
Saat bangun pagi Clara melihat Rafi masih tidur dengan lelap di sampingnya. Melihat Rafi yang masih tertidur dengan lelap tiba-tiba ide jahil muncul di pikiran Clara. Lagi pula sudah lama mereka tidak pernah lagi bertengkar sehinga membuat Clara rindu akan pertengkarannya dengan Rafi.
Clara berlahan mengabil alat meke upnya lalu meletakkannya satu persatu di atas ranjang. Dengan hati-hati Clara merias wajah Rafi seperti boneka. Dia memakaikan bedak di wajah Rafi dan juga lisptick merah menyala di bibir Rafi. Tidak lupa dia juga merias wajah Rafi seperti dia merias wajahnya seperti biasa, hanya saja kali ini lebih cetar membahana.
"Kau sangat cantik, Sayang. Aku jadi semakin mencintaimu." gumam Clara tersenyum lalu menyimpan kembali alat make upnya.
Setelah selesai Clara langsung berlari keluar untuk menghindari amukan Rafi. Di saat yang sama Rafi juga terbangun dari tidurnya dan melihat Clara tidak ada lagi di sampingnya. Berlahan Rafi turun dari ranjangnya lalu mencari keberadaan Clara.
"Sayang!" teriak Rafi mencoba mencari keberadaan Clara
Tapi, Rafi berlahan mengerutkan keningnya binggung ketika melihat setiap pelayan yang dia jumpai menatapnya sambil tersenyum. Rafi yang kebingungan berlahan mendekati Ronal dan Ria yang sedang sarapan bersama di meja makan.
"Buahaa.... Mau konser di mana, Raf?" ucap Ronal tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rafi yang sudah seperti badut.
Sedangkan Ria hanya bisa tertawa sambil memegang perutnya yang sakit menahan tawanya.
"Papa sama mama kenapa, Sih? Para pelayan juga." ucap Rafi mengaruk kepalanya pelan.
"Sini! Lebih baik kau lihat sendiri." ucap Ria memberikan cermin kepada Rafi.
Dengan penuh kebingungan Rafi mengambil cermin yang ada di tangan Ria lalu menatap wajahnya dari pantulan cermin itu. Berlahan Rafi membulatkan matanya terkejut melihat wajahnya yang sudah seperti badut.
"Clara!" teriak Rafi langsung bisa menebak siapa biang kerok dari semua masalah yang membuatnya jadi bahan tertawaan seisi mension.
"Ha...ha... Aku harus bersembunyi." gumam Clara sambil menahan tawanya sambil mencari tempat persembunyian.
"Clara! Dimana kau?" ucap Rafi terus mencari keberadaan Clara.
Saat Clara bersembunyi di bawah meja tiba-tiba dia melihat kecoa di depannya.
"Hus..hus... Keluar sana." ucap Clara pelan berusaha untuk mengejar kecoa itu.
Tapi, tiba-tiba kecoa itu terbang dan hingap di wajahnya.
Huaa.... aaa...
Bughkkk...
"Aw... Dasar meja sialan." teriak Clara mengusap kepalanya yang sakit karna terbentur di meja.
__ADS_1
Mendengar suara teriakan Clara, Rafi langsung berlari ke sumber suara itu. Dia berjongkok dan melihat Clara masih merintis kesakitan di bawah meja.
"He..he.. Sayang. Kau cantik sekali. Aku jadi makin cinta deh." ucap Clara terkekeh kecil lalu mencari celah untuk kabur.
"Aku sangat cantik ya. Apa aku jauh lebih cantik darimu?" ucap Rafi melembutkan suaranya sambil menatap kesal Clara.
"Tentu saja!" ucap Clara terkekeh kecil.
"Eh ada Kak Rayyan." ucap Clara menunjuk ke belakang Rafi.
Mendengar nama sahabatnya di sebut, Rafi langsung menata ke belakang. Tidak mau membuang kesempatan Clara langsung keluar dari meja itu dan berlari untuk mencari aman.
"Clara! Kau menipuku. Awas kau ya." ucap Rafi mengejar Clara sehingga aksi kejar-kejaran terjadi di mension yang cukup luas itu.
"Sial! Aku sangat lelah. Aku harus bersembunyi di mana?" ucap Clara berhenti untuk mencari tempat persembunyian.
Tiba-tiba matanya tertuju pada pohon manga yang ada di taman belakang. Dengan cepat Clara berlari ke sana dan memanjat pohon mangga itu dan bersembunyi di sana. Rafi yang tidak melihat keberadaan Clara lagi, terus mencari keberadaan Clara di setiap sudut mension. Tidak lupa dia juga mencari Clara di setiap kolong meja yang ada di mensionnya.
"Sial! Kemana lagi dia." ucap Rafi mengaruk kepalanya pelan.
Tiba-tiba matanya tertuju pada pohon mangga yang ada di taman belakang. Dia dapat melihat pohon mangga itu bergoyang. Karna penasaran Rafi berlahan mendekati pohon mangga itu dan melihat kaki Clara yang bergelantungan di sana.
"Clara! Sedang apa kau di sana? Ayo turun." ucap Rafi mengelengkan kepalanya melihat tingkah Clara.
"Tidak! Aku tidak mau." ucap Clara ketus.
"Turun gak?" ucap Rafi mengambil kayu dan mengarahkannya ke Clara.
Bukannya turun Clara malah naik lagi ke atas pohon mangga itu.
"Naik saja kalau bisa." ucap Clara menjulurkan lidahnya mengejek Rafi.
Melihat tingkah Clara, Rafi berlahan membuang napasnya kasar. Dia nampak berpikir bagaimana caranya agar Clara mau turun dengan sendirinya. Tiba-tiba ide berlian muncul di pikiran Rafi ketika mengingat Clara yang pantang melihat makanan enak.
"Terserah jika kau mau tetap di atas sana." ucap Rafi mengambil alat pemanggang dan menyuruh pelayannya mengambil ikan di kulkas bersama bumbu-bumbunya.
Clara yang melihat Rafi yang sedang meracik bumbu hanya bisa menatapnya dari ketingian. Melihat itu Rafi langsung tersenyum lalu bersiap untuk memanggang ikan untuk memancing Clara untuk turun
"Wangi sekali! Pasti rasanya sangat enak. Jika di tambah saos sambal pasti semakin enak." gumam Rafi sambil mencium aroma ikan bakarnya yang mulai tercium.
__ADS_1
Berlahan aroma ikan bakar itu berhasil menusuh indra penciuman Clara. Berlahan dia menelan ludahnya kasar sambil menatap ikan yang sudah mulai masak.
"Aromanya sangat mengoda. Pasti rasanya sangat enak." gumam Clara berlahan turun dari pohon manga itu.
Melihat Clara yang sudah turun, Rafi hanya diam sambil menata ikan bakar buatannya di piring. Setelah selesai Rafi meletakkan ikan bakar itu di atas meja santai lalu meminta pelayan untuk membuatkan minuman untuknya.
Rafi melirik Clara yang menatapnya dari kejauhan namun, tidak berani untuk mendekat. Melihat Clara yang terus diam sambil menunjukkan wajah sedihnya, Rafi belahan tersenyum lalu memangil Clara untuk ikut bergabung dengannya.
"Ayo sini! Kau mau atau tidak?" ucap Rafi ketus sambil menyantap ikan bakar buatannya.
"Aku mau!" ucap Clara bersorak riang lalu merampas piring yang ada di tangan Rafi lalu menyantapnya dengan rakus.
"Ra, cuci tangan dulu. Dasar jorok!" ucap Rafi memekul tangan Clara pelan.
"Sorry, aku lupa. Habisnya aroma ikan bakarnya sangat mengoda." ucap Clara terkekeh kecil lalu mencuci tangannya.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan menghabiskannya." ucap Rafi mengambil ikan piringnya.
"He..he... Kau memang suamiku yang terbaik." ucap Clara tersenyum lalu mencium lembut wajah badut Rafi.
Mendengar ucapan Clara, Rafi hanya berdecak kesal lalu menyantap makanannya. Jujur saja dia masih kesal dengan sikap Clara yang membuatkan menjadi bahan ketawaan semua orang yang ada di mension.
"Paman Rafi!" teriak para bocah menghampiri Rafi dan Clara.
"Buahaha... Mau pentas di mana kau, Raf?" ucap para sahabat Rafi menertawakan Rafi.
"Ajah Aman Afi napa epelti itu? Apa ada ang ulang ahun dan Aman adi adutnya?" ucap Aulya dengan polosnya.
Bukannya merasa bersalah, Clara malah tertawa melihat Rafi menjadi bahan tertawaan semua orang.
"Clara! Awas kau ya." ucap Rafi penuh kekesalan lalu melemparkan tubuh Clara ke bahu kesalnya.
"Sayang! Aku minta maaf." ucap Clara memberontak.
"Tidak ada kata maaf untukmu. Kau harus mendapatkan hukuman." ucap Rafi kesal lalu membawa Clara kedalam kamarnya.
Tentu saja hukuman yang di berikan Rafi adalah hukuman yang paling terindah dan membawa kenikmatan.
Bersambung.....
__ADS_1