
Beberapa tahun kemudian.
Naya menatap Adinda yang tak mau turun dari pangkuannya.
"Bunda pulang dulu ya nak, besok bunda kemari lagi," bujuk Naya lembut pada gadis kecil berumur dua tahun itu.
"Inda au itut nda," rengek Adinda dengan bahasa cadelnya.
Adinda Amora gadis kecil yang sejak bayi dibuang oleh ibunya di depan pintu panti, yang sejak kehadirannya mempesona Naya hingga Naya begitu terikat dan menyanyangi dirinya.
"Ayok Nak biar bunda pulang dulu, kan bunda mau kerja biar bisa beliin susu dinda dan saudara yang lain." Bunda Yul pun ikut membantu membujuk Adinda.
Bukannya turun Adinda justru menyembunyikan wajahnya ke dada Naya dan mulai terisak.
"Ya udah bun, biarin Dinda ikut pulang aku aja." Akhirnya karena tak tega dengan tangisan Dinda, Naya berinisiatif untuk membawa Dinda pulang.
"Lho ini anak ayah kenapa nangis?" Suara bariton Samuel menginterupsi pembicaraan mereka.
"Nggak mau aku tinggal," ucap Naya tanpa suara.
"Ooo." Samuel tersenyum sambil mengangguk-angguk.
"Ayo kita ambil perlengkapan Dinda dulu di kamar." Naya menggendong Dinda dan membawa gadis kecil itu menuju ke kamar untuk menyiapkan semua perlengkapan yang harus Dinda bawa untuk menginap.
Samuel memperhatikan setiap gerakan Naya yang begitu luwes dan telaten merawat anak-anak panti tempat Samuel dulu tinggal dan bertumbuh.
"Kamu tertarik sama Naya Sam?" tanya bunda Yul melihat tatapan Samuel yang terlihat lain ketika menatap Naya.
"Eh kok bunda bisa punya pikiran seperti itu?" Samuel tampak terkejut.
"Bunda itu yang membesarkan kamu, bunda tahu kamu tertarik sama seseorang, tatapan matamu mengingatkan bunda saat kamu menatap mendiang istrimu."
__ADS_1
"Bunda setuju?" tanya Samuel meminta pendapat.
"Naya wanita yang baik, tentu bunda setuju kalo Naya mau jadi istrimu," jawab Bunda Yul lembut.
"Sam senang bun, nanti coba Samuel bicara dengan Naya ya, semoga niat baik Sam diterima baik oleh Naya."
"Amin Sam, ibu selalu berdoa untuk kebahagiaanmu."
Pembicaraan keduanya pun terhenti ketika melihat Naya keluar dari ruangan dalam dengan menenteng tas kain berisi baju Adinda di tangan kiri sedang tangan kanannya menggandeng tangan Dinda yang terlihat ceria karena akan ikut Naya pulang.
"Ingat ya nak nggak boleh nakal, nggak boleh bikin repot bunda Naya ya," nasihat bunda Yul ketika Dinda pamit dan mencium punggung tangan bunda Yul.
Dengan gerakan lucu Dinda mengiyakan setiap ucapan bunda Yul, membuat Samuel dan Naya tertawa geli.
"Ya sudah bun kami pamit dulu ya." Naya membungkuk dan mencium kedua pipi bunda Yul dengan sayang lalu bersama Samuel melangkah menuju mobil untuk meninggalkan tempat itu.
Dinda duduk dengan tenang di pangkuan Naya, sesekali wajahnya menoleh melihat ke samping kanannya ada ayah Samuel yang sedang menyetir mobil.
"Langsung pulang aja Nay?" tanya Samuel sambil melihat Naya sekilas.
"Mampir mini market dulu mas, beli susu sama camilan buat Dinda," jawab Naya sambil mengelus Dinda yang mulai mengantuk dan menyandarkan tubuh ke Naya.
"Oke."
Mobil membelok tak jauh dari tempat tinggal Naya, Samuel turun dan meminta Naya tetap menunggu di mobil karena Dinda telah terlelap dalam pangkuannya.
Tak lebih dari lima belas menit Samuel kembali masuk ke dalam mobil dan mengangkat plastik belanja untuk diperiksa oleh Naya.
"Udah komplit mas."
Lalu Samuel meletakkan kantong plastik itu ke jok belakang, dan melajukan mobil menuju kediaman Naya.
__ADS_1
Mobil hitam itu memasuki pelataran rumah Naya yang asri, Samuel bergegas keluar dari mobil dan mengambil alih Dinda dari pangkuan Naya lalu menggendongnya dan membawa masuk ke rumah.
Naya hanya membuntuti Samuel dari belakang dan membiarkan pria itu meletakkan Adinda di tempat tidur Naya.
"Mau langsung pulang atau mau istirahat dulu mas?" tanya Naya setelah Samuel keluar dari kamar Naya.
"Nay.... boleh aku ngomong sesuatu?" Samuel meminta ijin dengan sopan.
"Boleh mas, sebentar ya aku siapin teh dulu." Naya lalu berlalu ke dapur untuk memyeduh teh untuk mereka.
Kini mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu dengan secangkir teh pada tangan mereka masing-masing.
"Nay..... " Samuel tampak memilah kata dan sering menggusah nafas untuk mengusir kegelisahannya.
"Aku..... tertarik dan suka sama kamu, rasanya duniaku yang semula kosong kini kembali terisi sejak bertemu kamu, apakah kamu mau jadi istriku?" Suara Samuel terdengar lembut dan penuh kehati-hatian, karena dia tahu luka yang dirasakan oleh Naya mungkin sampai sekarang masih tertinggal.
Naya mengerjap sebentar sebelum kesadarannya kembali datang, siapa yang tidak tersanjung dilamar oleh pria sebaik dan sehebat Samuel, tapi apa Naya pantas menerima pria ini.
"Kamu serius mas?" tanya Naya bimbang.
"Aku tidak pernah seserius sekarang Nay."
"Tapi kenapa aku? Masih banyak yang lebih dari aku di luar sana mas."
"Aku tahu banyak yang cantik di luar sana, tapi yang seperti kamu tak ada, wanita yang menerima asal usulku yang dari panti, mau bersinergi dengan aku untuk mencurahkan waktu untuk mengurus anak-anak kita di panti."
"Dan aku yakin dengan kamu yang membersamai langkahku, jalanku akan ringan nantinya."
Naya tergugu, rasanya dia sangat bahagia, bahwa dirinya dilabeli wanita istimewa oleh seorang pria yang istimewa juga, dan rasanya Naya tak mempunyai alasan untuk menolong pinangan dari Samuel, apalagi persahabatan mereka yang hampir dua tahun itu menunjukkan Samuel sebagai laki-laki baik dan bertanggung jawab.
"Iya mas, aku mau." Jawaban Naya yang cukup lama keluar dari bibir wanita itu membuat Samuel menghela nafas lega.
__ADS_1
"Terima kasih sayang."