
Sesuai janji Tika sore ini dia akan menemani Clara untuk mengecek kandungannya. Mereka berdua pergi ke rumah sakit tanpa di ketahui oleh Rafi. Setelah mendapatkan nomor antrian Tika dan Clara duduk di kursi untuk menungu giliran mereka.
"Kau yakin kita tidak perlu memberitau Kak Rafi?" ucap Tika.
"Tidak! Nanti aku yang akan memberitaunya sendiri." jawab Clara sambil terus meremas tangannya.
Melihat kecemasan Clara, Tika langsung menenangkan sahabatnya itu.
"Aku yakin kau pasti bisa mengandung lagi. Kau tidak perlu merasa cemas seperti itu..Kak Rafi sangat mencintaimu. Dia mau menerima semua kekuranganmu. Jadi kau tidak perlu cemas seperti itu." ucap Tika mengelus pungung Clara.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Clara hanya tersenyum. Apa yang di katakan Tika memang benar apa adanya. Rafi sangat mencintainya bahkan tidak pernah menuntut anak dari Clara. Tapi, sebagai istri Clara merasa bersalah jika dia tidak bisa memberikan keturunan untuk Rafi.
"Nyonya Clara Alexander." ucap Suster memangil Clara.
"Sudah giliranmu! Ayo, kau harus semangat. Jangan cemberut seperti itu." ucap Tika bangkit dari duduknya.
Mendengar ucapan Tika, Clara hanya tersenyum lalu berjalan bersama Tika memasuki ruangan dokter.
"Selamat datang Nyonya Muda. Ayo silahkan duduk." ucap Dokter itu ramah.
Sedangkan Tika terus menatap pria itu dengan penuh rasa tidak percaya.
"Kau!" ucap Tika menunjuk dokter itu.
"Hay! Ternyata kita bertemu lagi." ucap Dokter Randy yang membantu Tika menganti ban mobilnya.
"Kalian saling kenal?" ucap Clara binggung.
"Ia, dia yang membantuku saat ban mobilku bocor setelah mengantarmu dan Aulya." jelas Tika.
"Oh! Terima kasih ya, Dok. Dokter telah membantu sahabatku yang paling cerewet ini." ucap Clara tersenyum.
"Tidak apa-apa Nyonya. Sebagai manusia sudah memang harus saling membantu." ucap Dokter Randy tersenyum.
"Ayo silahkan berbaring, Nyonya. Kita periksa dulu kandungannya." ucap Dokter Randy.
Mendengar ucapan Dokter Randy, Clara langsung membaringkan tubuhnya di atas bangsal. Dengan teliti Dokter Randy melakukan tugasnya dan memeriksa keadaan kandungan Clara. Selama Dokter Randy melakukan tugasnya, Clara terus terlihat sangat cemas. Melihat itu Tika demgan sigap menenangkan Clara.
__ADS_1
"Kau jangan cemas seperti itu. Percayalah, Allah akan memberikan yang terbaik untukmu." ucap Tika mengengam tangan Clara.
"Kandungan Nyonya bagus. Tidak ada efek buruk dari keguguran yang Nyonya alami." ucap Dokter Randy.
"Tapi, kenapa aku belum juga hamil, Dok?" tanya Clara.
Mendengar pertanyaan Clara, Dokter Randy langsung tersenyum. Dia mengerti sebagai menantu satu-satunya dari keluarga Alexander, Clara pasti ingin memberikan pewaris untuk mereka.
"Mungkin Allah belum mengijinkannya. Berdoalah dan terus berusaha, aku yakin kalian akan segera mendapatkam momogan." ucap Dokter Randy kembali duduk di kursi kuasanya.
"Sudah! Seperti yang di katakan Kak Rafi, kau harus sabar dan jaga kesehatanmu. Jika kau terus cemas berlebihan seperti ini bisa-bisa kau akan susah hamilnya." ucap Tika.
"Benar apa yang di katakan Tika. Nyonya harus bersabar dan terus berdoa. Jika nyonya terus cemas berlebihan seperti ini akan berpengaruh besar. Saya harap nyonya jangan terlalu stres berlebihan dan juga makan makanan yang sehat. Jangan lupa banyak istirahat. Ini ada resep untuk penyubur kandungan, nyonya minum secara teratur ya." ucap Dokter Randy memberika resep obat kepada Clara.
"Sebentar lagi waktu makan siang. Apa boleh kita makan siang bersama? sekalian aku menjelaskan bagaimana cara agar nyonya cepat mengandung." ucap Dokter Randy melirik Tika.
"Em! Boleh. Tapi, aku izin sama suamiku dulu ya." ucap Tika.
"Boleh!" ucap Dokter Randy tersenyum.
"Baiklah! Lima menit lagi saya akan keluar." ucap Dokter Randy langsung membereskan meja kerjanya.
"Ayo!" ucap Tika membantu Clara untuk bangun.
Melihat sikap Tika dan Dokter Randy, Clara langsung tersenyum. Sebagai sahabat Tika dia mengerti jika ada sesuatu antara Tika dan Dokter Randy. Tika dan Clara duduk di ruang tunggu untuk menunggu Dokter Randy keluar dari ruangannya. Karna tidak mau ada salah paham antara dirinya dan Rafi, Clara langsung meminta izin kepada Rafi melalui pesan.
"*Sayang, aku izin makan siang bersama Tika dan temannya ya. Plisss🙏" Clara.
^^^"Makan siang dimana, Sayang? Teman Tika pria apa wanita?" Rafi.^^^
"Nanti aku kirim lokasinya, Sayang. Pria 😅" Clara.
^^^"Baiklah! Tapi, iingat kau hanya milikku. Jadi jaga mata dan hatimu ya, Sayang." Rafi*.^^^
"Ok, sayangku. I love you. Emuuaachh." Clara.
"Sudah? Ayo kita berangkat." ucap Dokter Randy menghampiri Clara dan Tika.
__ADS_1
"Kita naik mobil masing-masing saja. Nanti kita ketemu di sana saja." ucap Tika.
"Baiklah! Aku akan mengikuti kalian dari belakang." ucap Dokter Randy tersenyum lalu mempersilahkan Clara dan Tika jalan duluan.
Mereka pergi ke cafe yang mereka janjikan dengan mengunakan mobil mereka masing-masing. Sesampainya di cafe mereka makan siang bersama. Terlihat dengan jelas Dokter Randy dengan berani mengoda Tika di depan Clara. Sebagai seorang sahabat Tika, Clara hanya bisa memberi dukungan kepada Tika.
...----------------...
Mendengar Clara mau makan siang bersama Tika, Rafi merasa sangat senang. Bahkan dia tidak menaruh rasa curiga sedikitpun. Dia mempercayai Clara sepenuh hatinya bahkan dia tidak pernah mengekang Clara dalam urusan berteman.
Dia terus membaca pesan yang baru di kirim Clara sambil tersenyum sendiri. Dia merasa bahagia karna Clara selalu meminta izin terlebih dulu sebelum melakukan sesuatu. Bahkan jika dia tidak mengizinkannya maka Clara tidak akan pernah melakukannya.
"Tuan kenapa tersenyum sendiri? Apa tuan lupa minum obat?" ucap Bisma tiba-tiba masuk ke ruangan Rafi dan melihat Rafi tersenyum sambil menatap ponselnya.
"Kau kira aku gila, apa?" ucap Rafi menatal kesal Bisma.
"Orang tuan senyam-senyum seorang diri. Apa semua pria yang sudah menikah seperti itu? Aku juga melihat keempat sahabat tuan juga selalu terlihat bahagia." ucap Bisma penasaran bagaimana rasanya menjalan rumah tangga.
"Jika kau penasaran kenpa kau tidak mencobanya?"
"Aku masih terlalu muda untuk itu, Tuan. Aku masih ingin menikmati masa mudaku." ucap Bisma mengingat umurnya yang masih dua puluh tahun.
Bisma memang terbilang masih sangat muda untuk menjadi asisten pribadi CEO seperti Rafi. Tapi, dengan kepintarannya dia bisa lulus mengatur jadwal kuliah dan bekerja dengan baik. Terlebih lagi dia mengambil jadwal malam sehingga tidak terlalu mengangu pekerjaannya.
"Kau tunggu saja si Sania besar. Aku lihat dia sangat menyukaimu." ucap Rafi mengingat Sania yang selalu menempel pada Bisma.
"Tuan ini ada-ada saja. Mana mungkin Tuan Kinan mau menikahkan putrinya denganku." ucap Bisma terkekeh kecil.
"Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak kepada Kinan. Dia tidak pernah memandang seseorang melalui materinya. Aku yakin jika kau punya tangung jawab dan mau membahagiakan Sania, aku yakin dia pasti setuju."
"Itu tidak mungkin, Tuan. Aku dan Sania sangat berbeda jauh. Bukan hanya soal materi tapi juga paktor umur."
"Kita lihat saja nanti. Aku yakin dia adalah jodohmu."
Mendengar ucapan Rafi, Bisma hanya bisa tersenyum kecil sambil mengelekan kepalanya pelan.
Bersambung.....
__ADS_1