Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 27 : You and Me.... end?


__ADS_3

Suasana duka menyelimuti keluarga besar Efendi karena berpulangnya istri, ibu sekaligus nenek untuk keluarga tersebut.


Naya berada di dalam rumah memandang ibu mertuanya yang terbujur kaku di hadapannya.


Rasanya dejavu, Naya mengingat kembali kala kedua orang tuanya meninggal setahun yang lalu.


Dan karena kejadian ini mau tak mau Naya harus kembali ke rumah mertua yang telah ia tinggalkan sejak lima bulan yang lalu.


"Minum dulu Nay." Radit menyodorkan segelas air putih yang mau tak mau harus Naya terima.


Bukankah saat ini Naya harus melakonkan perannya sebagai istri sekaligus menantu yang baik bukan?


Masalah rumah tangganya tak perlu menjadi konsumsi publik, cukup keluarga besarnya dan orang-orang terdekatnya yang mengetahui prahara rumah tangganya.


"Kalo capek istirahat di kamar dulu aja," ucap Radit sambil mengelus kepala Naya dengan lembut.


"Nggak usah mas, aku disini saja," tolak Naya lirih.


"Masih nunggu adiknya ibu yang di Kalimantan, kemungkinan masih lama nyampainya, kamu istirahat dulu aja, takut kamu kecapaian Nay," bujuk Radit yang membuat Naya mau tak mau mengikuti kata suami itu.


Sudah dibilang kan kalau Naya harus melakonkan peran sebagai istri yang baik, kalau perdebatannya didengar oleh orang lain, bisa-bisa orang luar akan menggunjingkan mereka.


Dengan enggan Naya berdiri lalu berjalan menuju kamar mereka dulu sebelum Naya hengkang dari rumah besar itu.


Naya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut tak berniat untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur itu.


Radit jongkok di depan Naya lalu mengecup punggung tangan Naya dengan lembut.


Naya berusaha menarik tangannya dari genggaman Radit, tetapi pria itu menahannya, hingga Naya menyerah dan membuang pandangan ke arah lain.


"Aku tahu kamu marah sama aku Nay, tapi please beri kesempatan laki-laki baj**gan ini untuk menebus semua kesalahannya," ucap Radit lirih.

__ADS_1


Naya diam, rasanya beban di pundaknya semakin berat ketika mendengar pesan terakhir ibu mertuanya itu.


Naya hanya ingin egois sedikit saja, tak menghiraukan perasaan orang lain, ia hanya ingin peduli dengan hatinya sendiri, tapi lagi-lagi ia kalah dan mengesampingkan perasaannya.


"Kamu boleh pukul aku, kamu boleh maki aku, bahkan bila perlu kamu boleh bunuh aku, asal kamu puas dan memaafkan aku."


Naya masih setia dengan kebisuannya, jangan menghakimi dirinya yang tidak mudah memaafkan suami yang telah berselingkuh darinya ya, apalagi Naya sampai mengalami keguguran dan kehilangannya janin dalam perutnya.


Karena rasa insecure dan sakit hati yang begitu besar itu hingga tidak mudah untuk dikembalikan seperti semula seperti orang membalik tangan.


Melihat keterdiaman Naya, Radit hanya bisa menghela nafas, lalu mengusap rambut Naya lembut." Aku keluar lagi buat nemenin bapak, kalo kamu perlu apa-apa panggil aku aja," pamit Radit lalu meninggalkan Naya sendiri di dalam kamarnya.


Selepas kepergian Radit, Naya kembali meneteskan airmatanya.


"Rasanya masih sesakit ini ya Tuhan, apa aku harus mengabulkan permohonan terakhir ibu, kalo aku saja belum bisa berdamai dengan diriku sendiri," ucap Naya disela isak tangisnya.


Dalam keheningan dan kesedihan akhirnya Naya tertidur dalam posisi duduk, sampai sebuah tangan membangun dirinya.


"Aku ikut mas," jawab Naya lalu berjalan keluar beriringan dengan Radit, dan memainkan perannya kembali dengan apik, apalagi matanya terlihat lebih bengkak dari sebelumnya, efek karena terus-terusan menangis.


***


Malam ini semua keluarga berkumpul di rumah bapak, ada Reza juga disana mendampingi Naya.


"Naya.... " panggil bapak lembut membuat Naya mendongak dan menatap bapak lembut.


"Maaf kalo kami keterlaluan sama kamu," lanjut bapak lagi.


"Kalo sekiranya permintaan terakhir ibu tidak bisa kamu penuhi, kami ngerti Nay, kelakuan Radit memang tak pantas untuk dimaafkan." Suara bapak yang bergetar membuat siapa saja bisa merasakan ada emosi yang tertahan disana.


Radit yang awalnya menatap bapak dengan tatapan penuh permohonan agar bapak mau membantunya membujuk Naya untuk kembali kepadanya, hanya bisa menelan kekecewaannya dalam diam.

__ADS_1


"Naya belum mengambil keputusan apa-apa pak, ijinkan Naya berfikir dulu dan berbicara berdua dengan mas Radit, karena Naya tak ingin memaksakan diri untuk menerima semuanya ini, doakan Naya pak agar Naya bisa mengambil keputusan terbaik, dan maafin Naya karena masalah rumah tangga Naya membuat ibu sakit... " Ucapan Naya terpotong oleh perkataan ketus Raisa.


"Kenapa kamu minta maaf Nay? Yang harusnya minta maaf kan dia, bisa-bisanya.... "


"Sa, tenangkan dirimu," tegur Nico lembut sambil mengusap punggung tangan Naya.


"Aku nggak bisa tenang mas," dengus Raisa pelan.


"Raisa..... kita tidak boleh mendendam seperti itu nak," tegur bapak pelan.


"Isa cuman kesal pak, ada orang nggak punya otak kaya gitu!" ketus Raisa pelan.


"Aku emang salah mbak, tapi nggak perlu juga kan ngulang-ngulang omongan itu terus, kalo bisa memilih aku juga nggak akan ngelakuin hal itu, aku ini manusia biasa," balas Radit tak kalah kesal dengan kakak keduanya itu.


"Dit... " tegur Rania.


"Kesel mbak, aku disalah-salahin mulu, aku tahu aku salah, aku nyesel, gara-gara aku ibu sakit, Naya keguguran, apa kalian pikir selama ini aku tenang?!" teriak Radit emosi sambil berdiri dan berniat meninggalkan ruangan itu.


"Duduk Dit!" perintah bapak tegas.


Dengan kesal Radit kembali duduk dan menatap Naya dengan perasaan terluka dan bersalah,


"Aku minta maaf Nay atas semua kesalahanku, nggak usah mikirin permintaan terakhir ibu kemarin, kalo kamu memang sudah tak bisa melanjutkan pernikahan kita, aku nggak papa Nay, lupakan juga ucapanku tadi siang, aku benar-benar menyesal."


Rasanya Naya ingin kabur menghadapi situasi yang tak mengenakan seperti ini, maju dan bertahan sementara hatinya belum pulih, atau memilih mundur dan mengakhiri semua sedang ada amanah yang diberikan oleh ibu mertuanya yang bahkan belum ia coba laksanakan.


Melihat betapa hari ini semua mata di tempat itu menatapnya dan Radit secara bergantian membuat Naya seperti berada pada situasi maju mundur kena.


Dan seperti biasa karena ketulusan hatinya dan meredam agar semua bisa berdamai dengan keadaan, akhirnya Naya mengalah.


"Mas Radit, jujur aku belum bisa menerima semua yang terjadi sama kita, tapi demi permintaan terakhir ibu dan demi memberikan mas Radit kesempatan kedua, aku akan mencoba untuk mempertahankan pernikahan kita," ucap Naya dengan lirih.

__ADS_1


"Hanya saja mungkin kamu tak bisa melihat aku seperti dulu mas, aku sudah cacat sekarang dan hatiku tak sempurna lagi, kalo mas Radit mau menerima aku yang seperti ini dan berjanji tidak mengulangi perbuatan itu lagi, mungkin aku akan baik-baik saja," lanjut Naya membuat semua terkejut.


__ADS_2