
"Ayo nak kita menjemput ayah." Naya menggandeng Dinda ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Saat ini Naya berencana untuk memeriksakan kehamilannya yang sudah menginjak lima bulan itu ke dokter Sarah.
"Au es kim ya un." Suara cadel tersebut terus berceloteh meski mereka telah memasuki taksi online.
"Iya sayang, adeknya dikasih nggak nanti?" tanya Naya sambil mengelus perut yang terlihat membuncit itu.
"Iya Unda." Lalu dengan gerakan lucu Dinda mencium perut Naya dengan sayang.
Pak supir menatap interaksi keduanya sambil tersenyum."Anaknya lucu dan pinter ya bu."
"Iya Pak, dia anugerah terbesar dalam hidup saya dan suami." Naya membalas ucapan supir itu dengan sopan.
Lalu seperti biasa, wanita cantik itu akan meladeni keingintahuan Dinda yang tak pernah selesai itu.
Mobil itu berhenti di lobby rumah sakit, setelah membayar sesuai dengan argo dan mengucapkan terimakasih, Naya menggandeng tangan mungil Dinda menuju ke ruang praktek sang ayah.
Sebenarnya gadis sekecil Dinda tak baik di bawa-bawa ke tempat ini, hanya saja anak cantik itu tak bisa ditinggal oleh bundanya, jadi kemanapun bunda Naya pergi pasti Dinda setia mengikuti.
Agar tidak cranky, Naya telah mempersiapkan mainan dan snack buat Dinda, sesekali Naya ikut bermain boneka-bonekaan bersama Dinda, disini Naya sebagai anak sedang Dinda sebagai ibu.
Beberapa perawat yang mengenai Naya mengangguk sopan untuk menyapanya dan tentu saja Naya membalas tak kalah sopannya.
Di dalam rumah sakit ini, Samuel dan Naya terkenal sebagai pasangan yang baik dan serasi, hingga banyak yang kagum atas hubungan keduanya yang sangat harmonis.
Jam praktek Samuel harusnya telah usai setengah jam yang lalu, tapi sampai saat ini sang suami belum juga keluar dari ruang prakteknya.
Ceklek.....
Pintu di depannya terkuak, Naya sempat terkejut mendapati Nindya keluar dari ruangan praktek Samuel.
__ADS_1
Meski Nindya kurus dan tampak tak terurus tapi Naya masih begitu hapal dengan wanita yang tak tahu malu telah merebut suami pertamanya dulu.
Naya mengulas senyum tipis sekedar menyapa Nindya, baginya masa lalunya telah selesai dengan keluarnya akta putusan cerai itu.
Nindya masih terpaku, hingga sampai Samuel keluar dan menyapa anak istrinya pun Nindya masih shock dengan penglihatannya.
"Maaf ya sayang, kamu nunggu lama ya?" Samuel mengangkat Dinda lalu mencium pipi gembulnya dengan gemas.
"Um.... mas, aku boleh ngobrol sama temanku sebentar?" tanya Naya lembut.
"Lho kamu kenal bu Nindya yang?" Samuel tampak terkejut mendapati sang istri bisa kenal dengan pasien barunya yang sedang menderita penyakit jantung tersebut.
"Iya mas, sebentar aku say hello dulu ya." Naya tersenyum manis, membiarkan Samuel membawa Dinda menuju kantin untuk menemaninya sarapan.
Di taman yang ada di area rumah sakit ini, Naya dan Nindya duduk berdampingan, tak ada satu katapun yang terucap dari bibir keduanya.
"Apa kabar Nin?" Akhirnya Naya menyapa Nindya terlebih dahulu.
"Aku tak sejahat itu untuk berbahagia di atas penderitaan seseorang, meskipun ia dulu pernah menyakiti aku seperti itu." Naya menjawab dengan lembut.
"Munafik! Sok baik padahal dalam hati kamu pasti bertepuk tangan karena melihat sakitku ini kan?" Masih tetap sama, jiwa yang keras dan angkuh itu masih menguasai hati dan pikiran Nindya.
"Ya Tuhan Nin, sampai kapan kamu seangkuh ini? Aku hanya ingin menyapa kamu, menanyakan kabar kamu?" Naya sampai tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun pada Nindya.
Iya Naya pernah marah dan kecewa sama Nindya, tapi Naya menyadari bahwa apa yang terjadi dengan dirinya dulu adalah suratan takdir yang harus ia terima agar ia menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin tawakal.
Dan kalau sampai ia mendapat suami pengganti yang luar biasa seperti Samuel, semata-mata karena Naya tahu Tuhan memberikan hadiah atas keikhlasannya menghadapi ujian kehidupan dulu.
"Dan kenapa kamu tak bersama dengan Radit setelah aku undur dari kehidupan kalian?" tanya Naya sendu.
"Kamu pikir aku mau mendampingi pria yang sudah jatuh miskin itu?!" tanya Nindya dengan nada ketus.
__ADS_1
"Astaga Nin, harta di dunia bisa dicari, kalo kamu sudah dipertahankan sedemikian rupa harusnya kamu mendampingi dia dalam keadaan apapun," nasihat Naya tak ayal membuatnya menatap Nindya dengan kening berkerut, ada perempuan sejahat dan sesadis ini kepada orang yang bahkan telah membuang istri sahnya demi dia, ternyata kadang hidup se menggelikan itu.
"Sudahlah Nay, nggak usah kebanyakan bacot, aku tahu kamu mau bertepuk tangan untuk penderitaanku saat ini kok, dan aku terima terima saja kok, jadi nggak usah kebanyakan drama." Nindya bangkit dan siap meninggalkan Naya yang masih terbengong dengan sikap Nindya.
"Oh iya kalo kamu berharap aku mau minta maaf atas perbuatanku dulu bersama Radit, maaf aku tak sudi melakukannya, salahkan saja cowok itu yang tak tahan melihat cewek ngangkang di depannya." Lalu Nindya meninggalkan Naya yang masih tak percaya dengan semua ucapan sarkastis nya.
"Astaga, ada ya perempuan kayak dia, sudah sakit tapi tak mau tobat." gumam Naya pada diri sendiri.
Ponsel Naya berdering meminta atensinya, Naya mengangkat panggilan telepon dari Samuel.
"__"
"Iya udah kok mas, ini mau ke ruangan dokter Sarah." Naya berjalan meninggalkan taman tersebut dan berjalan menuju ke ruang praktek dokter kandungannya.
Sarah memeriksa kandungan Naya dengan teliti, janin yang sudah berbentuk dengan irama detak jantung yang merdu itu membuat pasangan suami istri itu tersenyum sumringah.
Akhirnya karena tak ada keluhan yang dirasakan Naya, dokter Sarah hanya memberikan vitamin dan juga nasehat agar Naya memberikan asupan gizi yang baik untuk cabang bayinya yang masih di dalam perut.
Setelah urusan mereka di rumah sakit, mereka memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restauran, pas juga kan tadi Dinda minta es krim.
Sampai di restoran sambil menikmati makan siangnya Samuel mulai bertanya tentang sosok Nindya.
"Kenal Nindya dimana?" tanya Samuel lembut.
"Um.... dia..... selingkuhannya Radit," jawab Naya pelan.
"Kamu masih marah sama dia yang?" Seperti biasa Samuel tak akan menghakimi apa yang dirasakan Naya saat ini ketika bertemu dengan seseorang yang begitu jahatnya dulu kepadanya.
Naya menggelengkan kepala pelan."Nggak ada yang tersisa mas, buat apa aku marah? Semua udah aku buang jauh-jauh dalam hidupku, apalagi Tuhan sudah kirimkan imam yang lebih baik untuk aku saat ini, rasanya hatiku tak berhenti untuk mengucap syukur."
Samuel meremas tangan Naya dengan lembut, merasa bersyukur diberikan istri luar biasa seperti Naya dalam hidupnya yang sempat hampa setelah kehilangan istri pertamanya.
__ADS_1