
Pada akhirnya hanya diri kita sendiri yang bisa membuat keputusan apakah kita mau bahagia atau tetap stagnan di tempat yang sama.
Naya bisa melihat raut wajah tanpa beban dari anak-anak panti yang hidup dengan segala keterbatasan mereka.
Mereka tetap bahagia, mereka tetap bisa tersenyum bahkan mereka bisa meraih prestasi setinggi mungkin.
Dari bunda Yul, Naya tahu bahwa dokter Samuel Krisna adalah salah satu anak panti yang dapat mewujudkan semua cita-citanya meski hidup dengan keadaan pas-pasan.
Lalu kenapa dirinya yang cantik, pintar dan dikelilingi orang-orang baik dan peduli kepadanya justru mengasingkan diri dan melarikan diri sejauh ini, seakan dunianya telah runtuh dan berakhir.
"La... nggak papa kan mbak tinggal beberapa hari?" Naya kembali bertanya kepada Starla yang akan menggantikan dirinya untuk beberapa hari ke depan mengurus toko roti ini.
"Sip tenang aja mbak, gini-gini aku masih lincah kok." Starla tersenyum menampakkan gigi gingsulnya yang menawan, Naya menghela nafas lega karena tak enak meninggalkan toko yang sedang ramai kepada Starla sedang kandungan wanita itu sudah cukup besar dan membatasi pergerakannya.
Setelah berpamitan, Naya dengan menggunakan taksi online pergi menuju ke bandara, tak banyak barang yang ia bawa toh di Jakarta dia masih menyimpan banyak baju dan sepatu.
Naya hanya menghabiskan waktu satu jam sembilan menit untuk sampai ke Jakarta dengan menggunakan transportasi udara, dan sesampainya di bandara Soekarno-Hatta sudah terlihat Reza di pintu keluar yang datang untuk menjemputnya.
"Aman mbak?" Reza memeluk tubuh Naya yang terlihat lebih berisi dibandingkan beberapa waktu lalu ketika mereka berpisah.
Naya mengangguk, lalu keduanya jalan beriringan menuju ke mobil Reza.
"Betah mbak disana?" Reza melirik Naya sambil mengarahkan mobilnya keluar dari bandara menuju ke rumah mereka.
"Betah Za, betah banget malah, aku pengen stay disana selamanya," jawab Naya dengan binar yang terlihat berbeda.
"How come? Apa ada yang menarik disana hingga mbak Naya betah?" tanya Reza sedikit terkejut.
"Banyak hal menarik yang aku temukan disana, rasanya aku malas menginjakkan kaki kembali ke Jakarta."
"Apa itu?" tanya Reza penuh minat.
__ADS_1
"Anak-anak panti," jawab Naya dengan senyum mengembang mengingat anak-anak yang mulai nyaman dengan dirinya meski ia baru dua kali menginjakan kaki disana.
Reza terpekur, rasanya dia menemukan kakaknya telah kembali seperti dulu, murah senyum dengan mata yang berbinar kalau sedang berbicara sesuatu yang menarik hatinya.
"Aku ikut seneng mbak, makanya sekarang mbak Naya mau menyelesaikan masalah rumah tangga mbak?" tanya Reza hati-hati.
"Iya, karena aku tak bisa mengharapkan orang lain untuk bisa ngertiin aku, memperjuangkan aku Za, aku yang harus berjuang untuk diriku sendiri."
"Sepakat mbak, aku seneng liat mbakku telah kembali lagi."
"Lalu setelah urusan mbak Naya dengan mas Radit selesai, mbak akan melanjutkan hubungan dengan mas Bagas?" Reza melirik gelisah ke arah Naya yang tampak tenang duduk disampingnya.
Sejak kepergian Naya, Bagas beberapa kali datang ke toko rotinya dan menanyakan keberadaan Naya kepadanya.
"Aku nggak mikir ke arah sana Za, lagian dia punya keluarga, jahat rasanya kalo aku merebut Bagas dari mereka, lagian aku juga tidak ada rasa ke dia, mungkin selama ini aku anggap dia sebagai pelarianku," gumam Naya lirih.
Reza mengelus rambut Naya lembut. "Sabar mbak, selesaiin urusan mbak Naya, setelah itu pasti Tuhan akan menuntun mbak ketemu orang yang tepat, yang bisa mencintai mbak dengan tulus."
***
Beberapa hari kemudian, Naya mendatangi pengadilan agama untuk mendaftarkan gugatan perceraiannya.
Langkahnya mantap dan ringan tak ada lagi keraguan seperti sebelumnya.
Dan tak lama ia memasukan gugatan tersebut, panggilan pertama untuk mediasi pun datang.
Dengan ditemani Reza ia melangkah mantap memasuki gedung tersebut, menunggu sebentar sampai sebuah sosok datang dengan tongkat sebagai penyangga dirinya berjalan dengan di dampingi oleh Rania kakak tertuanya.
"Mbak Rania," seru Naya lalu bangkit dan menyalami kakak iparnya itu.
Rania menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya dan menepuk punggung itu dengan lembut.
__ADS_1
"Mas.... " sapa Naya tercekat mendapati Radit duduk tak jauh darinya dengan tongkat yang membantu dirinya agar tetap tegak.
"Ney.... " Radit mengulurkan tangan kirinya untuk menjabat tangan Naya.
Reza pun menyapa Rania dan Radit dengan sopan, dalam hati bertanya tentang kondisi pria yang saat ini masih dah berstatus sebagai kakak iparnya itu.
"Boyeh kica ngobong sebengkang Ney," pinta Radit dengan kalimat yang tak dimengerti Naya.
"Dia mau bicara sebentar sama kamu Nay." Akhirnya Rania yang menjelaskan kalimat Radit tersebut.
Naya menghela nafas dalam, jujur dalam dada sana merasa miris melihat penampakan Radit yang kurus dan tak terurus itu. terlihat Radit sedang sakit saat ini.
"Mau bicara apa mas?" tanya Naya sabar.
"Ak yu au inta a ap, kayo se yama inyi ak yu theyah ja hak ama am yu," ucap Radit dengan suara terbata membuat hati Naya teriris, lelaki gagah yang dulu dia nikahi berubah semenggenaskan ini, apakah hukum tabur tuai yang Naya kira tak pernah ada dalam kamus hidupnya itu sedang Tuhan perlihatkan sekarang dengan membalas perbuatan orang yang telah jahat kepadanya.
"Dia minta maaf telah jahat sama kamu Nay." Lagi-lagi Rania menterjemahkan ucapan Radit untuk Naya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa mas Radit bisa seperti ini mbak?" tanya Naya bingung.
"Panjang ceritanya Nay, aku bahkan malu untuk bercerita sama kamu, bahkan Raisa pun sekarang nggak mau ketemu kami, karena aku merawat Radit." Suara Rania terdengar tertahan.
"Aku udah ikhlasin semua mas dan aku juga udah memaafkan kamu, bahwasanya kita hanya manusia yang tak bisa melawan takdir," ucap Naya dengan senyum manis.
"Apakah nggak ada kesempatan untuk Radit Nay?" Rania bertanya penuh harap, dia hanya mewakili sang adik yang terlihat kesulitan untuk menyampaikan permohonannya.
"Um....maaf mbak tapi bukannya mbak Naya sudah memberi kesempatan mas Radit ya kemarin." Reza menginterupsi untuk mewakili Naya yang tampak kesusahan untuk menjawab pertanyaan Rania.
Radit menghela nafas panjang, melihat istri yang mungkin sebentar lagi agak jadi mantan istri itu dengan pandangan berkabut, rasanya ingin menangis tapi penyesalannya kini tak ada gunanya lagi, Naya pasti tak akan mau merawat dirinya yang sedang sakit, padahal dulu ketika ia sehat dan masih gagah, Radit justru menyia-nyiakan Naya sebegitunya.
Manusia hanya bisa menyesali kesalahannya ketika segala sesuatu sudah tak berguna, ibarat pepatah nasi telah menjadi bubur, penyesalan selalu datang terlambat.
__ADS_1