Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)

Pembatas Rasa (Aku, Kamu Dan Dia)
Bab 44 : Ternyata tak seindah kenyataannya


__ADS_3

Radit memijat pelipisnya yang mendadak pusing memikirkan Nindya, perusahaannya dan...... Naya.


Entah mengapa beberapa hari ini Radit begitu merindukan wanita yang masih sah sebagai istrinya itu.


Radit ingin menemui Naya dan membicarakan kelanjutan pernikahan mereka, walau itu rasanya tak akan mudah mengingat Naya yang terlanjur sakit hati dan juga Nindya yang minta segera dinikahi.


Andai Naya mau berbesar hati sedikit saja untuk memaafkan dirinya dan mau menerima Nindya sebagai istri kedua Radit, tentu keadaan tidak akan se memusingkan seperti ini.


Boleh tidak Radit sedikit egois dan serakah untuk memiliki keduanya, Naya sebagai permaisuri yang pantas mendampingi Radit dan Nindya sebagai selir yang menghangatkan malam-malamnya.


Hei.... bukankah itu sebuah pemikiran yang picik, mana ada perempuan yang mau diperlakukan seperti itu, bahkan Nindya saja sudah memperlihatkan gigi taringnya untuk menyingkirkan Naya dari kehidupan Radit, dan pria itu pura-pura tidak tahu.


"Dit.... kamu mau ikut aku nggak?" tanya Nindya yang sudah berpakaian rapi dan tak lupa menjinjing tas barunya yang baru dibeli beberapa hari yang lalu.


"Kemana?" Radit terheran melihat Nindya berdandan seperti mau pergi ke pesta.


"Ketemu temen-temen," jawab Nindya sambil memakai sepatu heels nya.


"Berdandan begini?" Radit mengernyitkan kening.


"Kan harus allout." Nindya tersenyum.


Radit menghela napas pasrah, mau dibilang bagaimanapun, tapi sudah terlanjur sayang, jadi Radit tak bisa mengungkapkan keberatannya.


"Ayo Dit." Nindya menarik tangan Radit, meminta pria itu berdiri.


"Harus ikut ya?" tanya Radit malas-malasan.


"Iya dong, biar kenal ama teman-temanku."


Kalau sudah begini Radit hanya bisa menuruti kemauan Nindya, ingin menutupi hubungan mereka karena statusnya belum jelas kan, tapi.... kalau melihat Nindya kecewa, Radit juga tak akan sanggup.


"Ayok kalo gitu." Tak perlu berganti pakaian karena Radit masih memakai baju rapi.


Dengan bangga Nindya menggandeng tangan Radit, tak ada perasaan malu sedikitpun meski pria di sampingnya ini hasil dari merampas milik wanita lain.


Mereka sampai ke XX mall yang merupakan mall termegah di kota itu, orang kaya kalau sedang ingin hangout ya ke tempat ini.


"Ayo sayang." Nindya kembali menggenggam tangan Radit dengan erat.


Radit risih sebenarnya, ada rasa takut kalau dia bertemu dengan koleganya yang mengetahui Naya sebagai istrinya, tapi tarikan tangan Nindya tak mudah dilepaskannya.


Mereka menuju ke sebuah restauran Jepang yang berada di lantai empat, disana sudah berkumpul teman-teman Nindya dan tak satupun yang membawa pasangan.

__ADS_1


'Damn it!'


"Aku ngopi aja di bawah ya Nin," bisik Radit yang tak nyaman duduk diantara para wanita itu.


"Eh ngapain? Disini aja!" perintah Nindya yang tak ingin dibantah.


"Hei guys," sapa Nindya ramah.


"Hai Nin, akhirnya lo dateng juga, duduk duduk." ajak Fani mempersilakan Nindya dan Radit duduk.


"Ini siapa Nin? Kenalin dong." Suara Dian terdengar menggoda Nindya.


"Oh iya kenalin ini suami gue, pengusaha mobil." Dengan bangga Nindya memperkenalkan Radit dengan teman-temannya.


Terpaksa Radit menjabat tangan teman Nindya satu persatu, lalu kembali duduk, sesekali menimpali ucapan Nindya dan temannya.


"Gilak.... habis dapet spec E sekarang dapet spec A lho, dapet dimana Nin? Gue juga mau dong."


"Ish yang kayak gini cuman ada satu please jangan pada cari kesempatan untuk merebut dia ya."


Obrolan tak berfaedah yang membuat Radit semakin tak nyaman, ia berasa seperti gi**lo yang menemani tante-tante girang yang kesepian.


Tanpa sengaja ekor mata Radit menangkap sosok Naya yang melintas di ujung sana.


"Kenapa laki lo Nin?"


Nindya mengedikkan bahu, meski marah tapi ia pura-pura tak peduli, tak mungkin juga ia menunjukkan emosinya di depan mereka.


Radit menarik tangan Naya yang akan memasuki lift, Naya kaget dan menoleh cepat, mata cantik itu membola mendapati Radit ada di depannya.


Kedua pasang mata itu bertemu, satu pasang mata menyorotkan kemarahan dan satu pasang mata lagi menatapnya dengan..... rindu.


"Mau ngapain mas?" Suara lembut itu terdengar datar.


"Nay.... aku mohon, kita bicara sebentar." Dan tanpa persetujuan Naya, Radit menarik tangan mungil itu dan masuk ke sebuah coffee shop.


"Lepasin mas!" Naya mencoba menarik tangannya,


"Nay.... please," bujuk Radit lembut.


Naya menggusah nafasnya pelan, kini mereka telah menjadi perhatian hampir semua pengunjung disana, dengan terpaksa Naya menarik kursi terdekat dan duduk dengan malas.


"Mau ngomong apa sih mas? Buruan, aku masih harus kerja lagi setelah ini." Naya menatap Radit dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Apa kabar Nay?" tanya Radit seolah kehilangan kata-kata.


"Hufttt..... nggak perlu basa-basi deh mas, langsung aja ke titik persoalan, mau ngomong apa?" tanya Naya yang tak ingin berlama-lama disana.


"Kenapa nomorku kamu block?"


"Kamu nanya mas? Please deh!" Naya merotasi kedua matanya.


"Bukan, bukan begitu, tapi.... kita kan masih ada beberapa hal yang mesti diomongin Nay." Radit mencoba bersabar bagaimana dia yang salah.


"Aku rasa kita sudah tak ada lagi urusan mas, emang apa lagi yang mesti diomongin?" Naya mengernyit kening.


"Kamu.... kamu.... nggak mau pulang Nay?" tanya Radit hati-hati.


"Pulang? Pulang kemana? Aku setiap hari pulang ke rumahku," jawab Naya ketus.


"Maksud aku pulang ke rumah kita." Akhirnya Radit memberanikan diri mengucapkan kalimat itu.


"Terus kalo aku pulang, Mas Radit bisa menghentikan kebiasaan mas itu?"


Lama Radit terdiam, kenapa sih tak harus keras kepala seperti ini, apa tidak cukup jadi yang pertama dengan segala fasilitas mewah hingga tak perlu bersusah payah bekerja seperti ini.


"Nggak bisa kan?" Sinis Naya berucap dengan nada mengejek.


"Aku akan berikan apapun untuk kamu Nay bila kamu kembali," bujuk Radit.


"Aku hanya perlu kesetiaanmu mas bukan yang lain." ucap Naya sarkas.


"Aku akan berusaha Nay, aku akan berubah pelan-pelan." Janji Radit dengan sungguh-sungguh.


"Sungguh?" Naya menaikan satu alisnya lalu terkekeh pelan.


"Bagaimana kalo pertama-tama aku minta mas untuk melepas ja**** itu?" tantang Naya santai.


"Ka kalo itu yang kamu mau aku siap." Janji Radit tegas, karena saat ini ia butuh Naya untuk mensupport usahanya dan mendampingi dirinya untuk mencari relasi untuk kemajuan usahanya.


"Lo denger kan Nin, mas Radit mau nglepasin lo buat gue," ledek Naya membuat Radit terpaku.


Di belakang Radit, Nindya berdiri sambil mengepalkan tangannya erat, sungguh apa yang ia dengar barusan membuat amarahnya begitu memuncak.


Naya bangkit berdiri, dengan gerakan dramatis dia menepuk pundak Radit pelan.


"Tapi maaf gue nggak bisa mungut sampah yang udah gue buang, pecundang kan cocoknya dengan pecundang." Pada akhirnya Naya meninggalkan mereka berdua disana dan sudah dipastikan habis ini akan terjadi perang diantara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2