Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 43


__ADS_3

Rafi terus saja duduk di samping Clara. Dia mengengam tangan Clara seperti tidak mau jauh dari Clara walaupu hanya sebentar saja. Rasa takut akan kehilangan Clara untuk selamanya terus menguasai hati dan pikirannya.


"Sayang! Apa kamu tidak lelah tidur terus? Ayo bangun, Sayang. Aku rindu dengan ocehanmu" ucap Rafi mengelus rambut panjang Clara sambil menitikkan air matanya.


"Maaf, Tuan. Bisa kami periksa keadaan, Nyonya?" ucap seorang suster yang datang bersama dokter untuk memeriksa keadaan Clara.


Mendengar ucapan suster itu Rafi langsung berdiri dan menjauh dari Clara. Rafi terus menatap Clara yang sedang di periksa oleh dokter itu. Berlahan ada hal yang menganjal di hati Rafi karna Dokter itu mulai melepas alat bantu di tubuh Clara.


"Kenapa kau melepaskan alat itu?" ucap Rafi mendekati dokter itu.


"Maaf! Saya istri anda bisa bertahan sampai sekarang hanya karna bantuan alat ini. Saya rasa hanya akan membuang-buang waktu, jika kami terus menempelkan alat ini pada tubuhnya. Istri anda..."


Bukk....


Belum selesai Dokter itu mengucapkan kata-katanya Rafi terlebih dulu melayangkan tinjunya. Belum puas, Rafi menarik jas kuasa Dokter itu lalu menatapnya dengan penuh amarah.


"Kau kira kau siapa, ha! Aku bahkan bisa membeli rumah sakit ini. Tapi, kau malah mengangapku tidak punya uang untuk membiayai istriku" teriak Rafi menatap tajam Dokter itu.


"Maaf, Tuan. Maksud saya tidak seperti itu" ucap Dokter itu ketakutan melihat amarah Rafi yang membuncak.


Bugh...


"Maksudmu apa, Ha!" teriak Rafi terus melayangkan tinjunya.


Melihat Rafi yang menghajar dokter itu dengan brutalnya, suster yang membantu dokter itu langsung mencari bantuan. Dia memangil Ronal dan Ria yang sedang menunggu di depan ruangan Clara. Mendengar putranya yang membuat onar Ronal langsung berlari untuk menenangkan Rafi.


"Rafi! Hentikan, Nak. Apa yang kau lakukan" ucap Ronal langsung menahan Rafi.


"Dia melepaskan semua alat bantu istriku tanpa izin dariku. Siapa dia yang berani melakukan itu" teriak Rafi penuh amarah.


"Apa? Apa benar kau melakukan itu?" ucap Ronal menatap dokter itu.


"Ma..maaf, Tuan. Saya ingin menjelaskannya tapi..." ucap dokter itu sambil memegang wajah yang babak belur karna ulah Rafi.

__ADS_1


"Menjelaskan apa? Dasar kau dokter bajingan" bentak Rafi.


"Ada apa ini?" ucap Direktur rumah sakit itu.


"Apa kau tidak bisa mendidik semua dokter di rumah sakit ini dengan baik?" ucap Rafi menatap tajam direktur itu.


"Maaf, Tuan. Dia adalah dokter baru di sini. Mungkin dia tidak tau siapa tuan sebenarnya" ucap Direktur itu menunduk ketakutan karna melihat wajah Rafi yang sangat menyeramkan.


"Cepat, perbaiki alat bantu menantuku" ucap Ronal tegas karna melihat beberapa alat bantu Clara yang masih terlepas.


"Cepat! Pasang alat bantu Nyonya Muda. Berikan jangan sampai ada kesalahan sedikitpun" perintah direktur itu kepada dokter terbaiknya.


Dengan cepat dokter yang biasa memeriksa keadaan Clara memasang kembali alat bantu Clara. Dia juga mengontrol kembali perkembangan Clara. Walaupun sempat drop tapi, akhirnya keadaan Clara bisa kembali stabil.


"Lakukan yang terbaik untuk istriku. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus aku keluarkan" ucap Rafi menatap tajam direktur beserta dokter yang menangani Clara.


"Satu lagi! Aku tidak mau melihat dokter bajingan ini lagi selama aku masih ada di rumah sakit ini" ucap Rafi kembali sambil menatap dokter yang melepaskan alat bantu Clara.


"Dok! tangan nyonya muda mulai bergerak" ucap suster yang melihat tangan Clara mulai bergerak.


"Alhamdulillah! Keadaan nyonya semakin membaik. Sepertinya dua atau tiga hari lagi dia sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat. Tapi, kita lihat lagi bagaimana perkembangannya setelah ini" jelas dokter itu tersenyum lega.


Mendengar ucapan sang dokter, Rafi meneteskan air mata kebahagiaannya. Dia berjalan mendekati Clara lalu mencium kening Clara dengan penuh cinta.


"Sayang! Kamu cepat bangun ya. Aku janji jika kau bangun aku tidak akan lagi membantah ucapanmu. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku janji akan memperbaiki hubungan kita dan menjadikanmu ratu dalam hidupku" ucap Rafi kembali meneteskan air matanya sehingga air mata Rafi mengenai wajah Clara.


"Tu...tuan" ucap Clara lirih sambil berusaha membuka matanya.


"Sayang! Kau sudah bangun. Ini aku sayang" ucap Rafi tersenyum bahagia sambil mengelus wajah Clara.


"Biar saja periksa, Tuan" ucap Dokter mulai memeriksa detak jantung Clara.


"Hai, Nyonya. Apa anda mengenali tuan ini" ucap Dokter itu menunjuk ke Rafi.

__ADS_1


Berlahan Clara menatap Rafi dengan lekat. Dia menatap Rafi lalu menganggukkan kepalanya pelan.


"Kalau mereka" ucap Dokter menunjuk ke arah Ria dan Ronal beserta anak, istri para sahabat Rafi.


Berlahan Clara mengalihkan pandangannya dan melihat satu persatu orang yang ada di sana. Dia menatap semua orang yang menatapnya dengan penuh kehawatiran sambil meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka jika sekarang begitu banyak orang yang menghawatirkan keadaannya.


"Clara! Aku baik-baik saja? Kenapa kakak tidak memberitauku tentang keadaan Clara?" ucap Tika tiba-tiba datang lalu menatap Clara dengan penuh rasa khawatir.


"Maafkan kami, Tik. Kami terlalu menghawatirkan keadaan Clara sehingga kami lupa menhabarimu" ucap Ria merasa bersalah.


"Apa kau mengenalnya?" ucap Dokter itu kembali karna Clara belum menjawab pertanyaannya tadi.


Berlahan Clara mengangukkan kepalanya lalu mengangkat tangannya pelan. Melihat Clara yang mengangkat tangannya Tika langsung menyambut tangan Clara. Tika mengengam tangan Clara sambil mengelus rambutnya pelan.


"Kau baik-baik saja'kan? Aku tau kau sahabatku yang paling kuat. Kau pasti bisa melewati ini dengan sangat mudah" ucap Tika tersenyum.


Mendengar ucapan Tika, Clara berlahan mengembangkan senyumannya. Tiba-tiba perkataan dokter sebelum dia tidak sadarkan diri kembali tergiang di kepalanya. Dia melepaskan gengamannya kepada Tika lalu kembali menatap Rafi.


"Apa bayi kita selamat?" ucap Clara pelan sambil menatap Rafi dengan lekat.


Degh...


Mendengar pertanyaan Clara, Rafi langsung terdiam. Dia tidak tau harus berkata apa kepada Clara. Rafi menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan penuh kesedihan.


"Ante antik ndak ucah edih ya. Lya akin ante antik an aman Afi atan ica unya dedek ayi agi" ucap Aulya mengengam tangan Clara sambil mengelus wajahnya.


Mendengar ucapan Aulya, Clara langsung meneteskan air matanya lalu menatap Rafi. Dia menatap Rafi dengan tatapan meminta penjelasan dari Rafi.


"Kau yang kuat ya, Sayang. Mungkin Allah lebih sayang kepadanya" ucap Rafi mengelus puncak kepala Clara dengan lembut.


Tess...


Air mata Clara kembali menetes membasahi wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan kehilangan bayinya secepat itu. Bahkan dia belum menyadari jika benih Rafi telah tumbuh di rahimnya.

__ADS_1


"Apa! Maksudnya apa? Jadi selama ini Clara sedang hamil" batin Tika menatap Clara penuh pertanyaan.


Bersambung.....


__ADS_2