Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 38 : Saatnya menikmati hasil dari menikung


__ADS_3

Radit menatap wanita yang terbaring di sampingnya dengan tubuh polos itu dengan mata mendelik.


"Maksudnya gimana?" tanya Radit meminta kejelasan dari kalimat yang baru saja terlontar dari bibir sang wanita.


"Iya, kan kita udah berhubungan lama, biar kita bebas apa nggak sebaiknya kita membeli apartemen Dit, aku takut aja kalo yang punya apartemen ini ngusir aku karena dipakai untuk beginian sama kita." Sekali lagi Nindya mengulang perkataannya sambil mengelus dada Radit dengan mesra.


Radit terdiam mencerna setiap kata yang terucap itu dengan rasa bingung, hubungan mereka belum seserius itu, bahkan sampai kini Radit masih mengharapkan Naya kembali kepadanya.


Mengingat sampai sekarang Radit belum menerima panggilan sidang itu berarti Naya belum melaksanakan ancamannya untuk mengajukan gugatan cerai terhadapnya.


Apa tidak berlebihan kalau ia membelikan Nindya apartemen, sementara status mereka hanya pasangan kumpul ke**?


"Kenapa? Keberatan?" tanya Nindya ketus.


"Bukan keberatan Nin, hanya.... " Kalimat Radit menggantung karena bibir julid Nindya langsung menginterupsi kalimatnya.


"Iya ngerti, gue cuman budak se** lo, jadi nggak pantes aja dapetin penghargaan dari lo segede itu."


Dengan perasaan marah, Nindya bangkit lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa pertempuran mereka pagi ini, cckk padahal Radit sekarang lebih banyak menginap bersama daripada pulang ke rumah.


Radit mengacak rambut frustasi, usahanya lagi mengalami penurunan penjualan, hingga untuk mengeluarkan dana sebesar itu pasti akan menambah kesulitan Radit.


Tapi melihat Nindya ngambek, tak urung membuat Radit ketar-ketir juga, selama ini yang bisa memuaskan dirinya hanya Nindya, Naya bahkan Wuri tidak ada apa-apa nya dengan wanita itu.


***


Hari ini setelah beberapa hari menimbang dan memikirkan permintaan Nindya, Radit akhirnya memenuhi permintaan Nindya, karena apa yang diucapkan wanita itu ada benarnya juga.


"Kita ambil yang dua kamar aja ya Nin, dananya nggak cukup kalo ambil yang tiga kamar." Radit mencoba membujuk Nindya agar mau menurunkan standar apartemen yang diinginkannya.


Nindya mengerucut, ingin menawar tapi dirinya juga tahu diri bahwa harga apartemen yang ia mau itu berada di tengah kota yang harganya tidak kaleng-kaleng, dan akhirnya Nindya mengangguk menyetujui usulan Radit.

__ADS_1


"Hmm..... Dit... "


"Iya."


"Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, kepemilikan apartemen ini atas nama aku aja ya " pinta Nindya manja.


Radit menoleh cepat, menatap Nindya dengan sorot mata penuh tanya, mereka bahkan hanya teman berbagi ranjang dan tidak terikat pernikahan, apakah mereka harus membeli properti dan mengatasnamakan ke Nindya.


"Kamu nggak ingat kalo kamu masih suami sahnya Naya, dan kalo Naya benar-benar akan menggugat cerai kamu, bukankah ini akan jadi harta gono-gini nantinya?"


Radit termenung meresapi setiap perkataan Nindya, dia memang tak berniat menceraikan Naya, tapi Naya memiliki bukti perselingkuhannya hingga tak menutup kemungkinan apabila Naya benar-benar mengajukan gugatan cerai, pasti keinginan Naya akan mudah dikabulkan oleh hakim.


"Kalo kamu nggak percaya sama aku, kita nikah siri aja Dit, biar kamu yakin kalo aku tak akan menguasai ini sendirian, kamu tahu sebesar apa aku mencintai kamu Dit." Nindya mengusap punggung tangan Radit dengan lembut mencoba membujuk pria itu dengan rayuan mautnya.


Radit kehabisan kata-kata, rasanya mustahil dia menikahi Nindya sementara dirinya masih sah menjadi suami Naya, tapi Radit juga tak ingin selalu terjerumus dalam kubangan dosa seperti ini, kalau jalan satu-satunya dia harus menikahi Nindya secara siri ya apa boleh buat kan.


Setelah membayar pembelian apartemen tersebut, Radit memutuskan untuk mengunjungi Rania kakak pertamanya.


Radit sampai di depan ruang kakaknya, mengetuk pelan dan ketika diijinkan masuk Radit langsung melangkah memasuki ruangan.


"Tumben kesini Dit?" tanya Rania beranjak dari kursi kerjanya dan beranjak ke sofa biasa untuk menerima tamu.


"Suntuk mbak, bapak gimana mbak?"


"Sehat sih, kamu kenapa nggak pernah jengukin bapak?"


"Belum ada waktu mbak." Radit bergerak gelisah, karena kalau sudah membicarakan bapak pasti ujung-ujungnya tak jauh dari Naya.


Bapak yang sedih, bapak yang kecewa, bapak yang marah karena dirinya mengkhianati Naya yang notabene anak dari teman baiknya.


Padahal Radit kan tidak pernah ingin menceraikan Naya, seharusnya istrinya itu sadar kalau dia tidak bisa memuaskan dirinya wajar kalau dia masih mencari kepuasan dengan orang lain.

__ADS_1


"Kamu kenapa kesini? Usahamu lancar kan?" tanya Rania menelisik perubahan raut wajah Radit, bukan perkara sulit buat Rania mencari informasi keadaan perusahaan sang adik, ingat ya dulu kan Rania pucuk pimpinan di perusahaan itu sebelum usaha milik bapaknya dibagi-bagi.


"Baik sih mbak meski ada penurunan penjualan."


Rania mengeryitkan kening, harusnya dealer yang dikelola Radit itu dealer yang memiliki pangsa pasar terbaik lho, karena kebanyakan orang Indonesia kan pengguna fanatik merk tersebut.


"Kamu punya istri pinter nggak dimanfaatin kepinterannya sih," gerutu Rania.


"Udahlah mbak, nggak usah ungkit-ungkit itu terus."


"Bener kan? Buktinya toko rotinya Reza mengalami peningkatan pesat sejak Naya turun langsung disana."


"Ash, udahlah mbak, aku kesini mau membicarakan yang lain."


"Apa? Jangan bilang kamu mau menikahi selingkuhanmu itu Dit, aku nggak setuju!" tebak Rania tepat sasaran.


Radit menatap Rania Nanar, kalau kakak tertuanya yang lembut dan bijaksana saja sudah menolak rencananya apalagi bapak, padahal Radit kesini untuk meminta bantuan untuk membujuk bapaknya.


Radit hanya akan menikahi Nindya secara siri, karena bagaimanapun ia tak akan menceraikan Naya, meski harus berjuang sedemikian rupa.


Ya Radit akan tetap egois mempertahankan miliknya itu dengan cara apapun dan bagaimanapun, tak peduli penolakan Naya.


"Aku ingin menikahi dia biar nggak terus berkubang dalam dosa mbak," ucap Radit dengan suara datar.


"Bener yang dikatakan Raisa ya Dit, kamu cowok to*** yang membuang permata dan memungut batu gamping yang nggak ada harganya, aku cuman mau ngingetin, ati-ati kamu zolim sama istrimu yang anak yatim." Nasihat Raina akhirnya, karena mau sekeras apapun dia menasehati Radit, adiknya itu akan tetap melakukan apapun yang ia mau.


"Kesini mau minta persetujuan malah dikhotbahin!" ketus Radit kesal.


"Terserah kamu aja Dit, yang penting aku sudah ingetin kamu, if someday kamu kenapa-kenapa ya tanggung sendiri ya." ucap Rania kembali ke meja kerjanya melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


Kesal dengan tanggapan sang kakak, tanpa berpamitan, Radit bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Apapun dan bagaimana tanggapan keluarganya rasanya terlalu berani kalau Radit melanggar pendapat mereka, alhasil saat ini Radit membiarkan hubungannya dengan Nindya sebatas begini saja.


__ADS_2