Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 51 : Bahagia itu sederhana


__ADS_3

Dan pada akhirnya Naya tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengurus perceraiannya dengan Radit.


Setelah mediasi waktu itu, dengan terbata-bata Radit meminta kepada majelis hakim untuk mengabulkan semua permohonan Naya untuk berpisah darinya.


Radit sadar terlalu banyak luka yang ia torehkan untuk istrinya itu, dan ia tak ingin menahan langkah Naya untuk menjemput kebahagiaannya meski tanpa dirinya.


Terlalu egois bila Radit tetap mempertahankan pernikahan dan ingin memperbaiknya saat segala sesuatunya sudah teramat sangat terlambat.


Radit tahu meskipun Naya memiliki hati seperti malaikat, tetapi perempuan itu tentu tak akan sudi menerima dirinya lagi dalam keadaan terpuruk dan sakit seperti ini, meskipun ada begitu banyak pahala yang dijanjikan Tuhan apabila ia memaafkan dan menerima Radit kembali.


Setelah putusan pengadilan, kini mereka tak lagi memiliki ikatan apapun, dan Radit mengikhlaskan Naya menjalani status barunya walaupun masih ada rasa cinta yang tersisa..... ya selalu ada Naya di sudut hati Radit, yang sayangnya harus tergerus oleh ketamakan dan keserakahannya sebagai laki-laki.


"Makasih ya mas, semoga mas Radit segera pulih dan sehat selalu ya."


Bahkan meski telah disakiti, Naya tetap mendoakannya dengan tulus, dan airmata Radit menetes melepaskan seorang bidadari yang tak bisa ia gapai lagi.


Naya mencium tangan bapak dan memeluk Rania dengan lembut, mereka sengaja datang untuk mendampingi Radit mengucapkan ikrar talak untuk Naya.


"Bapak dan mbak Rania sehat-sehat ya, salam buat mbak Raisa."


"Kamu juga Nay, meski kamu bukan istri Radit, bapak tetap menganggapmu anak bapak, maafkan bapak yang tak bisa melindungi kamu seperti amanah ayah kamu dulu."


Lalu setelah bertangis-tangisan, Naya dengan didampingi Reza pergi meninggalkan tempat itu dengan diiringi tatapan sendu dari keluarga Radit.


***


Kembali ke Semarang dengan status baru dan semangat baru, Naya merasa seperti terlahir kembali, semua beban telah terlepas dari pundaknya.


"Selamat pagi Naya." Sebuah sapaan lembut menyapa indera pendengaran Naya.


"Wah dokter Samuel Krisna, selamat pagi dokter." Balasan manis Naya membuat dokter yang umurnya beberapa tahun diatasnya itu tersenyum lebar.


"Komplit amat Nay manggilnya." Samuel duduk di tempat biasanya dan memesan roti dan teh untuk sarapan paginya.


"Gimana kabar anak-anak dok?" tanya Naya menghentikan sejenak kegiatan untuk menata aneka roti di atas etalase.


"Baik Nay, aku besok mau kesana, mau ikut?" Ajakan dokter Samuel membuat mata Naya berbinar, sungguh ia begitu merindukan anak-anak itu, rasanya seperti melihat malaikat-malaikat kecil yang membuat hidupnya menjadi sebaik sekarang.


"Jam berapa dokter mau pergi? Aku harus atur shift dengan yang lain dulu."


"Nyesuain jadwal kamu aja Nay, kebetulan besok aku off."

__ADS_1


"Oke, siang aja ya dok."


***


Hari ini Naya mempersiapkan banyak hadiah untuk anak-anak itu disamping beberapa camilan yang dia beli untuk stock di sana.


Berdua dengan Samuel, Naya menuju panti asuhan yang ada di pinggiran kota Semarang ini.


"Aku melihat kamu lebih ceria belakangan ini Nay?" Samuel memulai perbincangannya dengan Naya sambil mengemudikan mobilnya.


"Thanks God dok, anak-anak itu yang mengajari aku apa arti bahagia yang sesungguhnya," jawab Naya lembut.


Samuel mengangguk setuju."Betul, mereka laksana penyemangat hidup dikala kita sedang lelah atau ingin menyerah."


"Benar dok, rasanya terlalu naif kita yang sebesar dan sedewasa ini justru kalah sama anak sekecil mereka."


"Tapi Nay, maaf kalo aku terlalu ingin tahu, apa kamu nggak ada yang marah kalo pergi bersama laki-laki lain seperti ini?" tanya Samuel hati-hati.


Naya terdiam, rasanya dia terlalu malu mengungkapkan status dirinya sebagai janda yang bagi sebagian orang masih dipandang sebagai stigma buruk di negeri ini.


"Aku single kok mas eh dok," jawab Naya akhirnya.


"Sudah seneng dipanggil mas kok ganti lagi dok sih Nay." Kekeh Samuel sambil melirik Naya.


"Nggak papa Nay aku malah seneng kamu panggil aku mas daripada dokter, lebih santai dan nggak kaku"


Naya tersenyum."Oke kalo gitu, betewe mas sendiri masih single apa sudah double mas?"


"Seharusnya kamu bisa nebak Nay, kalo aku double masak aku sarapan di tempat kamu terus setiap hari." Samuel terbahak.


"Istriku meninggal beberapa tahun lalu karena sakit, rasanya aku seperti dokter yang tak berguna yang tidak bisa menyelamatkan istriku sendiri." Samuel menceritakan hidupnya tanpa diminta, dan suaranya berubah sendu.


"Em maaf mas, aku jadi bikin mas sedih ya."


"Nggak papa, aku hanya terharu jika mengingat dia." Samuel menjeda kalimatnya sejenak.


"Dia satu-satunya perempuan yang tak memandang statusku yang yatim piatu dan berasal dari panti, padahal dia berasal dari keluarga terpandang dan terbilang mapan."


Entah mengapa Samuel bisa mengeluarkan unek-unek nya kepada Naya yang baru ia kenal beberapa bulan, mungkin dalam diri Naya, Samuel bisa melihat kebaikan dan ketulusan, seperti dulu ia melihat Gayatri sang istri.


"Mas beruntung dapat istri sebaik itu." puji Naya tulus.

__ADS_1


"Sayang kami berjodoh sebentar karena ternyata Tuhan lebih sayang dia."


"Sabar mas, suatu saat Tuhan akan menggantinya dengan seseorang yang tak kalah baik dari istri mas yang sudah berpulang."


"Amin Nay, semoga kamu juga ya."


"Lebih baik hidup kita dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna mas, jodoh kita adalah cerminan kita kok." ucap Naya


"Aku merasa bahwa jodoh, maut dan rejeki itu hanya titipan kok, kalo Tuhan hendak mengambil pasti akan diambil, bila Tuhan berkendak memberi dengan cara yang ajaib pasti kita akan diberiNya."


"Bijak sekali kamu Nay." puji Samuel tulus.


"Perjalanan hidup yang mengajarkan aku seperti ini, asal kita ikhlas dan bersyukur semua pasti akan lapang kita jalaninya."


"Betewe kamu single itu belum nikah atau.... divorce?"


"Aku bercerai mas, biasa ada yang tertarik dengan suamiku."


"Kamu diselingkuhin Nay?" Ada nada terkejut keluar dari bibir Samuel.


"Yap.... dan beberapa bulan belakangan ini aku mondar mandir ke Jakarta untuk mengurus itu, at least aku sadar mas bahwa apa yang tak perlu aku pertahanan lebih baik aku lepaskan, biar langkah ku lebih ringan dan lapang."


"Aku ikut prihatin Nay, seorang perempuan sebaik dan secantik kamu masih dibandingkan dengan perempuan lain."


"No mas.... aku juga pernah salah, pernah hampir merusak rumah tangga orang lain, hingga aku sadar apa yang aku rasakan hanya sebuah pelarian tanpa rasa."


Samuel tersentak dan menatap Naya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa mas? Kaget liat aku yang seperti itu?" Naya terkekeh pelan.


"Intinya don't judge people by cover mas, aku juga perempuan biasa yang tak luput dari kesalahan."


Mobil Samuel berhenti di halaman panti dan semua anak menyinggung mereka.


"Ayah Samuel."


"Bunda Naya."


Mereka berebut memeluk Naya dan Samuel bergantian, memeluk malaikat tanpa sayap yang begitu mencintai mereka.


"Awas sayang, jangan berebut." Naya mengingatkan mereka dengan gemas karena kelucuan bocah-bocah itu.

__ADS_1


Disini Naya merasa dihargai meski tak ada sesuatu yang luar biasa yang ia kerjakan, hanya perhatian dan kasih sayang tulus yang ia berikan kepada mereka.


__ADS_2