Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 38


__ADS_3

Rafi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melirik Clara yang duduk di sampingnya. Melihat suasana yang begitu hening Rafi memilih untuk menghidupkan musik untuk memecahkan keheningan. Tapi, saat Rafi memutar musik kesukaannya dengan cepat Clara mengantinya.


"Musiknya terlalu melow! Aku tidak suka" ucap Clara.


"Kau tidak suka tapi, aku suka" ucap Rafi kembali memutar musik kesukaannya.


"Aku ini istri tuan jadi tuan harus mengikuti apa mauku. Apa tuan lupa jika seorang istri itu adalah ratu" ucap Clara menatap tajam Rafi.


"Clara berapa hari ini kok semakin galak ya?" batin Rafi menatap aneh Clara.


"Apa lihat lihat? Jangan bilang tuan naksir aku" ucap Clara ketus sambil menunjuk wajah Rafi.


"Pede amat! Aku juga naksir cewek itu lihat lihat orangnya. Bukan nenek lampir sepertimu" ucap Rafi menjitak pelan kening Clara.


"Bilang saja naksir! Gengsi kok di gedein" ucap Clara memayunkan bibirnya.


"Berhenti!" ucap Clara tiba tiba sehingga membuat Rafi repleks mengrem secara tiba tiba.


"Ada apa?" ucap Rafi menatap ke belakang.


"Mundur dikit" perintah Clara.


"Ada apaan, Sih?" ucap Rafi menatap kesal Clara.


"Mundur aku bilang mundur! Tingal mundur saja susah amat"


Mendengar ucapan Clara, Rafi hanya mengusap wajahnya kasar. Mau tidak mau akhirnya Rafi menuruti perintah Clara dengan memundurkan mobilnya.


"Berhenti" ucap Clara ketika mobil Rafi berada di depan penjual rujak.


"Suami yang paling tampan. Beliin rujak dong" ucap Clara tersenyum manis sambil mengelus lengan Rafi.


"Jika ada maunya baru lembut. Kalau tidak galak kayak singa"


"Tuan mau tidak? Jika tidak biar aku yang beli sendiri."


"Ia... Ia! Aku belikan" ucap Rafi turun dari mobilnya sambil mengerutu kesal.


"Permisi aku beli rujaknya satu ya" ucap Rafi kepada penjual rujak.


"Ia, Den. Mau pedes atau tidak?" tanya penjual rujak itu.


"Ra! Mau pedes atau tidak?" tanya Rafi sedikit berteriak.


"Tidak!" ucap Clara.


"Istri, Aden ya?" tanya penjual rujak itu.


"Ia, Bi" ucap Rafi tersenyum.

__ADS_1


"Pasti istrinya lagi ngidam ya?" tanya penjual rujak itu sambil tersenyum.


Mendengar ucapan penjual rujak itu Rafi nampak berpikir sejenak. Dia melirik Clara yang duduk di mobil sambil tersenyum.


"Apa benar Clara sedang mengandung?" batin Rafi terus menatap Clara.


"Ini, Den. Semoga bayinya lahir dengan selamat ya" ucap penjual rujak itu memberikan rujak pesanan Rafi.


"Terima kasih ya, Bi" ucap Rafi tersenyum lalu berjalan ke mobilnya.


"Ini" ucap Rafi memberikan rujak pesanan Clara lalu duduk di kursi pengemudi.


"Terima kasih" ucap Clara tersenyum bahagia lalu menyantap rujak itu dengan lahapnya.


Melihat Clara yang memakan rujak itu dengan lahap Rafi langsung mengembangkan senyumannya. Dia mengelus lembut rambut panjang Clara, sambil membayangkan benihnya berkembang di rahim Clara.


"Tuan kenapa?" ucap Clara binggung karna melihat Rafi tersenyum sendiri.


"Tidak kenapa napa! Kau habiskan saja rujakmu itu" ucap Rafi ketus lalu melajukan mobilnya dengan pelan.


Melihat Rafi yang mengemudikan dengan sangat pelan Clara mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa mobilnya jalannya sangat pelan?" oceh Clara.


"Kau bisa diam tidak? Lebih baik kau habiskan rujakmu itu. Atau aku yang menghabiskannya"


"Enak aja" ucap Clara langaung melahap rujak itu dengan begitu lahapnya.


"Kamu jalannya hati hati" ucap Rafi merangkul pingang Clara.


Melihat sikap Rafi yang tiba tiba aneh Clara langsung menatapnya bingung.


"Kenpa kau melihatku seperti itu? Naksir ya?" ucap Rafi tersenyum mengoda Clara.


"Idih! Pede amat!" ucap Clara kesal lalu melangkahkan kakinya memasuki swalayan


"Ra, tunggu! Kau jalannya jangan buru-buru nanti kesandung, Ra" ucap Rafi mengejar Clara.


"Aku bukan anak kecil, Tuan! Jadi aku bisa mengatur jalanku sendiri" ucap Clara kesal Rafi.


"Baiklah! Kau jangan marah-marah seperti itu. Lebih baik kita belanja saja" ucap Rafi tersenyum.


"Dasar aneh!" ucap Clara memutar bola matanya memelas lalu kembali melahkahkan kakinya.


Clara berjalan untuk memilih barang belajaan mereka. Sedangkan Rafi berjalan di belakang Clara sambil mendorong keranjang belanjaan. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.


Kania yang juga ingin belanja kebutuhannya tidak sengaja melihat Clara dan Rafi di dalam swalayan itu. Karna penasaran Kania memilih untuk mengikuti mereka. Melihat perhatian Rafi yang sangat berlebihan kepada Clara tiba-tiba Kania curiga jika ada hubungan spesial antara Rafi dan Clara.


"Kenapa mereka terlihat sangat dekat? Apa mereka punya hubungan lain selain pembantu dan majikan?" batin Kania terus mengawasi mereka.

__ADS_1


"Aku harus mencari taunya secepatnya" guman Kania berjalan mendekati mereka.


"Hai! Ada pengantin baru rupanya" ucap Kinan yang kebetulan juga berbelanja keperluan dapur bersama Rissa.


"Hai! Kalian juga terlihat seperti pengantin baru" ucap Rafi tersenyum.


"Tentu dong! Pengantin baru stok lama" ucap Kinan terkekeh kecil sambil merangkul Rissa.


"Clara wajahmu kok terlihat pucat. Kamu lagi tidak enak badan?" ucap Rissa memegang wajah Clara yang terlihat pucat.


"Ia, Ra. Wajahmu kenapa pucat seperti itu? Kau pasti kelelahan ya?" ucap Rafi panik lalu merangkul Clara.


"Aku tidak apa-apa! Mungkin butuh istirahat sebentar saja" ucap Clara tersenyum.


"Kau tenang saja! Istrimu tidak apa-apa. Mungkin benihmu sudah berhasil melakukan tugasnya" ucap Kinan melirik perut datar Clara.


"Kamu benar, Sayang. Kenapa aku tidak kepikiran ya? Apa kalian sudah memeriksanya?" ucap Rissa tersenyum.


"Apa! Ternyata mereka sudah menikah? Bahkan Clara sedang hamil. Ternyata kau dalang di balik batalnya peetunanganku Clara" batin Kania mengepalkan tangannya geram.


"Belum! Tapi apa mungkin? Kami baru melakukannya sekali" ucap Rafi dengan polosnya.


"Apa! Kalian melakukan itu hanya sekali? Terus setelah kalian menikah kalian tidak melakukan itu?" ucap Kinan menyatukan kedua tangannya seperti burung yang sedang mematuk.


Mendengar pertanyaan Kinan, Rafi dan Clara langsung saling lempar pandangan. Mereka tidak tau harus berkata apa. Jika sampai Kinan tau mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri pasti Kinan akan mengadu kepada mama Ria.


"Ups! Jangan begitu. Mungkin mereka belum siap" ucap Rissa mencubit lengan Kinan.


"Tidak apa-apa! Aku yakin lama kelamaan kalian akan terbiasa. Tapi, jika kalian sudah menikah lebih baik kalian melakukan hubungan layaknya suami istri. Selain untuk membuktikan cinta kalian juga menambah ladang pahala untuk kalian" ucap Rissa tersenyum menasehati.


"Baik, Kak! Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk Tuan Rafi" ucap Clara menunduk.


"Sudah tidak apa-apa! Kalian sudah selesai? Jika sudah kita pulang yuk" ucap Rissa.


"Sudah! Ayo kita pulang" ucap Rafi tersenyum lalu mendorong keranjang belajaannya.


Rafi dan Kinan langsung pergi ke meja kasir untuk membayar barang belanjaan mereka. Sedangkan Rissa dan Clara duduk di kursi tunggu sambil menunggu para suami mereka. Rissa berusaha menasehati Clara dengan lembut agar bisa menjadi istri yang baik untuk Rafi.


Setelah selesai membayar belanjaan mereka Rafi dan Kinan langsung mengajak Clara dan Rissa ke mobil mereka. Saat sampai di mobil Clara mengingat ada barang yang harus dia beli.


"Tuan! Aku lupa harus membeli sesuatu" ucap Clara keluar dari mobil Rafi dengan terburu-buru tanpa melihat area sekitarnya.


"Ra, biar aku temenin" ucap Rafi ikut turuh dari mobilnya.


Bruukkk.....


Arghhh....


"Clara...."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2