
Clara duduk di tepi ranjang sambil menggulung-gulung rambutnya. Dia menatap Rafi yang sedang mengancingi kancing kemejanya di depan cermin. Melihat Clara yang hanya diam Rafi perlahan berjalan mendekatinya dan duduk di sampinya.
"Ada apa sayang? Sepertinya kau sedang sedih." ucap Rafi melihat wajah cemberut Clara.
"Aku mau ikut." ucap Clara dengan manja.
"Ikut ke mana?"
"Ke kantor bersamamu."
"Apa kau tidak jenuh? Aku di kantor sampai sore."
"Tidak! jika bersamamu aku tidak akan pernah merasakan jenuh." ucap Clara dengan semangat.
"Baiklah! sekarang kau mandi dan kenakan pakaianmu." ucap rapi menarik selimut yang menutupi tubuh polos Clara.
"Aku mau digendong." ucap Clara manja.
Melihat tingkah istrinya yang sangat manja Rafi hanya bisa tersenyum kecil. Dia membawa tubuh polos Clara ke dalam gendongannya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Clara menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rafi dan menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan pikirannya. Sesampainya di kamar mandi Rafi langsung meletakkan tubuh Clara di dalam barthtub.
"Sudah kau mandi sendiri ya. Aku tunggu di luar." ucap Rafi mengacak-acak rambut Clara.
"Siap sayang! I love you." ucap Clara melayangkan ciuman mesra ke wajah Rafi.
Rafi hanya tersenyum, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Dia kembali merapikan kemejanya lalu duduk di tepi ranjang untuk menunggu Clara selesai mandi. Dia menganbil ponselnya dan memeriksa pesal email yang di kirim Bisma.
Tak menunggu lama Clara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Rafi dapat melihat Clara yang sangat susah berjalan karena perutnya yang mulai membesar dan juga kakinya yang mulai membengkak. Rapi menatap iba perubahan tubuh Clara hanya untuk melahirkan keturunan untuknya.
Clara segera mengenalkan pakaiannya agar Rafi tidak menunggu lama. Tapi ketika Clara ingin mengenakan sepatunya, Clara merasa sangat kesulitan karena perutnya yang besar. Melihat itu Rafi langsung bergerak cepat untuk mengenakan sepatu istrinya itu.
"Kenapa kau tidak menyuruhku?" ucap Rafi meletakkan satu lututnya di lantai lalu membantu Clara mengenakan sepatunya.
"Aku terlalu merepotkanmu. Kau sudah sangat lelah bekerja. Aku tidak enak jika kau harus merawatku juga." ucap Clara merasa tidak enak karna dia selalu merepotkan Rafi.
"Lalu kenapa kau rela kesusahan seperti ini hanya untuk melahirkan keturunan untukku?." ucap Rafi menatap Clara dengan lekat.
"Karna ini sudah menjadi tugasku sebagai istrimu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tidak membiarkanku untuk melakukan tugasku sebagai suamimu?" ucap Rafi tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Clara.
"Tugas suami itu bukan hanya sekedar untuk bekerja. Tapi, dia juga harus membantu istrinya saat sedang kesulitan. Suami juga harus menyenangkan istrinya dan selalu menghibur istrinya ketika sedang sedih. Sebagai pendengar yang baik ketika istrinya ingin bercerita. Jadi, kau tidak perlu sungkan-sungkan dengan suamimu ini." ucap Rafi tersenyum.
"Kau memang suamiku yang terbaik." ucap Clara memeluk Rafi.
Tapi, ketika perut buncit Clara mengenai perut Rafi tiba-tiba Rafi merasaka tendangan bayinya yang sangat aktif.
"Sayang! Anak kita sedang main bola ya di dalam." ucap Rafi melepaskan pelukannya lalu mengajak bayinya berbicara.
"Mungkin, Sayang. Nanti setelah mereka lahir pasti mereka akan selalu mengajakmu bermain bersama." ucap Clara tersenyum.
"Aku sudah tidak sabar melihat mereka hadir di dunia ini." ucap Rafi mencium perut Clara.
"Sudah! Ayo kita turun. Aku sudah lapar." ucap Clara memayunkan bibirnya manja.
"Baiklah! Kau hati-hati ya." Ucap Rafi melangkahkan kakinya sambil mengandengan tangan Clara.
Clara berjalan dengan sangat pelan sambil memegang perutnya yang buncit. Rafi dengan sabar menuntun Clara dan menatap tubuh bulat Clafa dengan penuh rasa iba. Jika bole memilih dia ingin mengantikan posisi Clara untuk mengandung buah hati mereka. Tapi, itu tidak mungkin terjadi.
"Tidak, Ma. Clara mau ikut bersamaku ke kantor. Dia bilang bosan di rumah terus." jelas Rafi.
Rafi dan Ria memang melarang Clara untuk berangkat kuliah lagi. Mengingat hari kelahiran bayi Clara tinggal menunggu hari lagi. Mereka meminta izin kepada direktur universitas tempat Clara kuliah agar Clara bisa kuliah dari rumah.
"Kalau ikut ke kantor gak papa kan ma? Soalnya Clara bosan di rumah." ucap Clara penuh permohonan.
"Tidak apa-apa sayang. Sekarang kau sarapan dulu ya." ucap Ria dengan lembut.
"Terima kasih, Ma." ucap Clara tersenyum bahagia lalu duduk di samping Rafi.
Rafi dengan penuh kesabaran mengisi piring Clara dan membuatkan susu untuknya. Melihat Rafi yang selalu mengutamakan dirinya Clara merasa sangat terharu dan merasa beruntung karna memiliki suami seperti Rafi. Walaupun jahil dan selalu membuatnya kesal tapi, perhatian dan kasih sayang Rafi selalu menghujani dirinya.
"Ayo makan sarapanmu, Sayang. Setelah itu minum susunya ya." ucap Rafi tersenyum.
"Terima kasih, Sayang." ucap Clara langsung menyantap sarapannya.
"Sama-sama." ucap Rafi tersenyum lalu mencium kecil wajah Clara.
__ADS_1
"Sayang! Makannya pelan-pelan." ucap Rafi melihat wajah Clara yang berselomotan.
Dengan lembut Rafi membersihkan wajah Clara mengunakan tissu. Melihat perhatian putra mereka Ronal dan Ria hanya tersenyum kecil. Mereka merasa sangat bahagia melihat keluarga kecil Rafi yang selalu harmonis.
"Nanti saja! Aku masih lapar." ucap Clara menepis kecil tangan Rafi lalu kembali menyantap makanannya.
"Baiklah! Cepat kau habiskan makananmu. Sebentar lagi aku ada rapat." ucap Rafi tersenyum lalu kembali menyantap makanannya.
Mendengar ucapan Rafi, Clara dengan cepat menghabiskan makanannya. Dia tidak mau di tinggal oleh Rafi karna makan terlalu lama. Bukannya berhenti setelah menghabiskan satu piring Clara malah meminta tambah lagi.
Melihat Clara yang makan dengan lahap Rafi hanya tersenyum kecil lalu mengisi piring Clara kembali. Setelah selesai menghabiskan sarapan mereka, Rafi membantu Clara untuk bangkin dan berjalan beriringan menuju pintu utama. Melihat Rafi yang dengan sabar mengurus istrinya, Ria dan Ronal menatap bangga kepada putranya itu.
"Rafi sama sepertimu ya, Sayang. Dia sangat sabar mengurus menantu kita yang sedang hamil." ucap Ria tersenyum.
"Apa aku dulu juga seperti itu?" ucap Ronal mengoda istrinya.
"Apa kau lupa jika dulu kau sering keluar tengah malam hanya untuk membeli makanan yang aku inginkan?"
"Benar sekali. Aku dulu pernah keluar di malam hari walaupun sedang hujan badai hanya untuk membeli martabak tiga rasa untukmu." ucap Ronal tersenyum.
"Walaupun kau hanya menatapnya saja dan menyuruhku untuk menghabiskannya." ucap Ronal mengeleng kecil mengingat tingkah istrinya saat mengandung Rafi dulu.
"Tapi, aku dulu tidak bulat seperti menantu kita'kan?"
"Sebelas dua belas, Sayang."
"Benarkah?"
"Apa perlu aku menunjukkan fotomu saat mengandung dulu?"
"Apa kau masih menyimpannya?"
"Tentu saja! Putra dan menantu kita saja sudah melihatnya."
"Apa!" teriak Ria merona malu mengingat tubuh bulatnya saat mengandung Rafi dulu.
Bersambung....
__ADS_1