Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 42


__ADS_3

Bisma membawa Kania ke salah satu rumah milik Rayyan. Setelah memasuki perkarangan rumah itu dia menatap ke belakang dan melihat kedua pengawalnya belum selesai melakukan tugasnya. Bisma berusaha membuang napasnya kasar karna aura yang berbeda pada tubuhnya karna mendengar suara d*****n Kania.


"Dasar wanita murahan! selalu menikmati siapa saja yang menyentuhnya" batin Bisma mengidik ngeri.


"Apa kalian belum selesai?" ucap Bisma membuka suara.


"Su..sudah, Bos" ucap kedua pengawal itu serentak.


"Rapikan pakaiannya. Setelah itu bawa dia masuk" ucap Bisma turun dari mobilnya.


Berlahan Bisma melangkahkan kakinya memasuki bagunan megah itu. Walaupun Rayyan tidak tinggal di rumah itu tapi dia menyuruh beberapa pelayannya untuk tinggal di sana. Tidak heran jika rumah yang sangat besar dan luas itu selalu terlihat bersih dan rapi.


Saat memasuki pintu utama Bisma langsung melihat kedua pria berbadan tegap telah menyambut kedatangannya. Rayyan dan Kinan duduk bersantai di ruang tamu sambil menikmati minuman mereka.


"Apa kau sudah melakukan tugasmu?" ucap Kinan datar.


"Sudah, Tuan! Mau di bawa kemana wanita ini?" ucap Bisma ketika melihat anak buahnya sudah membawa Kania masuk.


"Sepertinya kau sudah memberikan hukuman yang menyenangkan untuknya." ucap Rayyan tersenyum sinis menatap penapilan Kania yang berantakan.


"Sekarang waktunya melanjutkan hukuman berikutnya. Bawa dia ke kamar belakang" perintah Rayyan lalu bangkit dari duduknya.


Mendengar ucapan Rayyan pikiran Kania langsung travelling kemana-mana. Dia berpikir hukuman selanjutnya yang di katakan Rayyan adalah melayani nafsu kedua pria tampan itu. Tidur dengan kedua papa muda yang masih sangat tampan itu adalah impian sejuta gadis di negri mereka. Berlahan Kania tersenyum karna akhirnya dia bisa mengujudkan impiannya itu.


Sesampainya di kamar yang Rayyan maksud, kedua anak buah Bisma langsung melemparkan tubuh kania ke atas ranjang. Rayyan dan Kinan berlahan melangkahkan kakinya mendekati Kania.


"Kira-kira hukumana apa yang pantas untuk wanita iblis ini?" ucap Rayyan menatap Kinan.


"Aku bersedia melayani kalian sebaik mungkin. Jadi kalian tidak perlu khawatir jika aku tidak bisa memuaskan kalian" ucap Kania tersenyum mengoda Rayyan dan Kinan.


"Ha..ha... Apa kau mendengar ucapannya kakak ipar?" ucap Rayyan terkekeh kecil mendengar ucapan Kania.


"Aku mendengarnya. Tapi, apa kau bersedia menerima kesenangan dengannya?" ucap Kinan tersenyum sinis menatap Kania.

__ADS_1


"Tentu saja..., Tidak!" ucap Rayyan berlahan mengubah ekspresinya menjadi sangat menyeramkan.


"Aku tidak akan mengotori tubuhku dengan menyentuh wanita murahan sepertimu" ucap Rayyan menatap remeh Kania.


"Ku kira kau ingin menguji senjata pamungkasmu itu. Tapi ternyata aku salah" ucap Kinan terkekeh kecil.


"Aku tidak mau membawa penyakit kotor kepada istriku. Jika mau silahkan saja" ucap Rayyan tersenyum kecil.


"Walaupun dia membayarku aku tidak akan mau. Apalagi dia sudah di nikmati banyak pria" ucap Kinan tersenyum merendahkan Kania.


"Lebih baik kalian berdebatnya nanti saja. Sekarang lebih baik kalian urus wanita iblis itu. Karna dia aku harus kehilangan calon bos kecilku" ucap Bisma membuka suara karna melihat Rayyan dan Kinan terus berdebat.


"Kau tenang saja. Aku akan memberikan hukuman yang setimpal untuknya. Karna wanita ini sahabat kita harus kehilangan calon bayinya" ucap Rayyan menatap tajam Kania.


Arghhh....


Teriak Kania ketika Rayyan menjambak rambutnya dengan kasar. Rayyan menjambak rambut Kania dengan begitu kasarnya tanpa memperdulikan suara rintihan kesakitan Kania. Berlahan bayangan Clara yang tergeletak lemah di rumah sakit kembali terbayang di pikiran Rayyan.


Plakkk....


"Lihat saja! Kau akan merasaka kepedihan yang jau lebih besar dari kepedihan yang Clara alami saat ini" ucap Rayyan menatap tajam Kania dengan penuh amarah.


"Lebih baik kita tunggu Rafi saja. Pasti dia ingin mengucapkan sesuatu kepada wanita iblis ini" ucap Kinan.


"Baiklah! Aku juga ingin melihat keadaan Clara terlebih dulu." Ucap Rayyan melemparkan tubuh Kania.


"Kalian kurung dia. Jangan beri dia makan ataupun minum" ucap Kinan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


"Baik, Tuan" ucap anak buah Bisma menganguk patuh.


"Jika dia hanya di kurung aku rasa itu terlalu ringan. Lebih baik kita tambah hukumannya" ucap Bisma memperlihatkan kecoa yang dia simpan di dalam toples.


"Kecoa! Jangan." ucap Kania mengidik ngeri menatap kecoa yang begitu banyak di dalam toples itu.

__ADS_1


"Ha... Ha... Ide yang sangat bagus. Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi. Kalau seperti itu aku tidak perlu mengotori tanganku dengan menyentuhnya" ucap Rayyan tersenyum.


"Lebih baik tuan cuci saja tangan tuan dengan bersih. Jika tidak tuan akan membawa bakteri jahat di wajahnya ke anak istri tuan nantinya" ucao Bisma terkekeh kecil.


"Kamu benar. Aku juga harus melakukan ritual mandi dulu" ucap Rayyan menatap jijik tangannya yang menyentuh Kania.


Rayyan nelangkahkan kakinya meningalkan kamar itu menuju kamar mandi. Dia membasuh tubuhnya dengan menghabiskan satu botol sabun. Sehingga harus menghabiskan waktu satu jam.


Setelah melihat Rayyan dan Kinan keluar Bisma membuka tutup toples itu sehingga, kecoa yang ada di dalamnya berhamburan keluar dan berkeliaran di kamar itu.


"Bisma! Kamu boleh menghukumku sesuka hatimu. Tapi, jangan beri aku hukuman seperti ini" ucap Kania penuh permohonan.


"Maaf! bukan jin yang bisa mengabulkan semua permintaan majikannya. Jadi bersenang-senanglah dengan binatang-binatang kecil ini" ucap Bisma tersenyum puas lalu berjalan meninggalkan Kania.


"Arghh... Bisma!" teriak Kania ketakutan ketika kecoa itu hinggap di tubuhnya.


Tanpa ada belas kasihan sedikitpun Bisma terus melangkahkan kakinya. Dia mengunci Kania di dalam kamar itu dan menyuruh anak buahnya untuk berjaga di pintu.


"Bisma! Aku menyesal maafkan aku. Tolong keluarkan aku dari sini" teriak Kania berusaha membuka pintu yang telah di kunci.


"Tidak ada gunanya kau berteriak meminta maaf seperti itu. Lebih baik kau gunakan tenagamu untuk melayani kecoa yang imut itu" ucap Bisma tersenyum puas mendengar teriakan Kania.


Baginya hukuman itu cukup pantas untuk Kania. Walaupun sebentar lagi Kania akan mendapat hukuman terakhirnya. Bisma tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan Rafi berikan kepada orang yang telah membunuh calon bayinya itu.


Tanpa ada rasa iba sedikitpun Bisma melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Dia tidak memperdulikan suara teriakan Kania yang terus meminta ampun. Bagi Bisma suara teriakan Kania malah dia angap seperti suara nyanyian merdu yang memuaskan hatinya.


Setelah beberapa jam di kurung di kamar bersama puluhan kecoa keadaan Kania terlihat semakin kacau. Dia tergeletak lemah tidak berdaya karna terus ketakutan melihat kecoa yang hinggap di tubuhnya. Bahkan suaranya sudah habis karna terus berteriak meminta ampun.


"Ma... Maafkan aku!" ucap Kania lirih ketika melihat seorang pria berbadan tegap berdiri di depannya.


Plakkk....


"Tidak ada ampun untuk pembunuh sepertimu"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2