
Selama di kantor Clara selalu menempel bagaikan prangko dengan Rafi. Dia selalu mengikuti kemanapun Rafi pergi hingga akhirnya Rafi memilih berdiam diri di ruangannya, sambil memeriksa dokument yang menumpuk di mejanya.
"Maaf, Tuan. Sebentar lagi rapat di mulai." ucap Bisma masuk ke ruangan Rafi.
"Baiklah! Kau urus saja semuanya. Nanti saya menyusul." ucap Rafi melirik Clara yang sedang sibuk mengotak atik siaran televisi.
"Kau mau rapat?" ucap Clara mendengar pembicaraan Rafi dan Bisma.
"Ia, Sayang. Kau di sini dulu ya." ucap Rafi berusaha membujuk Clara.
"Aku mau ikut. Aku janji akan diam." ucap Clara tersenyum manis.
"Tapi, Sayang."
"Pliss! Aku mau ikut. Aku janji akan diam dan tidak mengangumu. Kau lihat sendirikan dari tadi aku diam dan tidak merepotkanmu. Aku ikut ya." ucap Clara penuh permohonan.
Melihat wajah Clara, Rafi hanya mampu membuang napasnya kasar. Tidak ada pilihan lain dia harus menuruti keinginan Clara untuk ikut bersamanya. Jika tidak sudah pasti dia harus menghabiskan waktunya untuk mendengar rengekan Clara.
"Baiklah! Kau boleh ikut. Tapi, kau harus diam dan tidak boleh mengangu rapat nantinya." ucap Rafi menoel hidung mancung Clara.
"Yeach! Aku janji akan menutup mulutku. Terima kasih, Sayang. Kau memang suami terbaikku." ucap Clara penuh kebahagiaan lalu memeluk Rafi dan menciumi wajah Rafi dengan lembut.
Melihat sikap Clara yang sangat manja, Bisma hanya mampu tersenyum kecil. Dia seperti ikut ke dalam kebahagiaan Rafi dan Clara. Dia merasa sangat bahagia melihat tuan mudanya yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri bahagia.
"Bis, kau siapkan tempat untuk istriku ya. Ingat pastikan dia merasa nyaman dan tidak bosan selama rapat berlangsung. Siapnya semua keperluannya selama rapat." perintah Rafi tidak ingin Clara merasa bosan ketika berada di ruang rapat.
"Baik, Tuan." ucap Bisma menganguk patuh.
"Satu lagi, sediakan film yang menarik untuknya agar dia bisa mengisi waktunya untuk menonton." ucap Rafi.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya keluar dulu."
"Baiklah!"
__ADS_1
Setelah mendengar persetujuan dari Rafi, Bisma langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rafi. Dia berjalan menuju ruang rapat untuk menyiapkan semua keperluan Clara selama rapat berlangsung.
"Mana, Tuan Mudamu?" ucap Rayyan datang bersama ketiga sahabatnya.
"Ada acara apa? Kenapa ruang rapat tiba-tiba seperti ruang pindahan?" ucap Kinan mengerutkan keningnya melihat sofa lengkap dengan bantal dan selimutnya, leptop dan juga berbagai macam cemilan dan minuman ada di ruang rapat.
"Ini untuk, Nyonya Muda. Jika tidak di ini semua tidak di sediakan sudah pasti ruang rapat ini akan di penuhi dengan omelannya." ucap Bisma mengingat kelakuan Clara yang tidak bisa diam jika tidak ada yang namanya makanan dan juga drakor.
"Apa dia juga ikut rapat?" ucap Wildan.
"Ada apa?" ucap Rafi memasuki ruang rapat bersama Clara.
"Oh! Ada bumil rupanya. Kau semakin cantik saja, Ra." ucap Wildan mencubit gemas wajah gembul Clara.
"Eh! Enak aja main sentuh-sentuh binik orang. Binikmu ada di rumah. Itu di sentuh-sentuh." oceh Rafi menepis tangan Wildan lalu membersihkan wajah Clara seakan tidak ingin ada bekas tangan Wildan di sana.
"Pelit amat sih. Cuman numpang pegang saja." ucap Wildan menatap kesal Rafi.
"Apa kau ingin istri seperti Clara. Yang gemuk dan pipi yang tembam?" ucap Kinan tersenyum kecil.
"Kau belum mendengar penjelasanku tapi, kau sudah kesal seperti itu." ucap Kinan membuang napasnya kasar.
"Memangnya kau ingin menyuruh Sinta menjadi gemuk gitu?" ucap Ardiyan tidak mengerti.
"Tidak! caranya sih gampang. Kau tingal melakukan gerakan yang indah tiap malam agar benihmu bisa berkembang kembali di rahim Sinta. Jika Sinta hamil sudah di pastikan dia akan sama seperti Clara. Jadi, kau bebas mencubit dan mengobok-oboknya sesukamu." jelas Kinan.
"Jadi aku harus punya anak lagi?" ucap Wildan.
"Em!" dehem Kinan menganguk kecil.
"Maaf! Aku tidak mau. Satu saja sudah membuat kepalaku pusing tujuh turunan." ucap Wildan mengingat kelakuan putrinya yang selalu membuatnya pusing.
"Kak Wildan tidak boleh bicara seperti itu. Anak itu adalah titipan yang harus kita syukuri. Tapi, kelakuan anak kita adalah cerminan dari kita sendiri." ucap Clara dengan polosnya.
__ADS_1
"Ha...ha... Benar, sekali! Kau dulu juga sering membuat orang tuamu naik darah." ucap Rayyan dan Kinan terkekeh.
"Apa kau lupa jika di antara anak-anak kita putra Ardiyan yang paling kalem." ucap Wildan berdecak kesal.
"Kau benar juga. Berarti di antara kita hanya Ardiyan yang baik budi?" ucap Rayyan dan Kinan mengingat kelakukan putri mereka yang sama persis dengan mereka.
"Kalian benar! Jika ingin anak yang baik maka ikuti caraku." ucap Ardiyan dengan sombongnya.
"Apa perlu kami melihatmu melakukan itu?" ucap Wildan, Kinan dan Rayyan dengan polosnya.
"Enak saja! Kalian kira aku ini bintang b*k*p." ucap Ardiyan kesal sambil menjitak pelan kening ketiga sahabatnya itu.
"Selamat, siang." ucap para rekan bisnis Rafi yang lainnya telah berdiri di belakang mereka.
"Waduh! Apa mereka sedari tadi mendengar ucapan kita?" bisik Rayyan pelan.
"Kami tidak tau!" ucap Wildan, Kinan dan Ardiyan mengeleng pelan.
"Jangan sampai mereka tau kita gagal mendidik para putri kita. Mau di taruh di mana wajah kita jika sampai mereka tau kita tidak bisa mengatur satu putria saja." ucap Rayyan mendengus kesal.
"Itu banyak tong sampah." ucap Rafi terkekeh kecil.
"Rafi!" ucap ketiga sahabatnya penuh kekesalan sedangkan Ardiyan dan Clara hanya terkekeh kecil.
Rayyan, Kinan, dan Wildan adalah pengusaha sukses yang telah berhasil memngembangkan perusahaan mereka dengan pesat. Tapi, mereka tidak bisa mengurus putri mereka yang hanya satu orang saja. Jika sampai rekan bisnis mereka tau sudah di pastikan mereka bertiga akan ketimban malu.
"Sudah! Semua orang sudah berdatangan. Sekarang waktunya kita mendiskusikan bisnis kita. Jika kalian mau membicarakan cara menghadapi putri kalian nanti saja setelah urusan bisnis selesai." ucap Rafi tersenyum kecil lalu mengantar Clara untuk duduk di tempat yang tepah dia sediakan.
Mendengar ucapan Rafi, para sahabatnya hanya mampu membuang napas mereka pelan lalu mengambil tempat duduk mereka masing-masing. Para rekan bisnis Rafi yang lainnya menatap kagum Rafi yang begitu sabar mengurus istrinya yang sedang hamil. Bahkan Rafi mau membawa Clara ke acara rapat penting seperti ini. Bahkan Rafi juga menyiapkan semua keperluan Clara agar Clara merasa nyaman.
Setelah rapar di mulai Rafi langsung duduk di bangku kuasanya. Dia menyapa hangat semua rekan bisnisnya sambil sesekali melirik ke arah Clara. Dengan teliti Rafi menyuruh Bisma untuk membantu Clara saat Clara sedang ke sulitan untuk mengambil sesuatu yang dia butuhkan.
"Sayang! Aku pipis."
__ADS_1
"Apa!"
Bersambung....