Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 34 : Bukan cinta monyet lagi


__ADS_3

Suara bariton yang memanggil namanya itu membuat Naya dan Utami menoleh ke belakang.


Naya mengeryit, bingung lagi bertemu dengan salah satu temannya yang lagi-lagi tak tertempel dalam memori Ingatannya sama sekali.


"Hai Nay.... kamu lupa sama aku?" tanya pria itu sambil menjabat tangan Naya erat.


"Masak lo juga lupa sama dia Nay, asli kebangetan kalo sampai lupa sih," bisik Utami menggoda.


"Maaf... tapi emang Naya dan sifat pelupanya adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan," canda Naya membuat yang disana pada tertawa mendengar guraunya.


"Kalo gue kasih clue dengan sebutan saingan lo dalam juara umum sekolah, masih inget nggak Nay?" tanya Tami.


"Astaga! Bagas Dirgantara!" tebak Naya dengan mata melotot karena kaget.


Bagaimana tidak kaget, kalau Bagas Dirgantara yang dikenalnya dulu merupakan sosok ceking dengan kulit sawo matang itu, sekarang bermetamorfosis menjadi pria ganteng dan gagah seperti ini.


Bagas mengulum senyum senang, wanita yang jadi crush nya saat SMP dulu bisa mengenalinya kembali.


"Coba tebak profesinya Bagas Nay," usul Sheila yang tiba-tiba bergabung bersama mereka.


"Abdi negara? TNI or something like that?" tanya Naya ragu.


"Nope!" sahut Tami.


"Lalu?" tanya Naya malas main tebak-tebakan.


"Supir pesawat!"


"Supir pesawat? Pilot maksud lo?" tanya Naya.


"Iya bener Nay, aku kerja disalah satu maskapai penerbangan luar negeri," jawab Bagas.


"Jarang di indo dong Gas?" tanya Naya mulai mencair dan bisa mengimbangi percakapan dengan Bagas.


"Iya aku stay di Singapura, kemarin-kemarin aku menerbangkan pesawat rute Singapore Eropa, tapi baru beberapa hari yang lalu aku minta schedule ku tiga puluh persen dipindahin ke Indo, syukur-syukur bisa full disini."


"Kan enak Gas keliling Eropa, kenapa malah minta schedule yang di Indo?" tanya Naya penasaran.


Kini tinggal Naya berdua dengan Bagas, teman yang lain berbaur dengan teman yang lain mengenang masa lalu mereka saat memakai seragam putih birunya.


Alunan musik dari kelompok band di atas panggung sana menambah kesan romantis, apalagi lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu pop masa kini.


"Ini Nay." Bagas menyodorkan sepiring cake kepada Naya.

__ADS_1


"Kok malah lo terus yang ngambilin gue makan?" Naya ingin menolak tapi tak sampai hati karena perhatian Bagas kepadanya.


"Nggak papa Nay, kan aku juga mau ngambil." Senyum Bagas terbit.


"Heh kalian! Mojok ajah!" teriak Arin nyaring.


"Astaga Rin, kenceng amat teriaknya Nek," omel Naya sambil pura-pura mengorek telinganya.


"Ati-ati Nay, jangan mau digombalin sama Bagas, lo tuh cinta pertamanya nih cowok." tuding Arin tanpa filter membuat Naya mendelik dan Bagas salah tingkah.


"Ngomong apaan sih lo Rin, astaga udah pada married juga ih," gerutu Naya tak membuat Arin mundur untuk menggoda keduanya.


Bukan rahasia umum lagi kalau dulu Naya itu cinta pertamanya seorang Bagas Dirgantara, sayangnya Naya yang merupakan anak orang kaya itu seakan tak tersentuh oleh orang seperti Bagas yang anak orang biasa saja.


Meskipun Naya bukanlah sosok sombong, namun pembawaan Naya yang kalem dan cenderung introvert membuat para lelaki yang ingin mendekatinya tanpa diminta mundur secara teratur termasuk Bagas.


"Gimana Gas? Masih deg deg pyar nggak hati lo melihat Naya sekarang?" goda Arin dengan menaikturunkan alisnya.


"Arin.... nggak enak ah kalo didenger orang," tegur Naya lembut, percayalah muka Naya sekarang pasti memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu.


"Dih Naya blushing Gas."


"Udah Rin, jangan goda Naya terus." Kini giliran Bagas yang menegur Arin dengan tegas.


"Maafin Arin ya Nay, dia emang kalo ngomong ceplas-ceplos nggak ada filternya," ucap Bagas lembut.


"Iya nggak papa Gas, namanya juga candaan."


"Emang bener sih aku tuh dulu naksir berat sama kamu, cuman akunya mundur teratur karena kamu tuh apa ya... kayak bulan yang tak tersentuh."


"Hahahahaha." Naya meledakkan tawa mendengar perumpamaan yang diucapkan oleh Bagas.


"Kok malah ketawa sih?!"


"Habis lo lucu sih Gas."


"Apanya yang lucu?" tanya Bagas bingung.


"Masak gue diperumpamakan seperti bulan, padahal bulan kan bulet doang," jawab Naya asal, padahal hatinya lagi ajojing mendengar rayuan gombal Bagas.


Tanpa Bagas ketahui dulu juga Naya sebenarnya naksir Bagas, tapi karena kepribadian Naya yang introvert itulah Naya tak berani mengungkapkan rasa sukanya kepada Bagas.


Bahkan Naya pun tak tahu kalau Bagas ternyata juga pernah suka kepada dirinya dulu.

__ADS_1


"Betewe Gas, keluarga di Singapura semua?" tanya Naya mencoba mengalihkan pikirannya agar menyadari bahwa pria di depannya itu bukan pria single lagi alias sudah mempunyai keluarga.


"Iya," jawab Bagas sebenarnya enggan untuk dikorek lebih banyak lagi mengenai keluarganya oleh Naya.


"Udah punya anak berapa Gas?" tanya Naya melanjutkan keingin-tahuannya.


"Satu, cewek, baru beberapa bulan umurnya."


"Oh good deh, gue belum punya, pernah keguguran dulu dan sampai sekarang belum ada lagi," ucap Naya sendu karena teringat kembali hal yang membuat dirinya kehilangan calon bayinya.


"Sabar Nay, namanya belum rejeki," hibur Bagas membuat Naya tersenyum kecut.


Lalu mereka mencoba membaur dengan teman lain, ada saja tindakan absurd mereka meski mereka sudah tidak muda lagi.


Coba lihat bagaimana tidak tahu dirinya Arin yang berjoget dangdut dengan iringan lagu yang dinyanyikan oleh Sheila yang terdengar fals itu.


Ternyata seperti ini rasanya bisa bebas dan mengekspresikan diri, apalagi teman yang lain masih menyambut hangat dan tak mengungkit masalah Naya.


Dan acara reuni itu berakhir tepat pukul sepuluh malam, Bagas memaksa untuk mengantarkan Naya sampai ke rumah, dan dengan terpaksa Naya menerima niat baik Bagas tersebut.


"Masukin alamat rumah kamu ke GPS Nay," perintah Bagas ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


Naya mengotak-atik GPS di dasbor mobil tersebut, dan Bagas mulai mengemudi menuju rute yang di sebut oleh alat tersebut.


"Em Gas.... betewe kenapa dari tadi lo pakai kata aku kamu terus sama gue?" tanya Naya memecah keheningan.


"Oh ya? Kebiasaan aja kali Nay," elak Bagas menyembunyikan fakta bahwa Naya tetap seseorang yang berarti buat dirinya hingga tak pantas memakai kata lo gue.


"Iya lho, padahal sama yang lain pakai gue lo," ucap Naya.


"Nggak tahu aja kalo sama kamu nggak bisa pakai gue lo," sahut Bagas santai.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Naya penasaran, dan Bagas hanya mengedikan bahu cuek.


Lalu tak berapa lama mereka sampai ke tempat tinggal Naya.


"Aku ikut turun Nay, takutnya suami kamu nethink kok aku nganter kamu." Bagas berniat turun, tapi cekalan Naya di bahu Bagas menahan pria itu untuk membuka pintu mobil dan turun.


"Nggak usah Gas, aku tinggal sama adikku kok," kata Naya ketika melihat keryitan di kening Bagas.


"Kamu?" Bagas tak meneruskan ucapannya.


Naya mengulas senyum sendu."Long story Gas."

__ADS_1


Naya mau membuka pintu dan turun, entah keberanian darimana sampai Bagas menarik tubuh Naya lalu memagut bibir yang sejak tadi menggoda untuk Bagas cecap.


__ADS_2