
Setelah mengetahui hasil test pack yang dipakai istrinya tadi pagi, kini Samuel mengajak sang istri untuk cek kehamilannya ke dokter kenalannya.
"Wah tak sangka lho Sam, kamu secepat ini dapet anugerah anak." Sarah teman satu angkatan di sekolah kedokteran dulu menyapa sepasang suami-istri yang terlihat serasi itu.
"Iya ya Sar, rasanya aku tuh disayang banget sama Tuhan, dapet istri cantik dan baik, dan sekarang dikasih kepercayaan untuk nambah anak," sahut Samuel bijak.
Sarah melirik Dinda yang berada di pangkuan sang ayah, semua kolega Samuel di tempat ini tahu bahwa sebelumnya Samuel belum memiliki anak dari isteri pertamanya yang meninggal dunia.
"She is our daughter Sar." Samuel tersenyum lalu mengecup pipi gembul Dinda yang menggemaskan.
"Sorry Sam, sorry Nay, bukan maksud aku..... " Kalimat Sarah menggantung.
"Nggak papa dok, kami hanya tak ingin menganggap dia orang lain, dia tetap anak kami, meski tidak lahir dari rahim aku." Naya mengulas senyum manis.
"Ya udah yuk kita periksa." Naya dibantu perawat naik ke atas brankar, sementara Samuel ikut menemani Naya sembari tangan kekarnya menggendong Dinda.
Sarah mengoles gel di perut Naya lalu menggerakkan alat di tangannya ke atas perut Naya.
"Ini kantung rahimnya sudah terbentuk ya, usia kandungnya memasuki minggu ke tujuh."
Naya dan Samuel sontak mengucap rasa syukur mereka dalam doa.
Setelah pemeriksaan Naya selesai, dokter Sarah memberikan resep yang harus mereka tebus di apotek.
"Ada mual nggak Nay?" tanya Sarah.
"Nggak ada dok, saya cuman jadi malas mau ngapa-ngapain tapi selebihnya nggak ada keluhan apa-apa," jawab Naya.
"Oke saya resepkan vitamin dan obat mual ya Nay, jaga-jaga saja kalo nanti mual.
" Oke dok, terimakasih banyak."
Keluarga kecil itu keluar , mampir sebentar ke apotek lalu pulang ke rumah.
"Unda akit?" tanya Dinda sambil melihat sang bunda yang berjalan di samping ayahnya.
"Nggak sakit sayang." Yang menjawab ayahnya.
"Ke doktel?" Maksud Dinda kok pergi ke dokter.
Mereka memasuki mobil, sengaja Dinda duduk di pangkuan Naya karena ayahnya sedang menyetir.
__ADS_1
"Dinda pengen punya adek nggak?" tanya ayah Samuel dengan senyuman manis.
"Aukkkkk!" seru Dinda kegirangan.
"Jagain bundanya ya, di perut bunda ada calon adeknya Dinda."
"Di ini?" Dinda mengelus perut Naya dengan sayang, tak bisa menahan rasa gemasnya, Naya menciumi pipi gembul Dinda dengan sayang.
"Geyi un." Dinda tertawa cekikikan.
"Astaga nak, bunda sama ayah tuh dapet rejeki gede gara-gara kamu," ucap Naya gemas melihat kelakuan Dinda yang lucu itu.
"Kita tetep sayang dia ya bun, meski kita punya anak lagi," kata ayah Samuel lembut.
"Iyalah mas, dia tetap anak sulung kita sampai kapanpun," sahut Naya cepat.
"Syukurlah, ayah bahagia mendengarnya bun."
***
Samuel pulang dari praktek ketika hari sudah larut malam, pasien yang datang silih berganti bahkan tak bisa membuat Samuel makan malam dengan tenang.
Tak ingin mengganggu kedua wanita tersayangnya, Samuel masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan berganti dengan baju rumah.
Setelahnya Samuel merebahkan diri di samping Naya dan memeluk tubuh itu erat.
"Mass.... " panggil Naya serak.
"Kenapa bangun?" tanya Samuel mengendus bau sang istri yang menyejukan hati.
"Mau aku buatin minum mas?" tanya Naya meresapi tangan suami yang melingkari perutnya.
"Nggak sayang, kamu tidur aja, ngomong-ngomong kenapa Dinda tidur sama kamu?" bisik Samuel.
"Aku tenang kalo tidur meluk kamu atau meluk Dinda, rasanya adem," jawab Naya.
"Nggak mual kan?"
"Nggak mas." Naya menggeleng pelan.
"Kalo kamu pengen sesuatu bilang aja ya sayang, nanti aku cariin."
__ADS_1
"Aku nggak kepengen apa-apa, aku cuman..... " Naya tak melanjutkan perkataannya.
"Cuma apa?" tanya Samuel khawatir.
"Cuma takut kena air," jawab Naya malu.
"Takut mandi maksudnya?" tanya Samuel dengan mengeryitkan kening, heran dengan kebiasaan baru sang istri, dulu.... sebelum Naya hamil, wanita itu adalah wanita yang resik dan rapi, jangankan tak mandi, bahkan tangan saja tak pernah dia biarkan kotor barang sedetikpun.
Dan anggukkan malu Naya membuat Samuel tertawa geli."Ya nggak papa sayang, namanya juga baru ngidam."
"Nggak ngidam mas, cuman malas mandi aja," Naya menggelengkan kepala menolak pendapat suami.
"Iya nggak ngidam, ya udah yuk tidur lagi, dedeknya jangan diajakin begadang." Samuel mengeratkan pelukannya hingga mereka kembali terlelap.
Keesokan harinya, Samuel masih terlelap dengan memeluk Dinda, Naya sudah bangun sejak pagi dan menyiapkan keperluan untuk suami dan anaknya.
"Mass.... bangun." Naya menepuk pipi Samuel lembut.
"Hmmmm." Samuel bukannya bangun justru berbalik badan dan memeluk sang istri dan menempelkan hidungnya pada perut Naya.
"Ih... bangun mas, udah siang lho," tegur Naya lembut.
"Jam berapa emang?" tanya Samuel masih memejamkan matanya.
"Hampir jam tujuh."
Dengan malas Samuel membuka matanya, menatap sang istri yang telah berdandan cantik meski hanya mengenakan baju rumah.
"Kok udah wangi?" tanya Samuel pelan.
"Maksain mandi habis sejak kemarin nggak mandi, badanku gerah."
"Nggak usah dipaksain kalo memang lagi nggak pengen mandi."
"Ya nggak gitu juga mas."
"Kalo ngidamnya begitu ya nggak papa Nay."
"Aku nggak ngidam jorok ya mas!" pekik Naya tak terima membuat Samuel tertawa lalu bangkit dari tempat tidur dan berlalu menuju ke kamar mandi.
"Huh sebel, aku kan nggak ngidam." gerutu Naya kesal.
__ADS_1