
Karna hari mingu restoran Rania nampak sangat ramai. Walaupun masih sederhana Rania bersyukur bisa terus mengembangkan restoran peningalan kedua orang tuanya dengan baik. Bahkan Dirga dengan senang hati membantu Rania ketika hari libur seperti ini.
"Ra, kau duduk saja. Lihat wajahmu sudah di penuhi keringat?" ucap Dirga mendudukkan Rania lalu menghapus keringatnya mengunakan tissu.
"Kau juga pasti lelah. Ini minum." ucap Rania memberikan air mineral yang ada di tangannya kepada Dirga.
"Terima kasih. Kau memang calon istri impianku." ucap Dirga mengoda Rania.
"Kau bisa saja." ucap Rania menunduk malu.
"Ehem! Dilarang mesra-mesraan di tempat umum." ucap Clara tiba-tiba nongol di waktu yang tidak tepat.
"Hai, Ra. Kau makin bulat saja." ucap Rania langsung memeluk Clara dan mengelus perut Clara yang mulai membuncit.
"Aku tidak bulat, Ra." ucap Clara memayunkan bibirnya.
"Kau tidak gemuk kok. Walaupun kau segede gajah Kak Rafi akan tetap cinta kepadamu." ucap Rania melirik Rafi yang terus merangkul mesra pingang Clara.
"Kau benar, Ra. Perubahan bentuh tubuh tidak menjamin merubah perasaanku kepada istriku yang paling cantik ini." ucap Rafi tersenyum sambil menarik dagu Clara.
"Aman! Ndak oleh mesla-meslaan i epan umum. Anti ang omblo ada ili." ucap Aulya mencubit kecil tangan Rafi.
"Ini bocil! Dari mana tau itu yang namanya jomblo?" ucap Rafi menarik pelang teliga Aulya.
"Ali, Aman." ucap Aulya dengan polosnya.
"Aman eling ilang Aman Isma omblo. Adi Lya aunya ali aman lah." ucap Aulya melipat kedua tangannya di dada.
"Hai! Papa muda yang paling narsis mau lewat." ucap Wildan datamg bersama para sahabat beserta anak istri mereka.
"Hai, Ra. Restoranmu semakin lama semakin ramai pengunjung saja." ucap Sinta dan Nur menatap restoran Rania yang di penuhi pengunjung.
"Alhamdulillah, Kak. Belakangan ini restoranku engak pernah sepi pengunjung. Tapi, ini semua karna bantuan kalian semua." ucap Rania menatap satu persatu orang yang telah membantunya mengembangkan restorannya.
"Kami hanya bisa memberi dukungan dan juga membantumu. Yang bekerja keras dan terus berusaha itu kau." ucap Zhia tersenyum.
"Kakak benar juga. Tapi, aku tetap ingin berterima kasih kepada kalian. Aku memang sangat beruntung bisa mengenal orang sebaik kalian semua." ucap Rania tersenyum haru.
"Kau memang beruntung mengenal kami. Tapi, kau lebih beruntung mengenal aku Kinanta Wirawan pengusaha muda yang paling sukses di negeri ini. Bahkan pesonanya dapat menghipnotis seribu gadis sekaligus." ucap Kinan dengan pedenya.
"Papa! Ingat umur." ucap Sania menatap kesal sang papa selalu lupa dengan umurnya.
"Papa masih kepala tiga, Sayang. Jadi, masih sangat muda dan hot." ucap Kinan tersenyum lalu mencolek Rissa.
__ADS_1
"Jangan genit hubby. Sudah tua tapi masih berasa muda." ucap Rissa berdecak kesal meljhat tingkah suaminya satu itu.
"Sudah! lebih baik sekarang kalian duduk. Aku akan menyuruh pelayan untuk memberikan makanan terbaik untuk kalian." ucap Rania tersenyum melihat kelakuan para papa muda itu yang selalu membuat heboh restorannya.
Setelah Rania membuka restorannya, Rafi dan para sahabatnya memilih untuk selalu berkumpul di restoran Rania. Selain untuk meramaikan restoran Rania, mereka juga bisa mengenalkan restoran Rania kepada rekan bisnis mereka.
"Untuk kau bumil. Aku menyediakan menu spesial untukmu." ucap Rania tersenyum.
"Hai, Clara kecil. Kau pasti rindu dengan masakan bibi ya? Kau tungu sebentar ya, bibi akan memasak khusus untukmu." ucap Rania mengelus lembut perut buncit Clara.
"Ra, kau kapan menyusul Clara? Lihat itu pengawalmu selalu sedia menemanimu kemanapun. Jangan sampai nanti dia yang berjuang orang lain yang dapat." ucap Wildan menatap Dirga yang selalu menempel seperti perangko dengan Clara.
"Huss! Kau jangan bicara seperti itu. Soal jodoh kita tidak pernah tau." ucap Rayyan.
"Benar apa yang di katakan Kak Rayyan. Sebagai manusia kita tidak bisa mengetahui siapa jodoh kita kelak. Tapi, setidaknya aku selalu berdoa agar Dirga adalah jodohku sampai akhir hayat." ucap Rania tersenyum.
"Aamiin. Kami doakan kalian di persatukan dalam ikatan suci pernikahan." ucap semuanya mengaminkan ucapan Rania.
"Hai, maaf terlambat." ucap Tika datang bersama Dokter Randy.
"Hai, Tik. Tidak apa-apa kok. Ayo duduk sini." ucap Clara menunjuk kursi di sampingnya.
"Bumil makin cantik saja nih. Pasti anaknya cewek." ucap Tika menatap kagum Clara yang masih terlihat cantik walapun sedang hamil.
"Apapun tidak masalah. Yang penting terlahir sehat dan sepurna." ucap Rafi tersenyum.
"Aman! Aman iapa?" ucap Aulya menatap Dokter Randy yang duduk di samping Tika.
"Hai, Cantik. Kenalkan Paman Randy." ucap Dokter Randy tersenyum.
"Ah! Aman ilang Lya antik. Aman uga amat ampat." ucap Aulya bersorak ria.
Melihat Aulya yang kambuh. Semua orang hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya pelan.
"Paman Bisma! Ayo duduk sini." ucap Sania ketika melihat Bisma menghampiri mereka.
"Terima kasih, Cantik." ucap Bisma duduk di samping Sania.
"Pesanan sudah datang." ucap Rania menyajikan pesanan mereka di atas meja.
"Aku mau makan." ucap Clara langsung mengambil makanannya lalu menyantapnya dengan lahapnya.
"Hai, Ra. Pelan-pelan!" ucap Rania melihat Clara yang makan dengan begitu lahapnya.
__ADS_1
"Habisnya menu di restoranmu ini enak-enak semua. Aku mau pesan satu lagi." ucap Clara dengan mulut penuhnya.
"Siap, bumil. Apa semua bumil itu rakus sepertimu, Ra?" ucap Rania menatap porsi makan Clara yang meningkat pesat.
"Ga, kau taruh saja kecebongmu di perut Rania. Nanti dia juga tau bagaimana bumil sepertiku." ucap Clara tersenyum lalu menyantap kembali makanannya.
"Emang kau mau, Sayang?" ucap Dirga tersenyum.
"Enak saja. No sentuh-sentuh sebelum halal." ucap Rania tegas lalu melangkahkan kakinya kembali ke dapur.
"Memangnya paman punya kecebong? Lalu bagaiamana caranya menaruhnya di perut Tante Rania agar seperti tante cantik?" ucap Yuki dan Sania dengan polosnya.
"Enel! Alti Aman Afi uga unya ebong. Lya au ah." ucap Aulya dengan penuh semangat.
Uhuk...uhukk.....
Mendengar ucapan para bocil semua orang langsung kesedak lalu menatap Clara tajam. Bukannya merasa bersalah karna asal ceplos saja, Clara malah cengegesan sambil memegang piringnya.
"Sepertinya makananku kurang garam. Aku pergi ambil garam dulu ya." ucap Clara kabur sambil membawa piringnya.
Clara...
Pekik semuanya karna harus menghadapi pertanyaan para bocil tentang kecebong yang di maksud Clara tadi.
"Apa alian alah ama ante antik? Ami anya ingin au tentang ebong itu aja." ucap Aulya dengan polosnya.
"Sudah! Kalian makan saja makanan kalian. Belum waktunya kalian tau tentang kecebong itu. Nanti kalau sudah besar kalian akan tau sendiri." ucap Rafi tersenyum.
"Api aman."
"Sudah, Sayang. Kau makan dulu nanti paman jelaskan." ucap Dokter Randy tersenyum.
"Benarkah, Paman?" ucap para bocil tersenyum penuh semangat.
Randy hanya tersenyum lalu menganguk pelan lalu kembali menyantap makanannya.
"Paman Bisma jika punya kecebong jangan beri kepada siapapun ya. Kecebong paman hanya untukku saja." ucap Sania tegas.
Byurrr...
Bisma yang sedang minum langsung menyemburkan minuman yang ada di mulutnya mendemgar ucapan Sania.
"Sania!" ucap Kinan kesal mendengar ucapan Sania.
__ADS_1
"Hehe... Kabur." ucap Sania menyusul Clara ketika melihat wajah Kinan yang merah padam.
Bersambung.....