Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 63


__ADS_3

"Sayang! Mama sudah pulang." ucap Zhia sedikit berlari memangi Aulya.


"Eh, Zhia. Kau datang bersama siapa?" ucap Ria menghampiri Zhia.


"Eh, Tante. Zhia datang bersama Rayya dan Gibran, Tan." ucap Zhia menunjuk Rayyan dan Gibran yang berjalan di belakangnya.


"Aulya mana ya, Tante?" ucap Zhia mencoba mencari keberadaan putrinya.


"Dia ada di atas bersama Clara dan Rafi." ucap Ria.


"Mama!" ucap Aulya berlari kecil menuruni anak tangga.


"Lya! Pelan-pelan, Sayang. Nanti kau jatuh." ucap Clara mengejar Aulya.


"Sudah, Sayang. Aluya anak yang pintar. Dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik." ucap Rafi menenangkan Clara.


Mendengar ucapan Rafi, Clara menganguk pelan lalu berjalan menuruni anak tangga beriringan dengan Rafi.


"Hai, Ray! Ayo duduk." ucap Ronal mempersilahkan Zhia dan Rayyan.


"Hai, Kak! Apa au indu enganku?" ucap Aulya dengan pedenya.


"Tentu saja kakak rindu denganmu. Kau'kan adik yang selalu membuat keributan." ucap Gibran tersenyum mengoda Aulya.


Mendengar ucapan Gibran, Aulya langsung memayunkan bibirnya lalu menatap tajam Gibran. Melihat tapan tajam adiknya, Gibran langsung terkekeh kecil sambil menarik hidung mancung Aulya.


"Kau itu adik kakak yang paling cantik dan imut. Kakak akan selalu merindukanmu." ucap Gibran terkekeh kecil.


"Aa kau senang bersama Paman Rafi, Sayang?" ucap Rayyan menatap putrinya.


"Enang pa! Lya an ante antik adi ain i aman." ucap Aulya berlari mendekati Rayyan lalu naik ke atas pangkuannya.


"Benarkah? Apa kau membuat tante cantik pusing akan tingkahmu?" ucap Rayyan tersenyum.


"Ndak, Pa. Alah ante antik teyur telseyum aat ain ama, Lya. Ia tan ante?" ucap Aulya menatap Clara.


"Ia, Sayang. Kau memang sangat lucu." ucap Clara tersenyum.


"Pa, i antol Aman Afi ada owok anteng." ucap Aulya mengingat pria yang dia lamar di kantor Rafi.


"Kau genit lagi, Lya? Kan sudah mama bilang jangan suka mengoda pria dewasa." ucap Zhia menatap kedal putrinya itu.

__ADS_1


"Lya ndak enit, Ma. Anya aja aman itu ang ampan. Adi Lya uka." ucap Aulya dengan polosnya.


"Kau ini." ucap Rayyan menciun gemas pipi gembul Aulya.


"Besok kau datang lagi ke sini ya, Sayang." ucap Clara menatap kebahagiaan keluarga Rayyan dengan mata berkaca-kaca.


Melihat itu semua orang langsung sadar dengan sikap Clara. Mereka langsung saling lempar pandang dan menatap penuh rasa iba ke arah Clara. Sedangkan Rafi langsung merangkul mesra Clara sambil berusaha menenangkan istrinya.


"Ante enang aja! Lya atan seling adatng ke cini. Ante angan edih ya." ucap Aulya turun dari pangkuan Rayyan lalu menghampiri Clara.


"Lya akin ebental agi ante uga unya adik ang imut epelti Lya. Api ante angan edih agi. Ika ante edih ami emua atan ikut edih." ucap Aulya membelai lembut wajah Clara lalu menciumnya dengan lembut.


"Aamiin! terima kasih ya, Sayang. Kau memang anak yang pintar." ucap Clara menoel hidung mancung Lya.


"Tapi, sayangnya kau sedikit genit." ucap Clara kembali.


"Bukan sedikit, Tante. Tapi, Lya itu sangat genit dan mentel." ucal Gibran yang memang tidak suka dengan sifat adiknya itu.


"Lya aki akak anti atan epelti Lya. Akak uga anti atan uka ama anita dan atan engodanya." ucap Aulya tidak terima.


"Terserah kau saja." ucap Gibran kesal melihat tingkah adiknya yang selalu menjawab.


"Sudahlah! Ayo kita pulang. Paman dan tante pasti mau istirahat." ucap Zhia melirik jam tangannya.


"Tapi, Tan." ucap Zhia merasa tidak enak.


"Tidak ada tapi-tapian. Ayo kita makan malam bersama." ucap Ria bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan.


"Ayo Zhi, Ray." ucap Ria ketika melihat Zhia dan Rayyan masih duduk di tempatnya.


"Ayo, Kak Zhi. Kita makan malam bersama. Aulya juga belum makan, pasti dia lapar." ucap Clara menangandeng tangan Aulya lalu membawanya ke ruang makan.


Karna tidak bisa menolak Zhia dan Rayyan akhirnya menurut. Mereka makan malam bersama sambil bercanda ria bersama. Terlebih lagi dengan kelakuan Aulya yang selalu heboh membuat suasan makan malam itu semakin di penuhi gelak tawa.


Clara menatap haru dengan kebahagiaannya sekarang. Semua orang di sana sangat meyayangi dirinya. Bahkan Clara merasa sangat beruntung karna bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.


Di tambah lagi dengan perlakuan Rafi yang semakin hari semakin romantis dan selalu memanjakannya, membuat kebahagiaan Clara semakin berlimpah. Tidak lupa Clara terus mengucap syukur atas kebahagiaan yang telah dia dapatkan saat ini.


...----------------...


Saat pulang ke kediamannya Tika mendapatkan kesialan yang hakiki. Ban mobilnya tiba-tiba bocor di jalanan sepi. Tika menepikan mobilnya lalu mencoba turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Sial! Kenapa bannya harus bocor di tempat seperti ini." ucap Tika menendang ban mobilnya.


"Aw! Sial." pekik Tika ketika kakinya terasa sakit saat menendang ban mobilnya.


Tika nampak berpikir dan mencari bantuan. Tapi, sayangnya jalanan terlalu sepi dan dia tidak melihat ada jejak penduduk di sekitar sana. Bahkan tidak ada satupun kendaraan yang lewat untuknya meminta bantuan.


"Sial! Sinyalnya juga tidan ada." ucap Tika semakin panik ketika melihat tidak ada sinyal di sana.


Di saat Tika berusaha mencari sinyal untuk meminta bantuan tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya. Tika menatap mobil itu dan berharap jika pemilik mobil itu bukan orang jahat yang ingin menyakitinya.


"Mobilmu kenapa?" ucap pria berbadan tegap turun dari mobil itu dan memeriksa mobil Tika.


"Em! Ban mobilku bocor. Aku mencoba menghubungi montir tapi sinyalnya tidak ada." ucap Tika gugup.


"Di daerah sini memang tidak ada sinyal. Apa kau punya ban serap?" ucap pria itu.


"Ada! Di situ." ucap Tika melihat ke arah kolong mobilnya.


"Kalau begitu aku akan menganti ban mobilmu." uca pria itu menaikkan sedikit lengan kemejanya dan berjongkok untuk mengambil ban serap Tika.


"Baik! Terima kasih ya." ucap Tika bersyukur.


"Belum juga di kerjain udah berterima kasih. Nanti kalau sudah selesai baru." ucap pria itu tersenyum.


Mendengar ucapan pria itu, Tika hanya tersenyum kecil sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mau hanya diam Tika juga membantu pria itu dengan memberikan kunci yang pria itu minta.


Setelah beberapa menit akhirnya pria itu berhasil menganti ban mobil Tika. Setelah ban mobilnya selesai di perbaiki Tika langsung membuang napasnya lega.


"Terima kasih banyak, Tuan. Jika tua tidak membantu aku tidak tau harus berbuat apa." ucap Tika.


"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang mobilmu sudah selesai di perbaiki." ucap pria itu tersenyum.


"Di deket sana ada cafe. Bagaimana kalau kita minum sebentar. Aku yang teraktir, sebagai ucapan terima kasihku." tawar Tika.


"Boleh juga! Aku juga tidak terlalu buru-buru." ucap pria itu tersenyum.


"Kalau begitu ayo. Kita berangkat secara beriringan." ucap Tika.


"Baik! Kau duluan. Nanti mobilmu kenapa-napa lagi." ucap pria itu.


Mendengar ucapan pria itu Tika hanya bisa terkekeh kecil. Dia langsung masuk ke mobilnya lalu melajukanya meningalkan lokasi itu. Sedangkan pria yang membantu Tika mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2