
"Sudah cantik saja menantu mama. Kau mau ke kampus ya, Sayang?" ucap Ria melihat Rafi dan Clara turun secara bersamaan.
"Ia, Ma. Soalnya Clara bosen di rumah terus" jelas Rafi.
"Ayo duduk! Kita sarapan bersama. Mama sudah masak bubur ayam kesukaanmu" ucap Ria.
"Wah! Pasti rasanya sangat enak. Ayo, sayang kau harus merasakan bubur ayam masakan mama" ucap Rafi menarik kursi untuk Clara.
"Terima kasih." ucap Clara tersenyum.
"Sama-sama, Sayang" ucap Rafi mencium lembut puncak kepala Clara.
"Soal anak kau tidak perlu memikirkannya, Ra. Melihat kalian bahagia saja kami sudah sangat senang. Allah akan memberikan kepercayaan lagi kepada kalian di waktu yang tepat" ucap Ronal tersenyum lembut.
"Kau dengar'kan apa kata papa, Sayang. Kau tidak usah teelalu menghawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Lebih baik kau fokus pada saja kesehatanmu." ucap Rafi membelai lembut rambut panjang Clara.
Mendengar ucapan Rafi, Clara hanya tersenyum menganguk. Dia menatap Ria dan Ronal yang selalu mendukungnya semua keputusannya. Bahkan mereka memperlakukan Clara dengan sangat baik, hingga Clara merasa sangat bersyukur memiliki mertua seperti mereka.
"Mama sudah merencanakan acara resepsi untuk kalian" ucap Ria membuka suara.
"Kapan?" ucap Rafi semangat.
"Dua minggu lagi. Dua minggu lagi kita akan melakukan resepsi untuk kalian. Bagaimana apa kalian setuju?" ucap Ria.
"Rafi setuju. Apa kau setuju, Sayang?" tanya Rafi tersenyum menatap Clara.
Clara hanya tersenyum menganguk. Melihat Clara yang juga setuju Ria dan Ronal merasa sangat bahagia. Mereka langsung membicarakan acara resepsi untuk Clara dan Rafi. Clara hanya diam sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
Rafi yang melihat Clara hanya diam mencoba mengengam tangan Clara sambil terseyum. Sebagai seorang suami Rafi tau apa yang di rasakan Clara saat ini. Di saat seperti ini Clara pasti merindukan kehadiran kedua orang tuanya.
"Kau jangan sedih ya. Mulai sekarang kau tidak akan sendiri lagi." ucap Rafi tersenyum.
"Ia, Ra! Mulai sekarang kau adalah menantu kami. Tapi, kami sudah mengangapmu sebagai putri kandung kami sendiri. Jadi, jika kau punya masalah jangan sungkan-sungkan cerita kepada kami. Anggaplah kami sebagai orang tuamu, Nak" ucap Ronal menatap lekat wajah Clara.
"Benar apa yang di katakan papamu, Ra. Mulai sekarang kami adalah orang tuamu. Maka, kau jangan sungkan-sungkan menceritakan masalahmu kepada kami. Walaupun itu masalah dalam rumah tanggamu dengan Rafi" ucap Ria berjalan mendekati Clara lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Tes....
Air mata Clara menetes dengan derasnya. Dia merasakan kehagatan pelukan seorang ibu yang selama ini dia tidak pernah rasakan lagi. Ria dengan lembutnya menghapus air mata Clara lalu mengelus rambut Clara dengan begitu lembutnya.
__ADS_1
"Jika kau rindu dengan pelukan ibumu maka datanglah kepada mama, Sayang. Mama akan selalu bersedia memberikan pelukan hangat mama kepadamu" ucap Ria tersenyum sambil mempererat pelukannya.
Rafi yang melihat kasih sayang Ria kepada istrinya hanya mampu tersenyum hangat. Dia mengelus rambut Clara dengan lembut dengan harapan dia bisa memberi kekuatan kepada istrinya.
"Nanti pulang dari kampus kita singgah di makam ayah dan ibu ya" ucap Rafi mengelus rambut panjag Clara.
"Benar, Sayang?" ucap Clara melepaskan pelukannya lalu menatap Rafi dengan penuh semangat.
"Ia, Sayang. Lagian ayah dan ibu juga harus kenal sama menantunya. Apa kau tidak ingin memperkenalkanku kepada mereka?" ucap Rafi tersenyum hangat.
"Sekarang kau habiskan dulu sarapanmu. Agar kau bisa fokus belajar nantinya" ucap Ria tersenyun sambil membelai rambut Clara.
"Terima kasih, Ma." ucap Clara tersenyum.
"Ia, Sayang. Ayo kita sarapan bersama" ucap Ria kembali ke kursinya.
Mereka sarapan bersama sambil membicarakan persiapan resepsi pernikahan Clara dan Rafi. Bukan hanya itu, mereka juga bercanda kecil hingga suasana sarapan bersama itu menjadi semakin berwarna.
"Ma, Pa! Kami berangkat dulu ya" ucap Rafi mengalim kedua orang tuanya.
"Ma, Pa! Clara berangkat kampus dulu ya" ucap Clara juga menyalim kedua mertuanya.
"Fi, jaga putri mama dan papa ya" ucap Ronal tersenyum kecil.
"Siap, Bos. Rafi akan menjag putri kesayangan kalian dengan baik" ucap Rafi terseyum lebar.
Rafi dan Ckala berjalan keluar secara beriringan. Tidak lupa Rafi melakukan obrolan kecil sehingga membuat Clara tersenyum menatapnya. Melihat kebahagaian putra dan juga menantu mereka, Ria dan Ronal langsung memancarkan senyuman bahagia mereka.
Sesampainya di mobil Rafi dengan siap siaga membukakan pinti untuk istrinya tercinta. Melihat perlakuan Rafi yang memperlakukannya dengan sangat istimewa Clara hanya bisa tersenyum manis. Setelah melihat Clara duduk dengan nyaman Rafi menutup pintu dengan pelan lalu berjalan menuju kursi pengemudi.
Tidak lupa Rafi juga memasang sabuk pengaman Clara. Clara yang melihat wajah tampan Rafi dari jarak dekat hanya mampu menelan ludahnya kasar. Sadar Clara yang memperhatikannya Rafi malah melemparkan senyumannya dan mencium lembut bibir Clara.
"Bibirmu sangat manis." ucap Rafi tersenyum lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Mendengar ucapan Rafi, Clara hanya tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajah tomatnya. Melihat wajah merona Clara, Rafi hanya bisa tersenyum lalu melajukan mobilnya meningalkan perkarangan mension mereka.
"Sayang! Kalau aku boleh tau siapa orang yang telah menabrakku kemarin?" ucap Clara penasaran dengan pelaku yang menabraknya secara sengaja.
"Untuk apa?" ucap Rafi menatap Clara.
__ADS_1
"Tidak ada! Aku hanya ingin tau saja"
"Kania, kakaknya Rania"
"Sudah ku duga" gumam Clara.
"Maksudmu?" ucap Rafi mendengar gumaman Clara.
"Sebagai sesama wanita aku tau bagaimana perasaannya. Kau tidak menghukumnya secara berlebihan'kan?" ucap Clara menatap Rafi.
"Kenapa kau selalu memikirkan orang lain. Padahal mereka selalu menyakitimu?" ucap Rafi menatap Clara dengan rasa tidak percaya.
"Dari perbuatan mereka aku belajar untuk semakin kuat lagi. Dari perbutan mereka aku juga mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah aku duga selama ini." ucap Clara tersenyum.
"Maksudmu?" ucap Rafi binggung.
"Setiap kali orang berbuat jahat kepada kita maka, Allah telah mengatur hikmah dari perbuatan mereka. Apa kau tidak sadar kita menikah karna perbuatan mereka. Bahkan kita mengungkapkan cinta cinta kita juga karna perbuatan mereka" ucap Clara tersenyum.
Mendengar ucapan Clara, Rafi nampak berpikir sejenak. Apa yang di katakan Clara memang benar. Mereka bisa seperti ini karna rencana Kania dan Rania yang selalu gagal dan malah menyatukan mereka.
"Tapi, setiap kejahatan harus mendapatkan hukuman."
"Tapi di dunia ini tidak ada hukuman yang adil."
"Tapi, setidaknya kita sudah memberikan pelajaran kepada mereka. Agar kelak mereka tidak mengulangi perbuatan mereka lagi."
"Kau tidak membunuhnya'kan?" ucap Clara dengan hati-hati.
Mendengar ucapan Clara, Rafi langsung menghentikan mobilnya lalu menatap Clara dengan penuh tanda tanya.
"Di saat orang sedang marah maka iblis akan menguasai hatinya."
"Aku tidak akan bisa di kuasai oleh iblis karna aku dan orang-orang di sekitarku jauh lebih kejam dari iblis."
"Iblis berhati malaikat" ucap Clara tersenyum.
"Kau memberikan hukuman apa kepadanya?" ucap Clara kembali.
"Aku mengirimnya ke penjara. Tapi, sebelum aku datang aku tidak tau apa yang di lakukan iblis kecil dan juga dua saudara ipar itu kepadanya" ucap Rafi tersenyum kecil.
__ADS_1
Bersambung....