Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 48 : Menepi


__ADS_3

"Za.... kamu jadi buka cabang di Semarang?" Naya membuka percakapannya pagi ini dengan sang adik.


"Nunggu info dari Ardian dulu mbak," jawab Reza lalu fokus lagi dengan pekerjaan di depannya.


"Memang kenapa harus nunggu info Ardian?" Naya mendekat, duduk di depan sang adik yang terhalang meja.


"Kan Ardian kerja mbak, jadi dia mesti nyari orang dulu buat jagain, mau nyuruh istrinya, tapi istrinya hamil gede."


"Um.... um.... kalo aku yang jagain dulu gimana?" tanya Naya ragu.


"Maksud mbak gimana?" Reza langsung menatap Naya dengan wajah kebingungan.


"Maksudku, biar aku yang urusin disana sampai Ardian dapet orang,"


"Mbak Naya serius? Jauh lho mbak, nggak bisa ketemu sama aku tiap hari," kata Reza pelan.


"Iyah nggak papa Eza, toh kan Jakarta Semarang paling cuman enam jam perjalanannya."


"Ya udah mbak, aku koordinasi dulu sama Ardiannya." Lalu Reza mengambil ponsel yang tergeletak di meja dan menghubungi Ardian.


Reza sengaja tak menolak keinginan Naya, kemungkinan Naya ingin menepi sejenak untuk meredakan beban pikirannya.


Sebab dari chef Ajun, Reza tahu Naya habis didatangi oleh istri Bagas, meskipun mereka menyelesaikan permasalahan mereka dengan cukup elegan, tidak seperti Nindya waktu itu yang melabrak Naya padahal dia pelakornya.


Sebagai adik tentulah Reza menginginkan kakaknya bahagia dengan orang yang dicintainya, asalkan bukan suami orang.

__ADS_1


"Beberapa minggu ke depan, toko mulai ready mbak." Reza keluar dari ruangannya.


"Ok good Za." Naya menganggukan kepala.


"Mbak Naya yakin buat handle yakin disana?" Reza bertanya ulang meminta kemantapan Naya sekali lagi.


"Iya yakin, aku berharap setelah menepi sejenak aku mendapat pencerahan."


Nah kan benar seperti yang Reza tebak bahwa Naya ingin menghindari persoalannya yang Reza tahu menguras energinya akhir-akhir ini.


Mereka melanjutkan pekerjaan mereka dalam diam, usaha yang semakin berkembang membuat Reza membutuhkan Naya disampingnya, tapi apa daya kalau kesehatan mental Naya lebih penting dari semua keberhasilan ini.


***


Beberapa minggu kemudian.


Tempat tinggal sudah disediakan oleh Ardian dan istrinya, Naya memilih indekos daripada harus merepotkan Ardian dengan menumpang di rumah mereka.


"Hati-hati ya mbak, aku nggak bisa anterin kesana." Reza memeluk tubuh Naya dengan erat dan Naya pun membalas pelukan Reza, dalam hati Naya merasa gagal sebagai kakak yang tak mengayomi sang adik justru selalu memberikan beban untuknya.


"Pulang kalo sudah tenang, bahagiamu prioritasku mbak."


Setelah kecupan dikedua pipi sang kakak, Reza melepaskan Naya untuk pergi masuk ke dalam stasiun.


Satu hal yang Naya harapkan, semoga setelah dirinya menepi, dia bisa memantapkan hati dan tak goyah lagi untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk semua.

__ADS_1


Enam jam lebih beberapa menit kereta api executive itu memasuki stasiun Tawang, di depan pintu keluar sudah ada Ardian dan Stela istrinya yang datang menjemputnya.


"Langsung ke kost atau mau mampir dulu mbak?" tanya Adrian membuka percakapan saat ketiganya sudah berada di dalam mobil.


"Langsung ke kost aja Yan." jawab Naya dari jok belakang.


"Kita mampir makan aja dulu Yang, biar sampai kost mbak Naya bisa langsung istirahat." saran Stela.


"Iya juga ya, daripada nanti mbak Naya bingung mending kita mampir makan dulu aja ya mbak," ucap Ardian.


"Aku ikut aja Yan." Akhirnya karena tak enak hati Naya menerima saran sepasang suami-istri yang duduk di depan tersebut.


Mereka masuk ke dalam restauran kekinian yang menyajikan menu tradisional tak jauh dari kost Naya.


Duduk melingkar karena meja makan yang berbentuk bulat itu membuat mereka tidak bisa duduk berdampingan.


"Aku cari kost nya yang deket toko rotinya dan juga deket pusat perbelanjaan mbak, jadi mbak Naya nggak susah kalo perlu apa-apa," ucap Ardian disela mereka menunggu makanan yang mereka pesan.


"Thanks Yan, betewe kenapa kamu tertarik buat buka cabang Kanaya Bakery?" tanya Naya penasaran.


"Karena aku suka roti dan kami tak ada basic bikin roti mbak, jadilah ketika Reza bercerita kalo dia udah buka dua cabang di Jakarta dan akan menyusul di Bogor, langsung aku tergoda untuk buka cabang disini," terang Ardian sambil melihat dari kaca yang berada di atasnya.


"Se cinta itu ya sama roti?" gumam Naya heran.


"Yes mbak, se cinta itu." jawab Ardian dan Stela bersamaan, lalu ketiganya tertawa bersamaan.

__ADS_1


Naya menatap pemandangan disebelah kirinya, Semarang dengan sejuta pesonanya akan membuat Naya betah dan sejenak melupakan semua beban yang ada di hidupnya.


Semoga.....


__ADS_2