Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 39 : Terjerumus


__ADS_3

Seperti kesempatan yang lalu, saat ini Naya kembali mendampingi Bagas yang saat ini harus terbang ke Bali.


Terkadang Naya berfikir hubungan apa sebenarnya yang sedang dia jalani bersama Bagas, karena saat ini mereka hanya sebatas teman, bukan friend with benefit juga.


Meski tak bisa Naya pungkiri kalau acapkali Bagas mengutarakan ingin memiliki hubungan lebih jauh dengan Naya tapi benteng yang diberikan wanita itu begitu kokoh.


Ting.... sebuah notifikasi pesan mendarat manis di ponsel Naya, dengan tangan gemetar Naya memperbesar gambar yang dikirim kepadanya tersebut.


Marah, kesal, dendam menyelimuti hati Naya, bagaimana tidak marah, sedang meski dirinya pisah ranjang dengan Radit, dirinya masih menjaga harga diri suaminya tersebut dengan tidak menjalin hubungan dengan pria lain.


Sedang Radit yang sejak awal mengatakan akan berubah agar bisa bersatu kembali dengan dirinya malah sekarang bebas melenggang masuk ke tower sebuah apartemen dengan memeluk perempuan yang menjadi pangkal masalah mereka.


"Jadi nggak?" tanya Bagas melihat Naya hanya terpekur menatap ponsel di tangannya.


"Kenapa hmm? Something happened?" tanya Bagas lagi ketika Naya tak mengindahkan pertanyaannya.


"Gas, sebenarnya sebagai seorang cowok, apakah satu wanita saja dalam kehidupan kalian tidak cukup?" Naya menatap mata Bagas dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalo buat aku sih, selama kita menjalani perjalanan ini dengan orang yang tepat dan kita mau, dengan satu wanita itu cukup buatku."


"Lalu kenapa kamu masih mau mencoba melangkah bersamaku, sementara kamu sudah ada istri?" Naya menatap sengit atas pernyataan Bagas yang menurutnya tak masuk akal itu.


Bagas yang semula duduk di hadapan Naya, kini berjalan dan menempatkan diri disamping sang wanita yang begitu ia puja itu.


"Anggaplah aku salah satu pria brengsek di dunia ini, tapi aku menikahi istriku karena aku ingin melanjutkan hidup setelah mendengar kamu menikah dengan suamimu, aku yang begitu memujamu sejak SMP, yang berjuang memantaskan diri agar suatu saat nanti aku bisa meminangmu untuk menjalani hidup bersamamu sampai maut memisahkan, harus menyerah karena suratan takdir." Bagas menghirup udara sebanyak mungkin untuk meredakan emosi yang menyesakkan dadanya.


"Dan saat ini ketika kamu, wanita yang aku puja sejak dulu, ada di depanku dan siap menyambut tanganku, apa aku harus menolaknya, bahkan ketika saat ini kamu memintaku untuk meninggalkan istriku dan menjadikanmu satu-satunya wanita dihidupku, aku siap sayang."


Naya mengerjapkan matanya bingung segampang itu Bagas mengucapkan kata yang membuatnya melambung sekaligus membuat hatinya teriris.

__ADS_1


"Udah yuk nggak usah mikir aneh-aneh, katanya pengen makan nasi campur dan ke bedugul, takut kesiangan." Bagas menyentil kening Naya melihat wanita itu mengerutkan kening karena berfikir terlalu keras.


Naya memanyunkan bibirnya melihat Bagas telah berdiri dan mengulurkan tangan kepadanya dan Naya tak ada alasan untuk menolak uluran tangan itu.


"Kita ke bu Oka aja ya?" tanya Bagas ketika mereka sudah berada dalam mobil.


"Bukannya jauh kalo dari bu Oka ke Bedugul Gas?" Naya mengernyit kening sambil menghitung jarak antara tabanan ke Bedugul, memerlukan waktu kurang lebih satu jam.


"Nggak papa, cukup kok waktunya lagian itu halal, atau kita cari aja disekitaran Bedugul?"


"Ya udah deh nggak papa, toh yang nyetir kan kamu bukan aku." Naya terkekeh ketika melontarkan kalimat itu.


Bagas mengusap puncak kepala Naya."Banyak ketawa kayak gini ya Nay, aku suka liatnya."


"Dih kalo ketawa mulu ntar dikira gila dong." celetuk Naya santai.


Tak lama mobil mereka sampai ke tempat tujuan, Bagas memarkirkan mobilnya lalu mereka berjalan dengan bergandengan tangan memasuki rumah makan yang telah dipadati oleh para pengunjung.


"Gilak, laku banget yak?" gumam Naya takjub.


"Ya namanya juga salah satu warung nasi campur rekomended. Cari duduk dulu Yang, aku pesen dulu." Bagas berlalu dari hadapan Naya, dan satu kata yang keluar dari bibir Bagas tadi membuat Naya terpaku, dan ada sesuatu yang hangat mulai merayap ke dalam hatinya.


Dengan kesadaran yang mulai menipis dalam logikanya, Naya kembali mengingatkan dirinya kalau Bagas itu suami dan seorang papa, jadi tak pantas ia meraih tangan itu untuk ia genggam.


Mereka tak berlama-lama disana karena tujuan selanjutnya adalah sebuah objek wisata yang letaknya cukup jauh dari sini.


Naya hanya ingin menikmati hari ini dan tak ingin overthinking, kan memang dia hanya menjalani hari-harinya tanpa memikirkan hal yang memusingkan kepalanya, toh dia tak melakukan sesuatu yang tak diperbolehkan alias dia masih membatasi hanya dengan bergandengan tangan saja dengan Bagas.


Malam harinya mereka baru masuk ke villa yang mereka sewa dengan dua kamar tersebut setelah tadi dari Bedugul mereka menyempatkan diri mampir ke Tanah Lot juga.

__ADS_1


"Mandi gih Yang, capek kan? Nanti makan malemnya di kamar aja ya?" Bagas kembali memgelus kepala Naya dengan sayang.


Naya merendam tubuhnya ke dalam bathtub, bayangan foto tadi kembali melintas, agaknya dia tak perlu berpura-pura baik dan berusaha mencari jalan terbaik untuk rumah tangganya.


Naya rasa lebih baik dia ikuti arus dan urung mengajukan gugatan perceraian, karena dengan cara seperti ini mereka juga akan sulit untuk mendapatkan status yang sah bukan, balas dendam yang elegan seperti ini kan.


Setelah dirasa kulitnya mulai mengkerut karena kelamaan berendam dalam bathtub disertai dengan berfikir keras, dengan terpaksa Naya mengakhiri ritual mandinya.


Tepat ketika Naya keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya diketuk oleh Bagas.


"Bentar Gas." Naya segera menggantikan jubah mandi dengan baju santainya lalu keluar dari kamar.


Bagas mengangkat kepala mendengar pintu kamar Naya dibuka. "Aku pesenin spagetti nggak papa kan Nay?"


"It's oke Gas, sebenarnya aku masih kenyang." Naya berjalan dan menghampiri Bagas yang sedang menyiapkan makanan mereka di meja makan.


"Sini Nay." Bagas menepuk kursi di sebelahnya meminta Naya untuk duduk disana.


Naya duduk disana, sambil melirik Bagas yang justru terlihat manly ketika melayani pasangannya seperti itu, membuat dada Naya bergetar karena terharu.


Melihat Naya yang salah tingkah, Bagas hanya bisa mengulum senyum bahagianya.


"Makan jangan diaduk-aduk." Lalu Bagas menikmati menu makan malamnya yang sama dengan Naya.


Akhirnya dalam keheningan mereka menikmati makan malam mereka, hanya bunyi denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar.


Bagas selesai lebih dulu dan membawa piring kotornya ke wastafel, tak lama Naya menyusul.


Lalu adegan romantis itu tercipta begitu saja, setelah mereka mencuci piring, entah siapa yang memulai bibir keduanya saling bertaut, basah dan dalam.

__ADS_1


__ADS_2