Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 40 : Menghindar


__ADS_3

Pagi-pagi buta ketika matahari bahkan belum keluar dari peraduannya, dengan langkah perlahan dan mengendap Naya mengangkat kopernya agar suaranya tidak akan terdengar dari kamar sebelah tempat Bagas tidur.


Naya segera memasuki taksi online yang di pesannya dan telah menunggunya di depan villa tempat ia menginap, tujuan saat ini tentu saja kembali ke Jakarta seorang diri.


Kejadian semalam entah sadar atau tidak, telah menggoreskan kembali luka di hatinya, entah bagaimanapun keadaan rumah tangganya, Naya tetaplah seorang wanita yang bersuami, tak seharusnya melakukan hal menjijikkan seperti itu.


Semalam tanpa Bagas ketahui, setelah dengan sengaja mendorong tubuh Bagas yang telah menyudutkannya di meja dapur dan dengan tanpa ijin menikmati bibir ranumnya, Naya menenggelamkan dirinya dalam bathtub dan menggosok bibirnya yang ternoda oleh pria itu.


Naya merasa tak ubahnya jal*** seperti Nindya dan Wuri yang rela melemparkan diri dan berbagi peluh dengan suami orang, dan Naya benar-benar jijik dengan dirinya sendiri.


Sampai di bandara setelah terlebih dahulu mengucapkan terimakasih kepada driver tersebut, Naya lalu bergegas masuk untuk ke dalam bandara dan melakukan check-in, dia ingin segera boarding agar Bagas tak ada akses untuk menemukannya.


Di tempat lain, Bagas yang baru selesai mandi keluar dari kamar dan mendapati villa dalam keadaan sepi, biasanya jam segini Naya sudah bangun dan menyiapkan sarapan buat mereka.


Bagas mengetuk pintu kamar Naya sambil memanggil nama gadis pujaannya tersebut dengan mesra, meski semalam dia mendapat penolakan dari Naya, Bagas tahu Naya hanya shock mendapatkan serangan dadakan itu, buktinya wanita itu sempat membalas ciumannya bukan.


"Nay.... Naya.... " Bagas kembali memanggil Naya, dan ketika tak ada suara yang menyahut panggilannya, Bagas seketika panik dan membuka pintu itu.


Sepi dan..... kosong, Naya tak ada dalam kamar dan kamar dalam keadaan rapi dan tak ada satupun barang Naya yang tertinggal.


Dengan panik Bagas melakukan panggilan telepon ke nomor ponsel Naya dan sayangnya nomor tersebut dalam keadaan tidak aktif.


"Ya Tuhan aku salah telah melakukan perbuatan tercela itu, dimana sih otakku!' Bagas memaki dirinya sendiri sambil memukul kepalanya dengan gemas, bagaimanapun Naya wanita yang setia dan baik, tak mungkin juga dia mau melakukan perbuatan hina itu dalam keadaan sadar.


"Be**.... be**!" Bagas memaki dirinya sendiri.


Akhirnya Bagas hanya sanggup menghela nafas panjang, tak mungkin dia menyusul Naya ke Jakarta, kalau besok pagi Bagas harus terbang ke Singapura dan dilanjutkan ke Eropa, praktis dua minggu mendatang dia akan hidup dengan kekhawatiran dan penyesalan.

__ADS_1


Dalam pesawat Naya memandang pulau Bali yang tertinggal di bawah sana mulai mengecil lalu hilang tertutup awan, ada kebencian yang mendalam pada dirinya sendiri dengan apa yang dilakukannya semalam.


Naya tak ubahnya jal*** , pelakor bahkan seperti pela*** yang tak punya malu atas tindakannya, demi sebuah balas dendam dan sakit hati yang dirasakannya akibat perbuatan suaminya, Naya bahkan menghalalkan segala cara untuk kembali dihargai dan dicintai oleh orang lain.


Come on.... jangan bilang tak ada keadilan untuk dirinya, karena sejatinya Tuhan semesta alam itu tak pernah tidur bukan, yang akan membalaskan kejahatan dengan kejahatan, hukum karma itu masih berlaku lho besti.


Terkadang kita hanya tak sabar melihat pembalasan itu agar segera datang membalas kejahatan mereka dan justru mengambil jalan pintas seolah-olah kita berhak membalas perbuatan mereka.


Tak lebih dari dua jam pesawat itu mendarat dengan sempurna di bandara Soekarno-Hatta, Naya lalu menuju ke taksi yang berjejer menunggu para penumpang menggunakan jasanya.


Naya masuk ke dalam salah satu taksi tersebut yang berada diurutan paling depan dan menyebutkan tujuannya lalu memejamkan matanya mengusir letih yang tiba-tiba menyerangnya.


Rasanya baru tertidur beberapa saat, tahu-tahu supir taksi tadi membangunkan dirinya karena telah sampai di depan gerbang rumahnya.


Mengucapkan terimakasih kepada pak supir lalu Naya menyeret koper ke dalam rumah.


Reza tidak tahu kelakuan Naya yang sengaja berbohong dengan mengatakan bahwa dia pergi liburan dengan beberapa teman baiknya di SMP dulu, nyatanya Naya pergi mengikuti Bagas setiap pria itu ada flight ke Indonesia.


"Iya beberapa teman mbak memotong hari libur mereka terpaksa deh mbak ikutan aja, nggak seru kalo liburan nggak sama banyak orang." Naya menjawab sembari otaknya merangkai kata penuh kebohongan untuk disampaikan pada Reza.


"Oh gitu, ya sudah mbak istirahat aja dulu ya, aku buru-buru mau ke toko lagi." Reza pamit dan bergegas memacu motornya kembali ke toko rotinya.


***


Dan sepanjang dua minggu setelah kepulangan Naya dari Bali, Naya hampir-hampir tak pernah menyentuh ponselnya lagi, hari-harinya dihabiskan dengan membantu Reza di toko rotinya.


Bahkan karena tidak ingin diganggu oleh siapapun, Naya membisukan suara notifikasi ponselnya, rentetan pesan dan panggilan tak ada satupun yang ia gubris, ia seakan hidup seperti jaman dulu sebelum ponsel ditemukan.

__ADS_1


Hatinya cukup lelah merasakan musibah yang bertubi-tubi menimpa dirinya, ya meskipun untuk kasus dengan Bagas ada andil dirinya di dalam perbuatan tercela itu.


"Mbak, mas Reza nelpon mbak Naya tapi katanya nggak diangkat-angkat, ada yang urgent katanya." Salah satu karyawan pantry keluar dan menghampiri Naya.


"Oh oke Ra, thanks infonya." Naya langsung mencari ponsel yang berada di saku terdalam tasnya.


Naya lalu menghubungi Reza."Ya Za."


"Hp nya kenapa mbak?" Suara Reza dari seberang sana terdengar curiga.


"Males aja Za, notifikasi masuk tanpa jeda sejak gabung sama group SMP." Padahal Naya hanya mau menghindari seseorang tapi imbasnya semua orang jadi kesulitan untuk menghubunginya.


"Kan bisa dibisukan mbak."


"Eh iya ya, lupa aku, hehehehe, betewe kenapa nyari aku Za?"


"Aku hari ini nggak bisa balik ke toko mbak, ada meeting sama seseorang nih, nanti tolongin closing tokonya ya."


"Oke deh, meeting sama siapa emangnya dek?" tanya Naya penasaran.


"Adalah mbak sama seseorang, nanti kalo udah fix, aku bakalan ceritain semua ke mbak Naya kok."


"Ingat jangan aneh-aneh ya Za, belajar dari pengalaman kita yang lalu pastikan apapun yang kamu kerjakan itu nggak beresiko, ingat kasus orang tua kita." Naya menuturkan kata bijak untuk sang adik.


"Reza tahu mbak, mbak Naya tenang aja ya," ucap Reza dari seberang sana membuat Naya tenang dan tak berfikiran buruk, karena kenyataan yang lalu itu benar-benar mengajarkan banyak hal kepada Naya.


Baru mau memasukan ponsel di tas, nama seseorang yang ingin ia hindari terpampang di layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2