi yang semalam" ucap Rafi langsung menyerang Clara dan menjajah tubuh Clara dengan rakusnya.
__ADS_1
Clara memilih untuk pasrah dan kembali melayani Rafi dengan baik. Pagi ini mereka memulai aktivitas mereka dengan bergulat di atas ranjang dan menyatukan cinta mereka yang selama ini mereka pendam.
Bersambung....