Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 61


__ADS_3

Rafi harus menelan nasibnya karna harus menghadapi sikap Aulya yang tidak bisa diam. Aulya selalu saja membuat Rafi pusing dengan tingkahnya yang tidak bisa diam. Bahkan Aulya terus mengoda Bisma sehingga membuat Bisma tidak bisa konsentrasi bekerja.


Tapi, bukannya marah. Rafi malah terkekeh kecil melihat kelakuan Aulya. Rafi membayangkan jika dia punya anak bersama Clara sudah pasti dia akan menghadapi sikap anaknya seperti saat ini. Tapi, sayang dia harus kehilangan calon bayinya yang ada di rahim Clara. Bahkan mereka belum sempat menyadari kehadiran janin itu.


"Aku yakin sebentar lagi Allah akan menganti apa yang sudah dia ambil dari, Tuan." ucap Bisma mengerti apa yang ada di dalam pikiran Rafi saat ini.


"Semoga Allah segera mendengarkan dia kami." ucap Rafi tersenyum.


"Aulya!" ucap Tika datang bersama Clara.


"Hai! Ante antik." ucap Aulya langsung berlari ke arah Tika.


Dengan sigap Tika menyambut Aulya lalu menciumi wajah gembulnya dengan gemas. Sedangkan Clara hanya tersenyum kecil melihat kelakuan keduanya lalu berjalan menghampiri Rafi.


"Hai, Sayang! Kau sudah pulang." ucap Rafi bangkit dari duduknya lalu merangkul mesra pingang Clara dan mencium pipinya dengan lembut.


"Ehem! Ingat di sini ada jomblo." ucap Bisma berdehem kecil.


"Tidak apa-apa! Jomblonya'kan sepasang." ucap Rafi melirik Tika dan Bisma secara bersamaan.


Mendengar ucapan Rafi, Bisma dan Tika hanya bisa saling melirik dan menunduk. Melihat itu Clara langsung tersenyum lalu mencubit kecil perut Rafi.


"kau ini, Sayang." ucap Clara mengeleng pelan.


"Kenapa, Sayang. Ucapanku benar apa adanya." ucap Rafi kembali mencium pipi Clara.


"Aman! Apa sih olah ewasa itu uka ium-ium. Ahkan mama an papa uga eling ium-ium." ucap Aulya kepo.


"Kau masih kecil! Jadi belum boleh ikut urusan orang dewasa." ucap Rafi tersenyum.


"Lya uga ingin au, Aman. Lya anti atan ewaca uga. Adi Lya uga ingin au lah."


"Sudah! Nanti kalau kau dewasa kau juga akab tau. Tapi, sebagai wanita kau harus menjaga dirimu. Jangan biarkan orang lain menyentuhmu kecuali suamimu. Karna yang punya hak atas seluruh tubuhmu hanya suamimu. Apa kau mengerti, Sayang?" jelas Clara sedikit berjongkok untuk menyetarakan tinginya dengan Aulya.


"Ia, Ante! Mama uga eling ilang eplti itu. Lya ndak okeh eluk-eluk dan ium-ium ama plia ewasa."

__ADS_1


"Tapi, Paman Rafi sering menciummu." ucap Clara.


"Aman Afi tan eda, Ante. Aman Afi tan acal Lya. Elus ia ahabat papa adi ndak ungkin Aman Afi ahat ama Lya." ucap Lya tidak mau kalah.


"Ante, Lya apal. Ita akan yuk. Etelah itu ita alan-alan ke aman. Lya au ain. Di ini ocan" ucap Aulya.


"Oh ia! Sudah jam makan siang. Apa kalian sudah makan?" ucap Rafi.


Mendengar pertanyaan Rafi, Clara dan Tika langsung mengeleng pelan.


"Ya, sudah! Ayo kita makan siang bersama. Bis, kau juga belum makan'kan?" ucap Rafi menatap Bisma.


"Belum." ucap Bisma.


"Ayo kita makan bersama." ucap Rafi mengandeng tangan Aulya dan satu tangannya lagi merangkul mesra pingang Clara dan berjalan keluar dari ruangannya.


Melihat hanya mereka yang tingal di dalam ruangan itu Bisma dan Tika langsung salah tingkah. Mereka gugup hinga membuat mereka tidak tau harus melangkah kemana.


"Ayo, silahkan" ucap Bisma mempersilahkan Tika untuk jalan duluan.


"Em, Ia. Tapi pintunya mana ya?" ucap Tika gugup sampai tidak melihat pintu yang ada di belakangnya.


"Oh, ia. Aku kenapa bisa sebodoh ini?" gumam Tika memukul jidatnya pelan lalu berlari kecil mengejar Clara.


Nelihat kelakuan Tika, Bisma hanya bisa mengeleng kecil. Dia melangkahkan kakinya sambil menatap punggung Tika yang berlahan menjauh.


...----------------...


Setelah pulang dari kampus Rania memilih langsung pulang ke rumahnya. Setelah kebangkrutan keluarganya semua orang mulai menjauhi Rania. Bahkan hanya Dirga, Tika dan Clara yang masih mau berteman dengannya.


Tapi, Rania tidak merasa sedih akan itu. Dari sana dia tau siapa yang benar-benar tulus kepadanya. Dari kehidupannya yang sekarang Rania menjadi tau, jika tidak semua orang yang dekat dengan kita benar-benar tulus. Ada yang hanya ingin memanfaatkannya, bahkan ada juga yang hanya ingin numpang tenar saja.


Rania duduk menatap rumahnya yang begitu luas dan megah. Tapi sayang, di rumah yang begitu luas dia hidup sebatang kara. Bayangan kebahagiaan dan juga gelak tawa keluarganya terus melintas di pikirannya. Tapi, itu semua tingallah kenangan sekarang Rania sudah kehilangan semuanya.


Apakah Rania akan membenci keluarga Alexander karna menarik seluruh saham mereka di perusahaannya? Tidak! Rania sama sekali tidak membeci keluarga Alexander. Karna jika dia uang berada di posisi mereka pasti dia akan melakukan hal yang sama. Setelah berteman dengan Clara, Rania menjadi sadar jika apapun perbuatan kita akan ada balasannya di waktu yang tepat.

__ADS_1


"Rumah ini terlalu luas untukku. Apa aku menjualnya saja dan membeli rumah yang lebih sederhana?" gumam Rania menatap foto keluarganya yang terpajang di ruang tamu.


"Jika aku bertanya kepada kalian pasti kalian bilang jangan. Karna bagi kalian kemewahan adalah kebutuhan yang utama. Tapi, sekarang aku sadar jika ada kebutuhan yang lebih penting dari kemewahan." gumam Rania kembali.


Rania berjalan ke kamarnya lalu mengambil sertifikat rumah yang telah menjadi miliknya. Rania menatap setifikat restoran peningalan orang tuanya yang sudah terbengkalai. Hanya itu yang di miliki Rania sekarang. Semuanya telah di sita oleh bank dan hanya meningalkan rumah dan restoran milih Almarhumah Mommynya yang sudah bangkrut.


"Apa aku kembali mengembangkan restoran Mommy. Aku yakin dengan hasil menjual rumah ini cukup untuk itu." gumam Rania memikirkan ide yang cemerlang.


"Kenapa kau harus menjual rumah ini?" ucap Dirga tiba-tiba datang.


"Kau ini! Selalu saja keluar masuk rumahku sesukamu saja." ucap Rania kesal karna melihat tiba-tiba ada di kamarnya.


"Aku ada berita bagus untukmu." ucap Dirga menghampaskan tubuhnya di atas ranjang Rania.


"Berita apa?" ucap Rania tetap fokus dengan dokumen yang ada di tanganya.


"Kau di terima di perusahaan papa." ucap Dirga.


"Benarkah?"


"Apa wajahku terlihat sedang berbohong?" ucap Dirga bangkit dari tidurnya lalu menatap dokument yang ada di tangan Rania.


"Kau mau apakan restoran ini?"


"Aku mau mengembangkannya kemabali." ucap Rania penuh keyakinan.


"Aku berencana ingin menjual rumah ini. Lagian rumah ini terlalu luas untukku. Aku akan mengunakan uangnya untuk membangun restoran mama dari awal." ucap Rania tersenyum.


"Tapi, kau akan tingal di mana?"


"Aku akan tingal di restoran. Di sana ada satu kamar dan aku rasa itu sudah sangat layak untuk tempatku tingal."


"Apa kau yakin bisa melakukan semua pekerjaanmu sekaligus. Kau harus kuliah, kau juga sudah di terima bekerja di kantor papa. Sekarang kau ingin membuka restoran dari awal lagi."


"Clara saja bisa kerja serabutan sambil kuliah. Bahkan aku jauh lebih beruntung darinya. Mommy dan Deddy masih meningalkan sedikit hartanya untukku. Kenapa aku tidak bisa mengunakannya dengan baik?"

__ADS_1


"Baiklah! Terserahmu saja. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu."


Bersambung.....


__ADS_2