
Clara yang merasakan kram pada perutnya memilih untuk mengubah posisinya. Beberapa kali Clara mengubah posisinya tapi, kram di perutnya malah semakin kuat. Karna lelah duduk Clara memilih untuk berdiri. Tapi, alangkah tekejutnya dia melihat bajunya yang basah dan juga air keluar dari selangkangannya.
"Sayang! Aku pipis." ucap Clara lirih karna mengira air ketubannya adalah air pipisnya.
"Apa!" ucap Rafi kaget lalu berlari ke arah Clara.
"Itu bukan pipis. Tapiz air ketuban." ucap Kinan menunjuk ke air ketuban Clara yang sudah pecah dan membasahi lantai.
"Apa! Air ketubannya sudah pecah. Siapka mobil." ucap Ardiyan panik lalu berlari keluar untul menyiapkan mobil untuk Clara.
"Sayang! bagaimana? Aku takut." ucap Naura menagis sambil memegang perutnya yang mengalami kontraksi yang semakin kuat.
"A...aku tidak tau." ucap Rafi malah kebingungan.
"Ayo bawa istrimu ke rumah sakit. Apa kau mau anakmu lahir di ruang rapat?" ucap Wildan kesal sambil membantu Clara.
"Ia!" ucap Rafi langsung membawa tubuh Clara kedalam gendongannya lalu berlari kecil keluar dari kantornya.
"Ini! Ketingalan." ucap Rayyan Bisma yang berdiri di sampingnya.
"Ngapain tuan merangkulku? Yang mau melahirkan sudah di bawa keluar." ucap Bisma kesal sambil menepis tangan Rayyan.
"Oh! ternyata aku salah orang. Aku kira kau Clara. Habisnya kau seperti wanita." ucap Rayyan terkekeh kecil lalu melangkahkan kakinya mengejar Rafi dan para sahabatnya.
"Enak saja bilang aku seperti wanita. Orang aku tampan dan cool seperti ini. Dasar CEO kok ada merengnya ya." ucap Bisma menatap dirinya di pantulan cermin di sampingnya.
Karna Rafi harus mengantar Clara ke rumah sakit, Bisma dengan sigap mengakhiri rapat itu dan akan mengatur jadwalnya kembali. Para rekan bisnis Rafi juga mengerti dan memilih untuk bubar dari rapat itu. Tapi, ada juga yang pergi menyusul Rafi ke rumah sakit untuk melihat penerus perusahaan keluarga Alexander.
Ardiyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia melirik Clara yang terua berteriak kesakitan dari kaca spion depan. Wildan duduk di samping Ardiyan sambil mengerakkan tangannya untuk meminta pengemudi lain untuk menyingkir. Karna suasana jalanan yang begitu padat Rayyan dan Kinan mengendari sepeda motor dan berjalan di depan untuk menyuruh pengemudi lain untuk menyingkir.
"Keadaan darurat! Cepat mingir" ucap Rayyan sedikit berteriak sambil mengerakkan kedua tangannya.
Mendengar ucapan Rayyan para pengemudi langsung menepikam mobil mereka dan memberi jalan untuk mereka. Para sahabat Rafi melakukan tugas mereka dengan sangat baik. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit walaupun sedikit agak lama. Tapi, setidaknya Clara masih bisa menunggu sampai di rumah sakit.
__ADS_1
"Dokter! Istri saya mau melahirkan." teriak Rayyan ketika sepeda motor yang di kendari Kinan berhenti di depan rumah sakit.
"Sejak kapan adilku hamil?" uca Kinan menatap Rayyan binggung.
"Oh ia! Salah, Dok. Istri Rafi mau melahirkan." ucap Rayyan memperbaiki kata-katanya lalu berlari kecil ke arah mobil Ardiyan lalu membukakan pintu untuk Rafi.
Dengan cepat Rafi mengendong tubuh Clara dan meletakkannya di bangsal dorong yang di bawa suster.
"Sakit, Sayang." ucap Clara meneteskan air matanya sambil mengengam tangan Rafi.
"Kau oprasi saja ya. Jika oprasi pasti sakitnya tidak akan lama." ucap Rafi merasa tidak tega melihat Clara yang terus kesakitan.
"Tidak! Aku mau melahirkan secara normal saja." ucap Clara tegas.
"Tapi, Sayang."
"Aku kuat, Sayang. Aku tidak merasa sakit." ucap Clara berusaha menahan sakitnya agar Rafi tidak menyuruhnya untuk oprasi.
Sesampainya di ruang persalinan para sahabat Rafi menunggu di luar ruangan. Sedangkan Rafi selalu setia menemani istrinya tercinta. Para suster langsung mengecek keadaan kandungan kandungan Clara.
"Keadaan nyonya muda sangat fit, Dok. Jadi dia bisa melakukan oprasi secara normal." jelas suster yang memeriksa keadaan Clara.
"Baiklah! Pasangkan selang infus agar dia tidak kehabisan tenanga. Ingat dia akan melahirkan dua bayi." ucap Dokter Randy tegas.
"Baik, Dok." ucap suster itu menganguk patuh.
"Maaf, Tuan. Untuk membantu persalinan nyonya muda, saya akan menyerahkannya kepada dokter wanita yang terbaik di sini." ucap Dokter Randy merasa tidak enak jika dia yang membantu persalinan Clara.
"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik kepada anak dan istriku." ucap Rafi penuh permohonan.
"Tentu, saja. Tuan muda tidak perlu khawatir. Aku yakin nyonya muda akan kuat melewati ini." ucap Dokter Randy tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Clara.
Sesampainya di luar, Doktet Randy melihat Tika beserta istri-istri para sahabat Rafi sudah menunggu di depan. Tentunya Ronal dan ria juga sudah siap siaga di sana.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan menantuku, Dok?" ucap Ria dan Ronal mendekati Dokter Randy.
"Nyonya muda baik-baik saja. Jalan bayinya telah terbuka samapai pembukaan tujuh. Sebentar lagi pasti bayinya akan lahir." jelas Randy tersenyum.
"Kalau begitu saja permisi dulu ya. Saya akan memangil dokter wanita untuk membantu nyonya muda." ucap Dokter Randy tersenyum lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kerumunan orang yang menanti kehadiran Rafi dan Clara junior.
Sambil melangkahkan kakinya dia melirik Tika yang terlihat cemas dengan keadaan Clara. Karna jadwalnya masih padat dia memilih untuk melajutkan pekerjaannya dan menenangkan Tika melalui chat pribadi.
"Kau tenang saja. Sahabatmu pasti baik-baik saja. Dia ibu yang kuat. Pasti dia akan berjuang untuk kedua buah hatinya." senyuman Tika langsung mrngembang ketika melihat pesan dari Dokter Randy.
Tika berlahan meliri Dokter Randy yang berlahan menjauh darinya. Saat Tika menatap Dokter Randy, tiba-tiba Dokter Randy menoleh ke arah Tika sehingga tatapan keduanya saling bertemu.
"Ante! Apan adik ayi akan kelual? Lya udah ndak abal ingin endongnya." ucap Aulya memecahkan acara tatapan romantis Tika dan Dokter Randy.
"Sebentar lagi adik bayinya akan lahir sayang. Kau sabar dulu ya." ucap Tika tersenyum lembut.
Tidak lama Dokter Randy keluar, seorang Dokter wanita langsung masuk ke ruangan Clara. Dengan sigap dia memeriksa keadaan Clara dan merawat Clara dengan penuh kesabaran.
"Kau mau minum, Sayang?" ucap Rafi melihat bibir Clara yang kering.
"Ia!" ucap Clara sambil menahan sakitnya.
Dengan sigap Rafi membantu Clara untuk duduk. Dia memberikan botol air minerat kepada Clara dan membantu Clara untuk memegangnya. Rafi juga memijit pelan pinggang Clara dengan harapan rasa sakit Clara bisa berkurang.
"Nyonya boleh berjalan sambil berjongkok agar pembukaannya lebih cepat." saran dokter.
"Baik, Dok." ucap Clara turun dari ranjangnya lalu berjalan berjongkok sambil memegang tangan Rafi.
"Kita oprasi saja ya. Kau sudah sangat kesakitan." ucap Rafi menitikkan air matanya melihat rasa sakit yang di alami Clara.
"Tidak! Aku kuat, Sayang." ucap Clara berusaha berdiri.
"Ini adalah kehamilan yang terakhir untukmu. Aku tidak mau kau kesakitan seperti ini lagi." ucap Rafi tegas sambil menyeka air matanya yang terus menetes.
__ADS_1
Bersambung.....