
Tak perlu menunggu waktu lama untuk Naya dan Samuel menghalalkan hubungan mereka, toh keduanya sama-sama single.
Acara pernikahan mereka dibuat sesederhana mungkin, bukan karena mereka tak mampu menyelenggarakan pesta besar-besaran, hanya saja Naya dan Samuel merasa sayang untuk menghamburkan uang sebanyak itu sementara ada anak-anak mereka di panti yang membutuhkan banyak biaya.
Reza duduk di hadapan Samuel hanya terhalang meja kecil, hari ini ia yang akan menjadi wali untuk menghantarkan kakak perempuannya untuk membina rumah tangga lagi.
Di samping Samuel duduk Naya dengan kebaya putihnya yang membalut tubuh rampungnya dan terlihat sangat menawan.
Jangan lupakan Adinda Amora yang duduk di tengah-tengah Samuel dan Naya, gadis cilik itu telah memikat keduanya hingga mereka memutuskan mengadopsi Dinda untuk menjadi anak mereka.
"Bisa kita mulai?" tanya penghulu melihat semua sudah siap di tempatnya masing-masing.
"Siap." Jawaban Samuel dan Reza terdengar bersamaan.
Lalu ketika semua tamu undangan yang tak seberapa itu mengucapkan kata 'SAH' Naya tahu kini dia sah berstatus sebagai istri dari dokter Samuel Krisna.
"Selamat ya mbak, semoga bahagia selalu." Reza memeluk tubuh sang kakak dengan erat, rasanya beban di pundaknya telah lepas melihat kakaknya menikah dengan seseorang yang luar biasa seperti Samuel.
Reza bergeser untuk memberi selamat kepada Samuel yang sekarang menjadi kakak iparnya.
"Selamat ya mas, semoga bahagia selalu, aku titip kakakku ya mas." Reza pun memeluk Samuel dengan erat.
"Unda.... Inda au es kim." Dinda yang berdiri di tengah-tengah Naya dan Samuel menarik tangan kebaya Naya pelan.
Ya Naya dan Samuel memang memutuskan mengangkat Dinda untuk jadi anak mereka, disamping karena sudah terlanjur sayang juga karena Dinda yang seakan tak bisa lepas dari Naya dan Samuel.
"Ayok sama om Reza aja ambil es krimnya." Reza menjulurkan tangannya untuk menggendong sang keponakan.
Dengan senang hati Dinda menerima uluran tangan Reza dan melingkari leher sang paman dengan kedua tangan mungilnya.
__ADS_1
"Inda au yang oklat ya om." Suara cadel dan cempreng Dinda membuat Reza tertawa gemas.
"Iya sayang," sahut Reza lembut.
Naya dan Samuel tersenyum bahagia, rasanya semesta ikut berbahagia bersama mereka, dengan senyum tak luntur dari bibir, mereka mendatangi satu persatu tamu yang hadir.
***
"Sayang, kita perlu mencari baby sitter untuk Dinda nggak?" tanya Samuel menatap sang istri yang sedang sibuk memindahkan baju dari koper ke lemari mereka.
"Nggak usah ah mas, biar aku aja yang pegang lagian aku juga nggak sibuk kan," tolak Naya lembut.
"Beneran nggak papa, takutnya kamu kecapaian nanti kan harus bantu bunda Yul ngurus panti belum lagi ngurus toko roti kamu."
"Bisa mas, lagian aku bisa bawa Dinda kan, ke panti nggak tiap hari juga, bisalah aku atur-atur."
"Ya udah kalo gitu sih, aku nggak mau kamu kewalahan nanti."
"Sini." Samuel melambai meminta Naya mendekat dan tidur di sampingnya.
"Masih sore mas," tegur Naya masih setia di depan lemari.
"Emang mau ngapain?" tanya Samuel geli.
Naya mengedikan bahu pura-pura tak mengerti apa yang dimaksud oleh Samuel.
Dengan gemas Samuel mendekati Naya dan dengan sengaja mengangkat tubuh ramping itu untuk diletakkan di atas tempat tidur.
"Ih mas, malu tahu gendong-gendong." Naya terkekeh pelan mendapat perlakuan manis dari sang suami.
__ADS_1
"Kenapa malu? Kan udah sah?" bisik Samuel membuat bulu kuduk Naya meremang.
Baru saat ini mereka berdua begitu intim, selama ini mereka selalu menjaga diri untuk tidak saling bersentuhan.
Samuel semakin mendekatkan wajahnya dan mengakuisisi bibir Naya yang seksi, hingga sebuah jeritan menginterupsi kegiatan mereka.
"Unda, ayah, atu au asuk." Suara Dinda dari depan kamar mereka membuat Samuel mengacak rambutnya kasar.
"Ngalah sama anak mas." Naya tertawa geli melihat muka Samuel yang masam.
Naya membuka pintu kamarnya dan menyunggingkan senyum manis kepada Dinda.
"Maaf bu, kakak Dindanya ngajakin pulang terus." Wajah Nur terlihat salah tingkah membayangkan kegiatan kedua majikannya di dalam kamar sana.
"Nggak papa Nur," ucap Naya lembut dan kembali menutup pintu setelah Dinda lari dan melompat ke atas tempat tidur.
"Ayah Inda anti bobok ama ayah ama unda ya?" Gadis cilik yang cantik itu tidur dengan berbantalkan lengan sang ayah.
"Kan Dinda udah punya kamar sendiri," jawab ayahnya yang mencoba membujuk sang anak yang tak membiarkan dirinya dan sang bunda bermesraan dengan tenang sejak menikah.
Dinda dengan wajah sedih menggeleng."Atu ingin bobok dikeloni ayah ama unda."
Dengan gemas Naya mencubit pinggang sang suami agar tak meneruskan bujukannya.
"Nanti Dinda mau bobok di sebelah ayah atau bunda?" tanya Naya lembut sambil membelai rambut Dinda dengan sayang.
"Atu ditengah unda ama ayah," jawab Dinda dengan lucu.
"Ya udah nanti Dinda bobok di tengah ya." Naya mengiyakan permintaan Dinda dan membuat Samuel mengerucut bibir kesal pasalnya pasti nanti malam mereka akan melipir ke kamar tamu untuk melakukan kegiatan mereka seperti malam kemarin.
__ADS_1
Nasib memang, pengantin baru tapi langsung memiliki anak itu ya seperti mereka harus mau berkorban.