
Setelah mendapatkan maaf dari Clara, bahkan hubungannya dengan Clara semakin membaik Rania akhirnya bisa bangkit kembali. Dia mulai belajar hidup mandiri bahkan dia juga mulai mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
"Hai, Ra." ucap Dirga seperti biasa datang membawa makanan untuk Rania.
"Hai, Ga! Terima kasih ya." ucap Rania tersenyum dan meletakkan makanan yang di bawa Dirga di atas meja.
"Kau mau kemana?" ucap Dirga ketika melihat Rania sidah berpakaian rapi.
"Aku mau cari kerja." ucap Rania tersenyum sambil mengisi air mineral untuk Dirga.
"Ayo makanlah. Kenapa kau melihatku seperti itu?" ucap Rania tersenyum ketika melihat Dirga terus menatapnya.
"Untuk apa kau mencari kerja kesana kemari, Ra? Kau bisa bekerja di kantor papa."
Mendengar ucapan Dirga, Rania menatapnya sambil tersenyum.
"Aku bisa hidup mandiri, Ga. Kau tidak perlu khawatir."
"Tapi, aku tidak bisa melihatmu berjalan kesana kemari hanya untuk mencari kerja. Papa juga sedang mencari karyawan baru. Aku rasa kau sangat cocok untuk bekerja di kantor papa."
"Tapi, Ga. Aku tidak mau merepotkanmu lagi. Bukankah selama ini kau harus menangung semua kebutuhanku?"
"Bahkan jika kau menolak untuk bekerja di kantor papa, kau akan semakin merepotkanku. Apa kau yakin, jika kau mencari kerja di luar sana kau bisa langsung mendapatkannya? Tidak'kan? Jadi bekerjalah di kantor papa." ucap Dirga mengengam tangan Rania.
Mendengar ucapan Dirga, Rania tampak berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Dirga benar apa adanya. Jika dia mencari pekerjaan di luar sana belum tentu dia bisa langsung mendapatkannya. Apalagi dirinya yang belum ada pengalaman bekerja sama sekali. Pasti akan semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
"Bagaimana, Ra? Kau mau ya bekerja di kantor papa." ucap Dirga meyakinkan Rania.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapi. Cepat habiskan sarapanmu setelah itu kita berangkat." ucap Dirga tegas tanpa mau ada penolakan.
Melihat Dirga yang bersikeras untuk menyuruhnya bekerja di kantor papanya, Rania akhirnya mengalah dan mau menuruti permintaan Dirga. Mereka berdua menyantap sarapan mereka masing-masing sambil bercanda bersama. Setelah selesai Dirga langsung membawa Rania ke perusahaan papanya.
Setelah memasuki perkarangan kantor keluarganya, Dirga langsung menepikan mobilnya. Rania menatap bangunan kokoh yang berdiri megah itu dengan penuh kekaguman.
"Ayo, turun." ucap Dirga membukakan pintu untuk Rania.
__ADS_1
"Tapi, Ga!"
"Kau jangan takut seperti itu. Papaku tidak makan orang kok." ucap Dirga menarik tangan Rania untuk keluar dari mobilnya.
Karna Dirga terus memaksanya Rania akhirnya mengalah. Dia keluar dari mobil Dirga lalu berjalan mengikuti langkah Dirga. Rania menatap setiap area yang dia lewati. Bersih dan rapi, semua karyawan yang mereka lewati juga tersenyum ramah kepada mereka. Wajar saja Rania berjalan bersama penerus perusahaan itu. Jadi para karyawan pasti menghormatinya.
"Ayo kita sudah sampai." ucap Dirga setelah mereka sampai di depan ruangan papanya.
"Tapi, Ga." ucap Rania menunduk.
"Kau tenang saja! Papaku orangnya sangat baik kok. Bahkan aku sering bercerita tentangmu kepadanya."
"Benarkah? Kau bicara tenang apa kepadanya."
"Apa perlu aku menceritakannya juga kepadamu? Jika ia kita akan menghabiskan satu hari ini untuk berdiri di sini." ucap Dirga tersenyum.
"Sudah jangan banyak tanya. Ayo kita masuk." ucap Dirga kembali lalu masuk ke ruangan itu sambil mengengam tangan Rania.
"Pagi, Pa. Papa lagi sibuk ya." ucap Dirga tersenyum ketika, melihat pria paruh baya sedang sibuk dengan dokement yang menumpuk di mejanya.
"Siapa gadis cantik ini? Apa dia gadis yang terus kau ceritakan kepada papa?" ucap Dirga menatap Rania.
"Papa! Jangan buat dia semakin takut."
"Apa papa sangat seram? Papamu ini sangat tampan boy. Jadi kekasihmu ini tidak akan takut kepada papa. Terpesona ia." ucap Wira mengoda Dirga.
"Papa!" ucap Dirga kesal denga kelakuan papanya itu.
"Ha...ha... Kau tidak perlu takut seperti itu. Di hati papa akan selalu ada mamamu. Jadi tidak akan bisa mengantikan posisi mamamu di hati papa." ucap Wira terkekeh melihat tingkah putranya.
"Ayo duduk. Apa kalian mau berdiri terus seperti itu?" ucap Wira melangkahkan kakinya menuju sofa, agar lebih santai berbicara dengan putra dan juga calon mantunya.
"Ada apa kau datang ke kantor papa? Jangan bilang bilang kalian mau nikah muda." ucap Wira menatap Dirga dan Rania secara bergantian.
"Papa! Dirga datang karna ada urusan serius." ucap Dirga kesal melihat kelakuan papanya itu.
"Serius apa? Jangan bilang jika gadis ini sedang mengandung anakmu." ucap Wira menatap Dirga.
__ADS_1
"Papa!" teriak Dirga mulai kesal.
"Papa hanya bercanda, Boy." ucap Wira terkekeh kecil.
"Ra, kau saja yang bicara." ucap Dirga menyerahkan semuanya ke Rania.
"Kenapa aku? Kau saja." ucap Rania.
"Tapi, katanya kau mau mandiri. Sekarang kau harus belajar. Ayo cepat katakan." ucap Dirga.
Mendengar ucapan Dirga, Rania memutar bola matanya memelas. Dia membuang napasnya pelan lalu menatap Wira yang terus menatapnya.
"Begini paman. Saya datang kemari untuk melamar kerja di kantor, Paman. Ini surat lamaran kerja saya, Paman." ucap Rania memberika surat lamaran kerja dan juga beberapa berkasnya yang di perlukan.
Mendengar ucapan Rania, Wira langsung mengambil surat lamaran Rania lalu memerikdanya dengan teliti.
"Nilaimu lumayan bagus. Kau pasti sangat pintar." ucap Wira tersenyum melihat nilai Rania.
"Bagaimana, Pa? Apa Rania bisa bekerja di sini?" ucap Dirga.
"Kenapa harus bekerja di sini. Dia bisa menjadi menantu keluarga kita. Jadi dia tidak perlu capek-capek bekerja." ucap Wira menatap Dirga.
"Maaf, Paman. Saya ingin hidup mandiri dan meraih gelar sarjana dengan usaha saya sendiri. Lagian aku dan Dirga masih sangat muda. Jadi belum waktunya untuk kami memikirkan hal itu." ucap Rania memberanikan diri.
"Lalu apa kau bisa setia kepada putra, Paman." ucap Wira menatap Rania.
"Jodoh, takdir dan maut tidak ada yang tau, Paman. Itu semua sudah di atur oleh Allah dan kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha." ucap Rania.
"Jadi, apa kau akan meningalkan putra paman setelah kau sukses nantinya." ucap Wira menatap lekat wajah Rania.
Mendengar ucapan Wira, Rania menatap Dirga yang duduk di sampingnya. Berlahan Rania membuang napasnya pelan lalu menatap Wira yang terus menatapnya.
"Aku tidak bisa berjanji apapun kepada, Paman. Karna aku hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menentukan takdirku seorang diri. Tapi, aku percaya jika kami memang di takdirkan untuk bersama maka kami akan tetap bersama. Sebagai seorang manusia kita hanya mampu menjalankan takdir yang telah Allah berikan. Tapi, jika kita terus berdoa aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita."
Mendengar ucapan Rania, Wira tampak tersenyum. Dia yakin jika Rania adalah gadis baik-baik yang bisa membawa putranya ke jalan yang benar.
Bersambung.....
__ADS_1