Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 74


__ADS_3

Rafi terdiam sambil terus menatap Clara yang tertidur dengan pulas. Para sahabat Rafi beserta Ria dan Ronal telah pulang dan meningalkan Tika dan Rania untuk menemani Rafi.


"Kalian pulang saja. Aku bisa menemani Clara sendiri. Lagian kalian juga butuh istirahat." ucap Rafi menatap Tika dan Rania yang sudah kelelahan.


"Tapi, Kak!" ucap Tika masih ingin menemani Clara.


"Selamat malam." ucap Dokter Randy masuk untuk memeriksa keadaan Clara.


"Malam, Dok." ucap Rafi tersenyum.


"Nyonya pasti sangat kelelahan." ucap Dokter Randy tersenyum ketika melihat Clara yang tertidur dengan pulasnya.


Mendengar ucapan Dokter Randy, Rafi hanya tersenyum kecil sambil mengelus rambut Clara. Setelah memeriksa selang infus Clara, Dokter Randy melangkahkan kakinya menuju dua box bayi yang ada di samping Clara. Dia menatap kedua bayi mungil itu dengan penuh keteduhan.


"Mereka sangat imut ya, Kak." ucap Tika berjalan mendekati Dokter Randy.


"Ia! Mereka sangat imut. Pasti setelah besar nanti mereka jadi kebangaan kedua orang tuanya." ucap Dokter Randy tersenyum.


"Malam!" ucap Dirga datang membawa keranjang buah sebagai buah tangan.


"Malam." ucap semuanya tersenyum.


"Jangan berisik! Clara lagi istirahat." bisik Rania tidak ingin mengusik tidur Clara.


"Upss! Maaf!" ucap Dirga pelan lalu duduk di samping Rania.


Setelah puas memandangi wajah imut Filio dan Fiona, Dokter Randy langsung pamit undur diri.


"Hari sudah semakin malam. Apa kau ingin menginap di sini?" ucap Dokter Randy menatap Tika.


"Kau pulang saja, Tik. Aku bisa menjaga Clara sendiri. Lagian besok kau harus ke kampus'kan?" ucap Rafi lembut.


"Baiklah, Kak. Besok aku datang lagi ya." ucap Tika tersenyum lalu keluar dari ruangan Clara bersama Dokter Randy.


"Apa aku boleh mengendong bayinya?" ucap Dirga menatap kedua bayi mungil yang masih tertidur dengan lelapnya.


"Tentu saja." ucap Rafi tersenyum.


Mendengar persetujuan dari Rafi, Dirga langsung membawa Filio kedalam gendongannya. Dirga menatap wajah imut Filio yang tertidur dengan pulasnya.


"Kau tampan sekali. Jika nanti paman punya anak perempuan paman ingin sekali menjodohkannya denganmu." ucap Dirga sambil menciumi pelan wajah Filio.

__ADS_1


"Tapi, sayangnya. Paman belum menikah." ucap Dirga kembali sambil melirik Rania yang berdiri di sampingnya.


"Jangan pikirkan menikah dulu. Ingat menikah itu butuh tanggung jawab yang sangat besar." ucap Rania tersenyum.


"Benar juga! Tapi, setelah kita tamat kuliah aku berjanji akan langsung bekerja. Setelah aku sukses aku akan segera melamarmu. Lagian Filio'kan laki-laki jadi tidak masalah jika dia tumbuh besar dulu." ucap Dirga tersenyum.


Mendengar bayinya sudah di jodohkan saat masih bayi, Rafi hanya tersenyum kecil. Dia lembih memilih untuk terus mengengam tangan Clara yang masih tertidur dengan lelap.


"Sudah! Kak Rafi pasti sudah lelah. Ayo kita pulang. Besok kita ke sini lagi." ucap Rania menatap wajah lelah Rafi.


"Kau benar. Lagian Clara juga belum bangun. Jadi aku belum bisa mewawancarainya." ucap Dirga tersenyum.


"Memangnya kau ingin mewawancarai Clara tentang apa?" ucap Rania mengerutkan keningnya bingung.


"Adalah! Ayo kita pulang." ucap Rafi terkekeh kecil.


"Kak! Kami pulang dulu ya. Besok kami akan datang lagi untuk menemani Clara." ucap Rania berpamitan kepada Rafi.


"Baiklah! Kalian hati-hati ya." ucap Rafi tersenyum.


"Ia, Kak. Ini ada buah untuk Clara." ucap Dirga memberikan keranjang buah yang dia bawa kepada Rafi.


"Aamiin! Jika kami punya anak perempuan kami ingin menjodohkannya dengan Filio. Apa boleh?" ucap Dirga tersenyum.


"Jika mereka berjodoh pasti mereka akan bersatu tanpa harus ikut capur tangan kita." ucap Rafi tersenyum.


"Aku akan selalu berdoa jika anakku nanti perempuan maka jodohnya adalah Filio. Pasti putriku nanti merasa sangat bahagia. Karna sudah pasti Filio akan mengikuti jejak anda." ucap Dirga tersenyum penuh kebangaan mengingat kasih sayang Rafi kepada Clara.


"Aamiin." ucapa Rafi tersenyum.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, Kak." ucap Rania mengakhiri pembicaraan mereka.


"Kalian hati-hati ya." ucap Rafi tersenyum.


Setelah mendapatkan izin dari Rafi, Rania dan Dirga langsung melangkahkan kaki mereka keluar dari ruangan Clara. Melihat Rania dan Dirga telah keluar dari ruangan Clara. Rafi berlahan membuah napasnya pelan. Dia menatap wajah Clara lalu mencoba naik ke atas bangsal Clara. Rafi memeluk erat tubuh Clara lalu memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Namun, baru saja Rafi mencoba memejamkan matanya. Tiba-tiba Fiona terbangun dan menangis sehingga membuat Rafi kembali membuka matanya. Berlahan Rafi turun dari bangsal Clara lalu melangkahkan kakinya mendekati Fiona.


"Kau kenapa, Sayang. Haus ya?" ucap Rafi membawa Fiona kedalam gendongannya.


Fiona langsung membuka mulutnya dan mencari sumber kehidupannya di tubuh Rafi. Berlahan senyuman di wajah Rafi mengembang dengan sempurna melihat tingkah putrinya itu.

__ADS_1


"Kau tidak akan kenemukannya di tubub papa, Sayang. Kau minum susu bantu saja ya. Mama masih tidur." ucap Rafi menatap Clara yang masih tertidur dengan pulasnya.


Rafi berlahan membuatkan susu untuk Fiona sambil mengendong putri kecilnya itu. Karna Fiona terus menangis Rafi yang gugup tidak sengaja menyengol gelas di sampingnya.


Prakk.....


"Ada apa, Sayang?" ucap Clara terbangun dari tidurnya.


"Maaf, Sayang. Fiona haus jadi aku mau buatkan susu untuknya. Tapi, sayangnya tanganku tidak sengaja menyengol gelas itu." ucap Rafi merasa bersalah karna telah mengangu tidur Clara.


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" ucap Clara duduk lalu meminta Fiona yang ada di gendongan Rafi.


"Aku lihat kau sangat lelah. Jadi, aku tidak mau mengangumu." ucap Rafi memberikan Fiona kedalam gendongan Clara.


Berlahan Clara mengeluarkan kantung susunya lalu memberikannya kepada Fiona. Fiona yang sudah sangat kehausan langsung mengisap sumber nutrinyanya dengan sangat rakusnya. Rafi yang duduk di samping Clara terus menatap putrinya dengan penuh keteduhan.


"Terima kasih ya, Sayang." ucap Rafi mencium lembut puncak kepala Clara.


"Untuk apa?" ucap Clara mengerutkan keningnya binggung.


"Karna kau telah berjuang untuk kedua anak kita."


"Itu sudah tugasnya sebagai istrimu."


Mendengar ucapan Clara, Rafi hanya tersenyum kecil lalu memeluk mesra Clara. Dia menatap lekat Fiona yang terus mengisap sumber nutrisinya dengan rakusnya. Tiba-tiba Rafi mencium aroma yang tidak sedap. Berlahan dia mencari sumber aroma itu.


"Sayang! Fiona pup?" ucap Rafi terkekeh kecil ketika mencium aroma tidak enak itu dari Fiona.


"Apa! Tolong ambilkan popok gantinya, Sayang." ucap Clara membaringkan Fiona di sampingnya.


"Kau susui saja Filio. Biar popok Fiona aku saja yang mengantinya." ucap Rafi menatap Filio yang juga sudah bangun.


"Tapi, Sayang." ucap Clara menatap tidak percaya kepada Rafi.


"Apa kau tidak percaya kepadaku, Sayang. Aku juga bisa jadi papa yang baik untuk kedua anak kita." ucap Rafi tersenyum lalu memberikan Filio kepada Clara.


Rafi menganti popok Fiona dengan penuh kesabaran. Dia tidak merasa jijik sedikitpun melihat kotoran putrinya itu. Sedangkan Clara menyusui Filio sambil menatap kagum suaminya itu. Rafi menjalankan perannya sebagai papa dengan sangat baik.


Mereka mengurus kedua buah hati mereka bersama-sama sehingga mereka sangat menikmati peran mereka sebagai orang tua. Apapun itu jika di kerjakan secara bersama-sama pasti menjadi sangat mudah. Apalagi untuk merawat buah hati peran suami sangat penting untuk membantu sang istri. Selain untuk meningkatkan keharmonisan juga untuk menghadirkan suasana yang romantis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2