
Setelah di izinkan masuk Rafi berlahan membuka pintu ruangan Clara. Air matanya kembali mengalir ketika melihat Clara terbaring lemah di atas bangsalnya. Rafi menatap kepala Clara yang terbungkus perban dan juga selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Rafi berlahan duduk di kursi sambil menatap Clara yang belum sadarkan diri dengan mata berkaca-kaca. Rafi mencoba mengengam tangan Clara yang masih mengunakan selang imfus. Rafi menciumi tangan Clara sambil menangis penuh penyesalan.
"Maafkan aku! Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu. Aku mohon kuatlah demi cinta kita" ucap Rafi menangis menelungkupkan wajahnya di bangsal Clara.
"Kamu yang kuat, Raf! Aku yakin Clara pasti bisa melewati masa kritisnya. Dia wanita yang kuat jadi, dia tidak akan menyerah begitu saja" ucap Wildan menepuk-nepuk punggung Rafi.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Rafi mengangkat kepalanya dan melihat keempat sahabatnya beserta anak istri mereka telah berdiri di hadapan Rafi. Rafi menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu. Hingga akhirnya matanya terhenti kepada Ria yang terus menangis melihat keadaan menantunya.
"Maafkan Rafi, Ma. Maafkan Rafi yang tidak bisa menjaga menantu dan juga calon cucu mama" ucap Rafi menatap Ria dan Ronal dengan penuh rasa bersalah.
"Berhenti menyalahkan dirimu, Nak! Ini sudah takdir yang Allah berikan. Berusahalah menerima takdir yang datang kepadamu.Dari pada kau terus menyalahkan dirimu, lebih baik kau berdoa untuk kesembuhan istrimu" ucap Ronal berusaha menenangkan Rafi yang terus menyalahkan dirinya.
"Ia, Aman. Lya akin ante antik ica embuh. Ante antik tan olang aik" ucap Aulya mengelus rambut panjang Clara.
"Ia, Paman! Kami juga sudah memberikan sedekah kepada anak yatim. Kami meminta mereka untuk mendoakan kesembuhan tante cantik" ucap Sania dan Yuki mendekati Rafi.
"Ia, Paman! Paman harus kuat. Jika paman sakit siapa yang akan merawat tante cantik nanti?" ucap Gibran dan Erlan juga mendekati Rafi.
"Paman akan kuat demi tante cantik! Terima kasih ya, karna kalian sudah perduli dengan tante cantik" ucap Rafi berusaha tersenyum sambil mengelus puncak kepala kelima bocah itu satu persatu.
"Ia, Paman. Paman makan dulu ya. Biar paman tidak sakit. Jika tante cantik tau paman tidak makan pasti dia akan sangat marah" ucap Sania mengambil makanan untuk Rafi.
"Aman atan ang anyak ya. Lya ndak au ika aman atit" ucap Aulya mengambil makanan yang ada di tangan Sania lalu menyuapi Rafi dengan lembut.
"Sayang! Ayo kita keluar. Kasihan tante cantik. Pasti dia merasa gerah jika kita mengerumuninya seperti ini" ucap Rissa berusaha membujuk kelima bocah itu.
"Ia, Sayang! Kalian keluar dulu ya. Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan Paman Rafi" sambung Kinan.
__ADS_1
"Ayo kita keluar! Nanti jika tante cantik sudah bangun baru kita lihat lagi" ucap Zhia ikut membujuk kelima bocah itu.
"Tante! Ayo kita keluar dulu. Biarkan Clara istirahat" ucap Nur dan Sinta menenangkan Ria yang terus menangis menatap keadaan Clara.
"Ayo, Ma! Biarkan menantu kita istirahat. Kita tunggu di luar ya" ucap Ronal mengusap punggung Ria.
"Kamu cepat sembuh ya, Sayang. Mama yakin kau adalah wanita yang kuat." ucap Ria mengelus rambut panjang Clara lalu mencium wajahnya dengan lembut.
Tes....
Ronal mengusap pungung istrinya pelan berharap sang istri bisa kuat melihat keadaan menantu mereka yang sedang kritis. Mereka sudah kehilangan calon cucu mereka, mereka tidak mau jika harus kehilangan menantu mereka juga.
"Ayo kita keluar, Ma" ucap Ronal menuntun Ria keluar dari ruangan Clara.
Setelah para istri dan juga para bocah keluar bersama Ronal dan Ria, tinggallah Rafi dan juga keempat sahabatnya di dalam ruangan Clara. Wildan, Kinan, Ardiyan dan Rayyan menatap sedih Rafi yang terus manangis sambil mengam tangan Clara.
"Kau belum ada makan hari ini. Kau makanlah nanti kau bisa sakit" ucap Wildan mengelus punggung Rafi.
"Kami sudah menyelidiki siapa dalang dari kecelakaan istrimu" ucap Kinan membuka suara.
"Siapa? Siapa yang berani mencari masalah denganku?" ucap Rafi menantap Kinan dengan tatapan penuh amarah.
"Lebih baik kau lihat rekaman cctv swalayan tadi" ucap Kinan mengambil plashdisk dan menyambungkannya ke ponselnya.
"Ini di bagian dalam swalayan! di sana di lihat wanita itu terus memperhatikan kita" ucap Kinan memutar cctv saat dia sedang bercanda dengan Rafi dan Clara.
"Sekarang lihat ke parkiran. Dia masuk ke mobilnya dengan penuh amarah lalu. Cukup lama dia berdiam diri di dalam mobilnya dan kamu perhatikan ini" ucap Kinan menunjuk ponselnya yang memperlihatkan saat Clara turun dari mobil Rafi.
Saat Clara turun dan ingin menyebrang tiba-tiba mobil Kania keluar dari parkiran dan melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menabrak tubuh Clara. Melihat kejadian itu Rafi mengepalkan tangannya geram sambil mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Kau tenang saja! Kami sudah menyuruh bisma untuk mencarinya. Aku yakin setelah ini dia akan kabur dari kota ini" ucap Rayyan menenangkan Rafi.
"Kau berani mencari masalah denganku! Maka, bersiaplah untuk kehancuranmu" ucap Rafi dengan penuh amarah.
"Kau mau kemana?" ucap Ardiyang dan Wildan ketika melihat Rafi bangkit dari duduknya.
"Aku mau membalaskan rasa sakit istriku" ucap Rafi keluar dari ruangan Clara dengan penuh amarah.
"Tidak! Kau di sini saja. Temani istrimu, karna dia membutuhkan kehadiranmu di sampingnya. Biar wanita itu kami yang mengurusnya" ucap Rayyan dan Kinan menghentikan Rafi.
"Percayakan semuanya kepada kami. Lebih baik kau temani istrimu di sini" ucap Rayyan meyakinkan Rafi.
"Ar, Wil kalian temani Rafi di sini. Biar kami yang akan menyelesaikan wanita itu" ucap Kinan menatap Ardiyan dan juga Wildan.
"Baik! Hancurkan saja biang masalahnya sampai ke akar-akarnya" ucap Wildan tersenyum sinis.
"Kau tenang saja! Tidak akan ada yang selamat jika berurusan dengan kita" ucap Rayyan tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Clara.
"Beritau aku jika aku sudah menemukan wanita iblis itu. Aku mau memberikan hukuman atas keadaan istriku dengan tanganku sendiri" ucap Rafi menatap lekat Kinan.
"Baik! Aku akan memperitaumu secepatnya. Kau yang kuat ya. Ingat kami sahabatmu akan selalu ada di sampingmu" ucap Kinan tersenyum lalu memeluk Rafi.
"Terima kasih. Terima kasih karna kalian selalu ada di sampingku" ucap Rafi lirih.
"Santai saja, Bro! Apa kau lupa jika kita semua adalah saudara? Jadi kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka" ucap Wildan menepuk-nepuk punggung Rafi.
"Hay! Ayo cepat. Apa perlu aku mengendongmu keluar?" ucap Rayyan kesal karna Kinan tak kunjung keluar.
"Kau kira aku tidak punya kaki? Aku bisa jalan sendiri" ucap Kinan kesal lalu keluar dari ruangan Clara.
__ADS_1
Rafi menatap keempat sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Walaupun sering bertengkar karna masalah sepele tapi ikatan persahabatan mereka sangatlah kuat dan tidak terpisahkan.
Bersambung.....