Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 59


__ADS_3

"Baiklah! Paman akan memeriksa posisi apa yang cocok untukmu. Paman akan memberitaunya secepatnya." ucap Wira menyimpat dokument Rania di mejanya.


"Tapi, Rania bisa bekerja di sini'kan pa?" ucap Dirga menatap Wira penuh permohonan.


"Papa akan memberitaumu secepatnya. Maaf ya papa sebentar lagi ada rapat. Kalian juga sebentar lagi masuk kelas bukan?"


"Baik, Pa. Kalau begitu kami pamit dulu ya." ucap Dirga tersenyum.


"Baiklah! Kalian hati-hati ya. Papa juga akan berdoa yang terbaik untuk kalian." ucap Wira tersenyum.


"Baik, Pa. Terima kasih ya." ucap Dirga memeluk papanya.


"Berdoalah yang terbaik untuk kalian. Jangan berdoa meminta apa yang kalian inginkan. Karna jika yang kalian inginkan belun tentu yang terbaik untuk kalian." ucap Wira mengacak-acak rambut putranya.


"Tumben papa bijak." ucap Dirga menatap Wira bingung.


"Karna orang bijak akan menularkan kebijakannya kepada orang lain." ucap Wira tersenyum menatap Rania.


Melihat itu Dirga langsung tersenyum senang. Dia bisa merasakan jika papanya sudah mulai menyukai Rania. Rania memang mempunyai masa lalu yang buruk tapi, Dirga yakin jika dia bisa membuka lembaran baru dengan lebih baik lagi.


Bagi Dirga masa lalu tidaklah penting karna itu hanyalah sebuah kenangan yang hanya membawa luka. Baginya lebih baik pokus kedepan dan membuka lembaran baru yang lebih baik lagi.


Begitu juga dengan Rania walaupun dulu dia memiliki sifat yang sangat buruk. Tapi, karna badai yang menghampirinya dan membuatnya kehilangan semuanya Rania mulai sadar jika tidak ada yang kekal di dunia ini.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, Pa." ucap Dirga menyalim Wira.


"Doain saja semoga dia adalah wanita yang akan menjadi menantumu." bisik Dirga tersenyum.


"Aamiin." ucap Wira langsung mengaminkan ucapan Dirga.


"Paman kami permisi dulu ya." ucap Rania menyalim Wira.


"Ia, kalian belajar yang rajin ya. Ingat jangan pacaran mulu." ucap Wira mengoda Dirga dan Rania.


"Papa macam gak pernah muda saja. Papa dan Mama juga pasti gitu saat muda." ucap Dirga mengoda Wira.

__ADS_1


"Uss... Sudah! Lebih baik kalian berangkat saja. Kalau gaya pacaran mama dan papa tidak perlu kalian tiru." ucap Wira.


"Ha... Ha... Kami pamit ya, Pa." ucap Dirga terkekeh kecil lalu membawa Clara keluar dari ruangan sang papa.


Wira hanya bisa tersenyum sambil mengeleng pelan menatap Dirga dan Rania. Dirga memanglah anak yang bandel dan sudah di atur. Tapi, belakangan ini dia mulai berubah bahkan menjadi lebih dekat dengan Wira. Bahkan Dirga tanpa malu-malu menceritakan semua tentang Rania kepada Wira.


Hal itulah yang membuat Wira jika Rania adalah wanita yang tepat untuk Dirga. Bahkan sekarang Dirga sudah mau tingal di rumah mereka dan tidak tingal di apartementnya lagi.


...----------------...


Karna sudah banyak mengambil cuti kuliah saat dia masuk rumah sakit, Clara memilih untuk langsung masuk kuliah setelah pesta pernikahannya. Selain tidak ingin ketingalan pelajaran, Clara juga tidak ingin gagal dalam menghadapi ujian semester sehingga dia harus mengulang lagi.


Sebagai seorang suami yang baik Rafi mengantar Clara sampai ke kampusnya. Keromantisan pasangan pengantin itu menjadi pusat perhatian para mahasiswa kampus. Terlebih lagi Rafi adalah pengusaha ternama yang diincar banyak wanita. Jadi, sudah pasti semua yang berhubungan dengan Raffi akan menjadi sorotan semua orang.


"Sayang, kau belajar yang rajin ya. Agar cepat lulus dan bisa fokus dengan keluarga kecil kita." ucap Rafi membelai lebut puncak kepala Clara.


"Tapi, jika aku lulus kuliah dan dirumah saja untuk apa aku mendapat gelar sarjana." ucap Clara memayunkan bibirnya.


"Jadi kau mau ngapain setelah lulus?"


"Aku mau bekerja dan mengejar karirku seperti yang lainnya."


"Kenapa? Apa kau tidak suka?" ucap Clara mengerti dengan tatapan Rafi.


"Tidak! Apapun yang membuatmu senang akan membuatku merasa sangat senang. Maka kau boleh melakukan apapun sesukamu. Tapi, kau harus ingat jika kau sekarang adalah seorang istri." ucap Rafi tersenyum sambil mencubit kecil hidung mancung Clara.


"Aw! Sayang! Kenapa kau suka sekali mencubit hidungku?" ucap Clara kesal sambil memegang hidungnya yang memerah.


"Soalnya hidungmu membuatku gemas. Jika tidak mengingat ini kampus aku sudah melahapnya sejak tadi." ucap Rafi pelan sehinga berhasil membuat wajah Clara memerah.


"Ehem! Pengantin baru mesra amat!" ucap Tika mendekati mereka.


"Eh, Tika. Kau datang tidak tepat waktu." ucap Rafi tersenyum kecil.


"Apa aku mengangu? Tapi, aku tidak peduli. Ini adalah kampus maka Clara adalah milikku. Jika nanti di istana Kak Rafi maka, istrimu yang imut ini akan menjadi milik kakak sendiri." ucap Tika tidak peduli lalu merangkul tangan Clara.

__ADS_1


"Baiklah! Kalau begitu kakak titip bidadari kakak ya. Ingat kau harus menjaganya dengan baik." ucap Rafi tersenyum.


"Siap tuan muda." ucap Tika tersenyum memberi hormat.


"Kalau begitu kami ke kelas dulu ya." ucap Clara menyalim Rafi.


"Baik, Sayang. Aku juga berangkat kantor dulu ya." ucap Rafi mencium lembut kening Clara lalu mengacak-acak rambut Clara.


"Ya Allah! Kak Rafi romantis sekali." ucap Tika penatap kagum keromantisan pasangan pengantin baru itu.


Bukan hanya Tika, semua orang yang ada di sana juga menatap kagum kepada mereka. Bahkan banyak yang berbisik-bisik memuji keromantisan mereka. Melihat itu Clara langsung menunduk malu menyembunyikan wajah tomatnya. Sedangkan Rafi tersenyum sambil terus mengoda Clara.


"Sudah! Ayo kita masuk kelas." ucap Tika menarik tangan Clara.


"Tik, jaga permaisuriku dengan baik ya." ucap Rafi sedikit berteriak karna Clara dan Tika sudah menjauh.


"Kakak tenang saja. Semua pasti aman di tangan Tika." ucap Tika mengacungkan jempolnya.


Bukannya ke kelas, Tika malah membawa Clara ke kantin. Tidak mau buang-buang waktu Tika langsung menagih utang Clara yang harus meneraktirnya karna kalah taruhan.


"Kita kemana? Bukannya kelas di sana?" ucap Clara melihat Tika membawanya ke arah kantin.


"Tentu saja ke kantin. Aku sudah memberimu waktu cukup lama. Jadi, mulai sekarang kau harus meneraktirku selama sebulan."


"Ternyata kau masih ingat? Aku kira kau sudah lupa."


"Enak saja! Mana mungkin aku lupa soal teraktiran. Lumayan uang sakuku bulan ini bisa aku tabung untuk shoping."


"Apa tidak ada yang lain di pikiranmu selain shoping? Lebih baik uangmu itu kau tabung untuk masa depanmu."


"Ia deh ratunya tabung menabung. Tapi, nanti saja ceramahnya. Lebih baik sekarang kita pesan makanan. Aku sudah lapar." ucap Tika langsung memesan makanannya.


"Dasar!" ucap Clara tersenyum kecil sambil mengeleng pelan.


Setelah mendapat pesanan mereka, mereka berdua mengambil tempat duduk lalu menyantap makanan mereka masing-masing. Kedua sahabat itu saling bercanda ria bersama dan melupakan semua beban pikiran mereka.

__ADS_1


Tidak lupa kata pujian selalu keluar dari mulut Tika karna Clara adalah wanita yang hebat bisa meluluhkan hati Rafi yang seperti es. Terlebih lagi melihat sikap Rafi yang sangat romantis kepada Clara membuat Tika semakin kagum kepadanya.


Bersambung....


__ADS_2