
"Nay.... aku berangkat sekarang ya, ada klien ngajakin main golf," pamit Radit sudah rapi dengan baju olahraganya.
"Tumbenan mas," sahut Naya seraya bangkit dari ranjangnya.
Hari masih terlalu pagi, masih jam enam lewat dikit, tak biasanya juga Radit memulai aktivitas sepagi ini.
"Namanya juga circle pengusaha Nay, jadi ngikut aja deh untuk nambah relasi, kamu mau ikut?" tanya Radit.
"Nggak mas aku lemes banget dan agak pusing," jawab Naya pelan.
"Ya udah dipakai istirahat, pintu kamar jangan ditutup ya sayang, takut kamu kenapa-napa."
"Iya mas, hati-hati ya mas." Naya mencium punggung tangan Radit lalu pria itu keluar dari kamar dan memacu mobilnya ke tempat Nindya bukan ke lapangan golf seperti yang tadi ia ucapkan kepada Naya.
Semalam ketika melakukan ibadah dengan Naya dan dia tak mendapatkan pelepasannya seperti biasanya, membuat Radit tak bisa tidur dan sepagi ini harus memacu kendaraan untuk menemui Nindya.
Setelah sampai di basement tower tempat tinggal Nindya, Radit segera masuk ke dalam apartemen wanita itu dan mendapati Nindya masih tertidur pulas.
Radit naik ke atas ranjang dan mencium pipi wanita itu dengan mesra.
"Kirain siapa? Ternyata kamu," ucap Nindya dengan suara serak dan lalu memeluk Radit dengan erat.
"Aku pengen!" Dan tanpa babibu langsung menyerang wanita itu yang hanya bisa menjerit-jerit karena kelakuan Radit yang sedikit brutal itu.
Masih pagi dan Nindya dipaksa melayani Radit yang terlihat kesetanan itu, memasukinya tanpa pemanasan karena na*su yang sudah diujung sejak semalam dan tidak mendapat pelepasan.
Tak memakan waktu lama Radit langsung terkulai di atas tubuh Nindya yang terlihat polos hanya dibagian bawahnya saja.
"Kenapa hmm? Pagi-pagi udah sampai sini aja dan langsung nyerang aku kayak gini?" tanya Nindya mendayu, sadar diri itu penting tapi percaya diri lebih penting, dan Nindya tahu kalau Radit sudah mulai terikat dengan dirinya, tinggal selangkah lagi dan Radit akan menjadi miliknya sepenuhnya.
"Nggak usah dibahas, aku butuh kamu, itu aja," sahut Radit lalu bangkit dan bergegas membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Hari ini pasti mereka akan menghabiskan waktu yang panjang untuk menikmati momen indah kebersamaan yang jarang mereka nikmati sepuasnya.
Tanpa Radit tahu sebuah kamera pengintai sedang mengintai kegiatan mereka, ya Nindya memang sengaja memasang CCTV untuk merekam aktivitas mereka, bila tiba waktunya rekaman itu akan ia jadikan senjata untuk memisahkan Radit dan Naya.
__ADS_1
Kembali ke kamar Naya, wanita itu sepeninggal pergi suaminya hanya bisa membolak-balikan badan dengan resah, hatinya terasa tak nyaman dan ditambah dengan perutnya yang terasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu.
Ting.... bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Naya, segera wanita itu meraih ponselnya di atas nakas dan membuka pesan di aplikasi hijau itu.
Jangan bangga jadi istri sah, kalo kenyataannya lakik lo malah anteng dalam pelukan gue
Tangan Naya gemetar membaca pesan tersebut, lalu secepat kilat menghubungi nomer tersebut dan.... nihil, nomor telepon itu tidak bisa dihubungi.
Dengan perasaan carut marut Naya menghubungi nomor ponsel Radit, dan hasilnya tetap sama....nihil, karena nomor Radit justru juga tidak aktif.
'Ya Tuhan ujian apa lagi ini? Kenapa Engkau masih menguji aku ya Tuhan?' bisik Naya pelan.
Naya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, perutnya semakin terasa diaduk-aduk dan semakin nyeri.
Naya memilih kembali memejamkan mata dan membuang semua prasangka buruk terhadap suaminya.
Tak mungkin Radit yang cinta mati pada dirinya itu tega melakukan hal-hal yang menyakitinya seperti ini.
Sepanjang hari Naya tak keluar dari dalam kamarnya, hingga simbok memeriksa keadaannya dan terlihat kaget ketika mendapati Naya dalam kondisi lemah.
"Mbak Naya kenapa mbak?" tanya simbok khawatir.
"Duh Gusti, gimana ini, mana bapak sama ibuk lagi ke rumah mbak Raisa lagi," gumam simbok kebingungan.
"Udah mbok jangan ganggu bapak ibu, nanti juga sembuh," sahut Naya tak ingin membuat khawatir simbok.
"Udah telepon mas Radit belum mbak?" tanya simbok sambil mengusap perut Naya pelan.
"Ponselnya mati mbok," sahut Naya lemah.
"Yo wis simbok bikinin air jahe dulu ya mbak, siapa tahu bisa sembuh." Simbok pamit dan langsung menuju dapur untuk membuatkan Naya minuman hangat.
Simbok masuk kembali ke dalam kamar Naya dengan membawa gelas berisi jahe, Naya meminumnya dan kembali merebahkan diri.
Sementara di tempat lain, Nindya sang pelaku teror, menyeringai puas karena misinya untuk memporak-porandakan rumah tangga Naya dan Radit sebentar lagi akan membuahkan hasil.
__ADS_1
Nindya berbangga diri karena Radit sudah berada dalam genggaman tangannya sekarang, tinggal mengirimkan bom lalu selesailah rumah tangga Radit dan Naya.
***
Beberapa hari telah berlalu sejak pesan itu dikirim kepada Naya, dan lagi-lagi pesan yang lebih mengerikan dikirim ke ponsel wanita itu.
Naya menerima beberapa foto yang yang dikirim ke ponselnya, foto itu memperlihatkan sesosok pria dalam keadaan polos sedang terlelap tidur dalam dekapan seorang perempuan.
Wajah keduanya sengaja diblur untuk menghilangkan identitas keduanya, tapi Naya tahu persis kalau tubuh itu milik suaminya.
Ketika Naya menerima pesan waktu itu, Naya belum seratus persen yakin dan menganggap teror itu hanya dilakukan oleh orang iseng yang tak suka melihat dirinya dan Radit bahagia.
Tapi sekarang dia merasa bahwa Radit memang sedang bermain api di belakangnya.
Pantas saja Radit jadi sering pulang malam dan berlaku dingin terhadapnya, setiap Naya tanya selalu menjawab bertemu dengan klien penting.
Dengan menggenggam ponselnya erat, Naya melangkah keluar dengan langkah tertatih, perutnya kembali terasa seperti ditusuk-tusuk.
Dan.... gubrak! tubuh Naya terjatuh di depan pintu kamarnya dengan darah yang mengalir membasahi kedua kakinya.
"Duh Gusti mbak Naya!" teriak Yati membuat ibu dan bapak yang sedang bersantai di taman belakang sontak berlari menghampiri mereka.
"Kenapa Yat?" tanya ibu panik.
"Nggak tahu bu tiba-tiba mbak Naya pingsan," jawab Yati ketakutan.
"Panggil Ujang, ayo kita bawa ke rumah sakit pak!" perintah ibu dengan suara cemas.
Tubuh ringkih itu dibawa menuju ke mobil dan mobil tersebut langsung melaju menuju ke rumah sakit.
Ibu terus melakukan panggilan ke telepon Radit, yang sayangnya tak mendapat respon dari pria itu.
Karena kesal teleponnya tak mendapat respon dari anak lelaki satu-satunya, akhirnya ibu menghubungi Reza, Rania dan Raisa untuk menyusulnya ke rumah sakit.
Mereka semuanya sudah berkumpul di depan IGD, berharap-harap cemas melihat Naya terkulai tak berdaya dengan darah yang merembes di kakinya.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka dan panggilan untuk keluarga pasien atas nama Kanaya Thalia dipanggil.
Bapak, ibu dan Reza yang duduk mendengarkan penjelasan dokter hanya bisa menitikan airmata mendengar musibah yang kembali dihadapi oleh Naya.