
Seperti yang di katakan Rafi, setelah pulang kuliah dia akan membawa Clara untuk mengunjungi makam ayah dan ibu Clara. Clara menatap jejeran batu nisan yang tertata begitu rapi. Hingga akhirnya matanya berhenti di dua gundukan tanah yang sudah mulai semak. Benar saja, sudah lama Clara tidak datang ke makam ayah dan ibunya.
Melihat makam ayah dan ibunya yang di penuhi rumput liar, Clara berjongkok untuk membersihkannya. Melihat makam mertuanya yang tidak terurus, Rafi langsung mencari keberadaan penjaga makam itu.
"Hai, sini kau" ucap Rafi kepada pria paruh baya yang sedang membersihkan makam.
"Saya, Tuan" ucap pria itu berjalan mendekati Rafi.
"Apa kau tau siapa yang bertangung jawab untuk mengurus makam ini?" tanya Rafi.
"Saya, Tuan. Saya adalah penjaga makam ini" ucap pria tua itu.
"Eh, ada kakek! Kakek udah makan?" ucap Clara melihat keberadaan pria paruh baya penjaga makam itu.
"Sudah, Neng. Maaf ya, makam ayah dan ibumu belum kakek bersihin" ucap pria itu merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Kek. Tapi, kenapa tiba-tiba makam ini jadi di penuhi rumput liar. Bukannya kakek selalu membersihkannya?" ucap Clara.
"Maaf, Neng. Sudah berapa minggu kakek jatuh sakit dan baru hari ini bisa kembali mengurus makam ini." jelas pria itu.
"Tidak apa-apa kok, Kek. Oh ia, kenalkan ini Rafi suami Clara, Kek" ucap Clara memperkenalkan Rafi.
"Tampan sekali! Kakek senang akhirnya kau telah mendapatkan kebahagiaanmu. Pasti ayah dan ibumu juga senang melihatmu sudah bahagia." ucap pria itu.
Mendengar ucapan pria paruh baya itu, Clara hanya bisa tersenyum sambil menatap makam ayah dan ibunya. Karna makam ayah dan ibu Clara masih di penuhi rumput liar mereka memilih untuk membersihkannya bersama-sama.
Rafi yang masih mengenakan pakaian kantornya, harus membantu Clara untuk mencabut rumput liar yang memenuhi makam ayah dan ibu ,Clara. Clara menatap Rafi yang sudah di penuhi keringat sambil tersenyum kecil. Dia tidak menyangka jika seorang Rafi Alexander mau menurunkan derajatnya dengan membersihkan makam ayah dan ibunya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku sangat tampan?" ucap Rafi dengan pedenya.
"Idih! Pede amat." ucap Clara memutar bola matanya memelas.
"Kau keringatan, Sayang." ucap Rafi mengambil sapu tangannya dan mengelap keringat Clara.
"Panas ya?" ucap Rafi menatap matahari yang begitu terik.
__ADS_1
Rafi dengan cepat membuka jas kuasanya lalu menutup kepala Clara.
"Kau duduk di sini saja. Lihat tubuhmu sangat kotor." ucap Rafi mendudukkan Clara di gundukan batu lalu membersihkan tangan Clara yang kotor.
"Biar aku yang membantu kakek itu, ya" ucap Rafi lembut lalu kembali membersihkan makam ayah dan ibu Clara.
"Huff... Akhirnya selesai juga." ucap Rafi tersenyum setelah melihat makam kedua mertuanya sudah bersih.
"Lebih baik, Tuan dan Neng Clara mencuci tangan di kran itu" ucap penjaga makam yang melihat tangan Rafi di penuhi tanah.
"Ia, Kek. Terima kasih ya." ucap Rafi tersenyum.
"Kakek pamit mau bersihin makam yang lain ya." ucap penjaga makam itu pamit.
Rafi dan Clara hanya tersenyum menganguk. Sepeningalan kakek itu Rafi membantu Clara untuk bangkit lalu mereka berjalan ke arah kran yang di tunjukkan penjaga makam itu.
"Kau pasti lelah ya?" tanya Clara melihat keringat Rafi yang bercucuran.
"Tidak apa-apa! Sini aku bantu bersihin tanganmu" ucap Rafi menarik tangan Clara dan meletakkannya di bawah kran air.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini belum seberapa di bandingkan dengan perjuangan ayah dan ibu untuk membesarkanku" ucap Clara tersenyum lembut.
Mendengar ucapan Clara, Rafi hanya bisa terdiam. Rafi membersihkan tangan Clara dengan lembut lalu mengelapnya dengan sapu tangannya.
"Terima kasih, Sayang" ucap Clara menatap lekat wajah Rafi yang memerah karna terkena sinar matahari secara langsung.
"Untuk apa?"
"Karna kau selalu berusaha untuk membahagiakanku."
"Itu semua tidak gratis, Sayang."
"Maksudmu?" ucap Clara mengerutkan keningnya binggung.
Melihat wajah binggung Clara, Rafi langsung menatap wajah Clara sambil tersenyum kecil. Berlahan Rafi mendekatkan wajahnya ke wajah Clara. Mengerti dengan maksud Rafi, Clara langsung menghindar lalu menjitak pelan kening Rafi.
__ADS_1
"Ingat ini pemakaman umum. Main nyosor saja." ucap Clara memayunkan bibirnya.
"Baiklah! Nanti di kamar aku mau lebih." ucap Rafi terkekeh kecil lalu melangkahkan kakinya menuju makam mertuanya.
"Dulu ngeselin sekarang super mesum." gumam Clara kesal lalu mengikuti langkah Rafi.
"Ini, sayang." ucap Rafi memberikan dua buket bunga lili kepada Clara.
"Terima kasih, Sayang." ucap Clara lalu meletakkan bungga lili itu di atas makam ayah dan ibunya.
Clara memegang batu nisan ibunya lalu meneteskan air mata penuh kerinduan. Dia membayangkan masa-masa kecilnya yang selalu bahagia bersama kedua orang tuanya. Dengan sigap Rafi mengusap punggung Clara dan berjongkok di sampingnya.
"Ibu, terima kasih sudah merawatku selama ini. Karna didikan ibu aku bisa menjadi kuat untuk menghadapi semua badai yang datang menghampiriku. Tapi, sekarang badai itu telah berlalu dan ada pelangi yang indah sebagai hadiahnya." ucap Clara menghapus air matanya mengingat semua perjuangannya selama ini.
"Ayah, ibu pasti bertanya siapa pria tampan yang ngeselin di samping Clara'kan? Kenalkan dia adalah menantu pria ayah, ibu yang sangat nyebelin. Tapi, walaupun dia nyebelin tapi Clara sangat mencintainya." ucap Clara tersenyum sambil menatap wajah Rafi.
"Dan aku juga sangat mencintai putri ayah dan ibu yang sangat cerewet ini. Walaupun dia cerewet dan kadang bikin Rafi darah tinggi tapi, Rafi merasa sangat bahagia bersamanya. Bahkan, Rafi tidak tau bagaimana hidup Rafi tanpanya." ucap Rafi menatap lekat wajah Clara.
"Tapi, Rafi janji akan mengantikan posisi ayah dan ibu untuk menjaganya. Rafi janji Rafi akan melindungi dan mendidik putri ayah dan ibu sekuat tenaga Rafi. Rafi akan menuntunnya ke jalan yang benar agar suatu hari nanti kita bisa berkumpul di surganya Allah. Surga yang kekal." ucap Rafi sambil memegang batu nisan kedua mertuanya.
"Sudah ya ayah, ibu. Mataharinya sangat terik Rafi takut putri ayah dan ibu yang manja ini akan pingsan nantinya." ucap Rafi menatap cahaya matahari yang begitu terpancar menyinari mereka.
"Em! Putri ayah dan ibu atau menantu ayah ibu ya." ucap Clara terkekeh kecil.
Karna matahari yang begitu terik, Rafi dan Clara memilih untuk mengirimkan doa kepada ayah dan ibu Clara. Mereka membaca surat yasin secara bersamaan dan mengirimkan doa untuk ayah dan ibu Clara. Setelah selesai Clara dan Rafi menemui penjaga kebun yang tidak jauh dari mereka.
"Kek, ini ada sedikit rezeki untuk kakek. Kakek terima ya." ucap Clara memberikan amplop berisi uang kepada penjaga makam itu.
"Terima kasih ya, Neng. Kakek doakan kalian hidup bahagia selamanya dan segera di beri keturunan yang sholeh maupun sholeha."
"Aamiin." ucap Clara dan Rafi langsung mengaminkan ucapan penjaga makam itu.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya kek." ucap Clara dan Rafi pamit lalu melangkahkan kaki mereka meningalkan makam itu.
Penjaga makam itu hanya bisa tersenyum menatap kepergian Rafi dan Clara. Dari sana dia bisa melihat jika cinta kedua insan itu sangatlah besar. Sehingga mereka bisa melewati badai yang menghadapi mereka dengan sangat mudah.
__ADS_1
Bersambung....