
Nindya membanting tas mahalnya di atas sofa, mukanya memerah menahan amarah.
"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu! Kamu mau ninggalin aku? Iya?!" teriakan Nindya menggelegar memenuhi ruangan di apartemen ini.
"Dengerin aku dulu Nin."
"Apa! Kamu mau ngomong apa? Bang***!" teriak Nindya sambil menunjuk muka Radit dengan telunjuknya.
Radit termangu, menjalin hubungan satu tahun lebih tapi dirinya baru melihat Nindya sebarbar ini jika sedang marah.
Sungguh sebuah etika yang tak pantas untuk ditunjukkan oleh seorang wanita kepada prianya.
Dengan lidah kelu, Radit memilih meninggalkan apartemen tersebut.
"Sana pergi, aku pastikan kamu tak akan bisa kembali sama Naya, kalian akan hancur bersamaku!" pekik Nindya tak terkontrol.
Tak mempedulikan Nindya karena pikirannya yang sedang penuh dengan berbagai persoalan hidup yang sayangnya akan cukup sulit untuk Radit mengurainya satu persatu.
Layaknya benang kusut, apabila dipaksa akan putus dimana-mana, butuh kerja ekstra agar bisa terurai dengan baik, dan Radit tak tahu harus mulai dari mana.
"Lho kas tumbenan pulang?" tanya satpam di rumahnya melihat mobil Radit berhenti di depan gerbang.
"Iya Pak kangen rumah," jawab Radit sekenanya.
Pintu gerbang terbuka lebar, Radit melajukan mobilnya menuju garasi yang tampak kosong.
Hati Radit terasa nyeri, disini dia lahir dan dibesarkan, disini pula ia hidup bahagia bersama keluarganya dan..... Naya, tapi karena kecerobohannya ibunya meninggal, Naya pergi meninggalkannya bahkan bapak saja juga sudah malas berbincang dengan dirinya.
Radit tahu dirinya banyak salah dan dosa, tapi Radit juga bingung kenapa segitu besarnya dosa yang ia buat, tapi ia tak bisa keluar dari kubangan itu.
Tok.... tok... tok...
"Mas... " panggil simbok membawa Radit keluar dari kamarnya.
"Ada apa mbok?"
"Bapak pulang mas."
Ucapan simbok serta merta membuat Radit terpaku, setelah sekian lama mereka tak berjumpa dan tak berbicara, saat ini kesempatan hari ini mempertemukan mereka.
__ADS_1
"Bapak dimana mbok?"
"Ada di kamarnya mas."
Radit mengetok kamar bapak pelan, tak ada sahutan dan Radit memberanikan diri untuk langsung masuk, dia bersiap mendapat amukan atau caci maki bapak.
"Pak... Radit masuk ya?" tanya Radit tak mendapat jawaban dari bapak.
"Bapak sehat?" tanya Radit setelah kebisuan yang tercipta diantara keduanya.
Bapak menghela nafas panjang sebelum dia berbicara kepada anak lelaki satu-satunya yang menjadi kebanggaannya dalam diam.
Ya... meskipun bapak tak pernah menunjukan rasa yang berbeda diantara ketiga anaknya, tapi sejujurnya bapak sangat menyayangi Radit sebagai satu-satunya penerus keturunan.
"Radit minta maaf ya pak atas kesalahan Radit selama ini, Radit tahu bapak pasti kecewa sama Radit." Radit memulai kata dengan hati-hati.
"Nak.... kamu tahu seberapa besar kasih sayang bapak sama ibu ke kamu, selama ini bapak mendidik kamu menjadi pria sejati yang berani bertanggung jawab atas semua yang diperbuatnya." Bapak menjeda kalimatnya ada sesak memenuhi dadanya.
"Tapi apa yang kamu perbuat saat ini apa bukan pecundang namanya, mempermainkan dua orang wanita yang pasti sakit hati dengan perbuatanmu," sambung bapak lembut membuat Radit semakin menundukan kepalanya dalam.
"Lepaskan Naya nak, kamu dan dia perlu bahagia." Ucapan bapak berikutnya membuat Radit membeku.
"Kalo aku punya istri dua boleh?" tanya Radit menatap bapaknya yang tersentak kaget dengan pernyataannya.
"Jujur aku sayang banget sama Naya, dan dia adalah patner yang tepat untukku mengelola usahaku, tapi..... aku juga butuh Nindya untuk memenuhi kebutuhan biologisku." ucap Radit lirih.
"Dit..... siapapun boleh punya istri lebih dari dua, tapi apa kamu mampu berlaku adil terhadap mereka, ketika kamu membawa Naya ke pertemuan penting apa Nindya tidak cemburu, begitu juga sebaliknya, apabila kamu menghabiskan banyak malam di rumah Nindya apa Naya tidak cemburu, lagian belum tentu Naya juga mau Dit." bapak seolah kehilangan kata-kata.
"Lepasin Naya nak, dia anak yatim, kamu yang seharusnya jadi pengganti ayahnya justru menyakitinya sedemikian rupa, jangan sampai karena hal ini hidup kamu berantakan nanti."
Tok.... tok...
"Mas Radit, ada yang nyari mas Radit diluar, dia teriak-teriak mas." Simbok menginterupsi pembicaraan keduanya.
Deg..... dada Radit berdetak lebih cepat dari biasanya, siapa lagi yang berani meneriaki dirinya kalau bukan Nindya.
Astaga.... perempuan itu, baru saja ingin Radit perjuangkan di hadapan bapak, sudah membuat malu dirinya seperti ini.
"Radit! Keluar kamu!" teriak Nindya dari luar.
__ADS_1
Radit menghampiri Nindya yang berdiri di teras dengan berkacak pinggang.
"Turunkan suaramu Nin!" desis Radit pelan.
"Kenapa?! Biar semua orang tahu siapa kamu!" teriak Nindya histeris.
Bapak melihat dengan hati nelangsa dari balik tirai jendela, anak lelakinya diberikan jodoh terbaik seperti malah memilih wanita barbar seperti ini.
"Dit, bawa dia masuk, ribut-ribut malu di dengar tetangga." Titah bapak di ambang pintu membuat Nindya langsung terdiam dan terpaku.
Radit dengan diikuti Nindya masuk ke dalam rumah, mereka bertiga duduk di ruang tamu, Nindya yang pada dasarnya tak punya rasa malu itu justru bahagia karena tak sengaja bertemu bapaknya Radit disini.
Dalam hati tak ada penyesalan karena dirinya lah ibunya Radit sampai meninggal dunia.
"Kenapa nyusul kemari sih Nin?" tanya Radit dengan suara dingin.
"Aku nggak mau kamu ketemui Naya lagi," jawab Nindya santai.
"Cckk kamu aneh, Naya kan masih istri aku ya wajarlah kalo aku bertemu sama dia," ucap Radit kesal.
"Nggak akan aku biarin!" ujar Nindya dengan mata menyala marah.
"Ehem..... ehem..... masih mau diterusin berdebatnya?" tegur Bapak pelan.
"Maaf pak," jawab Nindya pelan.
"Jadi kenapa Radit nggak boleh ketemu Naya dan hanya boleh ketemu kamu?" tanya Bapak mulai meng-interview Nindya.
"Ya kan mereka mau bercerai pak." Dengan nada santai dan percaya diri Nindya menjawab pertanyaan bapak.
"Nin!" tegur Radit dengan suara tertahan.
"Udah deh Dit, pokoknya kamu harus segera menceraikan Naya dan menikahi aku, kalo kamu ngulur-ngulur waktu terus jangan salahin kalo aku nekat!" ancam Nindya tanpa takut meski disitu ada bapak.
Bapak menghela nafas." Lebih baik cepat nikahin dia dan ceraikan Naya Dit, bapak rasa Naya tak kan mau dan tak kan sanggup punya madu perempuan tak punya adab seperti dia."
"Jika kamu yang memaksa tetap mempertahankan Naya, bapak sendiri yang akan memisahkan kalian, Naya tak pantas punya suami seperti kamu, dan maaf kalo bapak harus jujur, bapak malu punya menantu seperti dia."
Setelah mengucapkan itu, bapak berlalu dari hadapan mereka dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Keinginannya untuk pulang ke rumah karena kangen dengan mendiang sang istri justru bapak menemui kejadian ini.