Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 49 : Ternyata masih bisa berguna


__ADS_3

Toko roti Kanaya Bakery cabang Semarang sudah mulai beroperasi, Naya sempat terkagum-kagum dengan penampakan toko roti itu yang bahkan lebih wow dari dua cabang terdahulunya.


Berlokasi di dekat kampus dan juga rumah sakit, membuat toko roti ini langsung diminati oleh pelanggan, apalagi promosi yang dipersiapkan adalah tiga hari free untuk dua buah roti.


Agaknya Ardian mengeluarkan dana tak sedikit untuk membuka cabang ini terbukti semuanya perfect di mata Naya yang seorang pembisnis.


Pintu terkuak, seorang pria dengan penampilan dewasa memasuki tempat tersebut.


"Selamat siang mas, selamat datang di Kanaya bakery," sapa Naya sopan.


"Selamat siang, um... mbak kalo saya besok mau pesan tiga macam roti masing-masing lima puluh buah apakah bisa?" tanya pria itu sopan.


"Tentu mas, mau diambil jam berapa ya?" tanya Naya.


"Sekitar jam sepuluh pagi, apakah bisa?" tanya pria itu masih dengan nada sopan.


"Bisa mas, saya catat dulu pesanannya ya, ini mau di box masing-masing atau jadi satu aja?"


"Kalo bisa di box masing-masing mbak, biar nanti nggak rebutan."


Lalu Naya mencatat nama si pemesan yang ternyata bernama Samuel itu dengan cermat.


Dan pria bernama Samuel itu menjadi pelanggan tetap di toko roti tersebut sejak saat itu.

__ADS_1


Mereka jadi teman ngobrol yang asyik saat Samuel datang ke toko itu sekedar sarapan atau memesan roti.


Dari perkenalkan tersebut Naya tahu bahwa Samuel adalah seorang dokter di rumah sakit yang letaknya berada di samping toko roti mereka.


"Sarapan dengan roti terus ama nggak menganggu kesehatan sih mas?" tegur Naya ketika sampai di toko tersebut dan melihat Samuel sudah duduk disana sambil menikmati teh dan roti.


"Nyari yang gampang Nay." Senyum dokter Samuel yang adem membuat Naya jadi semangat memulai hari.


"Pagi-pagi udah disini apa nggak praktek mas?"


"Ada nanti siang, ini saya mau ke panti dulu, ada salah satu anak yang sakit."


"Jadi mas Samuel ini dokter pribadi mereka dan donatur tetap?" Samuel hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Naya.


"Wah mas hebat lho," puji Naya tulus.


'Orang bermanfaat? Apakah aku juga bisa?' batin Naya sendu.


"Kapan-kapan kalo kesana lagi aku titip sesuatu buat anak-anak ya mas."


"Kenapa kamu nggak ikut aja Nay, nggak jauh kok tempatnya."


Naya mengerjapkan bingung menerima ajakan seseorang yang baru beberapa bulan ia kenal di sini.

__ADS_1


"Eh maksud saya...." Suara tercekat Samuel hanya bisa menggantung.


"Iya nanti kapan-kapan ya mas," potong Naya cepat.


Dan pembicaraan keduanya berakhir karena setelahnya banyak pembeli yang memasuki toko tersebut, juga Samuel yang undur diri dari sana.


Perjalanan waktu yang menguras banyak energinya membuat Naya semakin matang dalam bertindak dan berfikir.


Disini sekarang ia berada, di sebuah panti asuhan bersama bocah-bocah lucu yang bergerak bahagia tanpa tahu arti sebuah kepedihan.


"Selamat siang bu Naya, selamat datang di panti kamu," seorang wanita sepuh yang dipanggil bu Yul menyambut Naya penuh kasih.


"Selamat siang bu Yul, terima kasih banyak telah memberi kesempatan pada saya untuk melihat dan bermain bersama anak-anak disini, saya bahagia ternyata hidup saya masih bisa berguna untuk mereka." Setetes airmata menitik di pipi putih Naya.


Betapa bahagianya Naya melihat anak-anak itu membuka kado yang ia bawa dan berteriak kegirangan sambil memeluk tubuhnya.


"Setiap perjalanan hidup kita pasti ada rencana Tuhan didalamnya nak, nggak perlu kita tangisi apalagi sesali, kamu lihat anak-anak itu? Mereka bahkan sudah terbuang ketika mereka bahkan tak mengetahui kesalahan mereka," petuah bijak bunda Yul menyadarkan Naya tentang sebuah kebahagiaan yang bisa kita raih tanpa melihat kesakitan yang telah menimpa kita.


"Saya orang yang kurang bersyukur bun, semua yang terjadi dalam hidup saya seolah-olah saya menyalahkan Tuhan, dan hati saya penuh dengan dendam untuk membalas semua kesakitan ini." Naya menerawang mengingat semua kejadian beruntun yang menimpa dirinya.


Bunda Yul menepuk lembut tangan Naya, memberi kekuatan kepada jiwa yang rapuh itu.


"Bangkitlah nak, lepas yang perlu kamu lepas biar kamu bisa melanjutkan perjalananmu dengan ringan."

__ADS_1


"Terimakasih bunda telah memberi saya nasihat dan kekuatan untuk saya mengambil keputusan terbaik buat hidup saya."


Bunda Yul hanya tersenyum melihat wajah ayu itu mengingatkan dirinya akan masa mudanya dulu, meskipun Naya tak secara gamblang apa yang telah Naya alami, tapi bunda Yul tahu bahwa luka yang didapat Naya


__ADS_2