
"Acaranya sudah mau selesai. Apa kau tidak lelah?" ucap Rafi menatap Clara duduk bersandar di sampingnya.
"Baiklah! Ayo kita ke kamar. Aku sudah sangat lelah." ucap Clara bangkit dari duduknya.
"Apa mau aku gendong?"
"Tidak! Apa kau tidak melihat jika tamu masih ramai. Malu tau."
"Baiklah! Ayo." ucap Rafi mengandeng mesra tangan Clara.
Mereka berpamitan kepada Ria dan Ronal beserta para sahabat mereka. Setelah berpamitan Clara dan Rafi berjalan menuju kamar hotel yang telah di sedikan untuk mereka. Saat berjalan di lorong sepi dengan sigap Rafi membawa Clara kedalam gendongannya.
"Ah!" teriak Clara terkejut ketika tubuhnya beralih ke gendongan Rafi.
"Kenapa kau berteriak, Sayang. Jika kau ingin berteriak maka berteriaklah sepuasmu di dalam kamar nanti." ucap Rafi menaik turunkan alisnya mengoda Clara.
Mendengar ucapan Rafi, Clara langsung menengelapkan wajahnya di dada bidang Rafi. Melihat sikap Clara, Rafi tersenyum nakal sambil terus mengoda Clara. Karna terlalu asik mengoda Clara, Rafi sampai tidak sadar jika ada kelima bocah nakal yang mengikutinya.
"Sstt... Kalian diam. Jangan sampai paman Rafi tau." ucap Gibran berjalan di depan.
"Ia akak! Lya au. Ebih aik akak alan ulu. Anti intunya di unci aman Afi." ucap Aulya berbisik.
Sesampainya di dalam kamar Rafi meletakkan tubuh Clara di atas sofa. Dengan lembut Rafi melepaskan high heels Clara lalu menatap Clara dengan lekat.
"Apa aku boleh melakukannya malam ini, Sayang." ucap Rafi menyentuh kaki mulus Clara.
"Em! Bagaimana ya?" ucap Clara berpikir sambil mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Bolehlah, Sayang." ucap Rafi dengan manja sambil menyingkirkan rambut Clara yang mengenai wajah cantik Clara.
"Boleh! Tapi..."
"Tapi apa, Sayang?"
"Tapi aku ingin uang lebih dalam bulan ini." ucap Clara mengingat Tika belum menagih janjinya yang akan meneraktir Tika selama sebulan penuh.
"Untuk apa? Memangnya kau butuh uang berapa?"
"Aku tidak tau! Tapi, tidak banyak kok. Aku hanya kalah taruhan saja dari Tika." ucap Clara memajunkan bibirnya.
"Em! Apa aku boleh tau taruhan apa itu?"
"Em! Tidak."
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah sebagai suami istri kita harus saling terbuka."
Mendengar ucapan Rafi, Clara nampak berpikir sejenak. Apa yang di katakan Rafi memang benar jika di dalam rumah tangga tidak boleh ada rahasia. Tapi, tidak mungkin dia mengatakan jika dia taruhan dengan Tika jika dia tidak akan pernah mencintai Rafi.
"Jika aku memberitaumu pasti kau kecewa. Jadi, lebih baik kau tidak mengetahuinya." ucap Clara tersenyum.
"Tapi, Sayang." ucap Rafi memperlihatkan wajah keponya.
Melihat Rafi yang terus kepo Clara akhirnya mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dia duduk di pangkuan Rafi lalu melingkarkan tangannya di leher Rafi.
"Sayang di dalam rumah tangga itu tidak semua rahasia itu harus di beritahu. Ada juga rahasia yang harus selalu di jaga agar rumah tangga itu tetap harmonis." ucap Clara lalu mencium lembut wajah Rafi.
"Kau memang pintar, Sayang." ucap Rafi tersenyum lalu membaringkan tubuh Clara di atas ranjang.
"Boleh kita melakukannya sekarang, Sayang?" ucap Rafi mulai menciumi wajah Ckara.
Brugh....
"Arghh mingir kalian berat sekali." ucap Gibran tidak sengaja membuka pintu dan membuat mereka semua jatuh tersungkur secara bersamaan.
"Kak Gibran sih! Ngapain buka pintu. Sudah di bilang kita hanya mendengarkannya saja." ucap Yuki bangkin dan menolong Sania dan Aulya.
"Kalian sedang apa di sini." ucap Rafi melihat kelima bocah itu.
"He..he... Paman sedang apa?" ucap kelima bocah sambil terkekeh.
"Ndak tok aman. Papa ndak au apa-apa." ucap Aulya dengan polosnya.
"Jadi ngapain kalian kemari? Lebih baik kalian keluar sekarang" ucap Rafi kesal.
"Tidak mau! Kami mau bersama tante cantik. Jika paman mau paman saja yang keluar." ucap Yuki dan Sani duduk santai di sofa.
"Argh... Kenapa kalian semua sama seperti papa kalian sih?" ucap Rafi mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Paman! Lihat paman tampan sekali." ucap Gibran memfoto Rafi yang sedang mengacak-acak rambutnya.
"Eh! Ini anak. Sini kau." ucap Rafi mengejar Gibran.
"Sini biar aku masukkan ke instagram dan facebook. Pasti foto paman akan viral." ucap Sania merebut ponsel Gibran lalu berlari.
"Sania!" ucap Rafi beralih mengejar Sania.
"Ini Yuki." ucap Sania memberikan ponsel di tangannya kepada Yuki.
__ADS_1
"Ayo paman, ambil kalau bisa." ucap Yuki naik ke atas ranjang.
Melihat kelakuan nakal para bocah itu Clara hanya bisa terkekeh geli. Tidak henti-hentinya Clara terus tertawa melihat suaminya di kerjai oleh kelima bocah nakal itu. Sedangkan Rafi yang sudah lelah mengejar para bocah akhirnya tumbang dan duduk tidak berdaya di lantai.
"Ya, Allah! Tidak papanya tidak anaknya semua sama saja. Kenapa kau menghadirkan manusia-manusia jahil ini di dekatku." ucap Rafi frustasi.
"Aman au inum." ucap Aulya lembut sambil menyodorkan botol minum ke Rafi.
"Terima kasih, Sayang. Kau memang keponakan paman yang paling pintar." ucap Rafi tersenyum sambil mengusap puncak kepala Aulya.
"Aman!" ucap Aulya lembut.
"Em!" dehem Rafi melirik Aulya sambi menengak air minum pemberian Aulya.
"Ini aju apa?" ucap Aulya dengan polosnya sambil menunjukkan lingerie merah muda yang di temukan di atas koper Clara dan Rafi.
"Apa ini? Coba aku lihat." ucap Sania dan Yuki mencoba lingerie itu di tubuh mereka.
Melihat lingerie yang ingin Clara kenakan malam ini di mainkan oleh para bocah, Clara langsung menunduk malu. Sedangkan Rafi hanya mampu membuang napasnya kasar melihat kelakuan para bocah itu.
"Jika di pakai tubub kita akan terlihat. Apa ini punya tante cantik?" ucap Yuki dan Sania menatap Clara.
"Wildan, Rayyan, Kinan dan Ardyan!" teriak Rafi kesal memangil ke empat sahabat, sekaligus papa dari bocah nakal yang merusak moment indahnya malam ini.
Seperti ada magnet aneh tiba-tiba Wildan, Rayyan, Kinan dan Ardiyan menyadari jika anak-anak mereka tidak ada di lokasi pesta.
"Tunggu! Kemana bocah-bocah nakal itu?" ucap Wildan melihat ke seluruh tamu undangan yang tersisa.
"Coba tanya mereka." ucap Kinan menghampiri istri-istri mereka.
"Dimana putri kita?" ucap Kinan menatap Rissa.
"Bukankah sedari tadi mereka bersama kalian?" ucap Zhia menatap ke empat papa muda itu.
"Apa, jangan-jangan!" ucap Rayyan, Kinan, Wildan dan Ardiyan berlari ke tempat yang mereka curigai.
Melihat para suami mereka berlari, para istri yang juga berpikiran sama seperti suami mereka langsung bangkit dari duduknya lalu mengikuti suami mereka. Benar saja, sesampainya di kamar Rafi mereka melihat Rafi duduk di lantai dengan penampilan yang acak-acakan. Sedangkan Clara duduk di tepi ranjang sambil menunduk menyembunyikan wajah tomatnya.
"Mama ini apa? Lya ihat ini uga ada i lemali mama." ucap Aulya sambil menunjukkan lingerie yang ada di tangannya.
"Aulya!"
"Apa mama alah? apa mua olang ewasa itu akai ini?" ucap Aulya memutar-mutar lingerie itu.
__ADS_1
"Ampun! Putriku." ucap Rayyan memukul jidatnya pelan.
Bersambung......