Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 44


__ADS_3

Setelah keadaan Clara membaik semua orang mulai berpulangan. Di sana tinggallah Zhia, Rissa dan Tika yang menemani Clara. Mereka menatap haru Rafi yang mengurus Clara dengan sangat teliti. Rafi menyuapi Clara dengan begitu lembutnya.


"Terima kasih karna tuan sudah mau merawatku" ucap Clara merasa tidak enak.


"Aku ini suamimu! Bukan majikanmu lagi. Jadi jangan pangil aku dengan pangilan tuan lagi" ucap Rafi tersenyum lembut sambil meletakkan mangkok kosong di tangannya.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian. Aku ini suamimu jadi mulai sekarang jangan pangil aku dengan sebutan tuan lagi"


"Apa tuan sudah menerima pernikahan kita?"


"Memang kapan aku bilang aku tidak menerima pernikahan kita?"


Mendengar ucapan Rafi, Clara langsung terdiam. Dia berpikir sejenak, memang benar selama ini Rafi tidak pernah mengatakan dia tidak menerima pernikahan ini.


"Tapi, Tuan tidak mencintaiku. Aku sadar tuan mau menikahiku hanya karna ingin bertangung jawab. Sekarang tuan boleh menceraikan aku dan...."


Belum selesai Clara mengucapkan kata-katanya Rafi terlebih dulu menyompel mulut Clara mengunakan bibirnya. Melihat aksi Rafi yang main nyosor saja di depan mereka Zhia, Rissa dan Tika hanya mampu mengelengkan kepala mereka pelan.


"Aku tidak mau mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu lagi. Maafkan aku jika selama ini aku selalu membuatmu kesal. Maafkan aku yang terlalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaanmu." ucap Rafi mengengam erat tangan Clara sambil menciuminya.


"Apa tuan mencintaiku?" ucap Clara sehingga membuat Rafi terdiam sejenak.


Rafi berlahan menangkupkan kedua tangannya di wajah Clara. Dia menatap lekat netra mata Clara sehingga kedua netra mata mereka saling bertemu.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Bahkan saat kau terbaring lemah aku semakin sadar jika aku tidak akan sanggup melewati hari-hariku tanpamu. I love you Clara Alexander" ucap Rafi lalu mencium lembut kening Clara.


"Apa kau juga mempunyai rasa yang sama sepertiku, Sayang?" tanya Rafi menatap lekat netra mata Clara.


Mendengar pertanyaan Rafi, Clara berlahan menganguk kecil. Dia tersenyum menunduk sambil menyembunyikan wajah tomatnya.


"Terima kasih, Sayang. Mulai sekarang dan seterusnya kau adalah ratuku. Aku mencintamu, Sayang. Aku sangat mencintaimu" ucap Rafi tidak bosan-bosan mengungkapkan perasaannya kepada Clara.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu" ucap Clara tersenyum malu.


"Ehem! jika hati sedang berbunga-bunga dunia ini serasa milik berdua ya. Sedangkan yang lainnya hanya menumpang" ucap Zhia memutar bola matanya memelas.


"Bukankah kau dan Rayyan juga sama. Dulu kalian sering kalian jadikan obat nyamuk" ucap Rafi tidak peduli dia terus menciumi Clara di depan Zhia, Rissa dan Tika.


"Yes! belanja gratis selama sebulan" batin Tika bersorak ria karna akhirnya dia menang taruhan dari Clara.


Setelah meminum obat Rafi menyuruh Clara untuk istirahat. Dia menidurkan Clara dengan mengelus puncak kepala Clara dengan lembut. Setelah melihat Clara terlelap Rafi berlahan menyelimutinya lalu mencium keningnya dengan lembut.


"Aku titip istriku sebentar ya. Ada hal yang harus aku urus" ucap Rafi kepada Rissa, Zhia dan Tika yang sedang asik mengobrol bersama.


"Ok! Kau tenang saja. Istrimu akan aman bersama kami" ucap Rissa.


"Aku pecaya kepada kalian" ucap Rafi tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Clara.


Rafi langsung menuju lokasi yang telah Bisma kirimkan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak sabar ingin memberi pelajaran kepada orang yang telah membunuh calon bayinya. Sesampainya di perkarangan rumah Rayyan dia menepikan mobilnya dan turun dengan tatapan penuh amarah.


Bisma membawa Rafi ke kamar tempat Kania di kurung. Saat memasuki pintu Rafi melihat Kania yang terbaring lemah dengan keadaan yang sangat kacau. Tapi, tidak ada rasa iba sedikitpun yang terlintas di hatinya. Dia berjalan mendekati Kania dengan raut wajah penuh amarah.


Saat mendengar suara hentakan sepatu berhenti di depannya Kania berusaha mengangkat kepalanya. Dia menatap Rafi yang berdiri tegap di depannya. Kania berusaha meraih kaki Rafi dan meminta maaf kepadanya.


"Ma...maafkan aku!" ucap Kania lirih sambil menatap Rafi.


Plakk...


Satu tamparan berhasil mendarat mulus di wajah Kania. Dengan tamparan yang sangat keras Kania langsung jatuh tersungkur dengan darah segar mengalir di sudut bibirnya.


Arghhh....


Teriak Kania ketika Rafi menjambak rambutnya. Rafi menatap Kania dengan penuh kebencian dan juga amarah. Ingin sekali Rafi membakar wanita iblis di depannya dengan tangannya sendiri.


"Tidak ada maaf untuk pembunuh sepertimu" ucap Rafi melempar tubuh Kania ke sembarangan arah.

__ADS_1


Tidak puas dengan aksinya Rafi kembali menjambak rambut Kania. Dia tidak perduli dengan suara rintihan Kania yang terus meminta ampun.


"Karna kau aku kehilangan calon bayiku. Karna kau istriku harus terbaring di rumah sakit. Tapi, mulutmu ini sangat mudah mengucapkan kata maaf. Dengar sekali kau melangkah untuk mengusik hidupku, jangan harap kau bisa melangkahkan kakimu untuk kembali" ucap Rafi kembali melempar tubuh Kania.


Rafi berlahan mengambil pisau belati yang ada di tangan Bisma lalu bersiap untuk menusuk Kania. Tapi, saat dia mengangkat pisau itu bayangan Yuki, Sania dan juga Aulya terlintas di pikirannya. Dia berpikir jika suatu saat nanti mereka yang ada di posisi Kania maka sudah pasti perasaannya sangat hancur.


Arghh....


Bugh....


Teriak Rafi meluapkan amarahnya lalu memukul dinding tepat di samping kepala Kania. Hanya mempunyai jarak satu sentimeter pukulan yang layangkan Rafi ke wajah Kania. Jika sampai tadi Kania bergerak sedikit saja sudah di pastikan wajahnya yang kini hancur seperti dinding di sampingnya.


Kania diam seperti patung tidak berani bergerak sedikitpun ketika melihat kekejaman Rafi. Jantungnya berdegup sangat kencang sambil membayangkan bagaimana jika pukulan Rafi meleset ke wajahnya.


"Kau sangat beruntung karna di lahirkan sebagai wanita. Jika tidak sudah aku pastikan wajahmu yang mengantikan posisi dinding ini. Aku tidak membunuhmu saat ini bukan berarti aku memaafkanmu. Tapi, aku menghargaimu sebagai wanita. Karna aku lahir dari rahim seorang wanita. Aku juga memiliki istri seorang wanita, bahkan aku memiliki keponakan seorang wanita." ucap Rafi menatap tajam Kania.


"Tapi, walaupun kau seorang wanita. Jangan harap kau lepas dari hukuman karna perbuatanmu" ucap Rafi tersenyum sinis.


"Bis!" ucap Rafi menatap Bisma


"Ia, Tuan!" ucap Bisma mendekati Rafi.


"Bawa dia ke kantor polisi. Pastikan dia menghabiskan hidupnya di dalam penjara" perintah Rafi.


"Baik, Tuan" ucap Bisma menganguk patuh lalu menyeret tubuh Kania ke luar dari kamar tahanan itu.


Rayyan dan Kinan yang melihat kejadian itu menatap Rafi binggung. Mereka tidak menyangka jika Rafi akan menyerahkan masalah Kania kepada polisi.


"Kenapa kau menyerahkannya kepada polisi?"


"Karna dia juga seorang manusia. Jika kita membunuhnya maka sama saja kita sama seperti dia. Lagi pula masih ada hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada hukuman yang kita berikan kepadanya. Tidak ada perbuatan jahat yang tidak mendapat hukuman."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2