Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 54


__ADS_3

Tak terasa akhirnya acara pesta resepsi pernikahan Clara dan Rafi telah tiba. Acara dilakukan dengan begitu mewah dan di hadiri para pengusaha-pengusaha ternama. Clara dan Rafi duduk di altar pernikahan dengan begitu romantisnya. Keduanya sangatlah tampan dan juga cantik bagaikan raja dan ratu di dalam film-film.


"Sayang! tamunya banyak sekali." ucap Clara melihat para tamu yang datang memenuhi gedung pernikahan yang sangat luas itu.


"Apa kau lupa jika mertuamu seorang pengusaha. Jadi bukan hanya kerabat dan sahabatnya saja yang datang. Semua rekan bisnisnya juga datang. Bukan hanya itu, apa kau lupa jika suamimu ini orang ternama?" ucap Rafi tersenyum.


"Ia, Sayang aku tau. Tapi, aku tidak menyangka saja jika tamunya sebanyak ini." ucap Clara melihat para tamu yang terus berdatangan.


"Keempat papa muda yang nyebelin itu juga sahabat dan sudah seperti keluarga bagiku. Sudah di pastikan mereka juga akan mengundang kerabat, sahabat, dan rekan bisnis mereka juga." ucap Rafi melihat keempat sahabatnya yang sedang sibuk menyambut kedatangan para tamu undangan.


"Hai, Ra. Selamat ya." ucap Tika dan Rania naik ke alar pernikahan untuk memberi selamat kepada Clara.


"Terima kasih." ucap Clara tersenyum lalu memeluk Tika dan Rania secara bergantian.


"Kak Rafi, selamatnya. Akhirnya kakak melepas masa lajang kakak juga." ucap Tika tersenyum.


"Terima kasih. Kau juga kapan menyusul kami?" tanya Rafi.


"Em! kalau itu Tika gak tau kak. Soalnya jodohnya masih di pinjam orang." ucap Tika tersenyum.


"Hai, Ra. Selamat ya." ucap Dirga menyusul Tika dan Rania.


"Makasih, Ga." ucap Clara tersenyum.


"Rania, saya turut berduka cita ya atas meningalnya kakakmu." ucap Rafi ketika mendengar berita kematian Kania.


"Tidak apa-apa, Kak. Mungkin ini semua sudah takdir. Dengan nama Kak Kania aku minta maaf ya atas semua kesalahan Kak Kania selama ini." ucap Rania menatap Clara dan Rafi secara bergantian.


"Sebelum kau meminta maaf kami semua sudah memaafkannya. Semoga dia tenang di alam sana ya." ucap Rafi.


"Aamiin" ucap semuanya mengaminkan ucapan Rafi.


Selama di penjara Kania mendapat hukuman yang sangat berat. Bahkan dia selalu di bully oleh teman satu selnya. Mereka sangat membenci Kania karna tau penyebab Kania masuk penjara karna telah membunuh calon pewaris keluarga Alexander.


Keluarga Alexander dan para sahabatnya memang terlenal dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi. Maka jangan heran jika begitu banyak orang yang mengangumi keluarga itu. Bahkan teman satu sel Kania adalah pengemar berat keluarga Alexander sehingga mereka sangat membenci Kania dan selalu menyiksanya.

__ADS_1


Bahkan Kania berulang kali di bawa ke rumah sakit karna mengalami cidera yang cukup parah. Tapi, keberuntungan selalu meninpanya karna tetap bisa bertahan hidup. Tapi, lama kelamaan Kania menjadi frustasi bahkan dia sering menangis dan ketawa tidak jelas. Bahkan Kania juga sempat di larikan ke rumah sakit jiwa karna telah mengalami ganguan mental.


Tapi, tidak ada yang menduga jika akhirnya Kania memilih untuk mengakhiri dirinya sendiri. Dia tewas gantung diri setelah mendengar berita tentang pernikahan Rafi dan Clara yang selalu di bahas semua siaran tv. Dengan cepat berita kematian Kania terdengar di teliga Rafi.


Jujur saja Rafi meras sedih karna Kania harus meninggal dengan keadaan yang mengenaskan. Tapi, hati kecilnya belum terima tentang kelakuan Kania yang membuatnya harus kehilangan calon bayinya. Bahkan Clara dan Rafi belum menyadari jika benih cinta mereka telah tumbuh di rahim Clara.


Setelah memberi selamat kepada Rafi dan Clara. Tika, Rania dan Dirga pamit untuk bergabung dengan tamu lainnya. Mereka bergabung dengan para tamu dan menikmati pesta yang begitu meriah.


Para mama muda yang terlihat sangat cantik dan angun sedang menikmati pesta dengan begitu santainya. Mereka bercanda ria bersama para ibu-ibu lainnya sambil menikmati sajian pesta itu. Untuk para papa muda yang tampan dengan sejuta pesonanya jangan di tanya lagi. Mereka sibuk mengurusi para bocah yang jahil dan banyak tingkah itu.


"Ray, kau urus saja keponakanmu itu. Kepalaku mau pecah di buatnya." ucap Kinan kesal karna Sania terus saja menempel bagaikan perangko dengan Bisma.


"Ha...ha... apa kau lupa jika sifat orang tuanya akan meluncur mulus ke anaknya. Jadi sikap keponakanku itu adalah cerminan darimu." ucap Rayyan terkekeh kecil.


"Ello aman! aman ampan sekali. Aman au gak adi acal Lya." ucap Aulya mengoda seorang pengusaha muda yang sangat tampan di matanya.


"Aulya!" ucap Rayyan kesal ketika melihat putrinya mengoda seorang pria dengan terang-terangan.


"Apa! apaan, sih? angu olang agi acalan aja." ucap Aulya ketus lalu mengengam tangan pria itu.


"Apa ilang apa? adi papa esel unya anak epelti Lya." ucap Aulya menatap tajam Rayyan.


"Em! bukan seperti itu, Sayang. Papa hanya kesal saja kenapa sifat papa yang turun kepadamu. Kenapa kau tidak mengikuti jejak mamamu saja." ucap Rayyan langsung menenangkan putrinya.


"Lya tan anak papa. Adi ifat papa ulun mulus kepada Lya." ucap Lya dengan polosnya.


"Hai! ini punyaku. Kau minggir saja sana." ucap Yuki merampas mainannya dari bocah yang sedang bermain dengannya.


"Sayang, ada apa? kenapa kau kasar seperti itu?" ucap Wildan menemui putrinya.


"Dia memainkan mainanku. Jika dia mau kenapa dia tidak membelinya saja." ucap Yuki ketus.


"Kau tidak boleh bicara seperti itu, Sayang. Kau itu anak gadis papa jadi ngomongnya gak boleh kasar seperti itu." ucap Wildan menenangkan putrinya.


"Jadi Yuki harus jahil seperti papa? kalau begitu baiklah." ucap Yuki langsung berlari menemui kerumunan anak-anak lainnya.

__ADS_1


"Yuki!" teriak Wildan frustasi melihat putrinya sudah membuat onar di kerumunan bocah-bocah itu.


Di antara kelima bocah itu hanya Gibran dan Erlan yang duduk santai. Mereka berdua duduk dengan santainya menikmati kue pesta. Mereka bahkan tidak menghiraukan kelakuan tiga bocah perempuan yang sedang membuat onar itu.


Melihat putranya yang duduk dengan santai, Ardiyan juga ikut bergabung dengan kedua bocah itu. Ardiyan terkekeh kecil melihat ketiga sahabatnya yang sedang sibuk mengurusi putri mereka yang suka membuat onar.


Hingga akhirnya perhatian mereka teralih dengan acara pelemparan bunga. Rafi dan Clara telah berdiri di atas pangung bersiap-siap untuk melempar bunga kepada para jomblo yang sudah mengantri di bawah panggung.


Tika, Rania dan Bisma sudah masuk ke kerumunan itu bersiap untuk menangkap bunga pengantin. Sedangkan para bocah yang ingin bergabung akhirnya memilih melihat para jomblo itu.


"Kesel! kenapa kita gak boleh ikut?" ucap Yuki menatap Wildan yang terus menatapnya.


"Ia, apa ndak au elgaulan." ucap Aulya menatap kesal Rayyan karna melarangnya ikut bergabung dengan gerombolan jomblo itu.


"Ia, Sania kesal sama papa." ucap Sania menatap kesal Kinan.


Mendengar ocehan putri mereka Rayyan, Kinan dan Wildan hanya mampu membuang napasnya kasar.


"Sudah siap semuanya?"


"Sudah!"


"Kita hitung sampai tiga ya"


"Satu... dua.. ti..."


Setelah mendengar aba-aba dari MC Rafi dan Clara langsung meleparkan bunga pengantin ke gerombolan para jomblo.


"Hore... aku dapat!" teriak Sania ketika bunga pengantin itu jatuh di depannya.


"Rafi!" teriak Kinan menatap tajam Rafi.


"Kenapa meyalahkanku? salahkan saja bunganya kenapa jatuh di situ." ucap Rafi dengan polosnya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2