
Setelah mendapatkan perintah dari Rayyan dan Kinan, Bisma dengan cepat mencari keberadaan Kania. Dengan kemampuan ITnya Bisma dengan cepat mendapatkan lokasi Kania saat ini. Kania yang ingin kabur mencoba bersembuyi di sebuah hotel untuk menghindari kejaran Rafi.
Kania memesan tiket denga nama samaran agar Rafi tidak bisa mencarinya. Tapi, sangat di sayangkan orang-orang Rafi jauh lebih pintar dari yang dia bayangkan. Bisma dapat merentas dengan cepat email dan juga alat komunikasi Kania.
"Kau kira kami sebodoh itu? Walaupun kau lari ke ujung dunia kami akan dengan mudah menemukanmu" gumam Bisma tersenyum sinis ketika mengetahui trik kabur Kania.
Karna tidak mau membuat keributan Bisma memilih untuk menunggu Kania keluar dari hotel tempat persembunyiannya. Benar saja tidak menunggu lama akhirnya Kania keluar dari hotel itu dengan penampilan yang sangat berbeda. Walaupun berusaha menyamar jadi apa saja Bisma tetap bisaengenalinya dengan mudah.
"Ha..ha... Ular sudah keluar dari sarangnya. Sekarang kita lihat bisa siapa yang lebih mematikan" gumam Bisma tersenyum sinis lalu melajukan mobilnya pelan mengikuti mobil Kania.
Bisma mengikuti mobil Kania dari kejauhan agar Kania tidak bisa menyadarinya. Setelah sampai di tempat sepi Bisma menyuruh anak buahnya untuk menyalip mobil Kania.
"Hentikan mobilnya sekarang" perintah Bisma.
"Baik, Tuan" anak buah Bisma langsung menghentikan mobil Kania dengan cara menyalip mobilnya.
Setelah melihat mobil Kania berhenti kedua angota Bisma langsung turun dan menghampiri mobil Kania. Melihay dua orang pria berbadan tegap menghampirinya Kania langsung panik ketakutan.
"Buka pintunya" teriak pria itu mengedor kaca mobil Kania.
"Siapa kalian? Aku tidak punya urusan dengan kalian" ucap Kania langsung mengunci pintu mobilnya ketakutan.
"Kau memang tidak punya urusan dengan kami. Tapi, kau telah mengusik kehidupan tuan muda kami" ucap Bisma turun dari mobilnya lalu menatap tajam Kania.
"Bisma! Kenapa dia bisa menemukanku?" batin Kania berpikir bagaimana caranya kabur dari gerbang maut di depannya.
"Keluar sekarang atau, aku akan melakukan caraku sendiri untuk mengeluarkanmu" ucap Bisma sambil menyuruh anak buahnya menyiram bensin ke mobil Kania.
"Satu... " ucap Bisma menghidupkan mancis gas yang ada di tangannya.
Melihat Bisma yang menyalahkan mancisnya Kania yang panik langsung keluar dari mobilnya. Namun, saat dia ingin kabur kedua kedua anak buah Bisma yang telah siap siaga langsung menangkapnya.
"Mau kabur kemana kau wanita ******? Gara-gara kau nyonya muda kami harus terbaring di rumah sakit" ucap salah satu anak buah Bisma menatap Kania geram.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Jika tidak aku akan berteriak" ancam Kania tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Berteriaklah sepuasmu! Aku tidak perduli" ucap Bisma tersenyum sinis.
"Bawa dia ke mobil" perintah Bisma.
"Baik, Tuan!" ucap kedua anak buah Bisma lalu menyeret tubuh Kania kedalam mobil.
Brukkk...
Tanpa ada rasa iba kedua anak buah Bisma langsung melemparkan tubuh Kania kedalam mobil. Mereka tidak memperdulikan suara rintihan Kania karna kepalany terpentur kursi. Kedua anak buah Bisma mengapit Kania dengan tubuh lekar mereka sehingga Kania tidak bisa lagi bergerak.
Setelah melihat kedua anak buahnya telah membawa Kania kedalam mobil, Bisma juga ikut masuk dan duduk di samping supir.
"Jalan" perintah Bisma kembali menyalakan mancisnya.
Mendengar ucapan Bisma, anak buahnya yang bertugas sebagai supir menginjak pegal gas mobil mereka. Ketika mobilnya sudah jalan dengan cepat Bisma melemparkan mancisnya ke mobil Kania yang telah mereka sirami bensin. Dengan cepat api menyambar mobil Kania sehingga mobil Kania terbakar dengan cepat.
"Kenapa kau membakar mobilku?" ucap Kania menatap ke belakang dan melihat mobilnya yang telah terbakar.
"Kalian boleh melakukan apapun kepadanya. Silahkan bermain sepuas kalian" ucap Bisma.
"Yang bener, Bos?" ucap kedua anak buah Bisma.
"Tentu saja! Tapi jangan lupa di tutup. Karna aku tidak mau menodai mata suciku dengan melihat tubuh wanita ****** itu" ucap Bisma tanpa ada belas kasihan sedikitpun.
Karna baginya siapa yang berani mengusik kehidupan keluarga Alexander sama saja mereka mencari masalah dengannya. Apalagi Kania telah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Dengan menghilangkan nyawa calon penerus keluarga Alexander dan juga membuat Clara terbaring lemah di rumah sakit.
Mendengar ucapan Bisma, kedua anak buahnya langsung menutup tirai. Sehingga Bisma tidak bisa melihat apapun yang mereka lakukan ke Kania. Bisma yang mulai mendengar suara de***an Kania langsung menghidupkan musik sekeras mungkin.
"Pelankan mengemudinya. Biarkan mereka bersenang-senang tanpa ada ganguan" perintah Bisma terus menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Mendengar ucapan Bisma, sang supir memelankan kemudinya. Dia terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sambil melirik Bisma yang terus diam sambil menatap lurus kedepan.
__ADS_1
...----------------...
Kinan dan Rayyan melakukan tugasnya untuk menghancurkan kehidupan keluarga Rudolf. Sesuai perintah Ronal mereka menarik semua aset yang telah dia berikan kepada keluarga Rudolf. Bahkan Kinan dan Rayyan juga menarik semua saham yang Ronal tanam di perusahaan Rudolf.
Dengan kejadian itu keluarga Rudolf langsung bangkrut saat itu juga. Mendengar tindakan Kinan dan Rayyan, Rudolf langsung terkena serangan jantung. Apalagi mendengar mereka melakukan itu karna putrinya Kania, telah melakukan rencana pembunuhan kepada menantu keluarga Alexander.
"Dasar anak tidak tau diri! Dasar bodoh" teriak Rudolf frustasi setelah mendengar kabar dari asisten pribadinya.
"Ada apa, Ded?" ucap Nyonya Rudolf dan Kania menghampiri Rudolf.
"Putri mama si Kania telah menabrak menantu keluarga Alexander. Bahkan mereka harus kehilangan calon cucu mereka karna ulahnya." jelas Rudolf sambil memegang dadanya yang sakit.
"Apa! Memangnya Rafi sudah menikah?" ucap Rania membulatkan matanya terkejut.
"Arghh..." pekik Rudolf memegang dadanya yang semakin terasa sakit.
"Ded! Deddy" ucap Nyonya Rudolf dan Rania panik.
"Pasti jantung Deddymu kambuh. Lebih baik kita bawa dia kerumah sakit secepatnya." ucap Nyonya Rudolf mulai memapah Rudolf.
Melihat kondisi Rudolf yang semakin lemah Rania dan juga Nyonya Rudolf membawa Rudolf kerumah sakit secepat mungkin. Mereka membawa Rudolf ke rumah sakit yang kebetulan sama dengan rumah salit tempat Clara di rawat.
"Mom! Itu bukannya istri-istri sahabat Rafi?" ucap Kania menunjuk ke arah Zhia dan para sahabatnya yang sedang menunggu di depan ruangan Clara.
"Apa istri Rafi yang di sebut Deddy tadi juga di rawat di sini juga?" ucap Nyonya Rudolf.
"Mungkin, Mom. Lihat itukan Tante Ria, dia sepertinya sedang menangis" ucap Rania menunjuk ke arah Ria yang terus menangis di pelukan Ronal.
"Apa perlu kita menghampiri mereka" ucap Nyonya Rudolf ingin membujuk Ronal untuk kembali memberikan saham ke perusahaannya.
"Jangan, Mom! Lebih baik kita tunggu sebentar lagi. Aku yakin mereka masih terpuruk saat ini" ucap Rania membujuk Mommynya untuk menjauh dari sana.
Mendengar ucapan Rania, Nyonya Rudolf akhirnya mengerti. Rania mencoba membawa Mommynya menjauh dari sana sambil terus menatap ke arah Ria. Ntah mengapa Rania sepertinya merasakan kesedihan yang Ria alami saat ini.
__ADS_1
Bersambung.....