
Melihat yang mendapatkan bunga pengantin adalah Sania si bocah para jomblo langsung gigit jari. Mereka semua meningalkan kerumunan itu dengan penuh kekecewaan. Sedangkan Sania langsung berlari ke arah Bisma yang sedang mengobrol bersama beberapa rekan bisnis Rafi.
"Hai, Paman. Lihat Sania dapat bunga pengantin. Apa Sania akan cepat menikah?" ucap Sania dengan polosnya.
Mendengar ucapan Sania semua orang yang ada di sana langsung terkekeh kecil. Mereka tidak menyangka jika gadis kecil seperti Sania sudah memikirkan soal pernikahan. Sedangkan Kinan hanya mampu memukul jidatnya pelan ketika mendengar pertanyaan Sania.
"Apa kau ingin cepat menikah, Sayang?" tanya Bisma dengan lembut.
"Ia, Paman! Sania ingin menikah muda. Agar kelak Sania dan anak-anak Sania tidak berbeda jauh umurnya." ucap Sania.
"Memangnya kau sudah punya pacar?" ucap Bisma tersenyum kecil.
"Sudah! Tapi, di dalam doa." ucap Sania jujur.
"Di dalam doa?" Tanya Bisma mengerutkan keningnya binggung.
"Ia, Paman. Sania menyukai seorang pria. Dia sangat tampan dan juga baik hati. Bahkan dia sangat penyayang. Makanya setiap kali Sania berdoa, Sania selalu menyebut namanya agar menjadi jodoh Sania nantinya."
"Kalau boleh paman tau kau berdoanya seperti apa?" ucap salah satu tamu yang mendengar ucapan Sania.
"Sania berdoa seperti ini. Ya Allah jadikanlah si pulan menjadi jodoh Sania. Karna hanya dia satu-satunya pria yang bisa mengisi hati Sania."
"Jika Allah bilang jika dia bukan jodohmu." ucap Bisma.
"Maka, Sania akan berdoa seperti ini. Jika dia bukan jodohku maka jodohkanlah. Jika tidak maka Sania akan memilih hidup sampai tua bersama mama, papa saja." ucap Sania sehingga membuat semua orang yang ada di sana terkekeh geli.
"Memangnya siapa pria yang berhasil mengisi hati gadis imut paman ini?" ucap Bisma menatap lekat wajah imut Sania.
"Kalau itu rahasia paman. Kelak paman juga tau saat Sania duduk di sana bersamanya." ucap Sania menunjuk ke arah pelaminan.
"Paman doakan kau hidup bersama pria yang kau inginkan." ucap Bisma tersenyum.
"Terima kasih, Paman. Kalau begitu paman simpan bunga ini ya. Sania mau main." ucap Sania berlari kecil menemui Yuki dan Aulya yang sedang makan kue bersama.
__ADS_1
"Ris, aku rasa Sania akan mengalami kisah cinta yang sama sepertimu." ucap Zhia yang sedari tadi mendengar ucapan Sania.
"Ia, Ris! Aku juga melihat sifat Sania sama sepertimu. Jika dia menyukai seseorang pasti dia selalu memberikan perhatiannya kepadanya." ucap Sinta.
"Tapi, aku perhatikan jika Sania selalu mendekati Bisma. Apa mungkin dia menyukai Bisma?" ucap Nur membuka suaranya.
"Sudahlah! Kalian tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh seperti itu. Sania masih kecil jadi dia pasti asal bicara saja." ucap Rissa tersenyum sambil melirik ke arah putrinya.
"Sayang!" ucap para papa tampan duduk di samping istri-istri mereka sambil bersandar manja.
"Kalian kenapa? Kenapa wajah kalian keriput seperti itu. Di antara kalian berempat hanya Ardiyan yang wajahnya biasa saja." ucap Rissa menatap wajah para papa tampan itu.
"Apa kau tidak tau, Sayang. Putrimu membuatku sangat pusing hari ini." ucap Kinan mengeluh dengan kelakuan putri kecilnya.
"Em! Jadi Sania hanya putri Kak Rissa?" ucap Zhia menatap Kinan.
"Bukan seperti itu, Zhi. Maksudku putri kita." ucap Kinan membenarkan ucapannya.
"Itu juga, Sayang. Putri kita, Aulya membuatku sangat malu. Coba kau pikirkan dia menyatakan cinta kepada salah satu rekan bisnisku. Aku terus berpikir apa salahku saat membuatnya dulu." ucap Rayyan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Bagaimana denganmu, Ar?" ucap Zhia melihat Ardiyan hanya diam.
"Jika aku tidak ada yang aku keluhkan. Karna Erlan dan Gibran terus duduk santai di sana." ucao Ardiyan menunjuk ke arah gerombolan bocah itu yang sudah berkumpul bersama.
"Kenapa ya, anak laki-laki kita bisa mengikuti jejak mamanya. Sedangkan lihat anak perumpuan kita." ucap Rayyan menatap binggung putrinya.
"Hai! Kalian kenapa termenung seperti itu?" ucap Ronal dan Ria ikut bergabung.
"Eh, paman dan tante. Tidak apa-apa kok paman." ucap para papa tampan mengaruk kepala mereka pelan.
"Sebentar lagi ada acara dansa. Ayo kita dansa bersama-sama." ucap Ronal mendengar MC sudah menyuruh pengantin untuk berdansa bersama.
Mendengar MC sudah menyuruh mereka untuk berdansa, Rafi mengandeng tangan Clara untuk menuju ke pangung. Sesampainya di panggung Rafi melingkarkan tangannya di pingang Clara dengan sangat mesra.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berdansa, Sayang." ucap Clara bingung harus melakukan apa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kau ikuti saja gerakanku. Tapi, kau lingkarkan dulu tanganmu di leherku."
Mendengar ucapan Rafi, Clara berlahan melingkarkan tangannya di leher Rafi. Tapi, tiba-tiba Rafi berhenti ketika melihat Wildan mengantikan posisi MC.
"Permisi semuanya! Maaf mengangu acara ini. Tapi, saya ingin menyampaikan sesuatu." ucap Wildan mengalihkan perhatian semua orang.
"Berhubung pengantin kita belum pernah menjalin hubungan sebelum menikah dan mereka juga tidak ada acara lamar melamar. Maka, bagaimana jika kita menyuruh Tuan Rafi Alexander untuk menyatakan cintanya kepada Nyonya Clara Alexander?" ucap Wildan.
"Setuju" ucap semua orang langsung setuju dengan ucapan Wildan.
"Bagaimana, Tuan Rafi?" ucap Wildan meminta pendapat Rafi.
"Baiklah." ucap Rafi setuju lalu menekuk satu kaki di lantai.
Rafi menatap lekat wajah cantik Clara lalu mengengam satu tangan Clara. Cukup lama Rafi terdiam hingga tidak terasa air matanya tiba-tiba menetes membasahi wajahnya.
"Sayang! Maaf, karna selama ini aku belum bisa menjagamu dengan baik. Aku sadar aku belum menjadi suami yang baik untukmu. Tapi, aku berjanji mulai saat ini dan seterusnya aku akan selalu menjagamu sekuat tenagaku. Aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk membahagiakanmu." ucap Rafi menatap lekat wajah Clara yang menyeka air matanya.
"Mulai sekarang aku tidak akan memuat air matamu menetes lagi, Sayang. Kecuali air mata kebahagiaan. Clara istriku maukah kau menghabiskan hidupmu bersamaku? Kita akan membangun lembaran baru lagi di keluarga kecil kita. Aku akan membahagiakanmu dan menjadikan ratu dalam kehidupanku. Clara istriku i am very lucky to have you. I love you very much my wife." ucap Rafi mencium lembut pungung tangan Clara.
"l also love you very much my husband. You are my happiness." ucap Clara tersenyum sambil menitikkan air mata kebahagiaannya.
"Cium... Cium..." teriak para tamu beserta kelima bocah itu.
Mendengar ucapan para tamu Rafi langsung melingkarkan tangannya di pinggang Clara. Dia belahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Clara. Melihat itu para bocah langsung bersorak ria.
"Ya, ampun putriku." ucap ketiga papa tampan langsung mendekati putri mereka masing-masing dan menutup mata mereka.
"Papa! Kami mau lihat."
"Diam! Kalian masih di bawah umur." ucap ketiganya serentak.
__ADS_1
"Yah, papa jahat." ucap Yuki, Sania dan Aulya serentak ketika melihat acara ciuman itu selesai.
Bersambung....