
Clara duduk bersandar di atas ranjangnya. Dia menatap Rafi yang duduk di sampingnya sambil memainkan leptopnya. Karna Clara lagi tidak enak badan Rafi melarangnya untuk berangkat ke kempus. Bahkan Rafi juga memilih untuk bekerja dari rumah agar bisa menemani Clara dan juga mengerus Clara yang sedang manja-manjanya.
"Sayang!" ucap Clara memayunkan bibirnya karna telah merasa bosan.
"Hem!" dehem Rafi pelan sambil fokus menatap layar leptopnya.
"Kau melihat apa, Sih? Serius amat?" ucap Clara melirik layar leptop Rafi.
"Aku sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan kita, Sayang. Tungu sebentar ya." ucap Rafi terus menatap layar leptopnya dengan teliti.
Tidak mau membuat Rafi merasa kesal Clara hanya diam menurut. Dia ikut menatap layar leptop Rafi sambil melirik Rafi yang begitu terlihat sangat tampan saat sedang fokus.
"Kau tampan sekali, Sayang." ucap Clara tersenyum sambil menatap Rafi.
Mendengar ucapan Clara, berlahan Rafi menghentikan kegiatannya lalu menatap Clara sambil tersenyum kecil.
"Terima kasih, Sayang. Kau juga sangat cantik." ucap Rafi mencium lembut wajah Clara.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" ucap Clara memainkan jari Rafi.
"Sudah! Memangnya kau mau apa?" ucap Rafi menutup leptopnya lalu meletakkannya di atas meja.
"Em! Apa boleh aku mendandanimu?" ucap Clara menatap Rafi penuh permohonan.
Mendengar ucapan Clara, berlahan Rafi menelan ludahnya kasar. Dia membayangkan wajah badutnya ketika di rias oleh Clara.
"Apa seperti yang kemarin lagi?" ucap Rafi membuang napasnya kasar.
"Boleh ya! Plisss. Jika boleh nanti malam aku kasih hadiah servis." ucap Clara tersenyum sambil memainkan matanya.
"Servis?" ucap Rafi tersenyum nakal.
"Ya, servis plus,plus."
"Ok! Kalau begitu kau boleh meriasku sesukamu." ucap Rafi tersenyum.
Dengan penuh semangat Clara mengumpulkan semua peralatan make upnya. Dia dengan semangat mengucir rambut Rafi lalu mendandaninya dengan cetar membahana. Setelah selesai Clara menatap penampilan Rafi sambil berpikir apa yang kurang.
"Sudah, Sayang?" ucap Rafi memayunkan bibirnya memelas.
"Tungu, Sayang. Sepertinya ada yang kurang." ucap Clara mengetuk dagunya pelan.
"Apa lagi, Sayang. Aku sudah kau dandani seperti ondel-ondel saja." ucap Rafi membuang napasnya kasar.
__ADS_1
"Kita foto dulu." ucap Clara mengambil ponselnya lalu berfoto dengan Rafi.
Tapi, saat mereka berfoto tiba-tiba Rania, Tika dan Ria masuk ke kamar mereka. Melihat penampilan Rafi yang sudah seperti ondel-ondel kesasaran Tika, Rania dan Ria langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut mereka masing-masing.
"Buahaa...ha... Kak Rafi... Ha...ha..." pekik Tika duduk di lantai sambil memegang perutnya.
"Kau cantik sekali, Raf! Ha...ha..." ucap Ria memegang perutnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Melihat dirinya di tertawakan karna penampilannya, dengan cepat Rafi berlari ke kamar mandi. Dia menatap wajahnya di pantulan cermin sambil mengacak-acak rambutnya frustasai.
"Clara!" gumam Rafi membuang napasnya pelan lalu terkekeh kecil melihat wajahnya yang di rias Clara.
Tidak ada rasa kesal sama sekali di hati Rafi. Dia langsung membilas wajahnya sampai bersih. Tapi, karna make up yang di taruh Clara sangat tebal. Rafi sangat sulit untuk menghilangkan make up di wajahnya.
"Kenapa kalian tertawa seperti itu? Kalian menertawakan suamiku ya?" ucap Clara menatap tajam Tika dan Rania.
"Tidak! Kami tidak menertawakan suamimu. Kami hanya sedang menertawakan badut yang sedang kesasar." ucap Tika berusaha menghentikan tawanya.
"Awas kalian ya, jika kalian menertawakan suamiku lagi." ucap Clara menunjuk Rania dan Tika.
Mendengar ucapan Clara, mereka hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya. Sedangkan Ria terus memperhatikan perut Clara dan mencoba memastikan jika dugaannya benar.
"Sayang! Apa kau sudah datang bulan?" ucap Ria mendekati Clara.
"Ia! Datang bulan. Apa bulan ini tamu bulananmu sudah datang?" ucap Ria memperjelas.
"Memangnya sekarang tangal berapa ma?" ucap Rafi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya mengunakan handuk.
"Apa kau tidak bisaelihat kalender, Fi?" ucap Ria membuang napasnya kasar.
"Ini, Kak. Kakak pasti tau jadwal datang bulan Clara." ucap Tika memberikan kalender dengan penuh semangat kepada Rafi.
Rafi dengan teliti menatap kalender pemberian Tika. Berlahan dia menatap Clara sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Clara bingung.
"Apa kau tidak tau jika kau telah telat satu minggu?" ucap Rafi.
"Terus! Jika aku telat satu minggu memangnya kenapa?" ucap Clara dengan polosnya.
Mendengar pertanyaan Clara, semua yang ada di sana langsung memukul jidatnya pelan.
"Lebih baik aku hubungi Dokter Randy dulu ya. Biar dia yang menjelaskan." ucap Tika mengambil ponselnya lalu menghubungi Dokter Randy untuk memeriksa kandungan Clara.
__ADS_1
Melihat semua orang yang terlihat sangat bahagia, Clara malah kebingungan sendiri. Jujur saja dia tidak mengerti kenapa semuanya merasa sangat bahagia seperti itu.
"Kau mau buah, Ra? Kau mau buah yang mana?" ucap Tika memberikan keranjang buah yang dia bawa.
"Atau kau mau makan apa? Biar aku suruh chef restoranku yang membuatnya khusus untukmu." ucap Rania dengan semangat.
"Kalian lagi gila ya. Aku tidak mau makan apa-apa." ucap Clara kesal.
Tidak menyerah Tika, Ria dan Rania terus saja menayakan apa yang di inginkan Clara saat ini. Sedangkan Rafi memilih untuk duduk santai di sofa sambil memperhatikan istrinya. Rafi terus berdoa jika dugaannya benar apa adanya. Jika sampai Clara tidak hamil pasti Clara akan kembali terpuruk lagi.
"Selamat siang." ucap Dokter Randy datang dengan membawa peralatan medisnya.
"Kenapa kau cepat sekali?" ucap Tika mengerutkan keningnya bingung.
"Kebetulan aku sedang ada pasien di dekat sini. Jadi aku langsung saja kemari setelah mendapat perintah darimu." ucap Dokter Randy tersenyum.
"Nyonya, silahkan berbaring ya." ucap Dokter Randy tersenyum.
"Sayang!" ucap Clara lirih karna sudah tau apa maksud dari kedatangan Dokter Randy.
"Kenapa? Lebih baik kita pastikan dulu." ucap Rafi duduk di samping Clara.
"Jika tidak?"
"Tidak apa-apa, Sayang. Mungkin belum rezeki kita." ucap Rafi mengelus rambut Clara pelan.
"Apa nyonya lupa dengan perkataanku? Aku sudah mengatakan jika kandungan nyonya baik-baik saja. Lalu kenapa nyonya sangat takut seperti itu?" ucap Dokter Randy menatap Clara.
Mendengar ucapan Dokter Randy, Clara akhirnya mengerti. Dia membaringkan tubuhnya dan membiarkan Dokter Randy memeriksa kandungannya. Sebagai seorang suami, Rafi dengan senang hati duduk di samping Clara sambil memberi semangat kepadanya.
"Sudah!" ucap Dokter Randy tersenyum lalu kembali merapikan alat medisnya.
"Bagaimana, Dok?" ucap Clara menatap Dokter Randy dengan lekat.
"Selamat, Nyonya. Kau sedang mengadung Dan usia kandunganmu sekitar dua minggu. Jika mau tau bagaimana keadaan kandungannya lebih jelas lagi, lebih baik kalian langsung datang ke rumah sakit saja." ucap Dokter Randy tersenyum.
"Aku hamil?" ucap Clara tidak percaya.
"Ia, Sayang. Terima kasih karna sudah mau mengandung buah cinta kita." ucap Rafi lirih sambil menciumi wajah Clara.
Melihat kebahagiaan Clara berlahan Dokter Randy mendekati Tika lalu merangkulnya dengan mesra.
"Kalian sudah jadian?"
__ADS_1
Bersambung....