Pembantu Somplak Mr. Arrogant

Pembantu Somplak Mr. Arrogant
Part 45


__ADS_3

Hari ini adalah hari kehancuran keluarga Rudolf. Rudolf meninggal karna terkena serangan jantung. Kania di jebloskan ke penjara dan mendapatkan siksaan yang sangat berat. Nyonya Rodolf meninggal karna bunuh diri karna frustasi. Hanya Rania yang bertahan tapi dia lebih pendiam dan suka menyendiri.


Rania berdiam diri di dalam kamarnya sambil menatap foto keluarganya. Foto yang memperlihatkan kebahagiaan dan senyuman yang terpancar dengan jelas di wajah mereka. Tapi, itu semua dulu kini Rania tinggal sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah meninggalkannya dan saudaranya satu-satunya sedang mendapatkan hukuman atas perbuatannya.


"Apa ini yang dirasakan Clara. Dia hidup sebatang kara tapi, aku selalu membullynya" batin Rania menyesali perbuatannya kepada Clara.


"Hai!" ucap Dirga tiba-tiba masuk ke kamar Kania.


"Ada apa? Apa kau ingin menertawakanku?" ucap Kania cuek.


"Tertawa di atas penderitaan orang, itu adalah dosa yang sangat besar. Aku hanya ingin membawakan makanan untukmu. Kamu pasti belum makan'kan?" ucap Dirga memberikan bungkusan makanan yang dia bawa.


Kania nampak terdiam dan melirik makanan yang di bawa oleh Dirga. Dia memegang perutnya yang keroncongan karna dia belum ada makan sama sekali. Tanpa ada rasa malu Kania langsung menyantap makanan pemberian Dirga dengan lahapnya.


"Kau yang pelan makannya. Kau pasti sangat lapar ya?" ucap Dirga menatap Rania dengan penuh rasa iba.


Rania menganguk dengan cepat karna, memang benar dia sangat kelaparan sedari tadi. Masih untung Dirga datang dan membawakan makanan untuknya. Jika tidak, Rania tidak akan tau harus makan apa hari ini.


"Apa boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" ucap Dirga menatap Rania lekat.


"Apa?" ucap Rania menatap Dirga binggung.


"Aku ingin kau meminta maaf kepada Clara. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja aku ingin kau hidup dengan damai. Karna jika kau terus menyimpan kebencianmu itu, aku yakin kau tidak akan bisa hidup dengan tenang. Apa kau tidak melihat bagaimana hancurnya hidup Kak Kania hanya karna dendam" ucap Dirga membelai lembut rambut Rania.


Mendengar ucapan Dirga, Rania nampak terdiam. Berlahan air mata penyesalan menetes membasahi wajahnya. Dulu dia selalu menghina Clara dengan sebutan anak terbuang dan juga gadis miskin. Tapi, kini dia sendiri yang mengalami posisi Clara selama ini.


"Apa kau tau di mana Clara sekarang? Aku berapa hari ini tidak melihatnya di kampus" ucap Rania yang memang beberapa hari ini tidak melihat keberadaan Clara.


"Dia ada di rumah sakit"

__ADS_1


"Apa! Kenapa dia?"


"Orang yang di tabrak Kak Kania adalah dia. Sudah berapa hari dia kritis di rumah sakit. Tapi, aku dengar dia sudah sadar"


"Jadi, menantu keluarga Alexander itu dia?" ucap Rania terkejut.


"Ia, Clara adalah menantu keluarga Alexander. Clara dan Tuan Rafi ternyata sudah menikah secara resmi. Hanya saja mereka belum melakukan pesta karna Clara masih sibuk kuliah. Walaupun alasan terkuat mereka adalah menjaga perasaan keluargamu"


"Karna rencana kita yang ingin menjebak Clara malah membuat kebahagiaan untuk Clara. Clara dan Rafi menikah pasti karna kejadian di malam pertunangan itu'kan?" ucap Rania mengingat rencana mereka yang gagal total pada malam itu.


"Ia! Dari sana aku belajar jika kejahatan tidak akan pernah menang. Walaupun dia menang itu hanya sebuah temeng karna dia merasa puas. Tapi, kejahatan tidak pernah puas dengan apa yang dia dapatkan. Itulah alasan kenapa kejahatan selalu kalah"


"Apa bisa kau membawaku menemui Clara?"


"Tentu saja! Tapi, kau mandi dulu sana. Tubuhmu bau" ucap Dirga menutup hidungnya.


"Sudah! Lebih baik kau mandi sana. Setelah itu dandan yang cantik, karna Rania selalu tampil angun dalam keadaan apapun" ucap Dirga berusaha menghibur Rania.


"Maaf karna dulu aku sering memanfaatkan cintamu" ucap Rania menatap Dirga penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa. Karna cinta memang butuh perjuangan." ucap Dirga tersenyum manis.


"Baiklah! Aku mau mandi dulu" ucap Rania bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi dengan malu-malu.


Melihat tingkah Rania, Dirga hanya mampu tersenyum kecil. Dia menatap punggung Rania dengan begitu lekat.


"Aku berjanji akan membawamu ke jalan yang benar Rania. Hatimu sebenarnya sangatlah lembut tapi, kau hanya tidak bisa melihat orang lain berada di atasmu" batin Dirga penuh keyakinan.


Setelah selesai bersiap-siap Rania dan Dirga langsung menuju ke rumah sakit. Selama di perjalanan Rania terus mengengam tangannya dengan cemas. Dia takut jika nanti di sana dia akan di hakimi oleh keluarga Alexander. Karna bagaimanapun penyebab Clara sampai kehilangan bayinya adalah perbuatan saudaranya sendiri.

__ADS_1


"Kamu, Kenapa?" ucap Dirga melihat kecemasan di wajah Rania.


"Aku takut jika mereka akan menghakimiku"


"Tidak akan! Aku tau bagaimana Tuan Rafi beserta sahabatnya. Mereka memang terlihat menakutkan tapi mereka memiliki hati yang sangat luas. Mereka semua orang baik, jadi tidak mungkin mereka akan menghakimimu. Lihat saja, jika mereka mau mereka bisa memberikan hukuman yang jauh lebih mengerikan kepada Kak Kania. Tapi, mereka memilih untuk menjebloskan Kak Kania kedalam penjara. Jika dia tidak punya hati nurani maka dia tidak akan melakukan itu"


"Clara memang sangat beruntung. Dia selalu dikelilingi orang yang menayayanginya"


"Karna Clara selalu merasa puas dengan apa yang dia miliki. Kau juga selalu di kelilingi orang yang menyayangimu tapi, kau saja yang tidak pernah bersyukur.


Mendengar ucapan Dirga, Rania nampak terdiam sejenak. Apa yang di katakan Dirga memang benar apa adanya. Rania tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki. Dia selalu ingin mendapatkan lebih dari apa yang dia miliki.


"Sudah sampai! Ayo kita turun" ucap Dirga menepikan mobilnya di depan rumah sakit.


Rania menatap bangunan kokoh itu dengan tatapan ketakutan. Dia takut jika Rafi akan menyalahkannya atas kematian calon bayinya. Terlebih lagi dengan keadaannya yang sekarang, dia takut jika Clara akan mengejeknya karna sekarang Clara telah memiliki segalanya.


"Apa Clara akan memaafkan semua kesalahanku?" ucap Rania menatap Dirga dengan tatapan kosongnya.


"Pasti! Aku yakin Clara akan memaafkanmu. Bukankah selama ini Clara selalu memaafkan semua perbuatanmu kepadanya? Bahkan Clara tidak pernah membalas perbuatanmu padahal dia bisa melakukan itu" ucap Dirga.


"Ayolah! Kau mau hidup dengan tenang'kan? Jika kau mau ketenangan dan kebahagiaan, maka ayo bukalah lembaran baru dalam hidupmu. Cepatlah karna kebahagiaan tidak akan mau menunggu lama" ucap Dirga menarik Rania keluar dari mobilnya.


Sesampainya di ruangan Clara, Dirga langsung membuka pintu. Semua orang yang ada di sana langsung menatap Rania dengan tatapan kebingungan. Melihat tatapan semua orang Rania menjadi semakin gugup. Dia menatap Clara yang sedang duduk di atas bangsalnya. Dengan cepat Rania berlari ke arah Clara dan meminta maaf kepadanya.


"Ra, aku minta maaf! Aku sadar jika selama ini aku terlalu iri kepadamu. Aku tidak pernah puas dengan apa yang aku miliki sehingga, aku tidak bisa melihatmu meraih kebahagiaanmu hik..hiks...."


"Yang lalu biarlah berlalu. Tidak ada gunanya kita melihat ke belakang, karna masa lalu tidak akan pernah bisa di ubah. Sekarang waktunya kita melangkah ke depan dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. Agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2