Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 52 : Be gentle, terima akibat dari semua kesalahanmu.


__ADS_3

Beberapa bulan sebelum perceraian Naya dan Radit.


"Dit..... healing yuk," rengek Nindya.


"Please deh Nin, tahan keinginan kamu buat foya-foya terus, kondisi usahaku lagi nggak baik aja." Radit berkata lembut mencoba menahan keinginan istri keduanya agar tak lagi menghamburkan uang.


"Yah..... kalah dong ama Nella yang minggu lalu ke Jepang sama keluarga besarnya." Nindya cemberut.


"Kan bulan lalu kita udah ke Bali dan Lombok.... "


"Aku pengennya ke luar negeri bukan yang di dalam negeri!" Nindya mengerucutkan bibir.


"Kemarin aja aku udah minjem ke mbak Rania buat nalangin tunggakan pembayaran ke supplier." Radit mencoba mengungkapkan keadaan keuangan perusahaannya.


"Ya kenapa kamu bisa salah perhitungan gitu sih Dit, masak mobil sepuluh kok bisa dibawa kabur orang semua, itu namanya kamu tuh be**!" Nindya dengan enteng mencemooh kemalangan Radit.


"Namanya juga musibah Nin, bisa nggak sih kamu jangan mojokin aku terus."


"Ya nggak bisalah! Gara-gara kamu nggak becus kan jadi jatah bulananku berkurang!" Nindya siap menenteng tas keluar rumah.


"Itu lagi itu lagi yang kamu bahas!"


"Aku pergi dulu," pamit Nindya.


"Mau kemana malem-malem?" tegur Radit.


"Mau ke club, pusing mikirin kamu." Nindya keluar apartemen dan meninggalkan Radit yang belakangan hari dianggapnya kurang asyik karena tak mau diajak hura-hura.

__ADS_1


Radit mengacak rambutnya kasar, kalau sudah begini apa yang bisa ia lakukan, rasanya penyesalannya hanyalah sesuatu yang tak dapat mengubah apapun.


Jangankan mengajak Naya kembali, bertemu saja rasanya tak mungkin, karena sudah beberapa waktu ia tak pernah melihat Naya bekerja di toko roti milik adiknya.


***


"Pak Radit, kenapa bisa seperti ini sih pak? Tunggakan bapak kepada kami sudah hampir lima milyar lho pak, kapan itu akan diselesaikan pembayarannya?" tanya pak Dodi selaku pemilik pabrik mobil yang memproduksi mobil untuk dealer Radit.


"Saya berjanji akan melunasi secepatnya," seperti biasa Radit hanya bisa berjanji tanpa tahu kapan ia bisa melunasi.


Salahnya sendiri yang terlalu gegabah menjalin kerjasama dengan pihak ketiga tanpa melihat tingkat resiko yang bakal ia alami.


Dulu di otak Radit, selama bisa mendapat untung besar maka dia akan menyetujui apapun persyaratan kerjasama yang ditawarkan oleh pihak ketiga.


"Saya kasih waktu seminggu ya pak untuk melunasi semuanya, kalo pak Radit tak bisa melunasinya maaf mungkin kami akan somasi bapak lewat jalur hukum." Ancaman pak Dodi membuat Radit bergetar.


Tapi satu kendala sudah menghadangnya kalau ingin menjual apartemen tersebut, karena surat kepemilikannya atas nama Nindya meskipun dirinya yang membelinya.


"Ash sial!" Maki Radit tertahan.


Dengan langkah gontai Radit akhirnya mendatangi kantor Raisa, dia tak mungkin meminta bantuan Rania lagi setelah sebelumnya ia meminjam uang kepada kakak pertamanya itu dan sampai saat ini belum ia kembalikan.


"Bu Raisa ada mbak?" tanya Radit kepada resepsionis yang bertugas di belakang meja tinggi tersebut.


"Maaf apakah bapak sudah ada janji?" tanya orang itu yang pasti tak mengenal Radit sebagai adik Raisa karena disamping Radit tak pernah bertamu, juga karena saat ini Raisa berkantor di tempat usaha yang baru dirintisnya.


"Bilang saja Radit adiknya," jawab Radit sopan.

__ADS_1


Resepsionis tersebut menghubungi seseorang yang Radit tebak adalah sekretaris sang kakak.


"Silakan pak, lantai lima ya." Resepsionis mengarahkan Radit dengan sopan menuju ke lift.


Dengan langkah ragu antara maju terus atau mundur saja, Radit akhirnya sampai di hadapan sekretaris kakaknya.


Sempat melihat interior ruangan Raisa yang bisa dibilang cukup wow itu.


"Hai Dit," sapa Raisa mempersilakan sang adik untuk duduk di sofa sambil menunggu Raisa menyelesaikan tanda tangannya pada dokumen.


Setelah setumpuk file itu selesai ditanda tangan dan dibawa keluar oleh sekretaris Raisa, wanita itupun menghampiri Radit yang sedang menikmati secangkir kopi yang disajikan oleh OB belum lama tadi.


"Gimana kabar kamu Dit?" tanya Raisa melihat raut mendung di wajah sang adik.


"Ya beginilah mbak," jawab Radit pelan.


"Menyesal hum?" Seperti biasa Raisa bertanya tanpa sungkan akan melukai lawan bicaranya.


"Aku kesini nggak buat diceramahi mbak." Radit melengos karena sebal selalu saja pernikahan dengan Naya yang bermasalah karena kesalahannya diulang-ulang terus setiap ketemu Raisa.


Raisa tak mempedulikan kalimat protes dari sang adik dan melanjutkan cercaannya."Kalo aku sih dibanding hidup miskin dengan seseorang yang memuaskan aku di ranjang, aku lebih memilih bertahan sama seseorang yang biasa aja tapi aku tetap bisa kaya, apalagi orang itu pasangan sahku."


"Aku tahu aku salah mbak, mau di bolak-balik, dibanting-banting aku memang salah, jadi please nggak usah ungkit itu lagi."


"Padahal ya punya bini cantik, pinter, dari keluarga terhormat kok milih pela*** yang bibit, bobot, bebetnya nggak jelas gitu. Coba kamu hire istrimu buat ngebangun usahamu, mungkin dealer aku dan mbak Rania nggak ada apa-apa nya." Agaknya Raisa belum puas mengomel karena selama ini tak ada kesempatan bertemu Radit.


Karena malas mendengar cercaan kakaknya, Radit memilih berdiri dan siap meninggalkan ruangan kerja kakaknya.

__ADS_1


"Maaf aku nggak bisa bantu kamu meskipun aku bisa saja menggelontorkan uang untuk menutupi hutang kamu sebesar sepuluh milyar itu, be gentle, terima akibat dari semua kesalahanmu."


__ADS_2