Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 43 : Bukan level kamu


__ADS_3

Dengan menghentakkan kaki, Nindya masuk ke dalam apartemennya, tas mahal kesayangannya ia lempar ke sofa.


"Emang apa sih kelebihan mereka? Baru gitu aja udah seperti pemilik seluruh dunia, dasar manusia-manusia sombong, belagu." Mengomel sendiri karena hanya ada dirinya di sana.


Nafas Nindya tersengal, menahan emosi yang mencekik lehernya, rasanya ia ingin menghancurkan dunia.


Setelah bisa menguasai diri, Nindya bangkit kembali dan memungut tas berharganya dari atas sofa lalu kembali keluar dari tempat itu.


Sedang emosi, sedang frustasi, hanya satu yang bisa membuatnya tenang yaitu..... shopping.


Dengan perasaan yang sedikit lebih baik Nindya mengemudikan mobilnya menuju XX mall buat belanja baju dan tas ke butik langganan, mumpung uang bulanan dari Radit baru saja turun.


Nindya memarkirkan mobilnya di area parkir lantai tiga lalu bergegas memasuki mall tersebut.


Matanya langsung berbinar melihat butik yang dituju sudah di depan mata, ah aroma kulit yang tercium pada indera penciumannya membuat penghinaan yang diterimanya tadi menguap entah kemana.


"Selamat siang bu Nindya." sapa salah satu pramuniaga disana yang telah mengenali Nindya karena beberapa kali wanita itu masuk ke sana dan membeli tas.


Kaya nanggung seperti Nindya biasanya selalu minta diprioritaskan, berbeda dengan para sosialita yang sebenarnya yang lebih membumi dan tidak sombong.


"Hai Run, ada produk baru nggak nih?" tanya Nindya sambil berkeliling menjelajahi butik dengan Runi membuntuti di belakangnya.


"Ini bu Nindya, tasnya baru datang kemarin sore, sengaja saya simpan untuk bu Nindya," celoteh Runi mengeluarkan jurus bujuk rayu untuk memikat Nindya agar membeli dagangannya.


Nindya meraba kulit tas tersebut dan pura-pura melihat kondisi tas tersebut, padahal dia membalik price list untuk melihat harganya.


Runi mengulum senyum dengan sembunyi-sembunyi, dasar orang kaya nanggung kudu lihat harga dulu baru dia beli kalau sesuai dengan kantong.


"Ini nggak ada yang lebih kecil Run? Yang ini kegedean buat aktivitas aku sehari-hari." Nindya mengembalikan tas tersebut ke tangan Runi, harga tujuh puluh juta dia rasa terlalu mahal untuknya.

__ADS_1


"Oh ada bu, sebentar saya cek dulu ya, mudah-mudahan belum habis, soalnya saya nggak simpan buat ibu, saya kira ibu nggak mau." Runi mengangguk pelan lalu berjalan ke komputer untuk mengecek kesediaan tas tersebut.


Mengotak-atik sebentar, memeriksa kesediaan stock yang ada.


"Masih ada satu bu, sebentar saya ambilkan ya." Runi menunduk dengan hormat lalu berlalu untuk mengambil tas dengan model yang sama dengan model yang lebih kecil.


Runi menyerahkan tas tersebut, dan karena harganya pasti sesuai dengan budgetnya, Nindya langsung memintanya untuk dibungkus.


Puas berkeliling di butik tas, Nindya beralih ke butik baju, disana harga satu kaos saja bisa tembus diangka dua jutaan untuk kaos termurah.


Tapi Nindya mana peduli yang penting performa dia harus cetar tak kalah dengan Raisa dan gengs nya.


Dirasa telah cukup menghabiskan uang untuk belanja, Nindya akhirnya memilih pulang ke rumah.


Tanpa sengaja ekor matanya menangkap siluet Raisa dan Rania yang memasuki mobil mewahnya.


Sampai di dalam mobil Nindya memukul stir berulang kali, kesal dengan kelakuan kakaknya Radit yang memperlakukan dirinya, rasanya ia ingin menjambak dan melabrak Raisa tapi dia tak mungkin mampu melakukan, apalagi kalau sampai Radit tahu dan menghempaskan dirinya dari hidup pria itu, dunianya pasti seketika hancur.


Membuang semua rasa yang menyesakkan dada, Nindya langsung menuju unit apartemennya setelah memarkir kendaraannya di basement.


Menekan pin di depan pintu dan melangkah masuk dengan santai, hingga matanya membulat melihat Radit sudah menunggunya di dalam apartemen.


"Dari mana?" tanya Radit memindai paper bag di tangan Nindya.


"Sayang.... kamu sudah pulang ternyata." Dengan wajah pura-puranya Nindya merangsek Radit dan memeluk tubuh pria itu dengan manja.


"Dari mana? Dari belanja?" tanya Radit gusar melihat kantong belanjaan Nindya.


"I iya, nggak papa kan?" tanya Nindya dengan suara mendayu.

__ADS_1


"Untuk sementara bisa nggak kamu ngurangin belanjanya Nin, aku beneran lagi mepet ini, ada beberapa kerjasama yang nggak dilanjutkan lagi sama klien," curhat Radit lembut.


"Uh.... kenapa sih Dit kan aku belanja juga nggak banyak-banyak banget."


"Itu apa nggak banyak? Emang kurang tasnya?" tanya Radit dengan menghela nafas lelah,


Pikirannya benar-benar capek, omset usahanya semakin dan banyak perusahaan membatalkan kerjasama pengadaan mobil di kantor mereka dan memilih membeli mobil yang lebih rendah kualitasnya di banding mobil yang dijualnya.


"Kamu marah ya sayang?" tanya Nindya dengan gerakan sensual menggoda sang pria untuk menjamah dirinya, namanya juga perempuan tidak benar jadi dengan cara seperti inilah dia meredakan amarah Radit.


"Aku lagi banyak pikiran Nin." Radit menepis tangan itu dan beranjak ke dapur untuk mengambil air dingin.


"Dit... kalo ada rejeki aku mau dibeliin mobil kaya punya mbak Raisa ya." pinta Nindya.


"Hah?! Kapan kamu ketemu Raisa?" tanya Radit dengan kening berkerut.


"Tadi secara nggak sengaja aku ngeliat kakakmu itu, dih mobilnya keren banget ya."


"Kalo punya keinginan tuh lihat-lihat Nin, jujur saja Raisa bukan level kamu... " Radit menggantung kalimatnya merasa keceplosan karena dia tahu bahwa Nindya pasti akan meminta mobil seperti milik Raisa.


"Maksudnya bukan level aku tuh yang gimana?" tanya Nindya dengan emosi yang sengaja ia tahan.


"Dia tuh pengusaha Nin, suaminya juga pengusaha malah aku denger-denger dia punya tambang emas sekarang."


"Terus apa hubungannya sama aku? Oh.. aku tahu karena aku cuman perempuan biasa yang tak memiliki kemampuan apa-apa gitu?!" teriak Nindya tak terima.


"Kok jadi kemana-mana sih obrolan kita ini?" tanya Radit mulai ikutan emosi.


"Kamu yang mulai!" bentak Nindya dan berlalunya ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2