Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 42 : Sosialita gadungan


__ADS_3

Nindya mengangkat tinggi dagunya, hari ini dia ingin menunjukkan eksistensinya kepada orang-orang di luar sana yang pernah menghinanya dulu.


Menurut Nindya saat ini waktunya membungkam mulut manusia-manusia yang mengatakan dirinya miskin, kere dan tidak level dengan mereka.


Tak dihiraukannya nasihat Radit agar dirinya tidak ikut genk sosialita karena status mereka yang masih menggantung seperti ini yang nantinya akan menjadi cemoohan orang-orang kalau mereka tahu Nindya menjadi istri simpanan atau disebut juga pelakor.


Tapi Nindya mana peduli dengan semua ucapan Radit itu yang baginya hanya omong kosong tak jelas.


Lihatlah bahkan Nindya dengan percaya diri dengan menenteng tas dengan harga puluhan juta di tangannya menghampiri para sosialita itu.


"Hallo semua selamat siang." Sapa Nindya membuat ibu-ibu cantik itu serempak menatapnya.


Nindya menatap satu persatu orang yang berada di meja tersebut yang berjumlah sembilan orang itu dengan senyuman manis yang terus tersungging di bibirnya.


Alangkah bahagianya Nindya melihat calon gengs sosialitanya yang ternyata orang-orang top di kota ini.


Ada penyanyi pop yang sedang naik daun yang wajahnya wira-wiri di layar televisi, ada juga istri seorang pe**bat publik yang terkenal ramah sama masyarakat, dan jangan lewatkan sosok istri pengusaha yang sering melakukan aksi sosial dimana-mana, sontak saja membuat Nindya bersorak kegirangan.


"Eh Nin, ayo duduk aku kenalin satu-satu." Dara teman SMA Nindya mempersilakannya duduk.


"Ini lho ibu ibu yang tadi aku ceritain, temen sekolah aku yang ingin ikut kita arisan, namanya Nindya." Dara mulai memperkenalkan Nindya ke semua teman geng sosialitanya.


Nindya menjabat satu persatu orang yang ada disana, ada kebanggaan tersendiri bisa masuk ke dunia mereka, ia harus mengucapkan terimakasih kepada Radit yang mengangkat derajatnya setinggi ini.


"Jeng Nindya ini suaminya pengusaha apa ya?" Helen yang merupakan salah satu pengusaha wanita yang cukup sukses dikota ini mulai mengorek asal usul Nindya.


"Suami saya salah satu pengusaha otomotif, tapi maaf beliau tak mau saya sebutkan namanya." Nindya menjawab diplomatis pertanyaan Helen.

__ADS_1


"Oh gitu, otomotifnya itu bergerak di bengkel, dealer atau apa?" Bu Wina bertanya dengan rasa penasaran yang sangat besar, karena hampir semua pengusaha otomotif pasti kenal dengan dirinya dan suami.


"Dealer bu." Nindya menjawab singkat, mendadak dirinya pucat mengetahui bahwa kumpulan sosialita ini benar-benar mempunyai pergaulan yang luas.


"Jadi gimana ini sis, apa boleh Nindya bergabung?" Dara mengalihkan pembicaraan membantu Nindya yang terlihat pucat karena interview orang-orang disekitarnya.


"Tunggu founder arisan ini dululah, nggak enak juga kita ngelangkahin dia," ucap Helen pelan yang disetujuin oleh hampir semua orang disana.


"Maaf ya Nin, bukannya kita pilih-pilih teman, tapi ya memang kita harus waspada dengan orang lain."


"Nah tuh Raisanya datang,"


Deg jantung Nindya langsung berdetak kencang mendengar nama Raisa disebut, ini bukan Raisa yang itu kan.


"Sorry guys, gue jemput kakak gue dulu, katanya kan butuh satu orang lagi buat ngegenepin jadi dua belas orang karena ada orang baru yang masuk kan." Suara renyah Raisa mencabik-cabik telinga Nindya.


"Jadi ini Ra temen kamu yang mau ikut arisan itu." Raisa mulai memperhatikan Nindya yang sengaja memalingkan wajah agar tak dikenali oleh Raisa dan Rania yang duduk di sebelah kirinya.


"Nin... kenalin dulu nih ketua gangnya." Dara memanggil Nindya pelan.


Raisa terlihat familiar dengan sosok tersebut, dia berdiri dan menghampiri Nindya.


"Elo!" Raisa menunjuk muka Nindya dengan telunjuknya.


"Heh ngapain lo disini?!" teriak Raisa garang.


Rania lalu mendekat, astaga dadanya bergemuruh melihat perempuan tak tahu diri itu disini.

__ADS_1


"Lho kenal ama jala** ini dimana Ra?" Raisa bertanya dengan suara tertahan.


"Hah! Emang kenapa bu Ketu?" Dara sempat terkejut dengan pertanyaan Raisa barusan.


"Kalian tahu nggak siapa dia?" Suara Raisa mendesis tak suka.


"Sa.... kendalikan dirimu," tegur Rania dengan nada rendah memperingatkan adiknya itu untuk bisa menguasai diri, karena tak dipungkirinya terkadang Raisa kalau sedang tersulut emosinya perkataannya sering kali tanpa filter hingga bisa mengungkapkan aib keluarganya.


"Emang siapa sih dia Sa?"


Raisa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba meredakan emosinya.


"Ngga usah masukin dia deh, ntar gue aja yang nutup sisanya, gue males bertemen sama pelakor kayak dia, kalian nggak mau kan suaminya direbut sama dia." Raisa mengangkat dagunya kepada Nindya.


"Lagian darimana dia bisa punya uang lima puluh juga buat ikut arisan? Ngan**ang ke suami orang biar dapet segitu?" Lanjut Raisa dengan suara mengintimidasi.


Nindya hanya sanggup menundukkan kepala, mau membalaspun dia tak punya nyali sebesar itu.


Duh nyesel rasanya kemarin dia tak mengikuti nasihat Radit untuk tetap diam di rumah menikmati hari dan memanjakan diri dengan shopping atau pergi ke salon.


Tanpa permisi Nindya langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.


"Gue kira beneran istri orang kaya ternyata cuman ngaku-ngaku."


"Simpenannya siapa sih dia, nggak banget deh, mata tuh laki rabun kali yak, yang begituan disimpen."


"Ra.... besok-besok kalo ngajak orang dicek dulu yang bener dong, masak sosialita gadungan lho ajak sih."

__ADS_1


Nindya semakin mempercepat langkahnya dan tak ingin mendengar cemoohan di belakangnya.


__ADS_2