Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 30 : Hati yang kau sakiti itu memilih pergi


__ADS_3

Naya mengelap tangannya yang kotor, sudah dua bulan pulang ke rumah mertua, dan melihat aneka tanaman ibu mertuanya yang tak terawat sejak ditinggal pergi sama yang punya, membuat hati Naya tergerak untuk menyelamatkan tanaman yang masih bisa diselamatkan.


Ya meski dirinya dibantu oleh simbok dan mbak Yati, ART yang masih tetap setia mengabdi meski ibu sudah meninggal dan bapak tinggal bersama Rania.


"Mbak jus jeruknya diminum dulu." Yati meletakkan seteko jus jeruk dan sepiring kudapan di meja teras dekat Naya.


"Makasih mbak Yati." Naya melepaskan sarung tangan karet lalu mencuci tangannya ke kran air dan mulai menikmati snack yang tersaji.


"Ayo mbok sini temenin aku ngemil dulu," panggil Naya ke simbok yang masih berkutat memindah tanaman ke pot baru.


"Bentar mbak, nanggung ini."


Aura kecantikan Naya semakin bersinar karena kulit putihnya berkilau terkena sinar matahari pagi.


Ponsel Naya di atas meja berkedip, ada notifikasi pesan masuk, buru-buru Naya mengelap tangan ke bajunya dan mengambil ponsel dan membaca pesan itu.


'Jam empatan datang ke kantor suamimu dan buka pintu di belakang kursinya, kamu harus lihat sendiri, ingat jangan bilang siapa-siapa dan datang sendiri'


Naya mengeryit bingung, lalu membuka profil yang terlihat kosong tanpa foto itu.


Bersikap tenang dan pura-pura tak ada sesuatu yang penting yang membuatnya resah, karena suka tak suka semua penghuni rumah ini selain dirinya adalah orang-orang yang bekerja untuk keluarga Radit.


Tak. menutup kemungkinan kalau mereka memperhatikan gerak-geriknya dan mengadu pada Radit, meskipun itu sesuatu yang mustahil tapi menurut Naya lebih baik dia waspada.


"Aku mau mandi dulu ya mbok, habis ini mau ke tempat Reza." Naya kembali menyesap jus jeruknya sampai tandas.


"Lho katanya hari ini mau di rumah aja mbak, mau beresin taman peninggalan ibu." Yati mengingatkan tujuan awal Naya.


"Nanti lagi ya mbak, ternyata ngurus taneman itu lebih susah dari ngurus perusahaan, capek banget aku" canda Naya lalu melenggang ke dalam rumah.


'Rileks Nay jangan bikin mereka curiga' ucap Naya dalam hati.


Tak mau terlihat terburu-buru, toh hari masih terlalu pagi untuk waktu yang disebut orang dalam pesan tadi.


Tak ingin terlihat terlalu mewah seperti yang biasa ia kenakan ketika menyambangi kantor Radit, saat ini Naya hanya menggenakan kulot dibawah lutut berwarna kuning dipadu kaos putih lengan pendek, sengaja menyembunyikan blazer di dalam tas besarnya.

__ADS_1


"Aku berangkat ya mbok, tadi udah ijin mas Radit juga," pamit Naya kepada simbok dan Yati.


Naya memang benar meminta ijin kepada Radit bahwa ia mau ke toko roti milik Reza dan suaminya mengijinkannya (takut salah satu dari mereka kroscek langke Radit).


Mereka tidak tahu saja ada agenda penting yang akan Naya lakukan hari ini, meskipun Naya tidak mempercayai isi pesan tersebut seratus persen, Naya hanya ingin membuktikan saja.


Meski Radit selama dua bulan mereka kembali bersama tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan tetapi bukan berarti ia sudah berubah kan.


Dan orang tak akan sekurang-kerjaan seperti itu dengan menyuruh Naya datang ke kantor suaminya.


Dalam beberapa jam Naya benar-benar membantu Reza menjaga kasir di toko rotinya dan tepat pukul empat Naya pamit untuk pulang kepada Reza.


Dan disinilah sekarang Naya berada, di depan dealer mobil milik suaminya.


Dengan langkah anggun Naya berjalan melewati para SPG yang tersenyum ramah menyapanya, dan ketika langkah kakinya ada di depan ruang kerja sang suami, Wisnu asisten sekaligus merangkap sekretaris Radit menghalangi langkahnya.


"Um... maaf Bu, bapak lagi nggak ada di ruangannya," cegah Wisnu ketika melihat Naya akan mendorong pintu kaca itu.


"Masak sih Nu, ini GPS ponselnya nggak bergerak kok." Naya memperlihatkan share location live ponselnya yang tersambung dengan ponsel Radit.


"Kamu kok terlalu lancang gitu sih Nu, kamu lupa siapa saya?" bentak Naya sambil mendorong tubuh Wisnu yang menghalangi langkahnya.


Kelakuan mereka menjadi perhatian karyawan yang lain, karena setahu mereka Naya merupakan sosok yang lembut dan ramah, tapi kali dia melihat Naya agar kasar dan membuat mereka mulai berbisik-bisik dengan suara sengau.


"Pintunya terkunci bu," ucap Wisnu lirih saat Naya berniat mendorong pintu di depannya, memang biasanya pintunya dikunci Radit dari dalam.


Dan Naya tak peduli dengan ucapan Wisnu, dia tetap mendorong pintu itu dan ajaibnya pintu itu tidak terkunci, mungkin Radit yang kelupaan atau orang yang mengirim pesan kepadanya yang membuka kuncinya.


Semakin penasaran Naya akan perbuatan Radit di dalam sana, Naya langsung menuju ke ruangan di belakang kursi Radit, dan menyalakan video dalam ponselnya untuk merekam adegan yang Naya tahu apa itu.


Brak..... pintu terbuka dengan kasar, dan dua orang yang bergumul di atas ranjang itu tersentak kaget.


"Naya!" teriak Radit tak percaya.


Naya merekam keduanya dengan santai dan mereka buru-buru meraih apa saja yang bisa mereka pakai untuk menutupi tubuh polos mereka.

__ADS_1


"Naya... matikan Nay, matikan!" pekik Radit histeris.


Dan setelah mendapat apa yang ia mau, Naya mematikan kameranya dan melangkah mendekati perempuan itu yang ia tahu salah satu SPG di dealer tersebut.


"*****!" maki Naya dingin lalu memberi tamparan keras kepada Radit dan SPG bernama Wuri itu.


Lalu dengan tenang ia berjalan keluar dari sana, kepalanya mendongak ke atas dengan mata memandang ke depan dan tak menghiraukan suara sumbang yang menyertai langkahnya.


"Naya.... Nay!" panggil Radit yang berhasil mengejar langkahnya dari belakang.


Pria itu tak mempedulikan penampilannya yang acak-acakan dan juga tak. mempedulikan pandangan karyawan yang menatap iba terhadapnya.


Naya masuk ke dalam mobilnya dan memacunya menuju rumah mertuanya untuk mengangkut semua barang dan angkat kaki dari rumah itu (lagi).


Sampai di rumah, Naya masuk kedalam kamarnya dan memasukan semua barang pribadinya ke dalam koper.


Radit masuk tak lama kemudian. "Nay.... Naya, denger penjelasanku dulu Nay," pinta Radit yang diacuhkan oleh Naya.


"Naya!" teriak Radit menarik tangan Naya agar menghadap dirinya.


"Apa? !" Lalu tangan Naya menampar pipi Radit dua kali hingga Radit hampir terjajar ke belakang karena kerasnya tamparan itu.


"Aku harap kamu puas mas, dan selamat karena kamu berhasil menghancurkan aku untuk dua kalinya," desis Naya dingin, tak ada luka pada kedua mata itu, hanya ada kebencian disana.


"Aku bisa jelaskan Nay," ucap Radit pelan.


"Penjelasan apa?!" pekik Naya marah.


"Aku... aku..."


"Sudahlah mas, aku nggak butuh penjelasan kamu mas, dan semoga kamu puas dengan semua perbuatan bejatmu itu, dan semoga Tuhan nggak buat kamu jadi kere dan stroke untuk menyadarkan kamu," lanjut Naya sambil menyeret kedua koper miliknya untuk pergi dari rumah ini.


"Aku nggak akan lepasin kamu Nay, nggak akan!" teriak Radit frustasi.


"Coba saja kalo kamu bisa," ledek Naya diiringi kekehan mengerikan yang keluar dari bibirnya.

__ADS_1


Tak begitu lama, suara ponsel yang dipegangnya berbunyi, bapak menghubunginya, apakah Naya mengirim videonya yang sedang berbuat mesum kepada bapaknya?


__ADS_2